Selasa, 23 Oktober 2012

Kredo Tembok Naskah Asli


“Kami lahir di tembok, makan di tembok hidup di tembok.keluarga kami tinggal di tembok. Manakala tembok bergetar, disitulah kami tahu pemilik tembok murka dan mengejar untuk membunuh kami, karena kami berisik.
Kami adalah cicak, yang melekat di tembok.  Tak pernah ingin mengenal pemilik tembok, kami hanya memakan nyamuk. Lalat. Laba-laba. Kecoak. Kadang-kadang manusia.
Kami memiliki kemampuan menumbuhkan ekor yang terputus.
Kami hanya akan muncul ketika malam tak ada bulan, karena cahaya bulan tidak memancing datangnya serangga. Manusia? Manusia akan tertarik dengan cahaya televisi dan komputer. Mereka akan berhinggapan dan bisa kami mangsa.
Sejujurnya, kami ingin mengenal mereka. Hanya mengenal. Bukan untuk berbicara atau berdiskusi tentang kepalsuan? Atau tentang politik? Kami hanya ingin mengenal tentang mereka. Mereka yang punggungnya enggan sedikitpun bersandar pada tembok. Atau sekadar meraba.
Ya, kami cicak-cicak, yang bukan apa-apa bila dilihat sekelebat. Kami cicak-cicak  hanya secuil noda yang tercipta karena adanya  Tembok, kami hanya seperti debu yang  tersesat  di tengah peradaban dunia.
 Kami hanya  setetes air hujan yang jatuh dari genting. Kami tidak akan bisa sederajat dengan kalian-manusia-. Tapi berilah kami sedikit waktu untuk sekedar mengenal mereka, atau sekedar melihat mereka berbicara bersandar pada Tembok.  Sehingga kami tidak terus merasakan bahwa di dunia ini hanya ada kami- para cicak-cicak-.
Tersapu.
Terbakar.
Ekornya putus.
Dikejar kucing.
Lari.
Terinjak manusia.
Siapa kami?
Manusia. Kami bukan manusia.
Kami cicak di tembok.
Kami bersumpah, akan mengembalikan cicak menjadi manusia seperti mereka.
Tidak! Manusia yang mampu melekat di tembok, dan bukannya mengotori tembok!
Hingga pada satu ketika manusia merencanakan pemusnahan. Genosida. Seminar-seminar diadakan. Propaganda.
“cicak-cicak ini tidak melakukan apa-apa demi keindahan tembok. Sampah! Mereka hanya hinggap, menempel, dan bergurau. Main catur. Setel musik. Hardrock. Membicarakan cewek. Basmi!”
“basmiiiii!” seru tentara-tentara manusia. Hingar bingar, popor senjata dihentakkan.
Cicak!
kami tak ingin kalah dari manusia. Kami memiliki senjata. Pulpen. Kertas.
Ah, tidak, printer. Kami punya printer. Senjata mematikan.
Kami akan mengeprint semuanya. Cerpen. Puisi. Novel. Pantun. Diari. Semua. Peradaban.
Cicak cak cak cak cak cak cak berdecak terus menerus dalam telinga manusia. Cak cak berdecakan dimana-mana adanya. Cicak cak cak cak cak cak cak di dinding menggelindingkan kekuasaan. Menulis dan berdecak. Cicak cicak cicak akan mengganggu tidurmu.
Siapkan semuanya untuk menghadapi kami hingga punah. Tak akan bisa!
Seribu banding sepuluh. Sepuluh ribu banding sepuluh, tetapi tak satupun diantara manusia mampu berdecak dan melekat di tembok seperti kami.
Kami akan tetap ada di tembok, bukan dalam ruang berpendingin yang membekukan pikiran, bukan juga di kantin yang panas dan pengap. Perangilah kami.
Pada hari pertempuran, kami berhadapan muka. Pistol dan printer. Peluru terletus, segera menjelma menjadi aksara dan melekat di kertas.



introspeksi



Dan bergelas-gelas kopi tumpah bersama terbakarnya rokok-rokok yang tanpa sengaja terhirup setelah kamu pergi
Apakah kamu menyadarinya?
Rambutku menua, seperti beringin yang berabad-abad lalu menyaksikan betapa damainya manusia, lalu dihabisi peperangan tiada henti
Apakah kamu menyadarinya?
Ketika jalan yang dulu kita lalui masih menyimpan energi, ketika kita saling mengaitkan tangan dan itu membuatku terhuyung-huyung dan terjatuh tepat ditengahnya, serta-merta menjadi mendaki dan entah kenapa
Apakah kamu harus menyadarinya?
Ketikah masih mengenal pria yang
Selalu menyaksikan pergantian hari dan malam lekas-lekas memperingatkan betapa lelah dan bagaimana
Rapuhnya ia, yang ia butuhkan teman bicara
Apakah kamu menyadarinya?












