Rabu, 28 Agustus 2013

Puisi-Puisi Amar Ar-Risalah

Kangen
Itu ada cinta mengambang-ambang di udara—tak kuasa aku menangkapnya—agung sekali cara terbangnya
Hei, bukankah ia berasal dari tetes-tetes airmata yang naik ke langit; dari mereka yang ingin sekali menjumpai-Mu?
Aku kangen, Ya Allah, pada airmata Kita. Agar aku menangis lalu Kau hiburkan, di cahayai tahir sekali
Aku masih boleh kangen, kan, pada-Mu?

Selasa, 27 Agustus 2013

Pertunjukan-Cerpen Amar Ar-Risalah

Ada sosok mayat laki-laki. Masih segar. Habis dibunuh dengan dikeroyok oleh sekelompok orang. orang-orang itu ribut, menentukan siapa yang telah membunuh mayat itu. perseteruan itu demikian seru, mirip sekali perdebatan di ruang-ruang pengadilan. Padahal mereka hanya sekelompok orang yang ingin jadi pembunuh, dan repot menentukan siapa yang menjadi pembunuh utama hingga korban pun tewas. Si Korban adalah orang kurang beruntung yang kebetulan melintas, tapi seperti dikirim oleh Tuhan untuk membuat seseorang menjadi pembunuh, dan waktu itu, gelar pembunuh sangatlah membanggakan.

“Itu korbanku! Jelas, lihat luka di tangannya!” Pembawa Kapak mencoba mengaku. “Darah dari luka itu cukup banyak. Sudah jelas ia mayatku!” Ia ngotot sekali. reputasinya memang sudah sangat besar sebagai Si Kapak Malaikat.

Risalah Amar: Kisah Jatijajar

Sebuah desa permai, Jatijajar namanya, sebagaimana kesederhanaan orang-orang Sunda menamai sebuah tempat dengan ciri yang juga sederhana. Hanya ada tiga ekor kucing dan sepuluh rumah penduduk, sepuluh tahun yang lalu. Alkisah, ketiga kucing ini terus-menerus melahirkan. Kemampuan bunting mereka luar biasa; enam kali setahun dan enam anak setiap melahirkan. Mutan? Tidak diketahui dengan pasti. Yang terjadi berikutnya adalah kepindahan orang-orang Jawa, yang mayoritas dari Wonogiri lalu menetap.

Penduduk asli yang beranak pinak bersimbiosis, dan membentuk pola pemukiman menyusur mengikuti alur jalan raya. Tiga ekor kucing yang tadi, telah menjelma menjadi puluhan kucing jenis baru yang masih bisa dilacak silsilahnya melalui belangnya, tetapi tidak doyan tikus.

Risalah Amar: Menghargai Sesuatu

Hmmh.

Tulisan ini, lagi-lagi Cuma desah-desah keresahan saya. Di akademi Sosmas, saya jadi mengingat-ingat sesuatu, beberapa tahun lalu sebelum bergabung dengan KAMMI. Begini ceritanya:

Seorang teman saya; bukan beragama islam, gemar sekali mempelajari sejarah nasional yang disembunyikan oleh pemerintah. Waktu itu, kami masih sama-sama muda. Dua SMA. Dia orang yang lumayan simpatik; ketika kebanyakan orang-orang islam yang menjadi kawan saya justru acuh tak acuh kepada temannya sendiri, dia justru menjadi sahabat dekat saya dari SMP.

Satu saat, di kelas saya—2 IPA 1—ternyata diisi anak-anak pilihan yang menjadi aktivis sekolah. Tak kurang ketua Basket, Ketua PaskIbra, Ketua Pramuka, dan ini yang unik: dua orang wakil ketua ROHIS bersama dengan seorang Ketua ROHKRIS

Risalah Amar: Berdamailah Dengan Dirimu, Sobat!

Ini curahan hati kepala departemen, yang mesti membina umat dan masyarakat selayaknya kepala desa, tetapi bingung harus mulai dari mana. Rekan-rekan saya harus saya perlakukan, sebagaimana Rasul memperlakukan rekan-rekannya.

Satu hari, kami mengadakan pertemuan. Satu demi satu berkesempatan mengutarakan pemikirannya. Seorang, bimbang. Ia sekarang dikenakan kewajiban membangun sebuah desa antah berantah, yang ia baru kenali beberapa bulan belakangan, namun menghadapi fakta:

Bahwa daerahnya menjadi langganan tawuran pemuda antar gang setiap bulan ramadhan. Menjelang lebaran; teman kita ini sedang menunggu-nunggu datangnya imsak bersama teman-temannya. Biasa, di depan rumah, sambil memperhatikan bapak-bapak yang berjalan menuju masjid.

Minggu, 19 Mei 2013

Harus Ada Hujan Deras di Antara Kita


 Harus Ada Hujan Deras Di Antara Kita

Kesepian menjadikanmu lebih dewasa;
Mampu memahami arti kekeliruan kalimat-kalimatku
 yang sengaja kubuat agar kau tahu bahwa aku keliru

Aku ingin hidup seperti biasa; tidur siang
Kopi panas dan teman-teman yang manja
Himpitan-himpitan beban kerja dan waktu
Lalu aku yang berpusar di dalamnya