Senin, 05 Agustus 2019
Islam dan Soal-soal Razia Buku
Sebuah buku tak akan berbunyi apa-apa, kalau tak ada yang membacanya, mendiskusikannya, lalu menghasilkan sebuah ide baru dari buku itu.
Dan sebuah ide yang bagus, yang membangun, yang sehat, tak mesti lahir dari buku yang bagus, atau lolos razia.
Di perpustakaan saya, bertengger Das Kapital. Terbitan Moskow, 1959. Ya, buku ini adalah Risalah Pergerakan Ikhwanul Komunis di seluruh dunia. Tetapi, ada dua stempel dalam buku yang ada di rumah saya ini.
Stempel pertama, yang lebih tua, tertanda Brigjend. H. M. Bachrun. Tintanya berwarna hijau pucat. Nama ini, orang hanya mengetahui sebagai nama jalan di banyak tempat. Tapi siapa yang tahu kalau dia adalah Ketua Gerakan Ahmadiyah Indonesia di era Orde Baru?
Mungkin buku ini didapatnya semasa menjadi asisten pribadi Presiden Soekarno. Atau juga dalam lawatannya ke berbagai tempat, sebagai cara untuk memahami gerakan komunisme. Dan buku ini tidak musnah.
Tapi, bukan itu saja. Tampaknya buku ini berpindah tangan lagi. Di bagian bawah halaman pertama buku Das Kapital itu, ada sebuah stempel lain berwarna ungu yang menunjukkan dari zaman lebih baru.
Stempel itu, bertulis Perpustakaan Asrama Pelajar Islam: Prawoto Mangkusasmito. Kalau kita masih ingat, Prawoto, adalah ketua terakhir dari Masyumi. Sebuah partai yang hadir sebagai lawan paling keras dari PKI.
Ya; saya sendiri mulanya terperangah. Di masa Prawoto, perjuangan Masyumi di parlemen maupun di jalan-jalan mencapai puncaknya. Tapi, ia tetap ingin perlawanan itu berdasar.
Ia tidak melarang anak-anak didiknya di asrama pelajar yang ia bina itu, untuk membaca buku ini. Bahkan meletakkannya di perpustakaan. Saya tidak tahu, adakah Brigjend Bachrun menghadiahkannya pada Prawoto ataupun ia mendapatkannya dari toko buku bekas.
Tapi, sebuah buku, betapapun itu, tetaplah layak dibaca. Selain buku ini, saya menemukan pula di tepi toko-toko buku loak, sebuah naskah legendaris: "Masyahid Al-Qiyamah fil Qur'an". Atau, " Hari Akhir Menurut Qur'an". Buku ini adalah karya orang yang sama yang menulis buku-buku keras, semacam 'Petunjuk Jalan'.
Sayyid Quthb. Ketua Harian Ikhwanul Muslimin di masa krisis 1960-an, yang dianggap 'berjasa' memberikan ruang dialektika lahirnya gerakan-gerakan jihad islam di abad modern dengan buku-bukunya.
Dan, penerjemah penyunting buku ini, yang terbit tahun 1986 di Indonesia, adalah Masdar F Mas'udi.
Ya. Tokoh besar Jamaah Islam Liberal, yang hari ini menjadi salah satu petinggi dari PBNU. Dia adalah tokoh yang dianggap membuat wajah islam Indonesia semakin bebas dan liberal. Jauh dari pemikiran Sayyid Quthb.
Dua kasus di atas membuat saya terpaksa menyimpulkan begini: sebuah buku belum tentu bisa mengendalikan pikiran pembacanya. Seorang pembaca, belum tentu juga bisa mengetahui maksud asli bukunya.
Bulan-bulan belakangan, saya banyak ditanya: bahwa sejumlah besar buku tengah dilarang. Kiri dan kanan. Oleh BNPT dan densus, buku-buku bercorak islam kerap disita sebagai barang bukti penangkapan terorisme.
Sementara oleh pasukan yang loreng-loreng itu, buku-buku dengan kata kunci komunis, meskipun itu anti komunis, akan diambil dan dibakar.
Bahkan terakhir saya dengar, buku belajar bahasa Arab yang populer itu, Durusul Lughoh, disita.
Ah. Ada banyak orang tak pernah baca buku, lalu menghadapi buku sebagai barang menakutkan. Islam tak pernah mengajarkan kita untuk menyita buku-buku.
