Rabu, 17 Januari 2018

Yusuf Qardhawi, Ikhwanul Muslimin, dan KAMMI





Pada masa transisi 1949 hingga 1950-an itu; jamaah Ikhwanul Muslimin di Mesir didera keterombangambingan besar. sebagian kader menganggap Hasan Al-Banna membubarkan jamaah Ikhwan sebelum dibunuh—sebuah hoax yang disebarkan pemerintah.

Sebagian kader yang lain mengangkat mursyid aam yang baru dalam kondisi darurat yang bukan dari 6 nama di sekitar Al-Banna: Imam Hasan Al-Hudhaibi. Dua tahun setelah pengangkatannya, ia dipenjara karena bersikap keras kepada pemerintah.

Bersama dipenjaranya mayoritas aktivis ikhwan pada masa itu; turut dipenjara seorang anak muda Al-Azhar yang simpatik. Ia dikenal sebagai ulama muda yang banyak ilmu. Ia menjadi imam bagi tapol lainnya di dalam penjara. Adalah Yusuf Qardhawi.

Masa-masa mereka berdua dipenjara adalah  masa yang lebih tak menentu lagi bagi jamaah Ikhwan. Sebagian orang menjadi loyalis Hasan Hudhaibi. Sebagian lain, berhimpun di bawah pimpinan seorang sastrawan, yang baru hitungan dua  tahun menjadi petinggi. Sayyid Quthb.

Ia memimpin kesatuan baru bersenjata. Dan; ia menambahkan warna yang lebih pekat kepada jamaah Ikhwan sebagai, jamaah jihad. Ya; Sayyid Quthb, bersama Abul A’la Al-Maududi, kelak akan dikenal sebagai Bapak Ideolog Teror Dunia..

Sementara itu; waktu terus berjalan. Para tapol telah dibebaskan pada akhir dasawarsa 50-an. Akan tetapi; kegiatan dan penyebaran ide Sayyid Quthb terus berlangsung. Pada tahun 64, ia dieksekusi akan tetapi bukunya yang fenomenal, Maalim fi Thariq, malah mendunia.

Di sinilah muncul pecahan baru dari Ikhwanul Muslimin: sebut saja mereka Jamaah Ikhwan Radikal. Mereka, yang sering dituduh sebagai “Jihadi” atau “Takfiri”.

Naiklah seorang aktifis Ikhwan yang kelak akan memperbarui cara gerak jamaah Ikhwan. Umar Tilmisani. Di masanya inilah, Jamaah Ikhwan bersikap lebih moderat. Mereka mau berkoalisi dan membentuk partai politik.

Tetapi, jamaah Ikhwan di tempat lain di seluruh dunia telah semakin besar dan semakin banyak pengikutnya. Mereka kemudian membutuhkan suatu sumber ilmu; sebab ternyata di antara mereka ada yang menjadikan jamaah ini satu-satunya sumber mereka mereguk ilmu agama islam.

Muncullah faksi baru dalam tubuh Ikhwanul Muslimin yang mendunia itu: Faksi mereka yang awam agama, tapi piawai bersiasat. Mereka yang kering perkara fikih, tapi cerdik berpolitik.

Di titik inilah, anak muda yang menjadi Imam di dalam penjara; menunjukkan perannya. Yusuf Qardhawi, membangun kubu kultural di tubuh jamaah Ikhwan. Mereka yang merupakan alumni dakwah kampus Al-Azhar dengan kompetensi agama yang mumpuni.

Dari tangannya yang pandai; terbit beragam buku fikih jihad, fikih muamalah, dan juga fikih siyasah. Bahkan ia terus menerus menghasilkan buku hingga hari ini; di usianya yang lewat 90 tahun.

Bersamaan dengan beliau; Syaikh Fathi Yakan di Lebanon, Mustafa Siba’I di Suriah, Sa’id Hawwa di Mesir, dan banyak orang lainnya terus memberikan suplemen itu tanpa menciptakan semacam majelis fatwa di tubuh ikhwan.

Fathi Yakan di Lebanon bisa dibilang satu dari sedikit ulama yang bisa menandingi pikiran fikih-fikih politik dan harakah Yusuf Qardhawi. Terlepas dari segala kontroversinya, mereka telah menciptakan arus tanpa atribut jabatan apapun.

Fathi Yakan bahkan menampar semua orang dengan menerbitkan buku Robohnya Dakwah di Tangan Dai; sebagai kritik buat mereka yang kelewat liberal dan toleran, sekaligus jerat buat mereka yang terlalu radikal dan intoleran.

Buku ini, ditulisnya pascaa kegagalan harokah dakwah di Lebanon, pembantaian ribuan anggota Ikhwanul Muslimin di Hama, Suriah, pada 187 oleh Hafidz Al-Assad, dan benturan antara Husni Mubarak dengan jamaah di Mesir.

Faksi Sayyid Quthb, atau yang kelak lebih dikenal sebagai Quthbiyyun, akan menciptakan arus garis keras, sementara faksi moderat tadi, akan menciptakan arus yang lebih tenang dan licin berkoalisi sana sini. Kedua faksi ini terus bersaing hingga saat ini.

Di tengah-tengah kedua faksi itu, ada Yusuf Qardhawi dan rekan-rekannya yang senantiasa memberikan arahan-arahan spiritual dan fikih. Bahkan kemudian; ia akan menjadi ketua majelis ulama sedunia: Rabithah A’lam Islamy.

Sebagaimana Ikhwanul Muslimin, para mahasiswa yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia sebagai representasi  gerakan kepemudaan berideologi tarbiyah di Indonesia; agaknya mengalami turbulensi yang sama.

Kerinduan atas kentalnya bahasan fikih-fikih islam dalam kerangka pikir Iqamatuddin mulai menguar di mana-mana; sebab mulai masuk generasi kedua di tubuh KAMMI dalam dauroh-dauroh

Mereka yang masuk KAMMI atas rekomendasi orang tuanya yang matang ditempa sebagai kader biologis tarbiyah; dan mereka yang mencobai KAMMI sebagai altenatif mengisi kekosongan jiwa dan fikrah mereka.

Dua tipe sumber daya manusia KAMMI dalam satu generasi ini jelas berjarak; baik secara intelektual maupun secara proses pemerolehan ideologi, meskipun hasilnya tak selalu sama.

Benturan itu mulai terasa. Di sana sini ada suara-suara “terkikisnya nuansa islam dalam dauroh-dauroh”, “cairnya interaksi antara ikhwan dan akhwat”, “keringnya tawaran perjuangan islam gerakan kita di ranah penegakan syariat”.

Bahkan yang lebih ekstrim mulai ada bisikan prihatin “gerakan kita telah sekular”, “gerakan kita mulai kehilangan pencabaran ideologi’, “intelektual islam meninggalkan gerakan kita dan yang tersisa adalah orang-orang kasar yang lihai berpolitik.”

Lalu Prinsip Gerakan Kammi yang kini dianggap sekadar puisi pemanis dauroh dan apel; bisa jadi memang perlu ditimbang kembali. Masihkah KAMMI merepresentasikan gerakan ultra kanan, atau malah terjebak dengan jebakan yang sama yang menimpa HMI, PMII, dan lain-lain?

Sebagaimana jamaah Ikhwan dan Yusuf Qardhawi, atau harakah-harakah islam di Lebanon, agaknya gerakan ini tak butuh semacam lembaga fikih yang paten. Pada akhirnya Yusuf Qardhawi hanya menjadikan dirinya inventaris bagi kemanusiaan; bukan inventaris gerakan:

Sebuah alasan indah yang menyebabkan ia menolak kursi jabatan  Mursyid Aam setelah Muhammad Makmun Al-Hudaibi meninggal dan jamaah ini diancam kekosongan pemimpin. Yusuf Qardhawi, menjadi wibawa dan ditakuti karena kualitas keilmuannya.

