Senin, 10 Maret 2014

Hikayat Pagar: Sebuah Kenangan

Tadi siang, setelah bertahun-tahun latihan kehidupan di kampus, saya pulang. Ya. Kembali bershalat di masjid masa kecil. Masjid-masjid tua yang isinya orang tua yang begitu arif. Satu demi satu tetangga-tetangga masa kecil saya berdatangan ke masjid.  Tak banyak berubah: masih ada lapangan di depan masjid, pohon-pohon rindang, dan anak-anak desa yang lugu namun cerdas.
Dua kali azan melantun dengan tenang, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Irama yang bila terdengar di telinga, saya akan segera menandainya sebagai irama azan masjid A. Tak lain dan tak bukan. Ah. Saya jadi ingat, di masjid inilah dulu saya belajar membacakan Al-Qur’an, merenungi kehidupan dan asas-asas keseimbangannya. Tak banyak berubah.
Anda pasti pernah mengalami hal-hal seperti ini, pulang, menuju ke masjid tempat ketulusan ala anak-anak dulu masih anda mainkan. Tak ada rumah-rumah berpagar. Hanya rumpunan perdu dan bambu yang dipaku menjaga halaman. Sangkar burung-burung hasil buruan, kandang-kandang ternak, berpadu dengan senyum ramah para pemiliknya yang senantiasa ada di halaman rumahnya.
Pagar. Sampai akhirnya, pagar-pagar di bangun, bersembulan dari dalam tanah. Pagar pertama tumbuh menjalar membelah kampung kami menjadi dua bagian besar: Perumahan dan Perkampungan. Pagar yang begitu abu-abu, memisahkan kehidupan dan kefanaannya.
Pagar kedua muncul di halaman-halaman kami sendiri. Dari dalam tanah, dia mebagi-bagi rumah yang dulunya ramah, jadi tak saling kenal mengenal. Atas nama pagar, tanah dikapling-kapling dan ditandai siapa pemiliknya. Pohon-pohon yang sederhana itu ditebang, dan kayunya diperebutkan dengan harga yang mahal.
***
Lambat laun orang di kampung saya tak lagi saling kenal mengenal. Warga pendatang yang mengontrak memagari rumahnya, lebih tinggi dari tubuhnya sendiri, hingga kita tak bisa lagi megenali siapa dia. Sapa-menyapa yang dulu jadi rutinitas, kini digantikan dengan tatapan curiga.
Pagar, membuat kami membatasi mana yang milik kami mana yang bukan. Mana yang harus kami beri mana yang harus kami jaga sebagai milik sendiri. Ia lebih dari sekedar batas, ia memisahkan mana perumahan elit, yang berisi uang, kemewahan, dan pekerjaan kantor dengan petani, peternak, dan pekebun yang sederhana.
Bukankah kita jadi bertanya-tanya, apakah beda antara sisi dalam dan luar pagar, dan lebih jauh lagi, apa arti dari sisi dalam dan luar pagar? Pagar membuat  kami memisahkan hidup kami dari para tetangga. Membuat orang, secara psikologis lebih dominan dan posesif terhadap miliknya. Ia adalah batas antar ego manusia.
Ego akan merasa keamanan dirinya terjamin dengan pagar, dengan demikian, ia juga akan merasa kurang membutuhkan orang lain. Inilah asal muasalnya: kampung saya lama kelamaan berubah menjadi sekelompok koloni yang tidak saling kenal mengenal. Koloni, jelas berbeda dengan masyarakat. Masyarakat adalah sekelompok orang yang punya kesamaan ciri, tujuan, dan cara hidup. Sementara, pagar memisah-misahkannya, dan kini kita mengenal sekoloni masyarakat yang terpisah-pisah karena pagarnya sendiri.