Justru kelindan pemikiran islam berkembang dengan saling berbalas buku: belum lekas dari ingatan, betapa Imam Ghazali mengkritik para Filsuf dengan Tahafut Al-Falasifah.
Lalu, ternyata buku itu tak luput dari kritik dengan munculnya sanggahan dari Ibnu Rusyd: Tahafut min Tahafut Al-Falasifah. Begitu juga yang terjadi sepanjang zaman.
Sebab begitulah cara kita dididik untuk berpikir dan saling menyanggah. Razia buku adalah tindakan orang yang tak pernah membaca buku tapi mengetahui betapa berbahayanya orang yang bergerak karena buku. Persis, sebagaimana dulu Belanda merazia majalah Al-Manar dari Muhammad Rasyid Ridha yang masuk ke Indonesia, dan dengan itu, KH. Ahmad Dahlan terpaksa menyobek-nyobeknya hingga tampak seperti pembungkus pakaian, agar lolos dari razia di pelabuhan.
Belanda tak ingin bangsa kita tahu sedang ada apa di dunia ini. Belanda tak ingin negeri kita punya alasan melawan. Memang, selain majalah Al-Manar itu, dirazia pula buku-buku komunisme.
Saya tak tahu, pihak yang merampas buku itu ingin melarang kita dari berbuat apa atau berpikir seperti apa. Tetapi islam tak mengajarkan kita menjadi manusia nirbaca.
Sebagai muslim, kita dituntut memahami perbandingan segala ideologi yang kita temui dalam perjalanan hidup, dan mampu menjelaskannya dengan baik, lalu membandingkannya dengan islam.
Agar, islam semakin kuat dan semakin punya alasan untuk diyakini penganutnya. Agar ada kedewasaan berpikir dan titik tengah dalam perjuangan bersama orang lain, yang juga kebetulan punya musuh yang sama, tapi ideologi berbeda.
Mari sebagai muslim, kita melindungi pikiran kita dari ancaman razia buku. Mari lindungi buku-buku dari tangan orang yang keras hatinya dan tak pernah membaca buku, dan mudah menghancurkan buku-buku itu.
Marilah melindungi para pembaca buku dari kebekuan ide serta kegagalan pikir dengan menyediakan ruang-ruang diskusi: di taman, di sekolah, di restoran, di sungai, di kantor polisi, di istana Presiden, di Masjid, atau di mana saja.
Sebab islam dibangun atas dasar pemahaman. Agar hal-hal baik dalam buku-buku tetap dapat ruang, tetap punya hak untuk dikembangkan, sementara hal-hal buruk dari sebuah buku dapat didiskusikan dengan aman. Sebagaimana, saat Hasan Al-Banna, di musim semi 1935, menulis saat ditanya mengenai sikapnya terhadap berbagai isme:
"Tidak ada sisi yang baik dalam sebuah isme apapun itu, melainkan ia juga ada pada dakwah kami, dan kamipun menyeru kepadanya..."
Rabu, 31 Juli 2019
Saat Para Profesional Gabung KAMMI
Di musim-musim perang itu, Hasan Al-Banna dengan dua matanya yang teduh, terus memandang negerinya. Mesir. Yang tak pernah sederhana.
1930-an itu, telah puluhan ribu orang bergabung bersamanya untuk menegakkan apa yang disebutnya sebagai kebangkitan umat.
Ia merenungkan kembali Khilafah, yang telah bertahun lamanya runtuh. Ia juga memandang, bahwa sekarang, negara demokrasi adalah apa yang dimiliki umat islam.
Risalah Manhaj ditulisnya dengan tajam. Ia mulai memahami, apa saja elemen-elemen kebangkitan itu. Ia harus membangkitkan keterampilan-keterampilan penting dari orang per orang, agar setiap sudut kehidupan memiliki pakarnya sendiri.
Kelak, kita akan mengenal ini, sebagai masa-masa Mihwar Mihani. Saat para pakar dan profesional bergabung kedalam gerakan Ikhwanul Muslimin.
Hasan Al-Banna sendiri adalah seorang pendidik. Ia seorang guru pegawai negeri. Di tahun 30-an itu, cabang-cabang kerja dari Ikhwan didirikan:
Aneka himpunan dagang, guru, buruh, petani, nelayan, mahasiswa, dan para insinyur diberinya ruang dialektika dalam kerangka "Ta'lim" yang sama: Arkanul Bai'ah dan Ushul Isyrin, serta 10 Muwashafat yang mengikat mereka.