Bisa jadi memang betul tak perlu lembaga syariah atau fatwa yang malahan tak dihormati kapabilitasnya; karena wibawa dan derajat ditentukan oleh ilmu; bukan tingginya  jabatan. Atau jangan-jangan kita mulai menyetujui perkataan orang bahwa KAMMI mulai kehilangan pegangan islamnya.

Harus ada sekelompok orang; atau beberapa orang yang memang ditugaskan—atau fokus pada kompetensi—dalam ranah fikih dan penjagaan fikroh islam, seumpama tauhid. Dan orang-orang ini, memiliki wibawa politik karena keilmuannya, bukan karena jabatannya.

Dengan cara seperti inilah KAMMI bisa jadi jawaban atas anak-anak semester tanggung yang hijrah dan mengisi kehausan itu. Sehingga, narasi politik dan tawaran perbaikan KAMMI masih bisa ditakar dalam kacamata islami; atau setidaknya:

Masih bisa  dianggap sebagai kerja seorang muslim, untuk agamanya….


Risalah Institute

Mengapa KAMMI Jadi Ancaman Pemerintahan?



Yusuf Qardhawi, tak seperti dugaan kebanyakan orang, adalah seorang sastrawan pada masa mudanya. Ia mengarang sebuah naskah drama berjudul Sarjana dan Tiran. Naskah dramanya ini, masih dipentaskan di berbagai belahan dunia, oleh underbow Ikhwanul Muslimin.

Hari ini, kabar bahagia menyebar. Pengadilan Mesir menjatuhkan penjara seumur hidup bagi beliau. Ulama yang menjadi ketua Persatuan Ulama Dunia ini jadi berbahaya bukan karena fisiknya yang kekar atau bisnisnya yang menggurita.

Ia adalah ulama; yang dari penjara ke penjara, konsisten menjadikan kebatilan sebagai musuh abadinya. Menjadikan solusi islam sebagai tawaran perjuangan. Menjadikan kepemimpinan umat sebagai pijakan utama.

Ia memang lahir di bawah asuhan Ikhwanul Muslimin. Bahkan dalam pengakuannya, ia pernah diajari langsung oleh Imam Hasan Al-Banna, sang pendiri, dan kemudian dipenjara pada 1954 bersama Hasan Hudhaibi, Sayyid Quthb, Mahdi Akif, dan lain-lain.

Seluruh dunia arab bergolak. Buku-bukunya dianggap alasan orang menjadi radikal sebab mengandung ide pembebasan. Naskah dramanya itu, menjadi syiar perlawanan dari dunia seni kepada seluruh dunia yang masih menjadikan kebebasan berpendapat sebagai tabu.

Drama The Scholar and The Tyrant sendiri, menceritakan mengenai sekelompok ulama dan murid-muridnya di bawah pimpinan Sa’id bin Jubair, yang melawan tirani Hajjaj bin Yusuf dengan segala kezalimannya. Puncaknya, Sa’id bin Jubair, tewas dibunuh.

Kemudian, di Indonesia, ada satu organisasi yang menjadi sorotan banyak pihak. KAMMI. Organisasi ini dianggap berbahaya karena menjadikan buku-bukunya sebagai rujukan. Lalu, di mana bahayanya Yusuf Qardhawi dan KAMMI?

Qardhawi tampil ketika mayoritas gerakan islam di seluruh dunia mengalami kegamangan, saat bersinggungan dengan sistem demokrasi dan di satu sisi rezim kerajaan yang mengalami penyempurnaan.

Ia adalah lambang pilar islam abad 20 dan 21 yang menjaga agar segenap gerakan islam dunia mendapatkan alasan, tujuan, sekaligus panduan teknis bergerak; bahkan, tanpa beliau sendiri harus bertempur secara fisik.

Bukunya, Fiqh Daulah dan Menuju Kesamaan Fikrah, jelas adalah sebuah ancaman. Postulat politik yang digambarkan Ibnu Khaldun menggambarkan bahwa detik-detik keruntuhan sebuah negara selalu diawali dengan ketakutan pemerintah kepada cendekiawan dan ulama.

Manakala terjadi pemisahan antara institusi keilmuan—dalam hal ini keulamaan—dan pemerintahan dan terjadi dikotomi yang besar: Imam Ghazali, dalam Ihya Ulumuddin juga mengatakan hal serupa: di situlah orang yang menyerukan islam akan jadi ancaman.

Belakangan ini banyak artikel menyebutkan KAMMI adalah organisasi yang radikal dan mengancam generasi muda. Setelah penelitian dari LIPI pada 2015 lalu, laporan BNPT pada 2016, dan juga pernyataan para pejabat Kementerian Agama yang dimuat di berbagai majalah pada 2017 ini.

Lalu mengapa KAMMI menjadi berbahaya? Ada banyak  kalangan yang mengidentikkan KAMMI sama berbahayanya dengan Gerakan Ikhwanul Muslimin karena mengambil manhaj perjuangannya. Lantas, kalau begitu, diskursus kita berubah menjadi, adakah hubungan KAMMI dengan Ikhwanul Muslimin?

Kalau iya, apa pula bahayanya Ikhwanul Muslimin buat Indonesia? KAMMI jelas tidak berhubungan dengan Ikhwanul Muslimin. Sebab pada saat KAMMI berdiri pada 1998, gerakan Ikhwanul Muslimin ada dalam kekosongan pemimpin. Musthafa Mansyur, Mursyid Aam saat itu, ada di dalam penjara.

Gerakan Ikhwanul Muslimin saat itu lumpuh total. Hanya saja, sebagai sebuah cara bergerak, ideologi Ikhwanul Muslimin menyebar ke seluruh dunia jauh sebelum itu. Di Indonesia, Masyumi, PUI, DDII, dan bahkan NII, memang mengambil cara bergerak Ikhwanul Muslimin.


KAMMI didirikan ketika manifestasi kebatilan pada rezim orde baru begitu maujud. Saat itu, KAMMI dianggap representasi gerakan islam yang konsisten memperjuangkan amanat reformasi, di samping kekuatan nasionalis dan sosialis.

Sampai hari ini, tuduhan bahwa KAMMI terikat dengan PKS adalah juga tuduhan yang tidak berdasar, jika melihat frekuensi aksi yang begitu beruntun. Tidak ada pekan tanpa aksi turun ke jalan dari KAMMI. Anda sekalian bisa memeriksa dokumentasi berbagai media online.

Padahal, terutama di zaman pemerintahan SBY, PKS masuk kedalam kabinet. Tetapi aksi-aksi KAMMI tidaklah surut. Di sisi lain, kemelut yang terjadi di tubuh PKS tidaklah berimbas pada tubuh KAMMI, sebagaimana pada organisasi ekstra lain yang menginduk secara struktural pada sebuah partai maupun ormas.

Konflik yang terjadi dari pemilihan ketua ke ketua lainnya yang diwarnai intervensi berbagai pihak, tidak menghentikan langkah gerakan KAMMI di berbagai tingkatan untuk melakukan penelitian dan kritik terhadap pemerintahan.

Akan tetapi, kenapa pula yang seperti itu berbahaya? Mengapa orang-orang yang syuro  selalu terlambat dua jam, orang-orang yang memohon-mohon dosen pembimbing skripsi, orang-orang yang selalu bergumul dengan tugas ikhwan atau tugas akhwat ketika ada even hingga perang dingin, mengapa berbahaya?


Mengapa KAMMI berbahaya bagi pemerintahan? Tidak ada bahayanya menyerukan perbaikan pada pemerintahan yang jujur dan adil. Tetapi, menyerukan kebenaran pada pemerintahan yang penuh dusta dan picik, sombong kepada Allah sekaligus gemar menyakiti rakyat:

Bahkan suara bisikan sekecil apapun terasa menyakitkan di telinga pemerintahan. WS Rendra dalam sajak panjangnya berjudul Tokek dengan piawai menggambarkan ini. KAMMI senantiasa adalah tokek yang berisik.

Sebagaimana Yusuf Qardhawi. Ia adalah seorang tua yang berusia lewat 90 tahun. Akan tetapi, banyak negara berkongsi hanya untuk memburunya dan menjatuhkan hukuman berat atas tuduhan provokasi, terorisme, dan penipuan.