                                                                Ada apa,
Amar, nampaknya kamu berada dalam jalan yang sukar
Hingga membangkitkan aku dari masa lalu dan membiarkan dirimu
Berhenti
Bukankah kamu telah melihat kuburku, dan bukankah dalam perseteruan denganmu aku mati dan berlalu?
Ada apa, Amar
Nampaknya kamu kehilangan pilihan untuk menjaga tubuhmu sendiri dari rasa aman, dan matamu berlubang selubang-lubangnya, diterkam kesepian yang hampir-hampir mengelupaskan
Angka-angka penanggalan dari tempatnya
Bukankah kamu bisa mengistirahatkan diri, dan berhenti menyaksikan pergantian hari, lihatlah
Penanggalan semakin tua dan harus kamu jaga agar tetap di tempatnya
Ada apa, Amar
Ada yang bicara sastra, filsafat, ekonomi, politik
Banjir dan Tuhan
Kelaparan dan istirahat, tetapi kamu diam saja, menunggu yang menang dan kamu menjadi budaknya
Ada apa, Amar, kamu dimana ketika dirimu sendiri hilang dan tergilas pekerjaan, sementara tangan yang kau kira teman-temanmu lebih menyakitkan dari seharusnya
Ada apa, Amar, kamu dimana ketika kamarmu sendiri akhirnya melupakanmu dan berdebu
Bahwa menjadi penanggalan sendiri yang membenamkan mata kaki setinggi yang bisa kau lambangkan sendiri sebagai penanggalan baru yang telah hampir tua
Jari-jarimu semakin bergetar, ketika kau salami bagian tubuhmu satu-satu, kamu ingin berdamai dan bermaaf-maafan dengan mereka tetapi
Kamu tak mampu memaafkan diri sendiri
Ada apa, Amar?
Kamu tak bisa berhenti mengagumi betapa lemahnya, betapa kesakitannya, betapa luruhnya tubuhmu, tak bisa berhenti memaksa airmata turun bukan ditempat ia suka
Ada apa, Amar?

IMABSII itu apa sih?


Mas, IMABSII itu apa ya?
Kami adalah Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia se-Indonesia yang didirikan di Makassar, pada 6 mei 2004. Ibaratnya, seluruh BEMJ, HIMA, HMJ, dan komunitas kampus diseluruh negara kita bergabung lalu membentuk organisasi raksasa bernama IMABSII, untuk menyatukannya.

Lalu, apa gunanya?
Sebetulnya, kami ini semacam payung raksasa buat seluruh mahasiswa bahasa dan sastra Indonesia, jadi, semua kampus yang sudah jadi anggota otomatis mahasiswanya juga menjadi anggota. Kami didirikan untuk mempermudah dan mempererat tali persaudaraan seluruh mahasiswa. Kenapa tali persaudaraan? Sebab, dengan ini kami mempermudah transfer ilmu dari seluruh indonesia.
Kami berperan juga sebagai laboratorium sastra, filologi, dan bahasa. Jadi, Anda yang berminat mengabdikan ilmu silakan bergabung menjadi pengurus sesuai latar belakang dan minat. Selain itu, kami juga menjadi tempat penelitian atas perkembangan negatif bahasa dan budaya Indonesia.

Bagaimana struktur organisasi ini, Mas?
Begini, kami independen, tidak terikat kepada apapun secara hukum, hanya saja, kami menjalin kemitraan sebagai kaki-tangan Badan Bahasa dan DIKTI sebagai sarana sosialisasi, menjaring tenaga kerja, dan kebermudahan akses.
Mudahnya, Dewan Pembina-Dewan Pertimbangan-Sekjend-Wakil Sekjend-Kadept-Pengurus dan Staf-Anggota.
Dewan Pembina dijabat oleh Sekretaris Badan Bahasa, dan Dewan Pertimbangan dijabat oleh pengurus pusat periode sebelumnya.

Kalau jadi pengurus pusat ngapain aja sih, Mas?
Ya, begini sih, kalau jadi Sekretaris Jenderal itu sibuk. Mesti hadir kemana-mana, dia mengatur sebagai pimpinan tertinggi dari Sabang sampai Merauke. Menjalin perjanjian dan hubungan dimana-mana. Disaat yang sama, seiring semester kuliah, dia harus praktek atau KKL.
Jangan salah, secara keilmuan, Sang Sekjend ini dianggap dewa. Kalau wakil bidang sekretariat, tugasnya mirip sekretaris. Kalau wakil bidang keuangan, tugasnya mirip bendahara, hanya saja mengumpulkan uang dari seluruh Indonesia.
Nah, saya kan di bidang Wilayah Pusat. Tugasnya, menghubungkan 8 Wilayah Utama dan 30 Daerah. Menjamin semua informasi tersebar merata. Menjamin terlaksananya musyawarah dan program di 8 wilayah utama, sambil memastikan ketampanan tidak berkurang. Saya dibantu 8 Korwil, yang ditunjuk pada saat RAKERNAS.