Untuk mengikat ideologi para profesional itu, Hasan Al-Banna membuat sebuah metode ideologisasi: Katibah namanya. Pertemuan malam dengan 40 orang hadirin, yang mendengarkan uraian dari da'i yang dipilih untuk mengisinya.
Dan di salah satu katibah itu, Hasan Al-Banna menggagas keinginan untuk mengajak segenap profesional yang punya kekhawatiran yang sama: kemerosotan umat.
Lembaga-lembaga pendidikan, pabrik, restoran, bahkan pusat perbelanjaan milik kader Ikhwan merajai Mesir. Seiring besarnya pengaruh politik Ikhwan dan juga jumlah pengikut, Pemerintah Mesir saat itu menganggap Hasan Al-Banna dan gerakannya sebagai "bahaya".
Berbagai muslihat diadakan. Tapi Hasan Al-Banna tak gentar. Sampai akhirnya, pemerintah sadar: para profesional itu telah mengakar, bahkan menguasai sebagian perekonomian, budaya, dan bahkan pemerintahan Mesir sendiri.
Ikhwanul Muslimin pun, di detik-detik akhir hidup Hasan Al-Banna, dibubarkan. Beliau sendiri ditembak mati. Dengan tangan-tangan gelap yang entah dari mana.
Tapi, jaringan profesional itu, tidaklah bisa dibunuh. Mereka terus menghidupi napas umat, dengan mengisi ceruk-ceruk kehidupan itu.
Kepemimpinan Ikhwan terus berlanjut, 70 tahun setelah Hasan Al-Banna tiada. Orang boleh bilang, inilah keberhasilan sesungguhnya dari Ikhwanul Muslimin.
" memberikan para profesional itu, alasan untuk membela agama Allah." dan, "memberikan penjelasan kepada umat, betapa kekuasaan sangatlah berbeda dengan jabatan".
*
70 tahun setelah Ikhwanul Muslimin diserukan Hasan Al-Banna di Isma'iliyyah, KAMMI dideklarasikan. Hadirnya disambut oleh ratusan Majelis Syuro LDK yang saat itu bergerak di bawah tanah, menajamkan keimanan untuk berhadapan dengan urusan-urusan politik islam.
KAMMI segera menarik hati siapa saja yang kebetulan ada di masjid. Sosok sederhana, berjanggut tipis, celana bahan, dan wajah yang serius tetapi memancarkan senyum, tapi begitu berapi-api saat berorasi: orang-orang semacam ini memenuhi masjid kampus saat itu. Membawa bendera dan seruan aksi.
Tak ketinggalan, semua presiden berkuasa selalu mendapatkan limpahan pengeras suara untuk mundur dari KAMMI. Jalan-jalan protokol Ibukota di ring 1 istana, adalah medan jihad yang biasa dilangkahi.
Tapi, telah lewat 20 tahun dari hari itu. Kini umat butuh jawaban baru. Presiden Joko Widodo membuka era e-commerce. Sementara, kampus dan sekolah kini tinggal fatamorgana di kota-kota besar.
Orang cuma punya dua pilihan: jadi ahli akademik sekalian, atau jadi pedagang dengan rupa-rupa bentuknya. Umat butuh jawaban KAMMI. Apa jawaban KAMMI?
Saat nanti Daulah telah tegak, adakah orang-orang yang mewarisi ideologi itu, di setiap lini kehidupan umat? Bilamana jutaan orang mengikuti DM 1, lalu akan jadi apa mereka itu?
Apa jawaban KAMMI pada para profesional yang kini memilih berbisnis, atau membangun dunianya sendiri, gerakannya sendiri, dan bahkan perusahaannya sendiri di usia belasan tahun?
Katibah harus tetap berjalan. Artinya, KAMMI harus punya tempat membersihkan kotoran-kotoran sekular umat di dalam sarana pengaderannya. Lalu, setelah kotoran itu lenyap, para profesional itu haruslah punya saluran di KAMMI.
Di titik inilah, KAMMI musti menyempurnakan dirinya. Ia harus punya saluran itu. Mekanisme pengaderan biarlah berjalan di relnya. Tapi, sebagaimana jawaban Hasan Al-Banna, di tahun 30-an itu, para profesional musti punya tempat mengembangkan dirinya.
Lokus-lokus karya itu, harus diisi mereka yang sangat pakar. Lokus jurnalisme dan sastra, dulu diisi sastrawan besar semacam Sayyid Quthb, yang juga jadi Pemred Buletin Al-Ikhwanul Muslimun.
