Selasa, 31 Maret 2015

Hadikatul Mahabbah

hai gadis, engkau begitu cantik
begitu ghaib
berdiri di tengah taman mawar-mawar merah

Mendendangkan lagu-lagu kematian, yang suci sekali
memagut jauh kedalam nasib yang tak ingin berhenti
bayyati, rast, jiharkah, matamu jawwabul jawwab
yang merentangkan senar kecapi mahamerdu

sampai suatu saat; namamu terdengar seperti panggilan azan
membahana dimana-mana
di pintu-pintu masjid. di mihrab-mihrab kasih sayang yang dulu kita tinggalkan

ayat-ayat pertama dilantunkan: segera berdentangan ingatan kita
tentang seberapa jatuh cintanya kita kepada masjid, dan jantung orang-orang muslim

masih ingatkah, Sayang
tentang bunga putih kecil padang pasir yang tumbuh di pembuluh darah kita
itu sudah ku petik-lihatlah
ku sarikan dalam matamu



Disersi

"Ah. Sajak-sajak kita ini tak lagi tajam. Kita
Kehilangan semangat dan jarang sekali membuka jendela
Tempat cahaya matahari masuk dan memperbaiki perkakas dalam rumah kita

Kita bermalam saja pada sajak-sajak lama, sebab belakangan ini
Susunan kata-katanya lemah; mudah ditampar hujan,
Fitnah akan mengalir dari atap rumah, seperti tempias hujan sore yang membuat kita kesepian...." 

Jangan Takut

"Jangan takut, sayang.

Kita juga akan segera menjadi masa lalu

Dibuatkan papan-papan nisan, lalu nama jalan dan bangunan

Sampai orang-orang hanya mengingat dosa-dosa kita yang lama

Apakah kita pernah jatuh cinta dengan jujur dan sederhana

Jangan takut mengakui bahwa kita tidak pernah benar-benar saling percaya

Karena kita juga akan segera menjadi masa lalu...."


Pergi Melaut

Sebab matamu itu laut, dan airmatamu getir rasanya
Maka aku suka berlayar disana, ada negeri-negeri
Yang jauh di lautan dan itulah kenapa
Aku bisa membangun rumah di matamu yang dalam

Kemarau

Kita memang harus bertabah-tabah 
menjadi petani; sebab ladang
Akan mengering dan harus dibasahi 
airmata seorang diantara kita, sementara
Yang lain menjadi sebab agar 
airmata bisa mengucurinya
Adakala kita memang dipaksa 
menunggu, terus menunggu
sampai musim hujan selanjutnya

Selamat Ulang Tahun, Teman

Ah; rupanya
Ada yang berganti rupa
Tanah hutan menjadi lebih berlumut namun berbahaya
Menggelincirkan pelintas, memangsa semut-semut dan tanah cahaya

Daun-daun mati masih menimpa lantai hutan
Namun tanpa cendawan pemakan daun
Yang melapukkan lalu menyuburkan pemandangan

Ada yang berbeda kita pernah bersama menanam disana
Kau sering bertanya, apa warna daun, apa warna awan
Dalam hutan, teman?
Aku menerka jawaban apa yang kamu mengerti lalu kujawab,
Selintas warna dalam matamu, itulah warna daun yang jatuh
Menerpa lalu menghumus dimangsa cendawan
Seberkas sinar hatimu, itulah awan, karena
Awan dalah langit yang luas dan membiru
Tenang seperti kala kita belum berganti rupa,
Teman

Daun-daun mati memang masih menimpa lantai hutan
Namun mengering menghalangi langkah kita
Menggambut, mengabarkan air menyusut
Hilang sejuk hilang larut

Aku terka; kamu kecewa?
Aku terka, kamu terluka
Ya,
Teman?


13 Oktober 2011-Nurullah Ritski Jatiningsih