Oo, pantas mas sibuk. Lantas, apa bedanya dengan BEMJ ya mas?
Begini, BEM J itu struktur internal kampus. Nah, untuk menyatukannya, kini dikenal BEM SI (seluruh Indonesia) nah, IMABSII pun seperti itu, hanya saja, menyatukan komunitas, HIMA, HMJ, BEMJ, dan Ikatan Jurusan. Secara program, kami lebih mengarah pada penelitian. Jika BEMJ arahnya pada even dan festifal (pertunjukan dan pameran keahlian) maka kami kearah eksplorasi dan penelitian.
Contohnya, pada tahun lalu, Parikesit (peneliti IMABSII dari UNPAK) meneliti naskah kuno Cianjur. Bagaimana dengan acara semisal festifal dan pesta? Nah, kami ada untuk mempermudah komunikasi dan menyebarkan informasi. Sebagai perantara, terutama bagi kampus anggota.

Bagiamana cara memilih Sekjend, mas?
Setiap 2 tahun sekali, kepengurusan harus ganti. Ah, untuk mengganti, diadakan Kongres IMABSII di kampus yang telah disepakati ketika RAKERNAS periode sebelumnya. Disana, diadakan seleksi dan musyawarah. Voting tetap merupakan jalan terakhir. Syaratnya, sekjend ini harus:
 i.         Bertaqwa Kepada Tuhan Yang Maha Esa.
ii.         Memiliki kemampuan, kecakapan dalam memimpin organisasi
iii.        Masih berstatus mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia selama masa jabatannya.
iv.        Memiliki prestasi akademik yang baik.
v.         Pada saat dilantik dan selama masa jabatan tidak menjadi pimpinan organisasi tingkat nasional lainnya.
vi.        Memiliki visi dan misi ke depan untuk Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia se-Indonesia.


Wah, njelimet ya, mas?
Yap, karena itu, sekjend betul-betul yang terbaik ketika itu.

Siapa saja yang sekarang jadi pengurus pusat, mas?
Dewan Pembina sekarang itu Ibu Yeyen Maryani, sekretaris Badan Bahasa, lalu Dewan Pertimbangan dijabat Kak Ahmad Mulyadi (dia mantan Sekjend kedua, periode 2010-2012).
Oh iya, sejak 2004 sudah ada 3 sekjend. Pertama, Kak Barnadi Zakaria dari Makassar, sekarang mengambil S-2. Dia juga pendirinya dan menjabat sekjend selama 6 tahun.
Sekjend sekarang dijabat Kak Fajar Ditya Adhaniawan dari Universitas Suryakencana, Cianjur. Dia itu orang komunitas Warung Apresiasi Sastra.
Wasekjend I dijabat Bang Tarida Ilham, dari Universitas Asahan, Sumatera Utara. Wasekjend II dijabat Kang Rudi, dari Pakuan, Bogor. Nah, Wasekjend III/Korwil Pusat dipegang saya sendiri, Amar Ar-Risalah.

Menurut kabar dari burung, IMABSII bayar ya mas?
Nah, ini kabar paling bikin pusing. Setiap pengurus IMABSII tidak membayar apapun. Hanya saja, setiap pertemuan dan rapat kami, biasa tidak di Jakarta. Harus keluar biaya transportasi. Dan itu, dimanfaatkan oleh kampus tuan rumah untuk seminar. Seminar itu bisa sampai 5 hari, nah seminarnya itu yang kita bayar. Bukan IMABSII.
Setiap KAMPUS ANGGOTA IMABSII baru diwajibkan membayar 100. 000 rupiah pertahun kepada wasekjen 2. Sekarang, jumlah kampus anggota sekitar 71. Terbaru adalah Universitas PGRI Kediri.

Apa masalah IMABSII sekarang ini, apa yang diurusi?
“...Kebudayaan, erat hubungannya dengan kesusastraan. Justru kesusastraan itu adalah jembatan antara budaya dan bahasa, sebuah simbiosis, atau paling tidak, area abu-abu dimana kebudayaan adalah bahasa, dan bahasa adalah kebudayaan.
Kesusastraan paska angkatan 2000 yang diwarnai karya terjemahan dan bahasa gaul anak muda, turut memperkeruh situasi. Sebetulnya, sejak dahulu, banyak bertebaran karya semacam itu. Sejak angkatan pujangga baru hingga angkatan 80-an. Namun, horison harapan pembaca kala itu tidak menganggap karya itu sebagai kiblat, bahwa “bagus” adalah “karya itu”. Mereka tetap memiliki pemahaman yang baik terhadap kebudayaan asli kita.
Bagaimana dengan era paska angkatan 2000? Karya-karya, dianggap mewakili horison harapan pembaca, apabila memenuhi syarat, diantaranya, menjadi penjualan terbanyak kala itu, kutipan atau cuplikan karya itu menjadi idiom baru, atau karya yang dihasilkan setelahnya menginduk karya itu secara massal, baik dari tema, gaya bahasa, gaya penulisan, dan amanat.
Kondisi ini memaksa kita untuk mempelajari, memahami, lalu memperbaikinya. Menjadi kondisi kebahasaan yang ideal, yang mampu mendukung kebudayaan yang sehat, lalu menumbuhkan lagi pohon sastra yang indah dan subur. Akan tetapi, apakah itu sudah cukup?
Adalah dangkal jika kita hanya bicara teori dan analisa yang mengawang-awang. Ya. Kita punya massa. Kita punya tenaga. Di dunia nyata yang melampaui segala teori. Ratusan kampus, ribuan sastrawan, puluhan ribu sarjana bahasa Indonesia.
Tantangannya sebenarnya adalah, bagaimana kita mampu menghubungkan ratusan kampus dengan puluhan ribu manusia di seluruh Indonesia? Kita adalah sastrawan sekaligus budayawan. Bukan dihubungkan dengan telepon. Surat. Rapat. Kongres. Atau diskusi.
Kita dihubungkan dengan tujuan yang sama, kita disatukan dengan cara-cara yang sama. Cara yang senantiasa berubah dan dinamis mengikuti kebutuhan setiap daerah dan waktu. Untuk itulah IMABSII dihadirkan, untuk menyelaraskan senar-senar gitar yang berbunyi sendiri-sendiri menjadi satu lagu yang indah. Nada yang diigetarkan bersama-sama namun kenal irama...”
Bahasa saya berat ya? Ini dikutip dari esei yang saya sampaikan pada forum IMABSII.
Kerjasama dengan BEMJ BSI UNJ misalnya menjadi juri pada g-sastrasia, menjadi pembuat soal, dan turut menyebarluaskan informasi penyelenggaraan acara BEM, serta membukukan sebagian karya.