Lokus-lokus kajian fikih secara kultural, diwakili oleh Sayyid Sabiq dan juga Syaikh Yusuf Qardhawi. Lokus hukum, tentu saja, kita punya Umar Tilmisani sang pengacara ulung.
Masih ada belasan lokus lain, baik yang tertubuhkan maupun tidak. Ushul Isyrin, dan Muwashafat sangatlah membebaskan kita menciptakan apapun di dalam tubuh Jamaah, dan apalagi, di tengah-tengah umat ini.
Itulah jawaban kita!
*
Tapi, memasuki masa Mihwar Mihani ini, orang perlu batasnya. Kini orang mulai bertanya-tanya:
Profesional bertebaran di KAMMI. Ada artis pilem. Ada seniman. Ada filantrop. Ada pengusaha besar. Ada newcomer startup. Dan lain-lain. Tapi hadirnya mereka dalam jumlah besar juga diiringi pertanyaan yang sering masuk kedalam pesan chat saya:
Apa yang ditawarkan KAMMI? Mengapa saya harus mengajak orang gabung KAMMI?
Ikhwan menjawabnya dengan risalah-risalah bernas. "Kepada Apa Kami Menyeru Manusia". "Risalah Manhaj", " Risalah Ta'lim", "Menuju Cahaya", dan lain-lain.
Isinya: memberikan alasan orang, mengapa mereka masih harus menjadi islam. Mengapa saya harus salat? Bukankah mendingan berdagang atau ikut rebutan jabatan di negara demokrasi?
Sarana pengaderan, seiring masuknya para profesional itu kedalam tubuh jama'ah, harus dikuatkan. Hasan Al-Banna merumuskan Katibah dengan kuat.
Setelah tubuh jamaah diancam pemerintahan, Hasan Al-Banna bahkan terus berpikir dan menciptakan Usroh, atau Halaqah yang kita kenal sekarang.
Lalu, mau apa di sana? Tak lain tak bukan, ikatan ukhuwwah. Sebab, titik utama dari Nizhamul Usar, hanyalah ukhuwwah.
Atas dasar, persamaan ideologi. Ayo! Jangan ragu-ragu. Tanyakan lagi, apa alasan kita harus mengajak orang gabung KAMMI.
Sebab orang menunggu jawaban KAMMI itu!
1930-an itu, telah puluhan ribu orang bergabung bersamanya untuk menegakkan apa yang disebutnya sebagai kebangkitan umat.
Ia merenungkan kembali Khilafah, yang telah bertahun lamanya runtuh. Ia juga memandang, bahwa sekarang, negara demokrasi adalah apa yang dimiliki umat islam.
Risalah Manhaj ditulisnya dengan tajam. Ia mulai memahami, apa saja elemen-elemen kebangkitan itu. Ia harus membangkitkan keterampilan-keterampilan penting dari orang per orang, agar setiap sudut kehidupan memiliki pakarnya sendiri.
Kelak, kita akan mengenal ini, sebagai masa-masa Mihwar Mihani. Saat para pakar dan profesional bergabung kedalam gerakan Ikhwanul Muslimin.
Hasan Al-Banna sendiri adalah seorang pendidik. Ia seorang guru pegawai negeri. Di tahun 30-an itu, cabang-cabang kerja dari Ikhwan didirikan:
Aneka himpunan dagang, guru, buruh, petani, nelayan, mahasiswa, dan para insinyur diberinya ruang dialektika dalam kerangka "Ta'lim" yang sama: Arkanul Bai'ah dan Ushul Isyrin, serta 10 Muwashafat yang mengikat mereka.
Untuk mengikat ideologi para profesional itu, Hasan Al-Banna membuat sebuah metode ideologisasi: Katibah namanya. Pertemuan malam dengan 40 orang hadirin, yang mendengarkan uraian dari da'i yang dipilih untuk mengisinya.
Dan di salah satu katibah itu, Hasan Al-Banna menggagas keinginan untuk mengajak segenap profesional yang punya kekhawatiran yang sama: kemerosotan umat.
Lembaga-lembaga pendidikan, pabrik, restoran, bahkan pusat perbelanjaan milik kader Ikhwan merajai Mesir. Seiring besarnya pengaruh politik Ikhwan dan juga jumlah pengikut, Pemerintah Mesir saat itu menganggap Hasan Al-Banna dan gerakannya sebagai "bahaya".