Lagipula, sekulerisme adalah musuh bersama Ikhwanul Muslimin dan KAMMI. Ide pemisahan agama dengan negara dilawan habis-habisan oleh KAMMI sehingga orang-orang yang jabatan, bisnis, dan kejahatannya bergantung dari ketiadaan nilai agama di dalam negara, jelas akan terancam!

KAMMI, menjadi bahaya, atas alasan itu. Alasan yang sama yang membuat seluruh pemimpin Ikhwanul Muslimin mati di dalam penjara. Alasan yang membuat organisasi Ikhwanul Muslimin menjadi oposisi politik, sekaligus pencipta momentum di lebih dari 15 negara islam besar.

Perbaikan hanya berbahaya bagi mereka yang hidup dari makan uang hasil kejahatan. KAMMI, yang menjadikan slogan Kebatilan adalah Musuh Abadi Kami, jelas adalah bahaya yang nyata bagi para pelaku kejahatan yang menyadari bahwa dirinya melakukan pelanggaran pada syariat islam.

Maka jika negara ini merasa terancam dengan kehadiran KAMMI—yang kadernya tak pernah sekalipun menenteng senjata dan kerap rapat sambil kelaparan—maka berarti ada kejahatan yang tengah dilakukan di negara ini, akan tetapi hanya ajaran islam yang memandang itu sebagai kejahatan.

Dan bukankah memang impor beras di tengah swasembada adalah sebuah kebatilan? Bukankah memenjarakan para ulama dan membayar media untuk memalsukan informasi adalah sebuah kebatilan? Bukankah membohongi masyarakat besar-besaran adalah sebuah kebatilan?

Maka saatnya saya menyerukan seluas-luasnya. Ancaman besar negara ini bukan kemiskinan, kesetaraan, atau pemanasan global. Ancaman sesungguhnya dari negara ini adalah sekelompok orang yang hendak menandingi Tuhan dengan mengatur-atur manusia lain dengan aturan yang ia ciptakan sendiri.

Ancaman besar negara ini adalah, sebuah rezim yang tergantung sekali dengan pemisahan nilai agama dari negara, sebab dengan itu kejahatannya jadi legal, kebejatannya jadi sah, dan kedegilannya jadi halal!

Amar Ar-Risalah

Jumat, 14 April 2017

Masjid Jakarta: Dari Kebayoran Sampai Daan Mogot



Amar Ar-Risalah

Suatu hari, di tengah kerasnya perdebatan antara komunisme dan islam tentang dasar-dasar negara ini, Buya Hamka, tergerak untuk membangun sebuah masjid besar di kawasan Kebayoran Baru.

Tahun 1953. Batu pertama diletakkan tepat pada 19 November. Kala itu, tokoh-tokoh Masyumi yang ada sedang bersaing keras di parlemen melawan kekuatan PKI yang pada waktu itu nyata memusuhi tokoh islam. Baik di jalanan, maupun di parlemen.

Setahun sebelum masjid ini dimulai dibangun, terjadi razia Agustus 1951: pembersihan pemerintahan dan bahkan aparat desa dari anasir PKI dan DI TII, oleh kabinet yang diisi orang-orang Masyumi. Razia ini menuai kecaman dan menjadi front miniatur perang sipil.

Yang terjadi kemudian, 1952 hingga 1953, ketika Natsir memberikan pandangan terhadap kinerja pemerintah dalam sebuah sidang di Agustus itu, ia mengatakan dengan jelas bahwa negara di ambang perang dan kekacauan karena komunisme.

Masjid Al-Azhar diresmikan lada 1958, tepat 4 tahun ketika fatwa Masyumi, terkait vonis Kafir bagi penganut ajaran komunisme secara sadar, dijatuhkan. Jenazah mereka tidak boleh  dishalatkan. Kala itu, MUI belum ada  dan Masyumi bisa dikatakan sebagai wadah para ulama.

Tetapi, umat islam, ridho terhadap masjid ini. Para ulama bertahan dengan cemoohan "Neo-Masyumi", " Hamkaisme", dan sejenisnya. Masjid ini menjadi garis pertahanan yang kuat sekali.


Dalam waktu yang relatif bersamaan, 1951, batu pertama pembukaan tanah Masjid Istiqlal diletakkan Presiden Soekarno, di atas reruntuhan benteng Belanda, Wilhelmina.  Di bayang-bayang yang sama, perseteruan kaum Agama, Nasionalis, dam Komunis, masjid ini terus dibangun.

Fx Silaban, arsiteknya, adalah seorang protestan pribumi, dan tidak memiliki tendens apapun. Masjid ini tidak diklaim sebagai karya agungnya. Tidak pula diklaim sebagai bukti toleransi Soekarno, karena dibangun antara Gereja Immanuel dan Gereja Katedral. Tak ada buzzer. Tak ada citra.

Di tengah silang sengkarut politik, bayang-bayang disintegrasi kalangan Kristen dari Indonesia karena Piagam Jakarta: Masjid ini, diridhoi masyarakat. Diridhoi baik NU maupun Muhammadiyah, dengan Masyumi sebagai payung besarnya.

Pembangunan Taman Mini Indonesia Indah, yang dianggap sebagai pemborosan, tak juga mengurangi keridhoan umat terhadap pembangunan Masjid Agung At-Tin yang dimulai pada 1997.

Masjid ini menjadi saksi betapa cintanya Presiden Soeharto pada istrinya. Kontroversi yang ada, bukanlah pada siapa pembangunnya. Tapi, kondisi ekonomi kita yang melorot. Orang tahu masjid ini milik Yayasan pribadi keluarga cendana. Tapi, tak digunakan bagi pencitraan jelang pemilihan.

Tetapi, umat tetap ridho. Tak ada kebencian pada Soeharto akibat masjid ini. Orang leluasa beribadah dan bermalam di sana. Hingga kini.

Hanya sebulan setelah Masjid At-Tin diresmikan, sejarah mencatat salah satu lokalisasi terbesar di Indonesia dengan lebih dari 1600 PSK, ditutup. Kramat Tunggak namanya. Di Jakarta Utara.

Empat tahun kemudian, pada lahan kosong itu, Gubernur Sutiyoso dengan kelapangannya menerima masukan dari para ulama, membangun sebuah islamic center dengan masjid yang sangat megah. Umat, sangat ridho. Bahkan sangat ridho.

Tak pernah ada yang menyebut, ini jasa Sutiyoso. Bagi muslim, ibadah membangun masjid, adalah sesuatu yang suci. tak perlu dibanggakan sebagai karya diri.

Kemudian, lewat 13 tahun kemudian, di sebuah daerah di Jalan Daan Mogot, dibangun masjid yang akan diberi nama Masjid KH Hasyim Asy'ari.

Ya, ulama yang pernah menyerukan Resolusi Jihad mengusir penjajah kafir dari darul islam, berpuluh tahun lalu. Ulama yang tak bisa dibeli dengan apapun. Ulama yang keras penolakannya pada penjajahan bangsa asing.

Hanya masalahnya, umat tidak ridho. Masjid Al-Azhar, Istiqlal, At-Tin, Kramat Tunggak, dan lain-lain tidak dibangun dengan ungkapan-ungkapan bangga diri dan menghina ulama.

Masjid-masjid itu justru menjadi benteng para ulama dari segala anasir yang hendak hancurkan apa yang dibangun umat islam di negeri ini.

Masjid ini, justru digunakan para pendukung pasangan calon pemimpin Jakarta untuk mencibir ulama. Untuk memecah belah persatuan islam.

Maka, jika Umat islam tidak ridho, akan khusyukkah mereka yang shalat di dalamnya? Akan bebaskah kita dari perbuatan keji dan mungkar, ketika kita shalat di tempat yang dibangun, oleh orang yang sama yang memusuhi islam?

Tidak. Umat tidak ridho. "Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta melaksanakan salat, menunaikan zakat, dan tidak takut apapun kecuali Allah..."

