Jumat, 03 Agustus 2012

Apa Beda Teroris Dengan Muslim? dari grup Salafu


heeem, akhy Syarifudin Ahmad

silahkan baca artikel lengkapnya berikut di coment.

Dengan judul TERORIS BUKANLAH MUJAHID BUKAN PULA MUTJAHID.

Kaum muslimin, semoga Allah membimbing kita di atas jalan-Nya yang lurus. Di hari-hari ini kita bisa melihat dengan mata kepala kita, bagaimana sejarah perjuangan umat Islam kembali dinodai oleh ulah oknum-oknum tidak bertanggung jawab yang mengatasnamakan Islam dan jihad. Dengan seenaknya mereka melakukan tindak pengeboman, penghancuran, serta berupaya untuk mengacaukan ketentraman negeri kaum muslimin dengan kedok jihad dan ijtihad. Padahal Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari apa yang mereka lakukan. Alangkah cocok sebuah bait syair yang menggambarkan keadaan orang-orang seperti mereka, Semua orang mengaku punya hubungan cinta dengan Laila Namun, malang. Ternyata Laila tidak mengiyakan omongan mereka Begitulah kurang lebih keadaan mereka. Dengan tanpa malu-malu, mereka mengaku sebagai barisan mujahidin dan menobatkan diri sebagai mujtahid. Bagaimana mungkin orang yang gemar menebar kekacauan dan kerusakan di atas muka bumi dengan membunuh nyawa tanpa hak layak untuk disebut sebagai mujahid, apalagi dinobatkan sebagai mujtahid? Allahul musta’an! Di manakah akal mereka? Orang-orang yang salah sangka Saudaraku sekalian, marilah kita renungkan barang sejenak fenomena yang menyayat hati ini. Para pemuda yang jahil/tidak mengerti syari’at Islam dengan mudahnya ditipu oleh mujahid dan mujtahid gadungan. Sehingga akhirnya nyawa mereka sendiri pun mereka relakan -dengan aksi bom bunuh diri- untuk memperjuangkan apa yang mereka kira sebagai sebuah jihad dan pengorbanan untuk agama. Aduhai, alangkah malang nasib mereka. Tidakkah mereka ingat akan sebuah firman Allah yang menceritakan keadaan orang-orang seperti mereka, yang bersusah payah melakukan suatu usaha dan menyangka telah mempersembahkan sesuatu yang terbaik bagi agamanya. Padahal kenyataannya mereka adalah orang yang paling merugi amalnya. Allah ta’ala berfirman, “Katakanlah: Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang orang-orang yang paling merugi amalnya. Yaitu orang-orang yang sia-sia usahanya di dunia sementara mereka mengira telah melakukan sesuatu kebaikan dengan sebaik-baiknya.” (Qs. al-Kahfi: 103-104) Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan riwayat dari Ali bin Abi Thalib, ad-Dhahhak dan para ulama lainnya bahwa golongan yang termasuk dalam cakupan ayat ini adalah kaum Haruriyah/Khawarij. Meskipun ayat ini juga mencakup celaan bagi Yahudi dan Nasrani. Sehingga Ibnu Katsir menyimpulkan, “Sesungguhnya ayat ini berlaku umum bagi siapa saja yang beribadah kepada Allah namun tidak di atas jalan yang diridhai Allah. Dia menyangka bahwa dia berada di pihak yang benar dan amalnya akan diterima. Padahal, sebenarnya dia adalah orang yang bersalah dan amalnya tertolak.” (Tafsir al-Qur’an al-’Azhim [5/151-152]) Haram bicara agama tanpa ilmu! Saudaraku sekalian, sesungguhnya kemuliaan Islam ini akan ternoda tatkala orang yang bukan ahlinya berbicara tentang sesuatu yang menyangkut ajaran agama. Tidakkah kita ingat firman Allah ta’ala, “Janganlah kamu mengikuti apa-apa yang kamu tidak memiliki ilmu tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, itu semua pasti akan dimintai pertanggungjawabannya.” (Qs. al- Isra’: 36) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. Ketika itu pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur malah didustakan, pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah angkat bicara.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud Ruwaibidhah?” Beliau menjawab, “Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas.” (HR Ibnu Majah dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, disahihkan al- Albani dalam as-Shahihah [1887] as-Syamilah) Ruwaibidhah bukanlah mujtahid. Mujtahid berbicara dengan ilmu, sedangkan Ruwaibidhah berbicara dan berfatwa dengan kejahilan/kebodohan mereka. Perhatikanlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apabila seorang hakim hendak memutuskan sesuatu lalu berijtihad kemudian benar maka dia memperoleh dua pahala. Adapun apabila dia akan memutuskan sesuatu lalu berijtihad kemudian tersalah maka dia akan memperoleh satu pahala.” (HR. Bukhari dalam Kitab al-I’tisham bil Kitab wa Sunnah dari Amr bin al-’Ash radhiyallahu’anhu) al-Hafizh Ibnu Hajar menukil keterangan dari Ibnul Mundzir, beliau mengatakan, “Seorang hakim yang tersalah itu mendapat pahala sesungguhnya hanyalah apabila dia adalah seorang alim/yang berilmu tentang ijtihad kemudian dia pun berijtihad. Adapun apabila dia bukanlah seorang yang alim/berilmu maka dia tidak mendapatkan pahala.” Bahkan apabila dia nekad memutuskan dan mengeluarkan fatwa tanpa ilmu maka dia berdosa, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Hajar sebelum menukil ucapan Ibnul Mundzir di atas. Beliau juga menukil keterangan dari al-Khatthabi bahwa seorang yang berijtihad akan diberi pahala jika dirinya memang telah memiliki alat- alat/ilmu untuk berijtihad. Orang seperti itulah yang apabila tersalah masih bisa diberi toleransi (lihat Fath al-Bari [13/364]) Syaikh Muhammad bin Husain al-Jizani mengatakan, “Ijtihad tidak boleh dilakukan kecuali oleh seorang yang faqih/ahli hukum agama yang mengetahui dalil- dalil dan tata cara menarik kesimpulan hukum darinya, sebab melakukan penelitian terhadap dalil- dalil tidak mungkin dilakukan -dengan benar- kecuali oleh orang yang memang ahli di dalam bidangnya.” (Ma’alim Ushul Fiqh ‘inda Ahlis Sunnah wal Jama’ah, hal. 470). Terlebih lagi, untuk berijtihad ada syarat-syaratnya yang tidak sembarang orang bisa memenuhinya. Di antaranya adalah: [1] Memahami seluk beluk sumber hukum yaitu al-Kitab, as-Sunnah, Ijma’, Qiyas, dsb. [2] Memahami bahasa Arab [3] Mengetahui maksud dari ungkapan umum dan khusus dalam bahasa Arab, muthlaq dan muqayyad. Bisa membedakan antara nash, zhahir, dan mu’awwal. Mujmal dan mubayyan. Manthuq dan mafhum, dsb [4] Dia harus mengerahkan segenap kemampuannya dalam mengambil kesimpulan hukum, tidak boleh setengah- setengah. Itu adalah sebagian syarat yang terkait dengan orangnya. Masih ada lagi syarat lain yang terkait dengan perkara yang menjadi objek ijtihad, di antaranya: bukan dalam perkara yang sudah ada dalil tegasnya, dalil yang ada dalam perkara tersebut memang masih membuka ruang -tidak dipaksakan- yang memungkinkan adanya perbedaan penafsiran, dsb (lebih lengkap baca di Ma’alim Ushul Fiqh ‘inda Ahlis Sunnah wal Jama’ah, hal. 479-484). Berbuat dosa kok mengharap pahala? Di manakah letak ilmu pada diri orang yang melakukan bom bunuh diri dan menyuruh orang lain untuk bunuh diri? Padahal Allah ta’ala berfirman, “Janganlah kalian membunuh diri kalian sendiri, sesungguhnya Allah Maha menyayangi kalian.” (Qs. an-Nisaa’: 29) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Barang siapa yang membunuh dirinya sendiri dengan suatu alat/senjata maka dia akan disiksa dengannya kelak pada hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Tsabit bin ad-Dhahhak radhiyallahu’anhu, ini lafaz Muslim) Ketika mengomentari ulah sebagian orang yang nekad melakukan bom bunuh diri dengan alasan untuk menghancurkan musuh, maka Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Hanya saja kami katakan, orang-orang itu yang kami dengar melakukan tindakan tersebut, kami berharap mereka tidak disiksa seperti itu sebab mereka adalah orang- orang yang jahil/bodoh dan melakukan penafsiran yang keliru. Akan tetapi, tetap saja mereka tidak memperoleh pahala, dan mereka bukan orang-orang yang syahid dikarenakan mereka telah melakukan sesuatu yang tidak diijinkan oleh Allah, akan tetapi mereka telah melakukan apa yang dilarang oleh- Nya.” (Syarh Riyadh as-Shalihin, dinukil dari al- Kaba’ir ma’a Syarh Ibnu Utsaimin, hal. 109) Di manakah letak ilmu pada diri orang yang membunuh nyawa orang kafir tanpa hak? Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang membunuh seorang kafir yang terikat perjanjian -dengan kaum muslimin atau pemerintahnya- maka dia tidak akan mencium bau surga. Sesungguhnya baunya itu akan tercium dari jarak perjalanan empat puluh tahun.” (HR. Bukhari dalam Kitab al-Jizyah dan Kitab ad-Diyat dari Abdullah bin Amr radhiyallahu’anhuma, lafaz ini ada di dalam Kitab al-Jizyah) al-Munawi menjelaskan bahwa ancaman yang disebutkan di dalam hadits ini merupakan dalil bagi para ulama semacam adz-Dzahabi dan yang lainnya untuk menegaskan bahwa perbuatan itu -membunuh kafir mu’ahad- termasuk kategori dosa besar. Meskipun seorang muslim tidak mesti dihukum bunuh sebagai akibat dari kejahatan itu (Faidh al-Qadir [6/251] as-Syamilah). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, membayarkan zakat, apabila mereka telah melakukannya maka terjagalah darah dan harta mereka dariku kecuali dengan alasan haq menurut Islam, dan hisab mereka terserah pada Allah ta’ala.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma) Syaikh Shalih bin Abdul ‘Aziz Alusy Syaikh hafizhahullah menerangkan bahwa di dalam kata- kata “apabila mereka telah melakukannya maka terjagalah darah dan harta mereka dariku” terdapat dalil yang menunjukkan bahwa orang kafir itu hartanya boleh diambil dan darahnya boleh ditumpahkan. Dan orang yang dimaksud di dalam hadits ini adalah kafir harbi, yaitu orang kafir yang sedang terlibat peperangan dengan pasukan kaum muslimin. Oleh sebab itu misalnya jika anda mengambil harta seorang kafir harbi maka tidak ada hukuman bagi anda. Adapun orang kafir mu’ahad, kafir musta’man dan kafir dzimmi -ketiganya bukan kafir harbi,pen- maka mereka semua tidak boleh diperangi (lihat Syarah Arba’in, hal. 63) Berjihadlah! Ketahuilah saudaraku, sesungguhnya seorang mujahid sejati adalah orang yang menundukkan hawa nafsunya untuk melakukan ketaatan kepada Allah -termasuk di dalamnya memerangi orang kafir dengan cara yang benar-, bukan dengan melakukan perbuatan dosa dan pelanggaran. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang berjihad adalah orang yang berjuang menundukkan dirinya dalam ketaatan kepada Allah.” (HR. Ahmad dari Fadhalah bin Ubaid radhiyallahu’anhu dinilai sahih oleh al-Albani dalam as-Shahihah [549] as-Syamilah) Tanyakanlah kepada dirimu: Bukankah Nabi melarang membunuh orang kafir tanpa hak? Bukankah kita wajib taat kepada beliau? Bukankah ketaatan kepada Nabi itu pada hakikatnya merupakan ketaatan kepada Allah? Lalu dengan alasan apa kita menghalalkan darah yang diharamkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk ditumpahkan? Apakah kita merasa berada di atas agama yang lebih baik dan lebih hebat daripada agama yang diajarkan oleh Rasulullah? Jawablah wahai orang-orang yang masih memiliki akal dan hati nurani! Sejak kapan membunuh orang kafir tanpa hak disebut jihad? Sejak kapan meledakkan gedung-gedung umum yang menimbulkan jatuhnya korban tanpa pandang bulu disebut sebagai jihad? Tanyakanlah kepada mereka yang sok menjadi mujtahid dan membolehkan ‘jihad’ ala teroris semacam itu: ijtihad ulama manakah yang membolehkan seorang muslim membunuh dirinya dan meledakkan bangunan umum yang berakibat melayangnya nyawa-nyawa tak bersalah? Atau barangkali yang mereka sebut sebagai ulama mujtahid itu memang bukan ulama alias Ruwaibidhah? Waspadalah -wahai para pemuda- dari tipu daya, silat lidah, dan penampilan mereka! Ingatlah, sesungguhnya jihad yang diridhai Allah adalah jihad di jalan-Nya yang lurus, bukan di jalan yang menyimpang. Allah ta’ala berfirman, “Orang-orang yang sungguh-sungguh berjuang/ berjihad di jalan Kami niscaya Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang berbuat baik/ ihsan.” (Qs. al-’Ankabut: 69) al-Baghawi menyebutkan riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma, beliau berkata tentang tafsiran ayat ini, “Yaitu orang-orang yang berjuang dengan sungguh-sungguh di dalam ketaatan kepada Kami niscaya Kami tunjukkan kepada mereka jalan- jalan untuk meraih pahala dari Kami.” (Ma’alim at- Tanzil [6/256] as-Syamilah) Maka marilah kita berjihad di atas ketaatan, bukan di atas kedurhakaan! Hati-hatilah dari al-Qa’adiyah masa kini! al-Qa’adiyah merupakan salah saktu sekte Khawarij yang memiliki ideologi Khawarij, hanya saja mereka tidak memilih sikap memberontak. Meskipun demikian, mereka menganggap pemberontakan sebagai perkara yang baik, tidak boleh diingkari, bahkan berpahala! Dengan kata lain -dalam bahasa sekarang- mereka menilai bahwa pemberontakan yang dilakukan oleh rekan-rekan mereka -dengan menimbulkan kekacauan dan mengancam penguasa; bom bunuh diri dan semisalnya- bukan perkara yang salah, alias hasil ijtihad yang harus dihargai dan layak untuk diberi pahala [?!] Sampai-sampai salah seorang tokoh mereka di negeri ini berkata, “Menurut saya mereka adalah mujahid. Dan apa yang mereka lakukan itu merupakan hasil ijtihad mereka. Walaupun saya tidak sependapat dengan -hasil ijtihad- mereka.” Inilah ucapan gembongnya Khawarij di negeri ini! Ketika menjelaskan biografi ringkas Imran bin Hitthan -salah seorang perawi hadits yang terseret paham Khawarij- Ibnu Hajar berkata, “al-Qa’adiyah adalah salah satu sekte dari kelompok Khawarij. Mereka berpendapat sebagaimana pendapat Khawarij, namun mereka tidak ikut melakukan pemberontakan. Akan tetapi mereka menghias-hiasi/ menilai baik perbuatan itu.” (Hadyu as-Sari, hal. 577). Sebelumnya, Ibnu Hajar juga menukil ucapan Abul Abbas al-Mubarrid, “Imran bin Hitthan adalah gembong kelompok al-Qa’adiyah dari aliran Shafariyah. Dia adalah khathib/orator dan penya’ir di kalangan mereka.” (Hadyu as-Sari, hal. 577). Imran bin Hitthan inilah yang meratapi kematian Abdurrahman bin Muljam -sang pembunuh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu- dengan untaian bait-bait sya’irnya yang heroik. Dikisahkan bahwa pada akhir hidupnya dia kembali ke jalan yang benar dan meninggalkan paham Khawarij, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Zakariya al-Mushili di dalam Tarikh al-Mushil (lihat Hadyu as-Sari, hal. 577,578, lihat juga Tahdzib at-Tahdzib [8/128] as-Syamilah) Ibnu Hajar mengatakan, “al-Qa’adiyah adalah orang-orang yang menghias- hiasi perbuatan pemberontakan kepada para pemimpin -umat Islam- dan mereka tidak ikut terjun langsung dalam tindakan tersebut.” (Hadyu as-Sari, hal. 614 cet Dar al-Hadits) as-Syahrastani mengatakan, “Setiap orang yang memberontak kepada pemimpin yang sah yang disepakati oleh rakyat sebagai pemimpin mereka maka dia disebut sebagai Khariji (kata tunggal dari Khawarij). Sama saja apakah dia melakukan pemberontakan itu di masa sahabat masih hidup kepada para pemimpin yang lurus atau setelah masa mereka yaitu kepada para tabi’in yang senantiasa mengikuti pendahulu mereka dengan baik serta para pemimpin umat di sepanjang masa.” (al-Milal wa an-Nihal [1/28] as-Syamilah) Salah satu pemikiran Khawarij yang berkembang saat ini -terutama di kalangan sebagian pemuda Islam yang bersemangat tapi tanpa ilmu- adalah pendapat yang membolehkan -tidak harus- untuk memberontak kepada pemimpin muslim yang zalim (lihat mukadimah kitab al-Khawarij wal Fikru al-Mutajjaddid karya Syaikh Abdul Muhsin bin Nashir al-Ubaikan, hal. 6). Sebagaimana pula keterangan semacam ini pernah kami dengar dari perkataan Syaikh Abdul Malik Ramadhani dalam sebuah rekaman video ceramah beliau ketika memberikan pelajaran kitab asy-Syari’ah karya Imam al-Ajurri. Inilah sekelumit nasihat dan pelajaran bagi kita semua. Semoga masih ada telinga yang mau mendengar dan hati yang masih mau menerima kebenaran. Sebagian sumber tulisan ini kami ketahui dari buku Madarik an-Nazhar fi as-Siyasah karya Syaikh Abdul Malik Ramadhani, serta buku Mereka adalah Teroris susunan Ust. Luqman Ba’abduh, semoga Allah menerima amal kita dan mereka, serta mengampuni dosa kita dan mereka. Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami yang benar itu benar, dan karuniakanlah kepada kami ketaatan untuk mengikutinya. Dan tunjukkanlah kepada kami yang salah itu salah, dan karuniakanlah kepada kami keteguhan sikap untuk menjauhinya. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin. Yogyakarta, 17 Sya’ban 1430 H *** Penulis: Ustadz Ari Wahyudi Artikel www.muslim.or.id

 ·  ·  · 17 jam yang lalu melalui seluler

  • 3 orang menyukai ini.

