Hmmh.
Tulisan ini, lagi-lagi
Cuma desah-desah keresahan saya. Di akademi Sosmas, saya jadi mengingat-ingat
sesuatu, beberapa tahun lalu sebelum bergabung dengan KAMMI. Begini ceritanya:
Seorang teman saya; bukan
beragama islam, gemar sekali mempelajari sejarah nasional yang disembunyikan
oleh pemerintah. Waktu itu, kami masih sama-sama muda. Dua SMA. Dia orang yang
lumayan simpatik; ketika kebanyakan orang-orang islam yang menjadi kawan saya
justru acuh tak acuh kepada temannya sendiri, dia justru menjadi sahabat dekat
saya dari SMP.
Satu saat, di kelas
saya—2 IPA 1—ternyata diisi anak-anak pilihan yang menjadi aktivis sekolah. Tak
kurang ketua Basket, Ketua PaskIbra, Ketua Pramuka, dan ini yang unik: dua orang
wakil ketua ROHIS bersama dengan seorang Ketua ROHKRIS