Terus apa lagi mas, yang ini baru menarik?
“...Lagi-lagi akan timbul nada sumbang tentang modal. Bahwa setiap pergerakan memerlukan tenaga, dan kita bicara pergerakan yang ditenagai biaya. Saya yakin, masalah pendanaan akan terkontrol dengan beberapa cara.
Pertama, pembinaan hubungan baik dengan balai bahasa di setiap daerah, seperti masukan dewan pertimbangan IMABSII pada kongres III di Universitas Bengkulu. Kerjasama yang baik akan terbangun jika komunikasi juga baik. Sedangkan, kini terjadi jurang pembatas yang amat jauh antara kita sebagai mitra kerja dengan Balai Bahasa sebagai payung dan sumber data.
Kedua, pemanfaatan iuran yang seringkali macet karena kelalaian baik pusat maupun wilayah dan daerah. Kelalaian ini semestinya bisa diatasi dengan kesadaran, bahwa penundaan hanya berakibat penundaan berikutnya.
Ketiga, publikasi dan peningkatan mutu karya anggota, yang tidak dibatasi hanya pada ranah penulisan cerpen, puisi, atau novel, tetapi juga filologi, kritik sastra, dan kritik sosial budaya. Usaha filologis yang ditempuh pada kepengurusan sebelumnya mesti terhenti karena suatu hal, dan kini, dengan anggota yang jauh lebih memiliki sarana hubungan yang baik, karya filologis tersebut bisa dijadikan produk sekaligus sumber pencairan dana penelitian selanjutnya.
Keempat, media massa, yang menjadi tolok ukur kedudukan sebuah lembaga atau kegiatan, harus kita jadikan mitra dan corong. Gunanya, untuk memperkuat daya tawar dihadapan pemilik modal diluaran sana.
Semoga, apa yang disampaikan disini menjadi bahan renungan bagi kita semua. Selamat datang di UNESA...”
Ini masih lanjutan esei saya.

Lho, kok UNESA?
Nah, ini dia butirnya. Bulan November ini, tanggal 15, ada Rapat Kerja Nasional. Se Indonesia lho, untuk menyusun program setahun kedepan.
Tempatnya di UNESA. Bayar seminarnya (bukan IMABSII-nya!) 250.000 rupiah. Kalau IMABSII sih gratis, malah kalau bisa menunjang pekerjaan. Disana kita bertemu teman-teman dari seluruh negeri, kabarnya, akan ada Anies Baswedan dan Budi Darma, serta Amar Ar-Risalah.
Ikut saja, bantu kami menjalankan tugas moral menjaga dan mengembangkan budaya (bukan melestarikan, tapi mengembangkan!). tak dibatasi berapa orang kok!

Oo, gitu ya mas? Siapa saja yang bisa ikut?
Semuanya, yang penting anak JBSI. DIK maupun NONDIK. Ganteng, jelek, arek, cilik, penyakitan, cantik (diutamakan), dan berjiwa backpacker (tahulah, pergaulan saya). Mau semester 2, 3, 4, keatas, semua boleh. Hubungi saja saya. Disana ada penginapan yang disediakan panitia.

Terus, kalau saya datang RAKERNAS saya ngapain mas?
Pertama, Anda turut menyumbangkan usulan program penelitian yang dikerjakan oleh kita bersama. Kedua, melalui departemen Anda nanti, bisa juga dijadikan tempat belajar. Ketiga, bertemu dengan teman baru dari  seluruh negeri. Keempat, mengikuti seminar dan perbaikan gizi, karena jaminan makan 3 kali sehari. Jelas, kan?

Jelas, sip! Baik, akan saya pertimbangkan menjadi pengurus (semua sudah anggota) dan ikut rakernas!
Nah, begitu!
Kami sedang bersiap membuat kumpulan puisi, kumpulan cerpen, membuat penerbitan IMABSII, dan kumpulan filolog muda, serta meneliti angkatan baru sastra. Siap??