    • Asrhull Syahid INILAH PERBEDAAN ANTARA SALAFY DAN TAKFIRI TERORIS.

      Pertama, ulama kontemporer yang dijadikan sebagai rujukan. Terdapat perbedaan yang nyata antara salafi dengan takfiri dalam masalah ini. Rujukan salafi dalam memahami al Qur’an dan sunnahNabi di samping berbagai riwayat dari ulama salaf dan pemahaman ulama terdahulu adalah penjelasan para ulama besar di zaman ini semisal Ibnu Baz, Al Albani, Ibnu Utsaimin, Lajnah Daimah KSA, Syaikh Abdul Muhsin al Abbad dan para ulama lain yang meniti jejak para ulama tersebut. Sedangkan takfiri tokoh kontemporer yang mereka jadikan sebagai rujukan adalah Sayyid Qutb, Muhammad Qutb, Abu Muhammad al Maqdisi, Abu Qatadah al Falistini, Abu Bashir ath Thurthusi dan orang-orang yang sejalan dan satu pemikiran dengan mereka-mereka. Kedua, sanad dakwah salafiyyah itu bersambung dengan para ulama salaf terdahulu baik dalam masalah ilmu ataupun pemahaman. Para salafi selalu berupaya mengambil akidah dan jalan beragama mereka dari para ulama terdahulu lalu ulama sebelum sampai berakhir pada para ulama salaf terdahulu. Tidaklah Anda jumpai sebuah kaedah yang dianut oleh para salafi melainkan berdalil dengan al Qur’an , sunnah dan riwayat para salaf yang kaedah tersebut dikutip dari generasi ke generasi hingga pada akhirnya sampai kepada kita. Sedangkan takfiri kontemporer dengan beragam alirannya sanad keilmuan mereka tidaklah sampai kepada para ulama salaf namun hanya berakhir pada Jamaah Takfir wal Hijrah, Jamaah Jihad dan JI yang muncul pada tahun 70-an. Para takfiri itu tumbuh berkembang dari rahim ide-ide Sayyid Qutb. Sedangkan Sayyid Qutb pada awalnya terdidik oleh ajaran IM yang didirikan oleh Hasan al Banna pada tahun 1928. Meski pada akhirnya Sayyid Qutb memisahkan diri secara pemikiran dari pemikiran IM. Ketiga, dakwah salafiyyah menjaga keotentikan jalan beragamanya dan kesuciannya dari noda berbagai pemikiran baru yang mau masuk ke dalam tubuh dakwah. Sesungguhnya slogan dakwah salafiyyah terkait dengan masalah agama adalah “hati-hatilah dengan berbagai perkara agama yang baru karena semua perkara agama yang baru adalah bidah sedangkan semua bidah itu sesat dan semua kesesatan itu di neraka”. Dakwah salafiyyah berkeyakinan bahwa tidak mungkin ada kebaikan yang sempurna kecuali jika sejalan dengan syariat sebagaimana perkataan Imam Malik “Tidaklah akan baik generasi akhir umat Muhammad kecuali dengan hal yang membuat baik generasi awalnya”. Sedangkan takfiri, tokoh kontemporer mereka yang paling menonjol itu tumbuh berkembang dan terdidik tidak dengan manhaj salaf. Itulah Sayyid Qutb yang tumbuh besar sebagai pengikut IM yang kemudian membuat aliran tersendiri (baca: Qutbi) dalam jamaah IM. Sedangkan Aiman azh Zhawahiri pertama kali tumbuh besar –sebagaimana pengakuannya sendiri-bersama Jamaah Jihad pada sekitaran tahun 1966 M di saat terbentuknya generasi awal Jamaah Jihad setelah terbunuhnya Sayyid Qutb. Sedangkan Abu Muhammad al Maqdisi sendiri memberikan pengakuan bahwa dirinya tumbuh berkembang bersama para pembesar IM yang menyuapinya dengan Fi Zhilal al Qur’an, Ma’alim fit Thariq dan buku-buku Sayyid Qutb yang lain, buku- buku Muhammad Qutb serta karya-karya al Maududi. Mereka-mereka inilah tokoh intelektual bagi pemikiran atau aliran takfiri kontemporer. Semua mereka tumbuh berkembang tidak di atas manhaj salaf shalih. Mereka ingin mencampur kebatilan yang telah mereka yakini dengan kebenaran yang mereka lihat pada manhaj salaf maka yang terjadi adalah manhaj (jalan beragama) oplosan. Sehingga jalan beragama mereka bukanlah salafiyyah namun mereka juga tidak lagi asli sebagaimana dahulu kala. Realita sesungguhnya adalah munculnya manhaj atau jalan beragama oplosan yang merupakan hasil dari pencampuran dua jalan dengan pencampuran yang unik. Hasil investigasi dari realita keadaan dan jejak-jejak mereka menunjukkan bahwa mereka bukanlah bagian dari salafi dalam masalah-masalah yang di dalamnya mereka menyelisihi salafi sebagaimana khawarij masa silam dan ahli bidah yang lain bukanlah termasuk salaf dalam perkara-perkara yang di dalamnya mereka menyelisihi ajaran salaf. Keempat, manhaj salaf dalam metode memperbaiki kondisi masyarakat tegak di atas prinsip tashfiyyah dan tarbiyyah sejalan dengan firman Allah, Yang artinya, “Sesungguhnya Allah itu tidak akan mengubah kondisi suatu masyarakat sampai masyarakat tersebut mengubah kondisi mereka sendiri” [QS ar Ra’du:11]. Langkah awal proses perbaikan adalah memperbaiki diri sendiri dari akidah bobrok diganti dengan akidah yang lurus, meninggalkan berbagai ibadah dan perkataan yang bid’ah diganti dengan komitmen terhadap sunnah dalam perkataan atau pun perbuatan baik dari sisi lahiriah ataupun sisi batiniahnya, meninggalkan berbagai perilaku yang menyimpang serta melaksanakan apa yang menjadi tuntunan keadaan yang ada di zamannya sesuai dengan kondisi dan kemampuannya masing-masing. Jika setiap muslim telah mewujudkan hal tersebut pada dirinya masing-masing maka proses perbaikan akan menjalar kepada orang lain dengan cara yang lebih baik. Sehingga tersebarlah iman dan keamanan lalu terwujudlah kekuasaan yang Allah janjikan kepada orang-orang yang beriman dalam QS an Nur:55. Sedangkan takfiri berkeyakinan bahwa meniti metode tashfiyyah dan tarbiyyah dalam proses memperbaiki masyarakat adalah sebuah kekalahan bahkan kesesatan dan penyimpangan karena jalan yang wajib ditempuh untuk memperbaiki berbagai penyimpangan yang ada di masyarakat adalah dengan mengubah para penguasanya dan ini tidak akan terwujud kecuali dengan kudeta dan memerangi penguasa dengan kedok jihad. Kelima, salafi menghormati dan memuliakan para ulama. Salafi terkenal meneladani jejak salaf dalam menghormati para ulama karena membicarakan para ulama ahli sunnah dan mencela mereka tidaklah mungkin terjadi melainkan ada tendensi mencela manhaj kenabian yang mereka titi. Kebalikan dari sikap di atas adalah sikap takfiri yang jelas tergambar pada sikap tokoh-tokoh mereka. Telah masyhur bagaimanakah celaan, caci maki dan pelecehan para tokoh takfiri terhadap para ulama dakwah salafiyyah. Abu Muhammad al Maqdisi dalam artikelnya ‘Zillu Himar al Ilmi fi ath Thin’ (Terperosoknya Keledai Ilmu dalam Kubangan Lumpur) menggelari para ulama anggota Haiah Kibar Ulama KSA terutama Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah alu Syaikh dan para ulama yang lain sebagai ‘Keledai Ilmu’, ‘Ulama Sesat’, ‘semakin buta dan kelewat batas’, ‘menyimpang dari kebenaran dan keluar dari tauhid’, ‘berpihak kepada thaghut dan kemusyrikan’ dst. Sedangkan Aiman azh Zhawahiri menyebut Ibnu Baz, Abu Bakr al Jazairi dll sebagai ‘nama yang menggema namun kosong karena tenggelam dalam kemunafikan di depan para thaghut’, ‘orang-orang yang merobohkan dan menghancurkan akidah para pemuda, membenarkan kekafiran para tiran, orang- orang yang memusuhi amar makruf nahi munkar’, ‘sesungguhnya Ibnu Baz dan rombongannya adalah para ulama penguasa yang menjual kita kepada musuh dengan mendapatkan gaji dan jabatan meski ada orang yang marah atau pun suka dengan sebutan ini untuknya’. Celaan para takfiri ini terhadap para ulama ahli sunnah bukanlah dilatarbelakangi oleh konflik personal namun motivatornya adalah perbedaan akidah dan jalan beragama antara salafi dengan takfiri yang merupakan khawarij kontemporer.

