Selasa, 31 Maret 2015

Beranda

Di akhir malam, kita disapa hujan. Ia sampai juga di beranda
Sedang gerimis mengetuk-ngetuk jendela dan ruang-ruang kosong kita
Dengarkanlah, ia menyanyi menghibur kita, Sayang, nyanyikan bersama:

“Tik, tik,
Kau dengarlah langkah jarum jam rintik-rintik
Memagutmu dengan selendang kesepian
Sampai kau tercekik, tapi tak bisa berbuat apa-apa
Sebab kesepian kita ini indah sekali
Sebab kesepian kita ini sudah mendikte dirinya sendiri
Agar tabah, sabar menghadapi keramaian yang sekali waktu datang

Sebab kesepian kita ini sudah memutuskan untuk mengasingkan diri
Dari embun-embun yang biasa jatuh pagi hari
Atau kebisingan jam dinding yang senang sekali mengganti kalender
Dan buru-buru pergi sebelum kita sempat berpikir, ada apa
Bagaimana bisa terjadi dan muncul di depan kita sebagai peristiwa

Sebab kesepian kita ini kawan kita yang paling sejati....”

Penghargaan

Ada yang meninggalkan jejak pada siang hari kita.
Seseorang yang menelepon, lalu airmatanya
Terdengar seperti nois yang segera hilang

Ya, Sayang. Engkau sudah paham. Siang hari tadi melelahkan sekali. tentang
Sekelompok orang yang dihabisi
Atau bagaimana hancurnya sebuah kota yang sangat dinikmati
Hingga hilang rasa sakitnya. Ekstase, ekstase
Kehancuran ini menimbulkan suasana ekstase
Supir-supir metromini menjadi mainan plastik
Orang-orang terdampar di blok pasar, ditampar kenaikan harga
Pemuda-pemuda jatuh cinta
Menjadi monyet-monyet hari sabat yang ingkar janji pada dirinya sendiri

Tapi puisi-puisi kita, nanti jadi apa?
Apa nanti ada yang membaca lalu menerka-nerka siapa kita?

Ya, Sayang, benarkah kita ini bukan siapa-siapa
Sedang pada bekas-bekas hidup kita nanti
Akan berdiri tugu-tugu angkuh, dan diratakan pula jalan-jalan raya dengan nama kita

Tapi bagaimana dengan puisi-puisi kita
Tapi bagaimana dengan catatan-catatan perjalanan malam kita; berapa teman kita yang mati terbunuh
Karena terlambat menjawab, atau dimana mereka sekarang
Apakah kita mengingat mereka?

(Dimuat di Buletin Stomata edisi III)

Karena Namamu Bunga

Namamu bunga; itu sebabnya
Mudah sekali tumbuh di jalan-jalan tajam
Yang aku tembus-tembusi sepenuh hati

Kita sama-sama merawatnya sepanjang hari
Sampai hujan musim kering datang; itu
menjadi ricik di kedua matamu yang tajam
Yang tajam, dan kita juga jadi terluka
Tetapi kali ini: lukaku indah sekali
Ya, kan, Sayang?

Selamat Malam

“Malam,” kataku pada suatu malam.

Engkau mendengarnya seperti
 doa-doa perpisahan

Ketika akhirnya kita sama-sama
larut; dan malam makin hangat saja
berkaca-kaca
Kau lelah?
Aku juga.

Bukankah perjalanan kita
belakangan ini melelahkan, sekaligus
sangat membuatku jatuh hati?

Mantra Bagi Kesuburan Tanah


“Lihatlah, teman; padi yang kita tanam sudah bisa ditanak;
 sawah sudah muda kembali
Lagipula, ikan-ikan kita sudah bisa membedakan: 
mana daun yang jatuh di muka kolam, atau kasih sayang
 yang gemericik di atasnya
Ayo pulang; ayo pulang. Kita sudah hampir selesai, 
matahari hampir terbenam
Biarkan malam menyelesaikan sisanya....”

Kangen


Itu ada cinta mengambang-ambang di udara—tak kuasa
 aku menangkapnya—agung sekali cara terbangnya
Hei, bukankah ia berasal dari tetes-tetes airmata yang naik ke langit;
dari mereka yang ingin sekali menjumpai-Mu?
Aku kangen, Ya Allah, pada airmata
Kita. Agar aku menangis lalu Kau hiburkan, di cahayai tahir sekali
Aku masih boleh kangen, kan, pada-Mu?