                        Keterangan: jika ada pertanyaan, hubungi saya, namun maaf  jika sulit ditemui atau dihubungi. Sangat sibuk. Telepon genggam saya juga sedang sensitif dengan saya.

Peran Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia se-Indonesia


Peran Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia se-Indonesia yang kian hari diharapkan kian kuat pada masyarakat, memerlukan strategi dan perencanaan yang matang. Perencanaan ini, meliputi orientasi terhadap tujuan, isu yang berkembang, dan sumberdaya manusia serta modal.
            Berdasarkan Anggaran Dasar IMABSII bab III pasal 8, IMABSII bertujuan untuk Menjaga keutuhan dan mempererat tali persaudaraan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia se-Indonesia. Wahana pengkajian, penelitian, dan pengembangan Bahasa dan Sastra Indonesia, serta Wahana pengontrol sosial atas penyalahgunaan dan penyimpangan nilai kebahasaan dan kesastraan Indonesia.
Peran kita yang menyempit hanya pada pelaksanaan even-even tertentu yang insidental, ataupun perayaan hari besar, patut kita pertimbangkan sebagai perbaikan kedepan. Bagamana selanjutnya kita berjalan diatas tangga, bukan menuruni lembah yang curam. Memaknai IMABSII sebagai sarana pengembangan, bukan sarana pesta.
Fungsi penelitian dan pengembangan, dalam kaitan IMABSII sebagai mitra kerja Badan Bahasa, memiliki medan yang sangat luas. Ini mencakup bagaimana bahasa bertahan dalam ruang dan waktu, serta dalam benak penuturnya.
Bahasa Indonesia mengalami kemunduran. Setidaknya, ada empat hal utama yang menyebabkan kemunduran ini. Pertama, tersirat dalam pasal 29 Bab III tentang Bahasa Negara dalam UU Nomor 24 Tahun 2009, bahwa “Bahasa pengantar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat menggunakan bahasa asing untuk tujuan yang mendukung kemampuan berbahasa asing peserta didik.”
Jika kita kaitkan dengan kebijakan RSBI dan standarisasi nasional tentang mutu pendidikan, mayoritas sekolah yang bertitel “taraf nasional” atau “rintisan sekolah bertaraf internasional” jelas mengabaikan bahasa indonesia dalam kurikulumnya. Dengan mengedepankan bahasa asing sebagai mutu utama peserta didik, sekolah-sekolah semacam ini menajiskan bahasa sendiri, dan seakan membunuh dan menghapus ingatan bahasa indonesia dari benak penutur yang kebetulan bersekolah disana.
Bahasa asing dijunjung-junjung sebagai bahasa agung, bahasa perdamaian dunia, dan bahasa makhluk beradab, sementara bahasa kita dikampung-kampungkan. Proporsi pembelajaran bahasa indonesia dipersempit menjadi hanya beberapa jam seminggu dan tidak ditunjang dengan keseharian sebagai warga negara indonesia, sebab guru-guru pun pada kesehariannya kehilangan kemampuan menuturkan bahasa indonesia yang benar.
Melihat tren persiapan dan kelulusan ujian nasional., betapa banyak lembaga pendidikan yang memusatkan perhatian pada mata pelajaran “orang kaya dan sukses”, bahasa asing, ilmu alam, dan matematika. Berbangga-bangga nilai sempurna pada mata pelajaran itu, lalu merendahkan mata pelajaran bahasa indonesia.Tidak dipungkiri, keahlian berbahasa juga merupakan urusan bakat. Tetapi, terlalu aneh apabila mayoritas (perhatikan ketidakseimbangannya!) siswa mendapatkan nilai yang tidak seberapa pada bahasa indonesia?
Kedua, kebijakan yang menyamaratakan sastra dan bahasa indonesia dan menyederhanakannya menjadi soal-soal ujian nasional, jelas menginjak-injak kaidah sastra, kaidah pemaknaan sebuah karya, bahwa horison harapan dan persepsi pembaca berbeda-beda setiap individu, dan hal itu halal di mata sastra.
Pada soal ujian seringkali kita temui pemenggalan puisi untuk menemukan hubungan gagasan. Padahal, berkaitan dengan horison harapan siswa, setiap karya, puisi, prosa, memiliki kebebasan untuk dipahami bagaimanapun juga. Pembaca harus beranggapan bahwa penulis sudah mati, dan menikmati karya sebagaimana adanya, lepas dari pengaruh propaganda pembaca lainnya.
Pilihan jawaban yang tersedia dalam butir jawaban, seakan mengarahkan pembaca (siswa) dalam satu opini, satu paham tentang makna karya itu sendiri. Karena apa? Dalam pilihan ganda, hanya tersedia satu pilihan yang benar, sedangkan dalam teori horison harapan, semua persepsi dan pilihan jawaban, adalah benar menurut pembaca, bukan menurut pihak ketiga.
Ketiga, berkaitan dengan bagian penggunaan bahasa indonesia secara umum, bahasa, menurut seorang sastrawan, adalah seperti tanah kepada pohon dalam hubungannya berama budaya. Bahasa, adalah pohon yang hidup dari tanah kebudayaan itu, dan setiap kali menggugurkan daunnya, pohon kembali menyuburkan tanah setelah diisap haranya tanpa henti.
Lingkungan kerja dan pendidikan, pada masa ini seringkali (selalu!) mengadopsi budaya asing. Dari sekedar tata percakapan keluarga yang ringan, makan malam, hingga forum resmi seperti persidangan yang menggunakan gaya budaya asing.