      16 jam yang lalu melalui seluler · 

    • Asrhull Syahid 
      Keenam, ajaran salaf adalah ajaran Islam yang benar. Tolak ukur pengikut ajaran salaf adalah realita yang sesuai dengan ajaran Islam dan penerapan terhadap berbagai aturan Islam bukan hanya semata- mata pengakuan lisan sebagai seorang salafi. Salafi berkeyakinan bahwa tidak ada perbedaan antara Islam yang benar yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dipraktekkan oleh para shahabat dalam berbagai bidang dalam agama baik dalam bidang ilmu, amal, dakwah, usaha perbaikan masyarakat dan jihad dengan dakwah salafiyyah yang putih jernih. Semakin serius seorang salafi melaksanakan berbagai aturan Allah di berbagai bidang dalam agama maka semakin sempurnalah komitmen dirinya terhadap manhaj salaf. Seorang yang semakin sembrono terhadap aturan syariat adalah seorang yang semakin jauh dari salafiyyah yang sebenarnya. Jadi muslim sejati itu sama dengan salafi sejati dan sebaliknya adalah sebaliknya. Oleh karena itu salafi tidaklah membedakan diri dengan muslim yang lain dalam ilmu, dakwah, usaha perbaikan masyarakat atau pun jihad. Sedangkan orang-orang takfiri mereka menyadari bahwa mereka itu berbeda dengan dakwah salafiyyah yang murni dalam banyak poin. Mereka juga menyadari bahwa sebutan salafi tanpa embel-embel itu dalam benak orang awam ataupun orang-orang terpelajar identik dengan para ulama besar salafi semisal Al Albani, Ibnu Baz, Ibnu Utsaimin dan para ulama ahli sunnah lain yang mereka cela dan mereka sesatkan. Oleh karena itu, mereka tidak mau mengaku sebagai salafi tanpa embel-embel karena mereka menyadari dampak dari pengakuan semacam ini. Oleh karena itu mereka tambahkan kata-kata jihad yang sebenarnya mereka sangat jauh dari jihad yang benar dalam nama salafi untuk sebutan bagi diri mereka sehingga mereka menyebut diri mereka sebagai salafi jihad. Padahal hasil investigasi menunjukkan bahwa mereka itu tidaklah meniti jejak para ulama salafi baik yang terdahulu maupun yang belakangan. Yang benar mereka membisniskan kata-kata jihad untuk menarik simpati hati kaum muslimin yang merasa mantap untuk meniti manhaj salaf shalih. Jadi mereka menambahkan kata-kata jihad pada nama salafi untuk bisa menebar pemahaman mereka yang sudah terkontaminasi dan untuk mewujudkan kepentingan mereka. Antara Pilihan Ulama Salafi dengan Para Tokoh Takfiri Terdapat sikap yang jelas dari para ulama salaf terhadap Khawarij di masa silam dalam permasalahan iman, vonis kafir dan penguasa. Demikian pula terdapat sikap yang jelas dari para ulama salafi kontemporer terhadap takfiri dan pendapat-pendapat mereka dalam berbagai permasalahan. Bahkan kita bisa memastikan dan menegaskan bahwa tidak dijumpai bagian dari kaum muslimin saat ini yang lebih banyak membantah pemikiran takfiri sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang salafi. Para ulama besar salafi telah mengeluarkan ratusan fatwa, artikel, ceramah dan buku yang menjelaskan kesesatan takfiri yang sering kali bohong-bohongan mengaku-aku sebagai salafi. Berikut ini penjelasan singkat tentang sikap salafi terhadap berbagai lontaran permasalahan yang disampaikan oleh takfiri. Pertama, salafi berkeyakinan bahwa menjadikan hukum manusia sebagai aturan mengikat di masyarakat adalah perbuatan haram yang menyebabkan pelakunya terjerumus dalam kekafiran kecil yang tentu saja tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam kecuali jika diiringi keyakinan bolehnya atau lebih baiknya menggunakan hukum manusia yang bertentangan dengan hukum Allah. Ketentuan ini berlaku untuk penguasa dan rakyat jelata. Sedangkan takfiri berkeyakinan bahwa menggunakan hukum manusia itu menyebabkan kafirnya para penguasa dan keluarnya mereka dari Islam. Vonis kafir hanya mereka arahkan kepada penguasa, tidak kepada rakyat biasa. Kedua, salafi berkeyakinan bahwa loyal dengan orang kafir itu beragam. Ada yang berstatus kekafiran besar, ada pula yang berstatus kekafiran kecil tergantung bentuk loyalitas dan keyakinan muslim yang memberikan loyalitas tersebut kepada orang kafir. Sedangkan takfiri menyakini bahwa semua bentuk loyal kepada orang kafir itu sama yaitu berstatus kekafiran besar yang mengeluarkan pelakunya dari Islam dengan tutup mata terhadap bersihnya keyakinan orang yang memberikan loyalitas kepada orang kafir tersebut. Ketiga, salafi berkeyakinan bahwa meminta tolong kepada orang kafir dalam peperangan menghadapi musuh kaum muslimin yang sejalan dengan kaedah- kaedah dan syarat yang berlaku itu status hukumnya beraneka ragam tergantung bentuk real dari permintaan tolong yang dilakukan, boleh jadi kekafiran besar, kefasikan (baca: dosa besar), maksiat biasa ataupun boleh tergantung bentuk dari permintaan tolong, sikon yang ada dan pertimbangan manfaat dan bahaya yang mungkin terjadi. Sedangkan takfiri berkeyakinan bahwa meminta tolong kepada orang kafir dalam peperangan itu termasuk meminta tolong yang menyebabkan kafirnya orang yang minta tolong dan keluar dari Islam tanpa mengakui adanya perbedaan pendapat di antara para ulama dalam masalah ini. Keempat, salafi berkeyakinan bahwa orang yang terus menerus melakukan dosa besar atau meninggalkan ketaatan yang hukumnya wajib seperti orang yang terus menerus tidak membayar zakat atau makan riba adalah orang fasik, bukan kafir, berhak mendapatkan ancaman yang Allah berikan di akherat meski pada akhirnya masuk ke dalam surga. Sedangkan takfiri berkeyakinan bahwa orang yang terus menerus bermaksiat meski tidak menganggap bolehnya maksiat yang dia kerjakan adalah orang kafir, murtad, keluar dari Islam, berhak mendapatkan ancaman dan di akherat kekal di neraka.