Berbagai muslihat diadakan. Tapi Hasan Al-Banna tak gentar. Sampai akhirnya, pemerintah sadar: para profesional itu telah mengakar, bahkan menguasai sebagian perekonomian, budaya, dan bahkan pemerintahan Mesir sendiri.
Ikhwanul Muslimin pun, di detik-detik akhir hidup Hasan Al-Banna, dibubarkan. Beliau sendiri ditembak mati. Dengan tangan-tangan gelap yang entah dari mana.
Tapi, jaringan profesional itu, tidaklah bisa dibunuh. Mereka terus menghidupi napas umat, dengan mengisi ceruk-ceruk kehidupan itu.
Kepemimpinan Ikhwan terus berlanjut, 70 tahun setelah Hasan Al-Banna tiada. Orang boleh bilang, inilah keberhasilan sesungguhnya dari Ikhwanul Muslimin.
" memberikan para profesional itu, alasan untuk membela agama Allah." dan, "memberikan penjelasan kepada umat, betapa kekuasaan sangatlah berbeda dengan jabatan".
*
70 tahun setelah Ikhwanul Muslimin diserukan Hasan Al-Banna di Isma'iliyyah, KAMMI dideklarasikan. Hadirnya disambut oleh ratusan Majelis Syuro LDK yang saat itu bergerak di bawah tanah, menajamkan keimanan untuk berhadapan dengan urusan-urusan politik islam.
KAMMI segera menarik hati siapa saja yang kebetulan ada di masjid. Sosok sederhana, berjanggut tipis, celana bahan, dan wajah yang serius tetapi memancarkan senyum, tapi begitu berapi-api saat berorasi: orang-orang semacam ini memenuhi masjid kampus saat itu. Membawa bendera dan seruan aksi.
Tak ketinggalan, semua presiden berkuasa selalu mendapatkan limpahan pengeras suara untuk mundur dari KAMMI. Jalan-jalan protokol Ibukota di ring 1 istana, adalah medan jihad yang biasa dilangkahi.
Tapi, telah lewat 20 tahun dari hari itu. Kini umat butuh jawaban baru. Presiden Joko Widodo membuka era e-commerce. Sementara, kampus dan sekolah kini tinggal fatamorgana di kota-kota besar.
Orang cuma punya dua pilihan: jadi ahli akademik sekalian, atau jadi pedagang dengan rupa-rupa bentuknya. Umat butuh jawaban KAMMI. Apa jawaban KAMMI?
Saat nanti Daulah telah tegak, adakah orang-orang yang mewarisi ideologi itu, di setiap lini kehidupan umat? Bilamana jutaan orang mengikuti DM 1, lalu akan jadi apa mereka itu?
Apa jawaban KAMMI pada para profesional yang kini memilih berbisnis, atau membangun dunianya sendiri, gerakannya sendiri, dan bahkan perusahaannya sendiri di usia belasan tahun?
Katibah harus tetap berjalan. Artinya, KAMMI harus punya tempat membersihkan kotoran-kotoran sekular umat di dalam sarana pengaderannya. Lalu, setelah kotoran itu lenyap, para profesional itu haruslah punya saluran di KAMMI.
Di titik inilah, KAMMI musti menyempurnakan dirinya. Ia harus punya saluran itu. Mekanisme pengaderan biarlah berjalan di relnya. Tapi, sebagaimana jawaban Hasan Al-Banna, di tahun 30-an itu, para profesional musti punya tempat mengembangkan dirinya.
Lokus-lokus karya itu, harus diisi mereka yang sangat pakar. Lokus jurnalisme dan sastra, dulu diisi sastrawan besar semacam Sayyid Quthb, yang juga jadi Pemred Buletin Al-Ikhwanul Muslimun.
Lokus-lokus kajian fikih secara kultural, diwakili oleh Sayyid Sabiq dan juga Syaikh Yusuf Qardhawi. Lokus hukum, tentu saja, kita punya Umar Tilmisani sang pengacara ulung.
Masih ada belasan lokus lain, baik yang tertubuhkan maupun tidak. Ushul Isyrin, dan Muwashafat sangatlah membebaskan kita menciptakan apapun di dalam tubuh Jamaah, dan apalagi, di tengah-tengah umat ini.
Itulah jawaban kita!