***
Sisi pagar yang satu, diisi rumah-rumah yang berpagar tinggi dan ada kendaraan besar terparkir di depannya. Yang selalu sepi, hanya ada para pembantu atau satpam menjaganya. Anak-anak kampung dilarang masuk dan main layangan, karena kerap dituduh sebagai biang pencurian.
Siapakah mereka? Para pembantu, dulu adalah petani-petani yang menjual tanahnya untuk dijadikan perumahan, dan setelah kehilangan pekerjaan, mereka memanfaatkan keahlian rumah tangganya untuk mencari uang, tanpa pendidikan dan advokasi. Satpam, dulunya para pemilik tanah dan pekebun andal, yang dipaksa menjual tanahnya dengan harga murah, karena rendahnya pendidikan.
Lantas, siapakah anak-anak itu? Tak lain adalah anak-anak tetangganya sendiri, anak-anaknya juga. pagar memisahkan kerabat dan saudara atas nama keamanan dan ketertiban perumahan. Portal-portal yang dibangun dengan besi, melarang siapa saja masuk dan keluar tanpa diawasi, karena perumahan itu menjadi semacam negara dalam kampung kami.
Pada sisi lain pagar, ada orang-orang yang bertahan. Mereka mendirikan rumah-rumah kecil, dan menjadi buruh rendahan dengan upah harian. Sebagian menjadi satpam dan pembantu. Sebagian meminta pekerjaan pada para pendatang. Satpam-satpam itu dulunya adalah petani dan peternak, dan tak mendapatkan pendidikan yang semestinya.
Dulu, sebelum pagar dibangun dan kampung kami berganti musim, orang-orang tidak ingin sekolah, karena sekolah memang mengajarkan ilmu-ilmu orang kota. Sekolah tidak mengajarkan ilmu olah tanah dan olah tani, sehingga sekolah tidak menjawab kebutuhan para petani. Sampai akhirnya pagar dibangun, dan mereka kehilangan tanah-tanah untuk bertani, dan dikalahkan oleh lulusan sekolah tinggi, karena pekerjaan yang ada adalah pekerjaan yang bukan untuk orang yang terdidik oleh alam.
Generasi kedua, yang tumbuh dengan melihat pembangunan pagar, masih mewarisi hal ini. masa kecil mereka akrab dengan situ, balongan, sawah, dan ladang, sehingga tak perlu sekolah, kini berhadapan dengan masa remaja akhir yang Cuma jadi karyawan-karyawan pabrik yang menunggu waktu kapan dipecat, dan tak punya pilihan pekerjaan karena pekerjaan yang tersedia hanya untuk tamatan sekolah, bukan petani.
Pagar. Ia lebih dari sekedar batas, ia adalah pemisah masa lalu dan masa sekarang, sebuah dunia yang individualis, dan hanya pemilik modal saja yang bisa mengusahakan kemakmuran. Pagar-pagar tinggi didirikan, dan ia menjadi penanda semu kemakmuran kampung saya, rumah-rumah dipercantik, namun mereka hanya melihat gambaran kemewahan dari seberang pagar yang lain: bahwa rumah mewah dan pemilik yang makmur ditandai dengan pagar, dan bahwa pagar menandai batas teritorinya sendiri. Orang-orang jadi senang hidup sendiri.