      16 jam yang lalu melalui seluler · 

    • Asrhull Syahid 
      Kelima, salafi berkeyakinan bahwa orang yang terjerumus dalam kemusyrikan atau kekafiran akbar itu tidak bisa divonis sebagai orang kafir kecuali oleh ulama yang memiliki ilmu yang mendalam atau hakim dan haram atas selain mereka mengeluarkan vonis kafir kepada individu tertentu karena vonis kafir itu termasuk permasalahan yang memerlukan ijtihad berkaitan dengan pemastian apakah individu tertentu itu memang telah melakukan kekafiran ataukah tidak, demikian pula menimbang faktor penghalang dan berbagai syarat untuk menjatuhkan vonis kafir. Hal- hal di atas tidaklah mungkin terwujud kecuali pada orang-orang yang memiliki kapabelitas dalam masalah tersebut. Itulah para ulama dan orang yang tugasnya menekuni permasalahan semisal ini (baca: hakim). Jadi dalam masalah vonis kafir salafi membedakan antara vonis untuk perbuatan dan vonis untuk pelaku. Sedangkan takfiri berkeyakinan bahwa orang yang terjerumus dalam kekafiran besar yang nyata atau pun kemusyrikan besar personnya wajib divonis kafir oleh semua kaum muslimin tanpa membedakan antara vonis untuk perbuatan dengan vonis untuk pelaku. Bahkan sebagian mereka memvonis kafir orang yang tidak meyakini kafirnya orang jenis ini berdasarkan kaedah yang diletakkan tidak pada tempatnya ‘Siapa saja yang tidak menyakini kafirnya orang yang kafir maka dia sendiri adalah orang yang kafir’. Keenam, salafi berkeyakinan bahwa masyarakat yang ada saat ini yang individu-individunya mengaku sebagai seorang muslim adalah masyarakat Islam meski ada di dalam masyarakat tersebut berbagai pelanggaran syariat dan berbagai bentuk kemaksiatan. Masyarakat Islam itu bertingkat-tingkat kesempurnaannya berbanding lurus dengan komitmen masyarakat tersebut terhadap ajaran Islam. Demikian pula masyarakat Islam yang ada itu bertingkat-tingkat kejelekannya selaras dengan seberapa besar pelanggarannya terhadap syariat. Adapun takfiri berkeyakinan bahwa masyarakat Islam yang ada saat ini adalah masyarakat jahiliah bahkan sebagian mereka sudah berani memvonis bahwa masyarakat Islam saat ini adalah masyarakat kafir. Ketujuh, salafi berkeyakinan bahwa muslim yang menjadi penguasa negeri-negeri kaum muslimin yang saat ini baik dengan status raja, amir, presiden dan menteri adalah wali amri (baca:penguasa) yang wajib ditaati selama memerintahkan kebaikan dan baru tidak boleh ditaati manakala memerintahkan rakyat untuk bermaksiat. Sedangkan takfiri menyakini bahwa para penguasa yang ada di berbagai negeri kaum muslimin saat ini seluruhnya adalah orang-orang kafir dan murtad sehingga tidak boleh ditaati. Kedelapan, salafi berkeyakinan bahwa muslim yang menjadi bagian dari aparat pemerintahan yang ada di berbagai negeri kaum muslim baik berstatus sebagai tentara, polisi atau jenis aparat keamanan lainnya adalah orang-orang Islam yang memiliki hak dan kewajiban sebagaimana umumnya kaum muslimin. Sedangkan takfiri menyakini bahwa semua unsur aparat keamanan adalah orang-orang kafir, murtad dan keluar dari agama Islam. Kesembilan, salafi berkeyakinan haramnya memberontak terhadap penguasa kaum muslimin baik dengan bentuk senjata, omongan ataupun tulisan. Sedangkan penguasa yang non muslim, bolehnya memberontak terhadap mereka itu terkait oleh berbagai kaedah dan syarat. Tidak ada yang bisa merinci permasalahan ini melainkan ulama yang menekuni bidang ini. Sebaliknya, takfiri berkeyakinan bahwa memberontak terhadap para penguasa yang ada di berbagai negeri kaum muslimin adalah termasuk bentuk jihad fi sabilillah yang paling besar baik dengan senjata jika memungkinkan, dengan omongan ataupun dengan tulisan. Kesepuluh, salafi berkeyakinan bahwa wilayah yang dihuni oleh kaum muslimin saat ini dan penguasanya penguasa muslim adalah negeri Islam sehingga haram hukumnya berhijrah meninggalkannya untuk berpindah ke negeri kafir. Sedangkan takfiri menyakini bahwa negeri-negeri Islam yang ada saat ini adalah negara kafir dan murtad. Oleh sebab itu, mereka membolehkan hijrah darinya untuk menetap di negeri kafir. Bahkan negeri kafir asli itu menurut mereka lebih baik dibandingkan negeri murtad dalam pandangan mereka yang sebenarnya adalah negeri kaum muslimin. Kesebelas, salafi menyakini bahwa orang kafir asli saat ini ada empat macam, kafir dzimmi, harbi, mu’ahad dan musta’man. Sedangkan takfiri berkeyakinan bahwa orang-orang kafir yang ada di zaman ini hanya satu jenis saja yaitu kafir harbi. Oleh karena itu mereka tidak mengakui adanya kafir mu’ahad, musta’man dan dzimmi. Kedua belas, salafi berkeyakinan bahwa harta kaum muslimin itu haram diganggu kecuali dengan cara-cara yang dibenarkan oleh syariat. Demikian pula harta orang kafir itu hanya dibolehkan untuk diambil mana kala mereka adalah kafir harbi. Sedangkan takfiri meyakini bahwa harta orang-orang kafir dan orang Islam yang mereka vonis kafir adalah harta yang mubah bagi mereka bahkan mereka menilai harta tersebut sebagai ghanimah atau harta rampasan perang. Ketiga belas, salafi menyakini bahwa orang yang wajib diperangi saat ini adalah orang-orang kafir harbi dan orang Islam yang menjadi pemberontak terhadap penguasa muslim yang sah. Sedangkan takfiri menyakini bahwa yang wajib adalah memerangi orang-orang kafir dan orang Islam yang mereka vonis sebagai orang murtad. Keempat belas, salafi menyakini bahwa jihad jika wajib dalam kondisi tertentu itu harus di bawah komando penguasa muslim. Sedangkan takfiri berkeyakinan bahwa berperang di bawah komando penguasa di negeri mereka itu tidak sejalan dengan syariat karena para penguasa tersebut menurut mereka adalah orang-orang kafir dan murtad. Kelima belas, salafi menyakini bahwa jihad fi sabilillah yang paling agung adalah jihad yang pada dasarnya terjadi antara kaum muslimin dengan kafir harbi. Sedangkan takfiri menyakini bahwa jihad fi sabilillah yang paling agung adalah jihad melawan para penguasa negeri kaum muslimin dan aparat keamanan karena mereka beranggapan bahwa jihad terhadap orang murtad itu lebih utama di sisi Allah dibandingkan jihad terhadap kafir asli. Keenam belas, salafi meyakini terjaganya darah kaum muslimin secara mutlak demikian pula semua orang yang hartanya dijaga oleh syariat yaitu kafir dzimmi, musta’man dan mu’ahad sehingga tidak boleh menumpahkan darah mereka dalam kondisi apapun sampai-sampai meski dalam kondisi jihad yang syar’i kecuali jika dalam kondisi terpaksa. Sedangkan takfiri meyakini bahwa darah kaum muslimin dan orang kafir yang sebenarnya darahnya terjaga itu boleh ditumpahkan meski dalam kondisi tidak terpaksa. Oleh karena itu, kita jumpai mereka secara umum bermudah-mudah melakukan aksi pembunuhan terhadap kaum muslimin dengan melakukan pengeboman dan pengusalan berbagai sarana umum.

      16 jam yang lalu melalui seluler · 

    • Asrhull Syahid 
      Ketujuh belas, salafi meyakini haramnya mengganggu darah orang-orang yang menyelisihi mereka dari kalangan cendikiawan, orang-orang sekuler dan orang-orang nasionalis serta orang-orang media yang merusak meski mereka memiliki pemikiran yang bernilai kekafiran karena vonis kafir untuk orang-orang tersebut adalah urusan hakim dan memberikan hukuman kepada orang-orang yang bersalah adalah wewenang penguasa. Sedangkan takfiri menyakini bahwa mereka semua adalah para pengrusak yang wajib dipenggal kepalanya dan mereka menilai bahwa upaya memenggal kepala mereka adalah bagian dari jihad. Kedelapan belas, salafi meyakini haramnya berbagai tindakan pengeboman yang bertujuan membunuh dan menghancurkan harta orang-orang yang darah dan hartanya terjaga menurut syariat. Sedangkan takfiri menyakini bahwa berbagai aksi pengeboman baik di negeri kaum muslimin atau pun negeri kafir adalah bagian dari jihad fi sabilillah. Kesembilan belas, salafi menyakini haramnya berbagai aksi bunuh diri dalam bentuk apapun karena tindakan bunuh diri itu haram berdasarkan berbagai dalil syariat dan kesepakatan para ulama. Sedangkan takfiri menyakini bahwa aksi-aksi bunuh diri itu bagian dari upaya meraih gelar syuhada yang dibenarkan oleh syariat dan melakukannya adalah salah satu bentuk jihad fi sabilillah. Kedua puluh, salafi menyakini haramnya berbagai bentuk demonstrasi dan people power karena hal tersebut terhitung sarana bid’ah dalam melakukan upaya perbaikan kondisi masyarakat di samping karena adanya berbagai penyimpangan syariat di dalamnya semisal campur baur laki-laki dan perempuan, penjarahan harta benda dan penumpahan darah. Sedangkan takfiri menyakini demonstrasi sebagai sarana yang sejalan dengan aturan syariat untuk melakukan perbaikan bahkan bagian dari jihad fi sabilillah. Kedua puluh satu, salafi meyakini dibenarkannya peran serta (baca: nyoblos) dalam pilkada atau pun pemilihan calon legislative pusat dengan syarat dan ketentuan yang telah diketahui untuk memilih yang terbaik bagi kaum muslimin. Sedangkan ulama salafi yang melarang nyoblos dan mereka minoritas dibandingkan dengan ulama yang membolehkannya tidaklah mengatakan bahwa alasan tidak bolehnya nyoblos adalah kafir dan murtadnya orang yang ikut nyoblos. Sedangkan takfiri menyakini bahwa dewan legislative adalah majelis kekafiran yang membuat undang- undang padahal hanya Allah yang boleh membuat aturan sehingga memilah caleg (baca: nyoblos pemilu) itu bagaikan memilih pembuat aturan selain Allah sehingga yang kafir karena sebab nyoblos adalah dua orang yaitu pemilih dan yang dipilih. Kedua puluh dua, salafi meyakini tanzhim hizbi termasuk sarana bidah yang menyebabkan adanya baiat kepada selain penguasa kaum muslimin, fanatik terhadap kelompok dan hanya loyal yang seutuhnya kepada sesama anggota kelompok tidak dengan seluruh kaum muslimin. Sedangkan takfiri menyakini bahwa tanzhim hizbi adalah bentuk dari persiapan jihad fi sabilillah. Oleh karena itu, kita jumpai mereka mewajibkan taat penuh kepada pemimpin kelompok karena para pemimpin kelompok tersebut dianggap sebagai pemimpin yang sah menurut syariat sehingga berhak untuk dibaiat padahal baiat hanya diberikan kepada penguasa. Kedua puluh tiga, salafi meyakini dibenarkannya mengikuti pendidikan formal dengan harapan meningkatan kualitas pendidikan dan wawasan individu serta masyarakat diiringi komitmen untuk menghindari berbagai pelanggaran syariat yang menyertai pendidikan jenis ini dan memandu pendidikan jenis ini dengan berbagai pakem-pakem syariat. Sedangkan takfiri menyakini bahwa di antara bentuk persiapan jihad adalah menghindari pendidikan formal karena pendidikan formal itu menyebabkan pengrusakan terhadap akal generasi muda, bertolak belakang dengan akidah, tauhid dan syariat serta melalaikan dari cita-cita teragung yaitu menyiapkan para panglima perang jago kuda. Anggapan semisal ini telah ditegaskan oleh ulama rujukan para takfiri yaitu Abu Muhammad al Maqdisi dalam bukunya ‘I’dad al Qodah al Fawaris bi Hujran Fasad al Madaris’ Sumber: http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/ showthread.php?t=27355 Artikelwww.ustadzaris.com dan dipublikasikan kembali olehwww.salafiyunpad.wordpress.com Silakan kunjungi situs yang membahas seputar kesesatan kaum takfiri (khariji – teroris) di http:// jihadbukankenistaan.com/