*
Tapi, memasuki masa Mihwar Mihani ini, orang perlu batasnya. Kini orang mulai bertanya-tanya:
Profesional bertebaran di KAMMI. Ada artis pilem. Ada seniman. Ada filantrop. Ada pengusaha besar. Ada newcomer startup. Dan lain-lain. Tapi hadirnya mereka dalam jumlah besar juga diiringi pertanyaan yang sering masuk kedalam pesan chat saya:
Apa yang ditawarkan KAMMI? Mengapa saya harus mengajak orang gabung KAMMI?
Ikhwan menjawabnya dengan risalah-risalah bernas. "Kepada Apa Kami Menyeru Manusia". "Risalah Manhaj", " Risalah Ta'lim", "Menuju Cahaya", dan lain-lain.
Isinya: memberikan alasan orang, mengapa mereka masih harus menjadi islam. Mengapa saya harus salat? Bukankah mendingan berdagang atau ikut rebutan jabatan di negara demokrasi?
Sarana pengaderan, seiring masuknya para profesional itu kedalam tubuh jama'ah, harus dikuatkan. Hasan Al-Banna merumuskan Katibah dengan kuat.
Setelah tubuh jamaah diancam pemerintahan, Hasan Al-Banna bahkan terus berpikir dan menciptakan Usroh, atau Halaqah yang kita kenal sekarang.
Lalu, mau apa di sana? Tak lain tak bukan, ikatan ukhuwwah. Sebab, titik utama dari Nizhamul Usar, hanyalah ukhuwwah.
Atas dasar, persamaan ideologi. Ayo! Jangan ragu-ragu. Tanyakan lagi, apa alasan kita harus mengajak orang gabung KAMMI.
Sebab orang menunggu jawaban KAMMI itu!
Jumat, 01 Februari 2019
Prediksi: 5 Tahun Lagi KAMMI Akan Mati
Amar Ar-Risalah
Sebuah gerakan, ada karena ada reaksi dari kebatilan yang mendahuluinya. Ia lahir akibat peristiwa kezaliman dan ketidaksesuaian antara konsep yang "benar" dengan "yang terjadi" di dunia nyata.
Setelah Adam turun dari surga, Allah berkata: "sebagian dari kalian akan menjadi musuh bagi sebagian yang lain."
Dan, seolah-olah ayat inilah yang menjawab pertanyaan malaikat. Bahwa akibat adanya kezaliman dan permusuhan itu, bangkit sekelompok manusia melawan kezaliman itu.
Ranahnya, jelas ideologi. Ide untuk menganalisis, mana kezaliman dan permusuhan, mana perbaikan dan kebaikan, sesuai fungsi asli Khalifah di Bumi.
"Siapa yang mengikuti petunjuk-Ku," kata Allah, "tidak ada ketakutan pada mereka, dan tidak juga mereka ditimpa kesedihan."
*
Berangkat dari ayat 30-an Al-Baqarah itu, di masa sebelum kenabian sedang ada tren cara baru berdagang. Tren ini bahkan diabadikan dalam Qur'an:
"Perdagangan Quraisy, perjalanan mereka saat musim panas dan musim dingin."
Cara dagang ini melampaui tren sebab betul-betul menjadi penyangga ekonomi Makkah, bahkan segenap Arab!
Konflik berkepanjangan antara Romawi dan Persia membuat perdagangan keduanya terputus. Quraisy hadir sebagai pihak ketiga penyambung jalur dagang yang rusak itu.
Bagaikan salib raksasa, empat titik utama jalur dagang berpusat di Makkah: Yaman di selatan, Persia di timur, Afrika di Barat, dan Romawi di Utara.
Tapi ada satu hal yang kurang: kezaliman tetap ada. Perdagangan itu tak serta merta mengangkat harkat hidup segenap manusia. Hanya sebagian manusia!
Sebab kasta-kasta dan perbudakan muncul. Harta hanya mengalir pada sebagian orang. Parahnya lagi, muncul kongsi dagang berbasis kesukuan: Hilful Ahlaf.
Hilful Ahlaf ini mencari keuntungan dengan bertindak curang. Selain itu, lebih dari kongsi dagang, mereka juga berkongsi politik ubtuk menjatuhkan suku lain.
Akhirnya, genaplah kejahiliyahan itu. Dari kekayaan besar itu, mereka meniadakan peran Tuhan. Ideologi tak penting.
Para pemimpin Makkah menetapkan kebijakan keagamaan berdasarkan profit dan potensi bisnisnya.