Aturan persidangan, yang dipaksakan menggunakan bahasa inggris, atau istilah politik dari bahasa asing, mempertegas paradigma, bahwa kata itu, istilah itu tak ada padanannya dalam  bahasa indonesia.
Dengan dalih pembaruan, pembenahan, dan pendisiplinan, budaya berbahasa yang baik hilang seiring bergantinya identitas budaya kita. Budaya indonesia sekarang adalah budaya eropa. Budaya jepang. Budaya arab. Budaya yang digadang-gadang sebagai globalisasi.
Pencanangan kota-kota di daerah sebagai kota wisata dengan diluncurkannya program “Visit Indonesia” memaksa para kepala daerah yang silau dengan modernisasi, mengganti aksaranya dengan aksara asing. Mengganti penunjuk jalan dengan bahasa asing. Memaksakan penamaan istilah dan gelar dengan bahasa asing. Budaya lokal bergeser, terjadi kebingungan sosial. Penutur bahasa yang bingung ini, mesti juga menghadapi lingkungan pendidikan yang melupakan budaya sendiri, maka jadilah kita bangsa yang kehilangan identitas. Bangsa yang identitasnya tak dapat dibedakan antara bangsa asing dengan bangsa sendiri.
Kebudayaan, erat hubungannya dengan kesusastraan. Justru kesusastraan itu adalah jembatan antara budaya dan bahasa, sebuah simbiosis, atau paling tidak, area abu-abu dimana kebudayaan adalah bahasa, dan bahasa adalah kebudayaan.
Kesusastraan paska angkatan 2000 yang diwarnai karya terjemahan dan bahasa gaul anak muda, turut memperkeruh situasi. Sebetulnya, sejak dahulu, banyak bertebaran karya semacam itu. Sejak angkatan pujangga baru hingga angkatan 80-an. Namun, horison harapan pembaca kala itu tidak menganggap karya itu sebagai kiblat, bahwa “bagus” adalah “karya itu”. Mereka tetap memiliki pemahaman yang baik terhadap kebudayaan asli kita.
Bagaimana dengan era paska angkatan 2000? Karya-karya, dianggap mewakili horison harapan pembaca, apabila memenuhi syarat, diantaranya, menjadi penjualan terbanyak kala itu, kutipan atau cuplikan karya itu menjadi idiom baru, atau karya yang dihasilkan setelahnya menginduk karya itu secara massal, baik dari tema, gaya bahasa, gaya penulisan, dan amanat.
Kondisi ini memaksa kita untuk mempelajari, memahami, lalu memperbaikinya. Menjadi kondisi kebahasaan yang ideal, yang mampu mendukung kebudayaan yang sehat, lalu menumbuhkan lagi pohon sastra yang indah dan subur. Akan tetapi, apakah itu sudah cukup?
Adalah dangkal jika kita hanya bicara teori dan analisa yang mengawang-awang. Ya. Kita punya massa. Kita punya tenaga. Di dunia nyata yang melampaui segala teori. Ratusan kampus, ribuan sastrawan, puluhan ribu sarjana bahasa Indonesia.
Tantangannya sebenarnya adalah, bagaimana kita mampu menghubungkan ratusan kampus dengan puluhan ribu manusia di seluruh Indonesia? Kita adalah sastrawan sekaligus budayawan. Bukan dihubungkan dengan telepon. Surat. Rapat. Kongres. Atau diskusi.
Kita dihubungkan dengan tujuan yang sama, kita disatukan dengan cara-cara yang sama. Cara yang senantiasa berubah dan dinamis mengikuti kebutuhan setiap daerah dan waktu. Untuk itulah IMABSII dihadirkan, untuk menyelaraskan senar-senar gitar yang berbunyi sendiri-sendiri menjadi satu lagu yang indah. Nada yang diigetarkan bersama-sama namun kenal irama.
Lagi-lagi akan timbul nada sumbang tentang modal. Bahwa setiap pergerakan memerlukan tenaga, dan kita bicara pergerakan yang ditenagai biaya. Saya yakin, masalah pendanaan akan terkontrol dengan beberapa cara.
Pertama, pembinaan hubungan baik dengan balai bahasa di setiap daerah, seperti masukan dewan penasihat IMABSII pada kongres III di Universitas Bengkulu. Kerjasama yang baik akan terbangun jika komunikasi juga baik. Sedangkan, kini terjadi jurang pembatas yang amat jauh antara kita sebagai mitra kerja dengan Balai Bahasa sebagai payung dan sumber data.
Kedua, pemanfaatan iuran yang seringkali macet karena kelalaian baik pusat maupun wilayah dan daerah. Kelalaian ini semestinya bisa diatasi dengan kesadaran, bahwa penundaan hanya berakibat penundaan berikutnya.
Ketiga, publikasi dan peningkatan mutu karya anggota, yang tidak dibatasi hanya pada ranah penulisan cerpen, puisi, atau novel, tetapi juga filologi, kritik sastra, dan kritik sosial budaya. Usaha filologis yang ditempuh pada kepengurusan sebelumnya mesti terhenti karena suatu hal, dan kini, dengan anggota yang jauh lebih memiliki sarana hubungan yang baik, karya filologis tersebut bisa dijadikan produk sekaligus sumber pencairan dana penelitian selanjutnya.
Keempat, media massa, yang menjadi tolok ukur kedudukan sebuah lembaga atau kegiatan, harus kita jadikan mitra dan corong. Gunanya, untuk memperkuat daya tawar dihadapan pemilik modal diluaran sana.
Semoga, apa yang disampaikan disini menjadi bahan renungan bagi kita semua. Selamat datang di UNESA.