      16 jam yang lalu melalui seluler · 

    • Syarifudin Ahmad dah bc.sya punya bukunya..yg saya tanyakan,kenapa kata TERORIS KOK SELALU DIIDENTIKKAN KEPADA KAUM MUSLIMIN.KENAPA?
      4 jam yang lalu melalui seluler · 

    • Asrhull Syahid kan dia menebar teror...
      2 jam yang lalu melalui seluler · 

    • Asrhull Syahid sungguh adakah islam mengajarkan hal tersebut..???
      2 jam yang lalu melalui seluler · 

    • Bayu Ahmad Albarbasyi aku sbg teroris sungguh sangat tersinggung neh.!
      2 jam yang lalu melalui seluler · 

    • Zays Shiddiq yang pernah denger
      kata teroris itu sebenarnya berasal dari orang amerika yang di klaim kan kepada umat islam

      padahal yang teroris itu mereka( orang amerika)

Ieshua Hamasyiakh


Di Golgota, di Golgota, langit semakin memancarkan mendung biru tua, yang semakin menggelayut di udara. Perarakan telah sampai, Simon yang malang memancangkan salib-Nya diatas bukit. Ikatan kepala menandai siksa, Inilah Dia Raja Orang Yahudi, menegaskan alasan penyaliban. Dua penyamun, yang juga disalib, tepat di kanan dan di kiri tiang salib-Nya hampir mati namun dengan sendu mengawasi.
“Hai, Engkau yang ingin meruntuhkan Bait Suci, dan membangunnya kembali dalam tiga hari! Selamatkan diri-Mu jika Engkau Anak Allah, turunlah dari salib itu!” Beberapa yang hadir disana menggelengkan kepala.
Rambut-Nya basah dengan darah. Dahi-Nya tersaput mahkota duri, dan diliputi noktah hitam. Darah campur debu. Tak ada yang memahami dengan jernih pengorbanan ruh dan daging yang menyatu menjadi firman itu.
“Orang lain diselamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan? Ia Raja Israel? Jika Ia turun dari salib itu, kami akan percaya kepada-Nya!” Ludah muncrat dari mulut Hakim, celaan yang panjang menyeruak. Jam duabelas, tepat ketika pendulumnya berdentum.
Kegelapan penyaliban tiba. Matahari lama terpejam tidak pada waktunya. Tanah hitam, dedaunan juga hitam. Mata hati kasih sayang manusia turut menghitam.  Tiga jam lamanya, kehitaman dan kegelapan meliputi tanah, semak, dan setiap jiwa manusia. Golgota kehilangan cahaya. Tepi-tepi langit tak terlihat, gagak juga kehilangan arah dan hinggap sekenanya.
Tangannya yang kering terhunjam bersama paku besar.  Kakinya terikat dengan erat, lagi-lagi bersaput darah. Rusuk-rusuk kedagingan-Nya menyembul terbungkus kulit, dan wajah teguhnya semakin menyerukan kegetiran. Rasa sakit semakin erat bersama dosa-dosa manusia yang ditanggungnya. Iesyhua Hamasyhiakh.
Ia membabtis segenap manusia dengan kematian Daging-Nya, dan juga akan dimakamkan bersama-sama dengan-Nya oleh baptisan dalam kematian. Manusia menjadi satu dalam kematian-Nya, dan dengan segera menjadi satu dengan kebangkitan-Nya. Daging-daging dosa manusia sirna, hilang seutuhnya, lunglai kuasanya,berganti tubuh kuasa yang baru.
Runduk-Nya berganti tengadah, Dia melihat awan hitam berarak dan beberapa gagak menyeruak. Bau bangkai penyaliban meruah. Dengan sisa-sisa daya, Dia hendak menyeru Yang Sangat Dicintai-Nya. Dia rindu Ayahnya, rindu serindu-rindunya.
Elia, Elia! Lama sabakhtani?” Ia menyeru-Nya untuk kembali. Ruh-Nya meregang. Getar suaranya memenuhi perladangan Golgota. Menggema.
 Tangan-tangan surgawi tersingkap, sebuah tangga emas mempesona udara. Dia mendaki, membuka kembali pintu rumah-Nya di surga, pintu rumah Ayah-Nya. Daging telah melambaikan tangan kepada sukma. Firman-Nya kembali menjadi sebentuk tubuh mati. Penebusan abadi telah terlaksana. Kini, dosa-dosa segenap anak manusia tertebus dengan sempurna.
Tubuh beku-Nya diturunkan dari salib, lalu dengan pilu terbungkus linen yang putih tua. Liang pemakaman telah digali, pada sebuah bukit batu yang keras. Perlahan, Yusuf Arimatea, salah seorang murid-Nya, membaringkan ayat-ayat-Nya. Debu-debu beterbangan, memberikan penghormatan. Daging tanpa sukma. Sebelumnya, tentara yang berjaga menikam lambung-Nya dengan tombak, memastikan kematian. Mengucur darah dan air, menjadi satu warna merah.
Pilatus memerintahkan tentara-tentara datang menjaga makam-Nya yang bertanda batu besar, menantikan kebangkitan. Mereka takut, kebangkitan akan menyesatkan lebih banyak penduduk. Mereka telah tahu sebelumnya, Sang Ieshua Hamasyhiakh mewartakan kebangkitan-Nya setelah tiga hari penyaliban.
Fajar Ahad. Setelah hari Sabat, membangkitkan matahari dengan rona yang tidak biasa. Kedua Maria, mengenakan gaun peziarah, dengan sisa-sisa ketegaran mengunjungi pembaringan. Mendadak, tersingkaplah sebagian langit dalam penglihatan mereka. Tanah terguncang dan tergetar, mereka mencari perlindungan.
Tanah terus bergetar, sangat hebat, kedua Maria terperangah. Malaikat agung, dengan kebesarannya menuruni singgasana angkasa, membuat penjaga kubur ketakutan, dan mematung sewarna batu tua. Keagungan dan caranya turun membuat tanah tergetar dengan keras
“Jangan takut, Maria. Aku tahu, engkau mencari Dia, yang disalibkan itu. Ia tak ada lagi disini, ia telah bangkit,” Getar suaranya tidak seperti manusia. Agung, namun lembut seperti cahaya. Getaran tanah berhenti, namun langit masih seperti terbelah. Terkesima atas cahaya sang Malaikat.
“Mari, lihatlah ketempat Dia berbaring,” Lanjutnya dengan arif. Ia memerintahkan keduanya untuk mengabarkan yang lain, bahwa Dia telah bangkit, dan di Galilea, di Galilea, mereka akan berjumpa dengan kekasih manusia itu.
Dia menjumpai mereka sebelum di Galilea. Wajahnya agung, kehilangan nista. Darah-Nya bersih, sepenuhnya terbasuh. “Salam bagimu,”  Dengan kerinduan yang besar.
Rabuni...!” Maria memeluknya, airmatanya berdentangan. Wangi. Detak jantung Maria terasa oleh-Nya.
 Percakapan-percakapan selanjutnya berlangsung, seperti penggembala yang rindu ladangnya. Percakapan yang mampu menghentikan dentangan airmata Maria, tepat pada refrain tertingginya.  
“Jangan takut, pergilah dan katakan pada saudara-saudara-Ku, agar mereka ke Galilea, dan melihat Aku,” Kasihnya tergetar menjadi suara. Lembut dan agung, seperti firman itu sendiri. Maria begitu gembira, ia menyaksikan Tuhan bangkit dengan matanya sendiri. Sang Ieshua ingin menitahkan sesuatu pada muridnya di sana.
Di Galilea, kesebelas murid yang tersisa berkumpul dalam sebuah perjamuan. Wajah mereka sayu, menantikan kedatangan Guru dan Tuhan yang mereka kasihi.
“Damai sejahtera bagimu,” sapa-Nya. Tenang seperti danau.
Lambung dan tangannya disingkapkan, sebagai tanda. Luka-lukanya suci dan mengering. “Damai sejahtera bagimu, sama seperti Ayah mengutus Aku, kini saatnya Aku mengutus Kamu,”
“Terimalah Roh Kudus,” Ia menghembus murid-muridnya dengan lembut.  “Jika engkau mengampuni dosa seseorang, dosanya akan diampuni. Tetapi jika kamu menyatakan dosa, dosanya akan tetap ada,” Semuanya memejamkan mata, terasa energi putih mengaliri darah.
Di Galilea, di Galilea, Ia berfirman terakhir kalinya. Di Galilea, di Galilea, “Pergilah keseluruh dunia, beritakanlah injil kepada seluruh makhluk,” Rambut ikal-Nya berkibaran tersapa angin yang ringan. Busana putih tua-Nya menghablur bersama cahaya, menari-nari dalam sapaan angin pula.
“Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum,” Masih terbayang dimatanya, bagaimana penyaliban tiba untuk membaptis segenap manusia, upacara agung surgawi yang membebaskan manusia dari dosa-dosa masa lampaunya.
“Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya,” Ia berhenti sejenak. Menatap segenap wajah murid-muridnya. Tak ada yang kuasa menunduk, semua membalas tatapnya dengan cinta.
“Mereka akan mengusir setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka,” Angin terhenti.
“Mereka akan memegang ular, dan sekalipun minum racun maut, mereka tidak akan mendapatkan celaka; mereka akan meletakkan tangannya diatas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.”  Untuk terakhir kalinya, suaranya tergetar. Firman-Nya telah diakhiri.