Segenap kabilah meletakkan berhala di Ka'bah, hingga ada 360 berhala, agar setiap kabilah menganggap kesucian Ka'bah sebagai mana Tuhan mereka, dan memuliakan Quraisy:
Sebagai penjaga Ka'bah. Sebab itulah mereka aman berdagang, bebas dari rampok di gurun pasir. Sebabnya memang tuhan para rampok itu mereka yang jaga. Itulah kapitalisme, itulah peradaban tanpa ideologi!
Sebut saja tren dagang itu sebagai "Revolusi Ekonomi 1.0" dan banyak orang meninggalkan "etika dagang" dan "ideologi" dari agama Ibrahim.
"Sebagian, menjadi musuh bagi sebagian yang lain."
*
Di titik puncak kejahiliyahan itu, Nabi Muhammad muncul membawa risalah. Ia datang dengan sebuah ideologi.
"Iqra," kata surat Al-Alaq. "Berpikirlah! Yang kritis, yang banyak yang dalam, bacalah buku-buku. Carilah alasan peradaban kalian!" begitu tafsirnya.
Slogannya, "La ilaha illallah". Tiada Tuhan, selain Allah. Ini bicara ideologi.
Sebab dagang sekadar dagang, orang kafir juga dagang. Tapi apa beda muslim dengan kafir? Ideologinya.
Hatinya jadi peka pada penindasan akibat tren bisnis itu. Ia jadi punya etika dagang. Ia jadi punya landasan berpikir yang tak hanya cari keuntungan.
Saat itu, di Makkah memang lagi musim startup. Anak-anak muda dagang tanpa barang, mereka hanya tinggal ikuti jalur dagang dunia yang ada dan ambil barang dari sebuah kota.
"Siapa Tuhanmu itu tidak penting," kata sebagian mereka. "Bisa nggak ganti Tuhan itu dimonetisasi, diubah jadi peluang bisnis?"
"Kalau enggak, ya ngapain ngikutin ente!" kata mereka. "Ente nggaj punya tentara yang kuat. Nggak punya juga harta yang banyak. Ini jaman bisnis bos!"
Rupanya, kepada mereka, turun surat yang panjang, surat Hud ayat 12: "maka boleh jadi engkau hebdak meninggalkan sebagian apa yang diwahyukan padamu, dan dadamu menjadi sempit karena mereka mengatakan: mengapa tidak diturunkan kepadanya harta kekayaan atau datang bersamanya para malaikat?"
Ayat ini disambung sampai ayat 24: "seperti orang buta dan tuli dengan orang yang dapat melihat dan mendengar. Samakah kedua golongan itu?"
Sebab, ideologi dan seruan Nabi, berfungsi sebagai pengarah, agar para pedagang, para pemilik startup, para pemangku kebijakan dagang, dan para konsumen tidak buta dan tuli:
Sehingga muncul kezaliman. "Sebagian, menjadi musuh bagi sebagian yang lain!"
*
Kisah panjang ini berakhir dengan jatuhnya hegemoni dagang Makkah, dan bergeser ke Madinah tak sampai 20 tahun kemudian.
Para ideolog menang atas para pemilik startup tanpa ideologi. Lalu bagaimana dengan KAMMI?
Saya sering sudah jumpai dalam episode "khuruj" untuk dauroh ke berbagai kota, orang yang bilang "ideologi itu sudah tidak penting."
Mereka biasanya melengkapi diri mereka dengan pelatihan bisnis, startup, dan lain sebagainya. Lalu kembali kepada kita dengan petantang petenteng:
Ayo bisnis! Buka pandangan kalian! Jangan lagi ngurusi ideologi! Dakwah enggak pakai duit enggak bakal jalan!
Mereka tambah dengan dalil, "Cina sedang bangkit. Arus ekspor impor berpihak pada negeri kita." juga, "Industri berbasis teknologi, 4,0, tengah tren. Ayo monetisasi dakwah digital!"
Padahal tren itu sementara. Dakwah Nabi, sang Ideolog berhasil menggeser jalur dagang dan mengubah tren menuju Madinah. Bahkan Romawi diancam, dan pintu-pintu negeri itu dijepit dengan kekuatan militer.
Para pedagang Makkah gigit jari! Sebab tren itu sementara. Selamanya orang yang ikut tren akan terombang ambing, dan hanya bisa menunggu.
Sedangkan para ideolog, menciptakan tren melalui pencerdasan di tengah masyarakat. Industri 4,0 dan One Belt One Road, semuanya dibentuk dari penindasan pada negara berkembang.