Pojok Jakarta, 15 April 2017

Rabu, 05 April 2017

Menyelami Sejarah Nabi dalam Sebuah Novel: Apresiasi Untuk Sibel Eraslan

Di tangan saya, novel karya pengarang Turki, Sibel Eraslan ini sudah menghabiskan waktu empat jam bersama saya. Sesuai janji saya, ada harga yang harus ditebus untuk membacanya. Sebuah catatan pembacaan. Catatan kecil saja. buat yang meminjamkan buku ini dengan sepenuh hati.

Jangan anggap ini sebuah kritik ilmiah, kritik post modern, atau sebuah tafsir atas kisah nabi. Ini murni adalah sebuah interpretasi dan cara saya menghargai pekerjaan tangan Sibel Eraslan, dan membacanya dengan sepenuh hati.

Buku ini adalah bagian dari serial 4 wanita penghuni surga sebagaimana yang digambarkan dalam sebuah hadits sahih. Maryam, Asiyah, Khadijah, dan Fathimah. Diterjemahkan dengan baik dari bahasa Turki pada 2013, publik Indonesia menyambut dengan baik kehadiran  novel ini.

Khadijah. Ibunda Kaum Muslimin. Ia menempati tempat khusus dalam hati Nabi kita. Darinya, Nabi mendapatkan keturunan dan hingga kini masih lestari nasabnya. Akan tetapi, sebagaimana diakui para sejarawan, literatur maupun tradisi lisan pada masa sebelum hijrah atau kenabian Rasulullah di Makkah, terbilang langka. Kelangkaan ini disebabkan berbagai hal.

Akan tetapi, bukan berarti hal ini tidak mungkin dicari. Upaya-upaya untuk menebak dan mengisi ruang kosong dalam sejarah Nabi inilah yang kemudian merangsang banyak penulis orientalis maupun muslim untuk merekaulang kisah Nabi.

Saya kira, di ruang kosong inilah Sibel Eraslan maupun pengarang lainnya bermain. Menjadi novelis memang seperti detektif. Ketika ada suatu kejadian, misalnya Nabi menikahi Khadijah, maka imajinasi kita berjalan. Siapakah penghulunya? Bagaimana suasana pestanya? Bagaimana sambutan orang-orang Makkah di sana?

Khusus mengenai Ibunda Khadijah, literatur tentang beliau cukup terbatas kecuali yang dituturkan oleh Nabi sendiri dan beberapa orang. Sirah Ibnu Hisyam cukup lengkap mengulas tentang sosok beliau, akan tetapi dirasa masih kurang sebagai data sejarah.

Persoalan mengangkat kisah Rasulullah menjadi sebuah karya fiksi, atau kemudian para sahabat dan sahabiyahnya, merupakan persoalan yang tidak gampang. Salah interpretasi akan berakibat serius pada hal-hal fikih atau motif jihad. Apalagi, jika kita terpancing menulis sesuatu yang tidak jelas kejadiannya terkait dengan diri Rasulullah.

Husain Haikal pernah mendapatkan ulasan cukup keras dari Dr. Akram Dhiya’ Al-Umari. Karyanya, Hayatu Muhammad, dianggap terlalu berusaha menarik garis tengah antara ulasan cendekiawan non muslim terhadap kisah-kisah Rasulullah dengan penjelasan para ulama, utamanya dalam kisah-kisah pernikahan maupun peperangan Rasulullah. Di sinilah, kehati-hatian menjadi penting.

Tapi, lupakan tulisan saya di atas. Saya rasa terlalu panjang jika kita membahas itu sekarang. Terus bagaimana dengan novel Khadijah ini? lagi-lagi, mungkin Khadijah sendiri tak pernah membayangkan dirinya akan menjadi tokoh sebuah novel.

Ketika sosok Sahabiyah dijadikan tokoh sebuah novel, miss interpretation akan sangat mungkin terjadi. Terutama, hal-hal apa yang mendasari motif tindakan beliau, atau mekanisme pertahanan ego yang bagaimana yang terjadi dalam benak beliau sehingga mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang ditulis dalam novel ini.

Nah, interpretasi atas tindakan Khadijah dalam novel ini menarik, dan dari titik inilah kita akan membahasnya. Ya ampun. Sebetulnya saya hendak menulis paragraf di atas tetapi butuh sekian paragraf untuk mencapainya.
*


Tanpa mengecilkan peran Makkah, sebelum membahas tokoh Khadijah dan Rasulullah, saya hendak mengupas apa yang ditulis Sibel  pada halaman 5.

“Mekah, yang pada waktu itu merupakan pusat (esperantos) baik bagi agama Yahudi, Nasrani, penyembah api, pagan, maupun hanafi, seolah merupakan batu  akik di tengah-tengah cincin jalur perdagangan India, Eropa, dan Laut Mediterania...”

Dan sambungan pada halaman 7, “...Namun yang terjadi sepanjang sejarah, Yaman dan Mekah adalah dua negara yang selalu bersaing."

Lalu ungkapan pada halaman yang sama, “Musim panas sudah datang, kapan kita akan mengunjungi rumah peristirahatan yang ada di Yaman?”

Di halaman-halaman awal, dengan mudah kita temukan anakroni. Makkah, memang dijuluki Ibu Segala Kota. Akan tetapi ia tetaplah sebuah kota kecil. Pusat kaum Yahudi dan Nasrani bukan di Makkah, tetapi di Syam. Nasrani Arab berkumpul di Yaman atau Najran di Utara, sedangkan Yahudi Arab yang terdiri dari Banu Nadhir, Quraidhah, Ghatafan, Qainuqa’, dan lain-lain menetap di Yastrib dan Thaif.

Itu sebabnya, dalam kegiatan dakwah periode Makiyah, kita tidak menjumpai interaksi dengan kaum Yahudi ataupun Nasrani dengan intens sebagaimana yang ditemui di Madinah. Justru, itu pula sebabnya kaum Quraiys tidak akrab dengan nabi baru atau ciri-ciri yang menyertainya, berbeda dengan masyarakat Anshar di Makkah yang mendengar itu dari tetangganya, kaum Yahudi.

Makkah bukanlah suatu kota dengan pemerintahan, yang kemudian punya motif tertentu untuk bersaing dengan kekuatan besar di sekitarnya. Sebagai kota dagang, justru kepentingan para saudagar di Makkah adalah membuat kota ini aman dan bersahabat untuk semua kubu. Jelas, kala itu, sebagaimana diabadikan dalam Surat Rum ayat pertama hingga kedua, persaingan Kerajaan Romawi dengan Persia begitu kuat dan Makkah bukanlah sesuatu yang bisa disebut.

Penggambaran Makkah yang kurang hati-hati dari Sibel, mungkin bisa dibandingkan dengan bab-bab awal yang dituliskan Ibnu Hisyam dalam sirohnya, yang cukup menggambarkan struktur sosial serta puisi-puisi yang menjelaskan keadaan Makkah pada waktu itu.

Justru dalam surat Al-Quraiys, dikatakan Allah “mengamankan mereka dari rasa takut.” Ini dimaksudkan, posisi Makkah yang tidak bersaing dengan kota manapun. Justru Yamanpun tidak berpikir menguasai Makkah, karena itu akan menghambat dan memutus mata rantai perdagangan antar negara.

Sebab, Makkah justru hidup dari kebebasannya untuk melintasi wilayah Persia maupun Romawi yang sedang bertikai sebagai agen dari komoditas daerah-daerah yang dilintasinya itu. tak heran, leluhur Rasulullah, para putera Qushay dikisahkan oleh Ibnu Ishaq, memiliki perjanjian langsung dengan Kisra, Kaisar Romawi, Najasyi Habasyah, dan penguasa Yaman sekaligus, padahal daerah itu sedang bertikai.