Rabu, 05 September 2012

percakapan aku dengan mu yang sempat kucatat sederhana

1)


Tuhan adalah seminggu yang terbuang
dan aku menuding-nuding seminggu setelahnya akan sama
aku berdarah, dicakar-cakar kala dan mangsa
kehilangan Tuhan dan tujuan dan disiksa
juga sebagai mangsa

2)

dan tetap kusembunyikan Tuhan untukku sendiri
sebab bila kubagi nanti Dia malu-malu pergi lagi
dan perang dan perang dan perang lalu ada yang mati
aku kesepian
jangan lagi Tuhan kamu paksa berdiri dan enggan kembali

3)

Tuhan, ayo kita reuni
kudengar Kamu ingin berlari jika kupanggil dari sini

Tuhan, cepat kesini
aku ingin segera berganti diri bukan yang ada pada sisa hari ini

Tuhan, aku sayang Kamu jadi
cepat lari ke diri

Habibi Bima


00.00
“Hai, Amar! Kamu menginap juga? Heheheh, ayo kita download film, aku punya link bagus. Piranha! Ayo kita lihat bersama, mana yang bawa note book? Ah, Dito juga, sini!”
Baju hijaunya mulai lusuh, namun senyumnya tertata seperti biasa. Matanya kali ini sayu, kelelahan. Menyiapkan acara ospek esok hari.
“iya, pengawasan mewajibkan datang jam setengah lima, dari pada terlambat lebih baik menginap. Ayo kita lihat, kita juga ingin tampil jadi latihan musik malam ini. Mana?”
Angin menggoyang api lilin yang mengusir nyamuk. Malam dingin, namun beberapa mencoba menghangatkannya dengan pembicaraan sederhana, namun dekat sebagai teman.
Bima juga menginap rupanya. Aku mengenalnya sejak ospek angkatan sendiri, meski berbda jurusan, namun kami-entah kenapa-sudah saling kenal. Dekat. Makan bersama. Tertawa bersama.
Saling menyapa dan bersalaman hampir setiap hari.
00.30
Oh, namamu Nasrul ya? Ketua ospek jurusan ini? Aku Bima, panitia jurusan Arab. Bagaimana? Lancar? Saling membantu saja kita esok pagi,”
Nasrul adalah laki-laki keriting dan mancung. Malam itu ia mengenakan pakaian adat madura, seperti blazer namun tanpa kerah. Ia nampak dekat, meski baru mengenal sore tadi dengan jurusan Arab yang juga menginap di teras malam itu. Ia juga temanku yang paling dekat, dan kini Nasrul dan Bima nampak akrab sekali. Maklum, film semi porno.....
“laki-laki, huh...”
02.00
Nasrul tertawa besar ketika piranha menggigit penis tokoh utamanya, sementara yang lain berenang dan mengigit betis wanita telanjang kekasihnya itu di bak mandi.
Grha!
Ternyata hanya mimpi tokoh utama! Satria sampai terjungkal kaget dan membuat tawa semakin besar seperti tersulut minyak tanah.
Kampung! Hahahaha!
Kami saling menghimpitkan badan, karena layar notebook terlalu kecil untuk sembilan orang. Tertawa dan bertukar bau mulut. Memakan jagung panggang renyah, lalu tertawa lagi dan bertukar bau mulut lagi.
Yang lain mencoba-coba suling bambu milik kami, sementara sebagian masih tertawa menonton film semi porno itu dengan mata segar dan cerah.
“Hah.... laki-laki...”
04. 00
“Wah sudah jam empat? Saatnya mandi, jam setengah lima kan kumpul? Tuh ada mahasiswa baru yang sudah kumpul, ayo cepat”
“aku boleh pinjam gayung?”
“ini,”
“Rif, ada sabun mandi?”
“ada...”
“wah, lupa bawa handuk, pinjam juga!”
“ini....”
“yah, odolnya habis, minta ya!”
“ini ni...”
“hm.. lupa bawa sikat gigi juga, pinjam ya!”
“eee...... ya sudah deh....”
Mussab memang selalu begitu, maklumi sajalah.
Sementara, dengan asumsi bahwa belum ada mahasiswa wanita pada jam empat pagi, Dito memilih mandi di kamar mandi wanita dengan alasan antri yang panjang.
“byur....”
“ugg! Dingin!”