Perlahan-lahan ia mendaki menara cahaya langit bersama malaikat, dan menembus surga yang Maha Tinggi. Ia mengambil pusara di sisi Elia, di sisi kanan-Nya.
****
Kenangan-kenangannya mengangkasa, ini saat-saat terakhirnya. Ia menatap kesebelas muridnya yang tersisa. Getir. Wajahnya diliputi cahaya suci dan tak urung juga muram. Ia menuju pembaringan, Tuhan telah genap memastikan janji-Nya. Jubah putihnya semakin terlihat tua. Kini ia bersembunyi dari kejaran tentara Romawi.
Wahai Isa, sesungguhnya Aku akan menyelesaikan tugasmu...” Hatinya tergetar. Ia belum mendapatkan murid seperti harapannya. Hanya sebelas orang saja.  Hari itu telah tiba. Maryam, ibunya, hanya bisa berdoa dan terus mendekatkan diri pada Allah.
Israel teramat ingkar, entah dari batu seperti apa kepalanya diciptakan. Sang Rasul gelisah. Tugasnya teramat berat. Berbagai mukjizat telah turun. Dengan tangannya yang agung, dan sukmanya yang terhubung langsung dengan Yang Maha Hidup, rupaan tanah liat merpati menjadi hidup. Berkepak jauh.
 “Sungguh, aku datang kepadamu dengan membawa mukjizat dari Tuhanmu, aku membuatkanmu sebentuk burung, lalu aku meniupnya, maka ia menjadi burung (Yang hidup) dengan seizin Allah.Masih terbayang tangannya yang lembut merupa burung dari tanah liat. 
Sukmanya terpusat langsung kepada kehidupan. Berkepak jauh, burung itu menjadi mukjizat yang indah. Mukjizat yang melambangkan kasih sayang yang beterbangan bersama manusia. Merpati putih, yang kini dijadikan lambang persaudaraan dan perdamaian manusia.
“Dan aku menyembuhkan seorang yang buta sejak lahir, dan orang yang berpenyakit sopak. Dan aku juga menghidupkan orang mati dengan seizin Allah;” Seorang buta, yang meminta padanya, juga akhirnya dapat menyelami warna-warna dunia dengan seksama, namun belum juga membuka hati mereka.
 “Dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sungguh! Yang demikian itu adalah suatu tanda bagimu, jika kamu sungguh beriman!” Kata-kata mulia tersabdakan dengan indah. Keteguhan tersirat dari susunan kalimatnya. Namun tak juga menjemba hati manusia.
“Aku datang membenarkan Taurat yang datang sebelum aku,” Setengah tengadah ia bersabda. Keringatnya berdentingan seperti permata. Jubahnya hampir basah.
Kini matanya terpejam semakin dalam. Pejamnya adalah pejam para nabi. Matanya tertutup, tetapi hatinya tetap cemerlang, terbuka mengawasi peredaran dunia. Lebih cemerlang dari matanya sendiri.
Dan mengangkat kamu kepada-Ku...” Ia selalu rindu kepada Allah, rindu kepada yang menciptakannya. Rambutnya yang basah telah menyentuh sangga kepala. Firman Allah yang nuzul sebagai nubuat akhir kerasulannya teramat menggambarkan akhir yang sulit, yang akan menggetarkan hati manusia. Ia akan mendaki menuju Allah. Tugasnya yang pertama telah genap.
“Sesungguhnya Allah, Tuhanku dan Tuhanmu,” Angin bertiup dari surga, menawarkan keringatnya, namun ladang penggembalaan ini lebih panas karena hati manusia. Semakin banyak yang menentangnya.
“Karena itu, sembahlah Dia! Inilah jalan yang lurus!” Jalan kerasulannya teramat sulit. Kekuasaan menghidupkan, yang bahkan jarang dimiliki para rasul yang lain, tak juga menjadi air yang menetes perlahan dan menembus rongga batuan. Ia hanya meminta manusia menyembah Allah dengan cara yang benar dan indah.
Ia gelisah. Sendirian. Meski Allah dan segenap rahim-Nya selalu menyertai, tetapi seorang rasul hanya dapat disunggingkan hatinya dengan murid-murid yang setia.
“Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku, untuk Allah?” Suaranya kembali tergetar bersama angin, namun kali ini tersampaikan kepada keduabelas hawari yang setia.
“Kami!” Jawab mereka tanpa ragu. “Kamilah penolong-penolong agama Allah!”
 “Serta membersihkan kamu dari orang-orang kafir...” Pagi hari yang sejuk, pagi hari terakhir ia menyentuh wajah murid-muridnya dengan pandangan penuh kasih sayang dan rindu. Embun belum lama hilang. Kelak Allahnya yang terkasih akan membersihkan dirinya dari fitnah.
Barisan pepohonan mulai sayu, mengiringi berakhirnya masa kerasulan seorang yang mulia. Malaikat telah menjembanya. Siap mengantarnya menuju Yang Terkasih di Ar-Rafiq. Ia rindu, ingin bertemu Tuhannya.
“Kemudian hanya kepada Akulah kembalimu...” Ia seorang hamba yang tak akan menyangsikan saat-saat kembali pada Tuhan. Ia tak akan sedikitpun mundur. Ia telah terbaring sempurna, dan memasuki alam tidur para nabi. Alam tidur fisik yang membiarkan hatinya tetap terbuka dan terhubung dengan Tuhan.
Hatinya telah bulat, ini bukan saat ketika kemanusiawiannya menghalangi kehendak Tuhan. Ia adalah rasul, pembawa risalah agung Injil. Ia menyerahkan diri sepenuhnya kepada Yang Maha Penyayang, dan bersiap menemui-Nya, beserta raga dan sukma. Dunia ini hanya akan seperti mimpi, dan kehidupan di dunia ini, hanyalah main-main dan seperti mimpi.
Kegetiran Sang Rasul memuncak, manakala Allah, Kekasihnya, menubuatkan akan ada perselisihan setelah kemoksaannya. Setelah ia naik ke sisi Kekasihnya itu. Manusia akan berselisih dengan keras.
Kelak, meskipun ia yang turun untuk membersihkan perselisihan itu, adalah luka yang luar biasa bagi seorang Rasul menyaksikan umatnya saling tikam. Luka yang teramat dalam, seperti ayah yang menyaksikan putera-puteranya saling membunuh.
Akhirnya, Allah, dengan perantara malaikat, mengangkatnya kelangit, dan menuju sisi-Nya dengan agung. Ruh dan raga, secara serentak. Kesebelas hawarinya berlinangan air mata, yang berdenting selayaknya dawai-dawai yang digetarkan nada-nada perpisahan.  
Dedaunan hening meski bergerak karena angin. Cahaya yang masuk lewat jendela berusaha meredam tangis para hawari, namun Sang Rasul memang amat dicintai. Seorang muridnya yang lain, tengah berjuang menghadapi penyaliban.
Ya, Lapangan Golgota. Menghadapi tuduhan sebagai Rasul penyesat. Tetapi ia bahagia, wajahnya kini serupa dengan wajah orang yang dicintainya. Rambutnya selalu basah, dan harum dengan kesturi surga. Fisiknya diserupakan dengan fisik Sang Rasul. Dari wajahnya cahaya kenabian Sang Rasul menyeruak pula, semakin menyenangkan hatinya. Ia paham, sepaham-pahamnya, hari itu ia akan mati. Tetapi ia mati demi orang yang dicintainya. Mahkota duri-duri tajam, tidaklah setajam duri perjalanannya menegakkan Injil.
Paku telah menembus kedua tangannya, lalu rasa sakit menghunjam hingga kedasar hati. Darah menjadi hujan deras. Tali semakin erat menjerat, tetapi rasa sakit semakin membuatnya cinta kepada Rasul dan Allah. Kematian yang ia tuju, adalah kematian yang indah. Cambuk dan gada berulang-ulang memisahkan kulit dengan dagingnya. Menarik-narik ruhnya dari tubuh yang hancur disiksa.
Ia tetap akan ingat, bagaimana Sang Rasul meminta seseorang menggantikan raganya, agar kesebelas murid yang lain selamat. Sang Rasul berjanji, ia akan datang kembali menjelang akhir dunia, dan berkumpul bersama mereka dalam surga yang diliputi cahaya. Janji seorang rasul adalah seperti ayat-ayat wahyu itu sendiri.
Cahaya mengiringi perjalanannya diatas kayu salib, seperti pagi. Rambutnya terliputi darah yang mengering. Luka-lukanya begitu dalam. Wajahnya sudah mengeras dan menyunggingkan senyuman seorang martir kenabian. Matahari baru saja terbit, sinarnya sedikit meredup, tersamar dengan berakhirnya tugas kehidupan dua anak manusia yang mulia. Merah jingga yang maha agung.
Di saat yang sama, Sang Rasul, bangun dari mimpi duniawi menuju kenyataan ukhrawi. Menuju cinta sejatinya. Dunia ini adalah alam mimpi, dan kematian hanyalah seperti air yang digunakan untuk membangunkan seseorang dari lelapnya. Meski, itu berarti meninggalkan umat yang dicintainya, beserta kesebelas hawari, dalam perselisihan yang abadi.
Sang Rasul mengalami mimpi yang berat dan panjang, dan kelak akan bermimpi kembali pada tidur duniawinya menjelang kiamat. Menjadi Messiah. Nuzulnya untuk kedua kali akan menjelaskan misteri yang turut tersalib selama ribuan tahun setelahnya.
“...Lalu Aku memutuskan hal-hal yang kamu selalu berselisih darinya.