Dalam surat Al-Quraisy pula kita akan menjumpai istilah Ilaf dan Rihlah. Dr. Akram Dhiya’ Al-Umari dalam Shahih Sirah Nabawiyah menjelaskan, bahwa rihlah atau perjalanan dagang Quraisy ini, jika musim panas datang mereka akan berangkat ke utara, bukan ke selatan. Sebab, utara lebih sejuk. Mereka akan ke selatan jika musim dingin tiba, dan menikmati udara selatan yang lebih hangat.

Mungkin saja keluarga Khadijah dalam cerita ini memiliki rumah peristirahatan di Yaman. Akan tetapi, musim panas bukanlah motif yang tepat untuk menginterpretasikan keinginan mereka pergi ke Yaman. Anakroni mengenai Makkah ini saya rasa sudah kelewat jauh dari gambaran seharusnya.

Secara khusus, kita akan menjumpai gambaran yang lebih aneh lagi mengenai Makkah dan penghuninya. Digambarkan pada halaman-halaman selanjutnya bahwa rumah Khadijah adalah sebuah bangunan dengan pagar dan balkon, dan disinari banyak lampu pada malam hari.

Ini cukup aneh. Sebab tidak seperti gambaran di negara lain, rumah di Makkah pada zaman Rasul tidak memiliki pagar, atau tidak umum berpagar. Apalagi, dalam gambaran ini, seolah-olah Makkah adalah tempat penuh pohon dan taman di mana-mana. Padahal, Makkah sendiri adalah daerah kering dan tidak memiliki kesuburan untuk bisa ditumbuhi tanaman tertentu.

Nanti, pada halaman lain kita akan jumpai keanehan-keanehan yang berlanjut. Misalnya, digambarkan bahwa disajikan “anggur yang baru dipetik” di hadapan Khadijah. Pertanyaannya, di Makkah, adakah kebun anggur? Jika ada, kenapa tidak ada profesi petani dan pekebun di Makkah?

Gambaran yang aneh tentang Makkah ini sebetulnya mungkin hadir untuk melengkapi (memperindah) gubahan-gubahan puitik dalam paragraf novel ini. akan tetapi, demikianlah karya sastra. Ia butuh rasa puitika tetapi juga bergerak dalam batas keanggunan sebuah kenyataan.
*

Setelah sedikit mengulas mengenai gambaran kota Makkah, kita akan mengulas mengenai diri pribadi Khadijah. Mengenai betapa lemahnya Khadijah digambarkan dalam novel ini, saya jadi membayangkan beliau radhiallahu ‘anh adalah sosok akhwat masa kini yang galaunya setengah mati sampai keujung dunia ketiban bulan dan tenggelam di lautan api.

Misalnya, adegan yang cukup mengganggu didapati pada halaman 114. “Pernahkah dirinya menuliskan dalam buku hariannya beberapa hal untuk ia yakinkan sendiri di dalam jiwanya, seperti:...” mana ada buku harian di zaman itu? Makkah, adalah tempat yang nirbaca dan nir aksara. Dan, tentu jelas bahwa kala itu—silakan cari dalam literatur sirah yang ada—kertas bukanlah barang umum di Makkah.

Pada halaman-halaman selanjutnya, asesoris untuk mempersedih diri Khadijah dipenuhi anakroni yang melintasi ruang dan waktu terlalu parah. “Seolah malaikat penjaga hari kiamat telah meniup sangkakalanya...” mereka yang mempelajari ilmu tafsir sekaligus sirah akan memahami, konsep kiamat, dan kemudian penjelasannya sebagai hari kehancuran total dan kebangkitan, tidaklah dikenal dalam lingkungan Makkah Jahiliyah.

Bahkan istilah Shuur sebagai terompet tanduk yang ditiup Israfil bagi kiamat tiba, adalah istilah yang asing sehingga banyak muslim yang bertanya pada Rasulullah. Sekarang, bahkan Khadijah sudah mempertanyakannya sebelum Muhammad diutus menjadi Nabi!

“Keadaan seperti inilah yang menjadikan sekujur tubuhnya menggigil bagai terjangkit malaria....” ini lebih parah. Sebab, bahkan penyakit khas tropis dibayangkan oleh benak Khadijah. Perumpamaan semacam ini tidak akan muncul, jika benak Khadijah turut direkonstruksi dan dekonstruksi secara normal dan dewasa.

Gagal rekonstruksi. Sebut saja begitu. Hal ini kemudian ditambah lagi dalam paragraf puitik yang bagi saya terlalu berbuih-buih, dalam halaman 124. “Bagi Khadijah, kini setiap benda telah menuliskan huruf Mim. Setiap benih bunga mawar yang ia tanam di taman, setiap anak biri-biri yang lahir di peternakannya, burung-burung yang sering hinggap di pekarangannya, ikan-ikan yang ada di kolam taman rumahnya, di sisirnya yang terbuat dari gading, di cincinnya yang terbuat dari permata, di penanya....”

Paragraf di atas menampilkan kecelakaan rekonstruksi benak tokoh, yang bahkan lahir di jazirah Arab yang panas. Gambaran semacam di atas, kemungkinannya sangat kecil untuk dibayangkan di benak seorang puteri Quraisy yang biasa menghadapi gunung pasir dan kekeringan. Bahkan, dari mana gambaran kolam taman rumahnya, atau benih bunga mawar itu hadir? Makkah adalah sebuah kota kering yang bersih dari pohonan.

Rekonstruksi benak dan peristiwa mengenai diri Khadijah lebih jauh lagi kerancuannya dalam bab Hikayat Sebuah Kendi, pada halaman 180 hingga akhir bab. Khadijah digambarkan sebagai perempuan yang begitu larut dalam kerinduannya. Bertentangan dengan kedewasaan yang telah ia pertunjukkan selama ini.

Meski niat pengarang mungkin untuk membuat dekonstruksi, tetapi caranya menggambarkan rindu terlalu kekinian, saya rasa. Apalagi, puisi yang—digambarkan—digubah Khadijah dalam benaknya, pada halaman 184 hingga 186 untuk menggambarkan kerinduan, tidak match dikatakan sebagai puisi rindu seorang perempuan dewasa padang pasir. Kita bicara mengenai kota di tengah lintasan pasir, yang tidak mengenal bunga tulip, buku, bunga serunai, kijang, bunga teratai, bulan April, dan lain-lain.

Tanpa puisi inipun, gambaran Khadijah yang hujan-hujanan di balkon rumahnya sudah sangat aneh dan agak sulit dibayangkan.  Meski begitu, caranya menempatkan puisi mengingatkan saya pada buku-buku karangan Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah.

Rekonstruksi suatu tokoh sejarah menjadi tokoh fiksi novel, terutama tokoh yang berpengaruh bagi  sebuah agama, bagi saya musti ditempatkan secara adil. Selain rekonstruksi fisik dan rekonstruksi lingkungan, jelas rekonstruksi benak pikir begitu penting diperhatikan. Sebab, inilah yang kelak menjadi motif tindakan si tokoh untuk berbuat dan berbicara. Apa yang dia ingat? Kenapa dia mengingat itu? bagaimana dia mendapatkan ingatan itu?

Penggambaran ini kiranya juga mengancam pribadi Khadijah sebagai tokoh utama dalam novel ini. sebab, Sibel membuktikan bahwa wanita jauh di bawah laki-laki. Ketika wanita diterjang rindu, bahkan mereka melakukan hal-hal aneh dan mungkin terkesan hiperbol.
*

Yang lebih asik dibahas sebetulnya mengenai fakta—tepatnya perkiraan sejarah—mengenai usia Khadijah terhadap Tahun Gajah. Sibel dengan berani menembak angka 15 tahun bagi Khadijah ketika peristiwa ini terjadi. Tentu dengan—harapan saya—pertimbangan dan perhitungan yang matang.

Al-Bidayah wan Nihayah Ibnu Katsir menyebutkan perbedaan yang banyak mengenai kapankah tahun lahir Nabi Muhammad terhadap Tahun Gajah.  Yang jelas, tidak satupun mengarah pada tepat tahun gajah. Apa sebabnya?