            Pagar hanya indikator kecil dari fenomena besar yang terjadi, hilangnya cara-cara hidup yang begitu komunal, menjadi individual, dan akibatnya, pewarisan nilai-nilai lama masyarakat petani menjadi hilang. Berganti menjadi masyarakat kota, yang kemakmuranya adalah kemakmuran semu. Yang kemakmurannya, adalah kemakmuran milik sendiri.

Senin, 09 September 2013

Kenapa Umat Islam Mudah Jadi Sasaran Kristenisasi?

Mungkin ada baiknya juga saya terangkan, kenapa umat islam mudah sekali diserang oleh misi kristenisasi. Begini, ambil dulu lagi tehnya, snack juga.

Umat islam kita sederhanakan dulu menjadi dua bagian, Alim Ulama-Ulil Amri,  dan Golongan Awam. Ingat, ulama dan ulil amri saya satukan, karena pada dasarnya, dalam qur’an tersimpan hikmah kenapa umat diperintah menaati Ulil Amri tanpa disebutkan ulama. Karena sejatinya Ulama adalah pimpinan bagi Ummat.

 Lihat, bagaimana para khalifah bertugas sebagai juru fatwa pada masanya, tidak seperti saat ini, Presidennya tak pernah kelihatan mimpin khotbah jumat sekalipun. Padahal dia islam lho... hehehe. Mau mantan mas’ul organisasi tarbiyah apa kek, dia harus manunggal dengan ulama. Artinya, dia adalah ulama sekaligus amri, bukan amri saja atau ulama saja. akibatnya, ya,... sekularisasi....

a.       Dari golongan Ulil Amri-Ulama

Menguak Strategi Kristenisasi Secara Ringkas

Baik, akan saya jelaskan melalui dua jalur. Jalur pertama, islam diserang lewat eksternal agama islam, meliputi:

a.       Strategi politik

Kaum kristen, sangat berupaya menguasai bumi dengan dasar Matthew 24:14 "This gospel of the kingdom shall be preached in the whole world as a testimony to all the nations, and then the end will come." Jelas bahwa mereka sama dengan kita, membuat seluruh manusia beriman pada agama mereka.

Jalur politik mereka tempuh dengan membuat jaringan politik dunia kristen, mengadopsi konsep khilafah islam, yang berpusat di Vatikan untuk katolik. Persis dengan zaman Khalifah, dimana ibukota dunia islam ada di Madinah dan selanjutnya Damaskus serta Cordova dan Baghdad. Dengan menempatkan satu ibukota begini, segala kegiatan kristen seluruh bumi dikontrol dan diketahui Paus, Khalifahnya mereka. Keren ya? Iya. Harusnya penguasa Islam ada, sayang, mereka masih ribut-ribut soal hilal dan keharaman cacing tanah.

Minggu, 08 September 2013

Risalah Amar: Cara Mudah Membuat Puisi


Puisi. Semua orang bisa membuat puisi. Jangan dibatasi apa definisi puisi. Tetapi; saya termasuk penganut tradisional, puisi harus indah dan memiliki arti. Jarang orang tahu, bahwa Chairil Anwar yang kadung dibesar-besarkan sebagai pembebas puisi, mengatakan bahwa puisi harus indah.  Ia meneliti setiap kata-katanya, hingga tak ditemukan cela dibaliknya.

Lagi-lagi, ini Cuma jalan pintas dari jalan panjang yang mesti ditempuh. Cuma sekedar tips. Haram mempelajari tips ini sebelum tahu, bahwa puisi adalah masalah proses, masalah ideologi. Masalah harga diri dan kepahaman serta kecintaan kita kepada objek yang dijadikan puisi.

Bak, kita mulai saja dari cara paling sederhana membuat puisi:

DZIKIR PAGI DAN PETANG-Ust. Yazid Ibn Abdul Qadir Jawas

Dzikir PAGI PETANG


Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas 
خفظه الله

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ


"Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk."


اللهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلاَ يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاء وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ وَلاَ يَؤُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ



"Allah tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi) melainkan Dia Yang Hidup Kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang (berada) dihadapan mereka, dan dibelakang mereka dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari Ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, Allah Mahatinggi lagi Mahabesar." (QS. Al-Baqarah: 255). (Dibaca 1x) [1] 

Selasa, 03 September 2013

Aduh, Kota ini....

Aduh, Kota ini....
Melamun. Saya tiba-tiba jadi ingat kabar murid-murid saya, di sekolah terbuka. Mereka berasal dari kalangan-kalangan ini:

Kurang mampu, tapi telepon genggamnya mengalahkan saya. Layar sentuh, dan jenis-jenis lain yang bikin ngeri. Takut salah pencet, nanti error sistem operasinya. Telepon genggam saya saja Cuma telepon curut yang tidak rusak meski terbanting berkali-kali... (tahulah apa mereknya).

Kurang gizi, tapi uang jajannya dihabiskan untuk main ke warnet. Maklum, mereka mengalami kekerasan rumah tangga. Jadi, mereka mencari pengalihan dengan main ke warnet, game online. Yah... mereka suka melihat grafis tembak-tembakan dan orang terbunuh karena bidikan mereka. Game apa ya itu?