Mahasiswa wanita ternyata datang tanpa diduga dan mengetuk pintu, “ada orang di dalam?”
“ada...” jawab dito dengan suara khas laki-laki baru bangun tidur yang bas dan berat.
gadis itupun keluar tanpa ekspresi.
05.00
“Bima! Mau kemana?” tegur kamal, ketua panitia ospek bahasa arab.
“biasa.. kebutuhan cinta”
“aduh... ya hati-hati!”
“iya, demi cintaaaa!”
“jemput di mana?”
“dekat UKI!”
“sip!”, “jangan terlambat!”
06. 30
“Mar, maaf ya, ini untuk data pengawasan. Habibie tidak masuk, dia hari ini kecelakaan di jalan”
“oke saja, silakan saja ditulis di sini . Habibie yang mana ya?”
“yang jadi panitia juga, menginap semalam,”
“hm, baiklah,” kataku menahan kantuk. Lalu tidur lagi di balik meja.
09.00
“Teman, mohon doamu untuk rekan kita, Habibi, yang tadi pagi mengalami kecelakaan. Sekarang dia dirawat di rumah sakit dengan keadaan kritis”
Habibi? Hm, diantara daftar panitia yang aku pegang, aku tak melihat nama habibi, siapa dia?  Memang ada beberapa yang tidak masuk, Akira, Bima, tetapi Habibi tak terdata.
Acara berjalan lancar, namun seperti umumnya acara, membosankan. Beberapa tertidur. Yang lain menguap dan memakan biskuit bekal. Pembicara juga seperti melafalkan doa tidur bagi ratusan peserta.
13.00
“Siapa yang darahnya A?!”
Faishal mendadak membangunkan lamunan panitia di belakang arena. Terengah-engah.
Aku diam. Aku juga sedang sakit.
“Siapa yang darahnya A!!”
Aku ragu, ini untuk apa? Donor darah?
“Amar, apa golongan darahmu?”
“A, kenapa?”
“Habibi, ayo, Habibi butuh, ikut aku!”
“buat apa?”
“dia kritis dan kehabisan darah, PMI juga kehabisan!”
Baik, keraguanku hilang. Entah habibi siapa, tetapi yang jelas, dia panitia dan pasti temanku!
“Tunggu, kita cari lagi satu orang, darahku pasti kurang.”
“Mussab?”
“wah tak tahu mar belum pernah cek!”
“Nasrul?”
“kelelahan!”
“Kak Adhit?”
“sedang sakit juga!”
“Arief?”
“o!”
“sip, ayo ikut!”
“kemana?”
“Habibie!”
“oh, bima, memang tambah kritis?”
“ha? Bima?”
“iya, Habibie Bima,”
“Apa?”
Mendadak darah bercampur airmata.
“kita harus segera...”
13. 30
“Kak, mau sumbang darah?”
“buat bima ya?”
“iya, kak, golongannya apa?”
“A,”
“bagus! Ayo ikut saya!”
“tapi saya takut ah!”
“tak papa, tak sakit!”
“saya belum pernah!”
“kak, dia kritis, butuh banyak darah!”
“...”
Semakin tertunduk. Waktu berdentang tanpa henti. Tak mau berhenti. Takkan pernah mau berhenti.
14.00
“Faishal, tak ada lagi yang bergolongan A!”
“ya sudah ayo, aku juga hanya menemukan satu lagi!”
Macet.
Tengah hari. Menghabiskan keringat.
Belum isi bensin.
Satu jam terbuang. Satu jam. Satu jam!
“Bima!”
15.30
Gerbang rumah sakit tidak terlalu besar. Bau obat menyeruak, kami bersegera. Ruang ICU sudah kami temukan, dan sudah ramai berkumpul. Azan ashar sudah terbangun, tetapi sedikit yang menyadari. Kenapa semuanya tertunduk? Menangis? Kenapa semuanya tidak menjawab?
“ini orangnya, dia A!”
“siapa?”
“ini, teman kampusnya!”
Entah kenapa udara menjadi sesak. Airmata telah memenuhi lantai dan menjadi sisa hujan terik hari. Yang lain menunduk. Ibunya menangis dengan agak keras.
pintu terbuka, dan dengan sederhana dokter bersuara,
“dia sudah tidak ada, biarkan ia tenang menemui-Nya”
15.31
“inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, telah berpulang ke rahmatullah, Habibi Bima, rekan kita hari ini pukul 03. 30. Karena kecelakaan. Mari kita memanjatkan doa baginya, semoga arwahnya tenang dan diterima di sisi-Nya...”
Hanya 15 jam 31 menit, waktu yang dibutuhkan untuk menikmati persahabatan dengan sederhana.