Sebelum masa Hijrah yang menjadi pangkal penanggalan islam dan Arab oleh Umar bin Khattab, bangsa Arab Quraisy tidak mengenal tahun. Ini juga yang menjadi kesulitan dalam menetapkan usia berbagai tokoh, termasuk, usia Khadijah sendiri. Mungkin, Sibel berasumsi begini: usia Nabi ketika menikah dengan Khadijah, adalah 25. Usia Khadijah yang masyhur, adalah 40. Maka, ada selisih 15 tahun. Artinya, ketika Tahun Gajah, usia beliau 15 tahun. Praktis bukan?

Tunggu dulu. Para sejarawan tidak sepakat mengenai ketepatan Tahun Gajah terhadap kelahiran Rasul disebabkan tidak akuratnya penanggalan sebelum hijrah. Di tambah lagi, ada perbedaan mengenai usia Khadijah ketika menikah dengan Nabi, yaitu 40, atau 28 dan dua pendapat ini sama kuatnya. Ingat, pendapat yang masyhur atau terkenal belum tentu pendapat yang benar.

Dan spekulasi usia Khadijah adalah 15 tahun saat terjadinya Tahun Gajah, apalagi menempatkan Khadijah sebagai saksi dari peristiwa itu, adalah keberanian yang beresiko. Dalam hal ini, kita tidak bisa berlindung di balik tabir interpretasi sebuah novel yang bisa saja fiksi. Sebab, sampai hari ini tidak ada kepastian kapankah tahun gajah itu terjadi dalam penanggalan hijri maupun Masehi.

Akan tetapi, interpretasi cukup menarik ditemukan pada gambaran bab Kabar Gembira, tepatnya di halaman 170. Pada Makkah Jahiliyah, memiliki anak laki-laki adalah kebanggaan tak terkira bagi sebuah keluarga. Apalagi, jika kemudian nama sang ayah bergelar menjadi “Abal Qasim.” 

Gambaran Sibel cukup menarik, sebab Nabi Muhammad—sebelum menjadi Rasul—mendapatkan kebanggaan dengan kelahiran Qasim, putera pertamanya.

Akan tetapi, kisah ini rupanya tak dibiarkan bertahan lama menjadi keunggulan novel Sibel. Kisah diangkatnya Zaid bin Haritsah ternyata tidak digarap dengan manis. Ia terburu-buru menggambarkan Nabi Muhammad begitu saja mengangkat Zaid sebagai anak kandung dan mengumumkannya di Ka’bah.

Padahal kita tahu, di balik itu ada sebuah kisah panjang, ketika  Zaid, kala itu masih menjadi seorang budak, dicari oleh ayahnya yang ternyata tidak sengaja menemukannya sebagai budak di Makkah. Akan tetapi, karena kebaikan Nabi, Zaid menolak pulang. Dengan peristiwa ini, maka Zaid diangkat sebagai anak dan dikenal sebagai Zaid bin Muhammad.

Dan kemudian memang, sayang sekali kisah keibuan Khadijah terhadap Zaid, Ali, maupun anak-anak kandungnya kurang digarap. Justru Sibel fokus berpepatah petitih dengan kisah cinta yang haru-biru antara Khadijah dengan diri Muhammad muda. Sayangnya Sibel malah tidak bisa mengendalikan sisi puitikanya sehingga Khadijah tampak semakin lemah, dan semakin lemah untuk ukuran perempuan yang bisa menenangkan Rasulullah ketika menerima tugas dakwah.

Dan justru, keunikann penggambaran—sekaligus anakroni paling mengesankan—ada pada bab Yang Datang dan Tak Pergi. Pada halaman 239, dituliskan bahwa seolah rumah Khadijah dan Muhammad adalah sebuah madrasah. “Ketika kehilangan ayahnya di umur yang masih muda, dia dibesarkan oleh Khadijah dan Al-Amin. Zubair pun bersama dengan anak-anak lainnya didaftarkan di madrasah milik Khadijah.”

Saya tidak mengetahui apakah ini salah terjemah, ataupun memang dibuat seolah-olah kita percaya bahwa di rumah Khadijah ada sebuah madrasah, atau minimal kegiatannya seperti yang bisa dibayangkan hari ini: beberapa anak kecil diajar mengaji atau calistung di rumah, setiap habis maghrib.

Sebab, konsekuensinya serius. Berarti, tak hanya di rumah Khadijah, maka di rumah-rumah lain ada sekolah serupa. Meskipun gambaran ini nampaknya berlebihan, ini akan membuat kerancuan dalam rekonstruksi masyarakat pada masa muda Nabi Muhammad. Gambaran mengenai sekolah ini muncul lagi pada halaman 242.

Saya sendiri memang tertarik pada suasana rumah Nabi Muhammad di Makkah. Bagaimana kemudian Zaid, Ali, Fathimah, Ummu Kultsum, Ruqayyah, dan Zainab dibesarkan bersama dan diajari bermacam hal hingga menjadi pribadi yang luar biasa.

Perselisihan gambaran Sibel dengan sejarah muncul lagi terkait dekonstruksinya mengenai kisah tahannuts di Gua Hira. Dari teks sejarah yang ada, kita tahu bahwa Uzlah dan Tahannuts untuk beribadah adalah sisa peninggalan Nabi Ibrahim yang masih ada di Makkah pada zaman jahiliyah. Akan tetapi upaya merekonstruksi kisah pertemuan Muhammad dan Khadijah dengan pelaku tahannuts lain, dan bagaimana interaksi mereka, merupakan gambaran yang juga menarik, sekaligus berbahaya jika tidak dipikirkan masak-masak.

Utamanya, kisah uzlah ini merupakan kisah yang tidak umum di tengah masyarakat. Memang sebagian orang Makkah punya tradisi uzlah akan tetapi mengenai interaksi Khadijah dengan pelaku uzlah lain, tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Kita tetap harus memberikan penilaian adil. Saya menikmati—dan terutama terhanyut—pada kisah bagaimana dramatisnya perubahan rumah tangga Rasulullah pasca menerima kenabian. Jelas, pada usia 40, dengan anak yang sudah dewasa, istri yang sempurna, tanggungjawab sebagai Nabi menuntut revolusi. Anak-anak Nabi Muhammad yang tadinya adalah kembang, mesti dihinakan oleh orang musyrik. Khadijah yang tidak pernah membayangkan cobaan sedemikian kuat datang, mesti bersabar menghadapinya.

Muhammad; yang tadinya seorang yang sangat mulia di Makkah, menjadi orang paling diburu dan diinginkan kematiannya. Sisi ini, sangat baik digambarkan oleh Sibel. Betapa Khadijah dan anak-anak perempuan beliau menghadapi ini semua dengan tabah. Betapa keluarga Muhammad, adalah keluarga yang luar biasa.
*

Saya kira orang akan bilang, “Berlebihan. Nikmati saja novel ini sebagai novel.” Bagi saya, inilah cara yang asyik menikmati novel mengenai orang yang paling kita cintai, sosok Nabi Muhammad. Ketika menulis mengenai sesuatu atau seorang  tokoh yang ada referensnya dalam segitiga makna Saussure di dunia nyata, bersiaplah berhadapan dengan logika dan fakta sejarah.

Sebagai sebuah dekonstruksi, Sibel telah berani menggambarkan yang tersembunyi dari teks-teks mengenai Khadijah dan masa-masa periode Makkah. Akan tetapi, sisi hiperbol sebuah karya, menjebaknya menggambar kisah itu keluar batas logika hingga anakroni menumpuk di dalamnya.

Harus sebagai apa kita menghadapi karya Sibel ini? sebagai novel yang punya elastisitas terhadap penulisan sejarah, atau sebagai teks interpretasi terhadap siroh Nabawiyah yang kaku dan amat ilmiah?

Sebab lagi-lagi ini kembali pada kebenaran kisah dan kemudian aspek fikih setelahnya, yang muncul akibat luhurnya posisi kisah Nabi terhadap agama ini. Sebagaimana diulas oleh Muhammad Rasyid Ridha dalam Wahyul Muhammady, para orientalis barat yang mengadakan penelitian terhadap siroh nabawiyah tenggelam pada interpretasi yang anakroni, seperti menggunakan standar masa kini untuk masa kerasulan Nabi Muhammad, ataupun mengadakan kebohongan bagi menafsirkan hukum islam, dengan tujuan melemahkan kita.