Minggu, 01 Juli 2012

HUKUM MENGOREKSI PARA PENGUASA DARI ATAS MIMBAR


Senin, 19 Mei 2008 13:24:49 WIB

HUKUM MENGOREKSI PARA PENGUASA DARI ATAS MIMBAR


Oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Majalah As-Sunnah    http://almanhaj.or.id

بسم الله الرحمن الرحيم 



Pertanyaan. Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Apakah mengoreksi para penguasa melalui mimbar termasuk manhaj para salaf (ulama terdahulu)? Bagaimana cara mereka menasehati para penguasa?

Jawaban. Mengekspos aib para penguasa dan mengungkapkannya di atas mimbar tidak termasuk manhaj para ulama dahulu, karena hal ini bisa menimbulkan kekacauan dan mengakibatkan tidak dipatuhi dan didengarnya nasehat untuk kebaikan, di samping dapat melahirkan kondisi berbahaya dan sama sekali tidak berguna. Cara yang dianut oleh para ulama dahulu adalah dengan memberikan nasehat secara khusus, yaitu antara mereka dengan para penguasa, atau dengan tulisan, atau melalui para ulama yang biasa berhubungan dengan mereka untuk mengarahkan kepada kebaikan.

Mengingkari kemungkaran tidak perlu dengan menyebutkan pelaku. Mengingkari perbuatan zina, riba dan sebagainya, tidak perlu dengan menyebutkan pelakunya, cukup dengan mengingkari kemaksiatan-kemaksiatan tersebut dan memperingatkannnya kepada masyarakat tanpa perlu menyebutkan bahwa si fulan telah melakukannya. Hakim pun tidak boleh menyebutkan begitu, Apalagi yang bukan hakim.

Ketika terjadi suatu fitnah di masa pemerintahan Utsman, ada orang yang bertanya kepada Usaman bin Zaid Radhiyallahu ‘anhu :

"Tidakkah engkau memprotes Utsman?" la menjawab, "Aku tidak akan memprotesnya di hadapan masyarakat, tapi aku akan memprotesnya antara aku dengan dia, aku tidak akan membukakan pintu keburukan bagi masyarakat"

Tatkala orang-orang membeberkan keburukan di masa pemerintah Utsman Radhiyallahu ‘anhu, yang mana mereka memprotes Utsman dengan terang-terangan, sehingga merebaklah petaka, pembunuhan dan kerusakan, yang sampai kini masih membayang pada ingatan manusia, hingga terjadinya fitnah antara Ali dengan Mu'awiyah, lalu terbunuhnya Utsman dan Ali karena sebab-sebab tersebut dan terbunuhnya sekian banyak shahabat dan lainnya karena protes yang terang-terangan dan menyebutkan aib dengan terang-terangan, sehingga menimbulkan kemarahan masyarakat terhadap pemimpin mereka, yang akhirnya membunuh sang pemimpin. Semoga Allah memberikan keselamatan kepada kita semua.

[Huququr Ra' i war Ra’iyah, hal. 27-28, Syaikh Ibnu Baz]

MENGINGKARI KEMUNGKARAN BAGI PENGUASA


Oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin


Pertanyaan. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Ada sebagian orang yang tidak takut kecuali dengan kekerasan. Apa yang harus dilakukan terhadapnya?

Jawaban. Memang, ada sebagian orang yang tidak takut kecuali dengan kekerasan. Hanya saja, kekerasan yang tidak membuahkan kemaslahatan dan hanya melahirkan yang lebih buruk, tidak boleh digunakan, karena yang harus dilakukan adalah dengan hikmah. Kekerasan yang berupa pukulan dan penjara hanya boleh dilakukan oleh para penguasa. Adapun manusia biasa hanya bertugas menjelaskan kebenaran dan mengingkari kemungkaran. Sedangkan merubah kemungkaran, lebih-lebih dengan tangan, ini dibebankan kepada para penguasa, merekalah yang berkewajiban merubah kemungkaran sejauh kemampuan, karena mereka yang bertanggung jawab terhadap perkara ini.

Jika seseorang ingin merubah kemungkaran dengan tangannya setiap kali melihat kemungkaran, tentu hal ini akan melahirkan kerusakan. Karena itu, harus mengikuti hikmah dalam perkara ini. Anda bisa merubah kemungkaran di rumah yang di bawah kekuasaan anda, tapi merubah kemungkaran di pasar dengan tangan, bisa menimbulkan hal yang lebih buruk daripada kemungkaran tersebut. Dalam kondisi seperti ini, hendaknya anda menyampaikan kepada yang mempunyai kemampuan untuk merubah kemungkaran di pasar itu.

[Kitabud Da'wah, 6, Syaikh Ibn Utsaimin (1/38-39)]

[Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar'iyyah Fi Al-Masa'il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penerjemah Musthofa Aini, Penerbit Darul Haq]

PENGGEREBEKAN DAN PENGHANCURAN TEMPAT MAKSIAT


Oleh Syaikh Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaili


Pertanyaan Syaikh Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaili ditanya : Apakah kami diperbolehkan merubah kemungkaran dengan kekuatan tangan, seperti menghancurkan lokasi-lokasi pelacuran dan mabuk-mabukan, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin di Indonesia?

Jawaban Ini tidak boleh! Bahkan ini termasuk kemungkaran tersendiri. Merubah kemungkaran dengan kekuatan tangan merupakan hak waliyul amr (umara). Tindakan melampaui batas yang dilakukan oleh sebagian orang terhadap tempat-tempat maksiat, (yakni) dengan menghancurkan dan membakarnya, atau juga tindakan melampaui batas seseorang dengan melakukan pemukulan, maka ini merupakan kemungkaran tersendiri, dan tidak boleh dilakukan.

Para ulama telah menyebutkan masalah mengingkari dengan kekuatan tangan, merupakan hak penguasa. Yaitu orang-orang yang disabdakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Barangsiapa melihat kemungkaran, maka hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika ia tidak mampu, maka dengan hatinya”

Makna kemampuan yang disebutkan dalam hadits ini, bukan seperti yang dibayangkan oleh kebanyakan orang, yaitu kemampuan fisik untuk memukul atau membunuh. Kalau demikian yang dimaksudkan, maka kita semua dapat memukul. Namun, apakah benar yang dimaksud seperti ini?

Kemampuan yang dimaksudkan adalah kemampuan syar’iyah. Yang berhak melakukannya ialah orang yang memiliki kemampuan syar’iyah. Yaitu, pengingkaran terhadap mereka tidak akan menimbulkan kemungkaran lain. Dengan demikian, perbuatan melampaui batas yang dilakukan oleh sebagian orang, baik dengan memukul atau menghancurkan tempat-tempat maksiat yang dilakukan seperti pada sekarang ini merupakan pelanggaran

Orang yang melihat kemungkaran atau melihat pelaku kemungkaran, hendaknya melaporkannya kepada polisi, sebagai pihak yang bertanggungjawab, atau para ulama atau para da’i, untuk selanjutnya diserahkan kepada yang memiliki wewenang. Kemudian akan diselidiki, sehingga dapat diatasi dengan cara yang tepat.

[So’al-jawab Syaikh Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaili di Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, 27 Jumadil Akhir 1427H]

[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun X/1427H/2006M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Almat Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183. telp. 0271-5891016]
Bagikan