Ini kembali pada etika, baik penulis maupun pembaca, untuk menggambarkan diri pribadi Rasulullah dan sahabat-sahabatnya. Kiranya, etika semacam ini juga absurd. Kita hanya bisa mengira-ngira motif dan jalan pikiran tokoh-tokoh sejarah tanpa suatu pembenaran yang pasti. Kita saksikan bagaimana Husain Haikal mengabadikan perdebatan mengenai kisah Gharaniq yang menyertai turunnya surat An-Najm, atau seputar baiat Khilafah Abu Bakr As-Shiddiq. Bagi pembaca Sibel, berhati-hatilah, sekaligus nikmatilah novel ini.

Sepertinya di awal saya bicara soal mekanisme pertahanan ego, yang sampai detik ini belum terbahas. Tapi biar saja. ini bukan skripsi. Ini sebuah apresiasi. Mengenai pertahanan ego, saya rasa penggambaran Khadijah memang kurang konsisten dan sisi perempuan yang dimiliki Khadijah, sangat meledak-ledak. Sangat mudah rindu, dan penggambaran patriarkis lain.

Sibel adalah pengarang Turki. Maka caranya menulis, dirasa lain dari karya Tasaro GK, dalam serial Muhammad 1-3, atau karya-karya serupa. Perumpamaan yang ada di dalamnya memang segar. Khadijah menjadi sudut pandang orang kedua pelaku utama yang menyaksikan secara close-up masa awal Kenabian. Menakjubkan sekali, pengalaman batin wanita ini.

Cara Sibel bercerita memang akhwat banget, tapi saya rasa aspek sejarah bagi mereka yang berekspektasi lebih, harus diperhatikan. Dalam novel setebal 388 halaman ini, sesungguhnya kita bisa menulis ringkasan ceritanya hanya dalam 15 halaman. Sisanya adalah luapan hiperbolik yang kurang perlu, atau justru, itulah isi novel ini. apa salahnya, bukan.

Kehadiran sosok Berenis, Dujayah, dan lain-lain merupakan keberanian, dan keindahan tersendiri dari Sibel, yang meskipun terkesan lepas dari cerita utama, namun memperkaya khazanah novel ini. penokohan mereka kurang tergarap, memang, karena bayang-bayang penggambaran ego dan id Khadijah dalam novel ini—mungkin—menghantui dan membebani Sibel.

Untuk ukuran sosok sekaliber Nabi Muhammad, teks sejarah yang ada terbilang kurang bisa dinikmati kalangan luas. Sejauh ini, selain upaya dari Husain Haikal dalam Hayatu Muhammad dan KH. Moenawar Chalil dengan Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad, belum ada upaya penulisan sejarah. Yang ada, penulisan bahan sejarah yang belum dirangkai sebagai bacaan yang mengasyikkan.

Maka, upaya Sibel ini, termasuk juga Tasaro GK, patut diapresiasi. Di tengah bacaan tentang siroh yang cenderung berat dan parsial, hadir novel ini. Kita mungkin hanya kaget dengan keberanian Sibel menginterpretasi kepribadian Khadijah dari berbagai sisi, namun di sinilah justru terbuka peluang bahwa: ternyata sejarah Nabi kita sendiri mungkin belum banyak dibaca. Belum banyak didekonstruksi sebagai kisah yang luarbiasa. Kita masih menghadapinya sebagai bacaan berat yang tak layak didiskusikan di ruang santai.

Ratusan kitab siroh sudah ditulis para ulama, dari yang tidak kronologis sampai yang berupa kitab fikih. Tapi, belum banyak yang ditulis sebagai sebuah saga, atau sebuah catatan penuh hikmah, agar bahasa-bahasa itu sampai ke lubuk hati umat islam dengan lebih kuat. agar anak-anak mencintai nabinya. Agar para ayah dan suami menirunya, tak hanya di dalam masjid.

Bagaimana jika, dituliskan Nabi sebagai seorang suami, Nabi sebagai seorang yatim, dan seterusnya: kemudian novel ini, Khadijah sebagai sosok istri dari laki-laki luar biasa, apa yang ia rasakan, begitulah interpretasi bermain di ruang sastra.

Lagipula, ini soal selera saja. shalawat, mari kita panjatkan untuk Nabi Muhammad, keluarganya, dan para sahabatnya, shallu ‘alaih!



Daftar Bacaan:
Sibel Eraslan, Khadijah, Kaysa Media, Depok, 2014
Al-Bidayah wan Nihayah Ibnu Katsir
Sirah Ibnu Hisyam (The Life of Muhammad), terj. Alfred Guillaume, Oxford University Press, Karachi, 1998.
Silsilah Hadits Sahih, Nashiruddin Al-Albany, Jilid 1-3
Sejarah Hidup Muhammad, Muhammad Husain Haikal
Shahih Sirah Nabawiyah, Dr. Akram Dhiya’ Al-Umari, 2010, Jakarta, Pustaka As-Sunnah


Jumat, 10 Februari 2017

SAJAK 112


Bagaimana bisa lisan yang digunakan mencela ulama
Masih bertakbir dan berzikir
Masih merengek dan meminta
Pada Tuhan yang Maha Esa
Bagaimana bisa kau memperdengarkan kalimat-kalimat hina pada-Nya
Bersamaan dengan kau memuji dan berdoa
Kau punya seragam anti peluru
Kau punya kendaraan lapis baja
Kau punya pasukan-pasukan anjing setia
Adakah kau punya seragam penolak kematian dan siksa
Adakah kau punya perisai kebal dari doa-doa orang miskin dan papa
Pada hari ketika pembelaan atasan tidak berguna
Kau akan jawab apa
Ketika mulut dikunci
Kau akan jawab apa

Kau akan diteror rasa bersalah yang menggigil
Setiap kali takbiratul ihram dikumandangkan sang Imam
Kau akan diburu rasa takut; pada selain Allah
Kau akan dikejar-kejar perasaan itu setiap mendengar takbir dan azan
Jutaan orang di negeri ini akan minta tolong pada Allah dengan shalatnya
Dari kejahatan shalatmu. Tak ada
Tak ada gunanya bintang-bintang di bahumu
Tak ada gunanya miliaran harta yang menghujani rumahmu
Rezim ini akan diingat sebagaimana umat mengenang 'Aad, Tsamud,
Kaum Nabi Saleh, Kaum Luth
Rezim ini akan segera hancur seperti garam di air
Rezim ini akan tenggelam di laut
Yang terbelah karena kemarahan para ulama
Maukah kau kembali?
Pada dunia nyata yang dibangun dari mimpi-mimpi indah
Tentang kemerdekaan, tentang janji-janji akhir zaman
Bahwa negeri ini disusun dari tahlil dan tahmid
Bahwa pepadian dan palawija ditanam berkat kesetiaan
Pada anak keturunan Nabi yang saban hari bershalawat
Maukah kau kembali?
Pada hari-hari sebelum rezim komunis ini
Maukah kau kembali?


Hari ini, ya Allah, di negeri kami
Takbir adalah kalimat subversi
Shalawat "shallu 'alannaby" adalah ancaman
Aparat mencari sesiapa
yang menulis dan bicara tentang nama-Mu sepanjang hari
Atau mereka yang berdiri di belakang kekasih-Mu membela agama ini
Apakah tempat yang pantas bagi mereka
Kecuali dasar sumur Badr atau di bawah kaki-kaki kuda perang
Ijinkan kami melaungkan kembali doa kekasih-Mu, Nuh sang Nabi
"Wahai Rabbi, ampuni kami
Ampuni kedua orang tua kami
Ampuni sesiapa yang masuk ke dalam rumah kami
Dan bagi mu'minin dan mu'minah
Dan jangan tambahkan pada orang zalim itu selain kehancuran!"

Kamis, 26 Januari 2017

Menyimak Kembali Memori M Natsir: Pernah Negara Ini...

"Maka heranlah saya melihat pemerintah menggantungkan bermacam-macam cita-cita dan maksud yang muluk-muluk untuk dijadikan taruhan (inzet) dari hidup matinya kabinet ini...." Kata Natsir, dalam pandangan umum terhadap kinerja pemerintah, 28 Agustus 1953.

"Menyusun, meregistrir, serta melukiskan sesuatu program kerja di atas kertas, memang tidak begitu sulit, dan jikalau kita pandai pula membacakannya dengan pathos dan intonatie yang menarik, pasti kita akan menggembirakan claqueurs yang gampang dipengaruhi....."

Natsir kala itu adalah seorang politisi islam yang disegani. Ketegasannya bahkan melebihi apa yang bisa kita bayangkan sekarang. Perseteruan islam dan komunisme juga mencapai level tertinggi; kala itu komunisme secara zahir menguasai Indonesia dan hasilnya terbilang mengenaskan.

Demonstrasi anti islam menguar di mana-mana. Rupiah anjlok seanjlok-anjloknya. Di bidang kebudayaan lebih parah lagi; meskipun Bung Karno tidak suka dengan yang barat-barat, tapi bioskop kelas A terus menayangkan film-film dengan gaya barat. Seperti biasa, kegagapan mengelola negara dibungkus dengan kata-kata puitis dan revolutif:

Seperti hari ini. Hari-hari Revolusi Mental, hari-hari klaim Pahlawan Anti Korupsi, hari-hari klaim Bapak Pembangunan Jakarta, hari-hari slogan. Jangan lupa bahwa Cina, negara komunis itu, adalah investor ketiga terbesar di Indonesia, dan kemudian, ia menjelma menjadi kapitalis yang komunis, paradoks komunis yang kapitalis: Thomas Lembong, Kepala BPKPM, menegaskan bahwa Cina akan segera menjadi investor terbesar di Indonesia dalam waktu dekat.

Luka September 1948 di berbagai tempat antara PKI yang memberontak dengan kekuatan islam, masih membekas sakit di hati rakyat Indonesia. Luka itu membayang-bayang pada pidato Natsir hari itu.

Masyumi, dengan gaya Ulama dan Umaro yang bersatu dalam tubuh kader-kadernya, menyerukan Perang Sabil. Masyumi membentuk laskar bersenjata yang lebih besar dan kuat ketimbang Laskar Pembela Islam Habib Rizieq Syihab, untuk menghadang kekejaman komunisme itu. Di mana-mana rakyat angkat senjata melawan komunisme yang mempersenjatai kadernya.

Di Surakarta, terjadi pembantaian massal tokoh-tokoh pro-Pemerintah oleh PKI, utamanya, mereka yang dikenal sebagai muslim taat dan politisi. Tak kalah garang, Hizbul Wathan sebagai sayap Muhammadiyah, bergerak dengan kekuatan besar memerangi PKI secara fisik. Berjuang melawan PKI, adalah masalah hidup atau mati. Mayat di mana-mana. Kawan atau lawan.

Korban jiwa, 1948 itu, dan hingga tahun 1953 ketika pidato Natsir itu diucapkan, mungkin sudah puluhan ribu jiwa. Pada saat itu, Front Anti Komunis dibentuk dan meluas, sebagaimana FPI hari ini. Isa Anshary dan elemen Masyumi Jawa Barat bergerak.

Orang Sunda; adalah etnis terbaik ketika menjelaskan kekuatan islam anti komunis. Jangan lupa, bahwa kala itu Darul Islam-Tentara Islam Indonesia pimpinan Kartosuwiryo masih berdiri. Sementara, di tanah Sunda, bergerak pembersihan terhadap elemen komunisme. Di mana-mana razia dan pencerdasan diadakan.

Bukankah hari ini juga begitu; hanya saja, ada sekelompok orang mengklaim bahwa Sunda hanya sebatas masalah mengarak simbol-simbol kemusyrikan, atau masalah bicara dengan bahasa-bahasa bersayap agar tampak nasionalis demi kepentingan endorsmen media?

Maka, "Di bawah kibaran palu arit," kata Natsir lagi, "Pernah di Ibu Kota ini gemuruh demonstrasi-demonstrasi untuk memulihkan keamanan dan memberantas 'gerombolan D. L, TII, dan lain-lainnya' gerombolan MMC, Bambu Runtjing, Barisan Sakit Hati, rupanya dimasukkan Geruisloos, ke dalam istilah 'dll' itu sehingga tidak disebut,"

Umat islam sudah mengalami diskredit itu sejak dulu. Bahwa yang dimaksud perusuh, oleh kalangan komunis, pasti kalangan islam.

Maka dengarlah perkataan Wakil Perdana Menteri dari Partai Indonesia Raya, Mr Wongsonegoro kala kerusuhan itu menguar, yang kata Natsir menjadi kata bersayap dan komando terakhir, "Apabila bicara dengan mulut tidak mempan lagi, suruhlah senjata dan bedil berbicara!"

Sejarah terjadi; Komunis mendompleng kalangan nasionalis dan kemudian menciptakan kerusuhan di mana-mana. Natsir melanjutkan paparannya:

"Saya hendak bertanya kepada pemerintah ini: apakah yang telah berbicara semenjak tahun 1950 sampai sekarang, selain bedil? Malah lebih dari bedil, mortir dan bom, sudah kita suruh berbicara! Kenyataan bahwa toh sampai sekarang belum kunjung juga keamanan terpulihkan adalah bukti bahwa soal ini bukanlah soal dangkal yang dapat diatasi dengan semata-mata komando terakhir,"

"Perintah kepada tentara untuk mempergunakan senjata bedil, mortir, dan bom itu!"

Bukankah hari ini polanya sama? Kalangan islam ditangkapi. Demonstrasi yang digelar KAMMI, HMI, GNPF-MUI, IMM, selalu dihadapi dengan kendaraan lapis baja. Orang yang menyuarakan kebebasannya di media sosial, di media massa, akan bersiap menghadapi kurungan laksana binatang di rumah majikannya. Bahkan lebih parah lagi, orang bisa dipenjara hanya karena menulis kalimah tauhid di atas bendera!

"Kami berulang-ulang mengemukakan bahwa soal keamanan ini tidak dapat diselesaikan secara militer sentris. Dan bukan cukup sekedar mengulang-ulangi saja. Kami tahu, bahwa perlu kami bantu dalam lapangan lain dari lapangan bersenjata itu. Kami membantu dalam lapangan yang dapat kami kerjakan!"

Sejarah mencatat, setahun kemudian, muncul fatwa yang cukup tegas dan jelas dari Masyumi. Pada 3-7 Desember di Surabaya, Majelis Syuro Pusat Masyumi mengeluarkan fatwa hukum islam tentang komunisme dalam momen Muktamar ke-7, tahun 1954.

Fatwa tersebut menyatakan, bahwa komunisme menurut hukum islam adalah kufur, bagi orang yang menganut komunisme dengan pengertian, kesadaran, dan meyakini kebenaran komunisme maka hukumnya adalah kafir. Seseorang yang mengikuti komunisme atau organisasi komunis tanpa disertai pengetahuan, kesadaran, dan keyakinan pada falsafah, ajaran, tujuan, dan cara-cara perjuangan komunis, maka hukumnya sesat.

Dan kemudian, kata Natsir, "kami peringatkan akan tanggung jawab kami yang besar untuk menjaga keselamatan republik Indonesia ini, sebagai hasil jihad kami umat islam bersama-sama dengan segenap golongan sebangsa atas dasar kata persamaan!"

Memori Natsir dan Masyumi itu, entah kenapa beberapa hari ini terus membayang di ingatan bangsa kita. Ya; sudah 50 tahun lebih pidato itu diucapkan, namun kini, ternyata perang belum usai. Umat islam, belum aman dan bebas di negaranya sendiri...

Tanah Sunda Bagian Ujung
Januari 2017