Dampak kezaliman itu telah ada. Perdagangan sawit hancur pada tahun 2018. Menyusul, bisnis properti yang anjlok. Mengapa? Kuasa negara besar mengatur-atur negara ambyar dunia ketiga seperti Indonesia.
Kalau kader KAMMI cuma cari celah di ketiak jalur-jalur dagang itu tanpa tindakan ideologis, mereka hanya akan ulangi fase yang terjadi di Amerika di masa akhir Barrack Obama:
40 juta orang miskin mendadak karena pasang surut ekonomi.
Perang Dagang telah kelihatan arahnya. Uni Eropa tak mau diam dengan buat rupa-rupa regulasi. Trump bukan presiden biasa. Dia raja pedagang.
Dan Indonesia cuma sedang berjuang pura-pura jadi pedagang besar. Dan kita ikut-ikutan.
Sudah begitu, rupanya yang dimaksud era startup di Indonesia itu cuma jualan skala kecil dan ngikut pengusaha atau tokoh politik besar untuk minta duitnya.
KAMMI akan jatuh. Kegiatan ideologis sudab pudar. Sekarang kita didikte tren, bagai orang buta dan tuli ikut arahan orang lain.
Manhaj Pengaderan KAMMI alkisah hanya dipakai untuk gagah-gagahan. Sisanya, dauroh harus ikut tren, acara KAMMI harus ikut tren.
Anak-anak yang dambakan cari ideologi di KAMMI pun pergi ke kajian sunnah, minggir ke PKS sekalian, atau jadi anggota FPI.
Tren dagang akan berubah 5 tahun kedepan. Kalau yang menang Jokowi, ia dijepit utang Cina. Kalau yang menang Prabowo, kongsi liberal sudah mengintai.
Di tengah gelora rekrutmen 100.000 kader, para perekrutnya malah keluar dan habis. KAMMI cuma bantalan buat bisnis dan kenalan tokoh berduit.
Ideologi ada untuk mencerdaskan orang. Dua orang sama-sama dagang, satynya progresif karena punya tujuan jangka panjang. Satunya akan punah karena ikut tren bisnis temporal.
"Ideologi itu enggak penting!"
Selasa, 01 Januari 2019
Catatan Awal Tahun Negeri Buku: Soal Karya dan Kepengarangan
Tahun 2018, cukup bising untuk ukuran tahun literasi. Warga Negeri Buku mengamati apa yang terjadi di Negeri Tetangga, ternyata belum begitu baik bagi perkembangan sastra kedepan.
Bulan Februari. Yang basah. Orang dikejutkan dengan pengumuman lahirnya angkatan puisi esai. Bagi beberapa orang, katanya, "syaratnya sudah terpenuhi", dan lagi, " dunia puisi sudah berubah."
Cara pemunculannya, seperti yang disoroti para sastrawan, tidak dengan cara yang baik. Denny JA memberikan hadiah besar bagi sayembara, dan membayar sejumlah kritikus sastra untuk memoles-moles "indahnya" puisi Esai, dan agar jumlah penulisnya mencapai "angka cukup masif" untuk dikatakan sebagai sebuah angkatan.
Publik, di generasi selanjutnya, akan mengambil kesimpulan instan: terkenallah, lalu menulislah. Kau akan disebut penyair dan sastrawan.
Di luar itu. Kami juga mendapati pada awal tahun lalu, gelombang penulis-penulis wattpad. Mereka yang, agaknya, mewarisi genre paling baru di dunia kepenulisan kita: Fiksi Metropop. Cara menulisnya sama. Isi ceritanya sama. Yang berbeda, cara publik membacanya dan cara penulis memilih medianya.
Menyambung di tahun 2016 dan 2017, yang mana, kita juga melihat betapa banyak buku-buku baru yang muncul dari dokumentasi status dan unggahan instagram seseorang, agaknya, di tahun 2018 hal ini semakin kental dan semakin terjadi.
Apa pasalnya? Dua hal ini punya sebuah persamaan. Keduanya, tidak menawarkan cara pandang baru kepada makna kemanusiaan, kebudayaan, atau juga kehidupan.
Sebab, kedua peristiwa itu muaranya pada satu hal: festivalisasi karya. Orang cuma dididik agar membeli karya yang terkenal, besar, dan populer. Soal isi, bisa diurus belakangan.
Puisi Esai misalnya, memang dibuat secara masif. Tapi, justru itulah masalahnya. Orang ternyata masih mudah termakan iklan.
Bahwa sesuatu yang populer, masif, dilakukan banyak orang, dan dipujapuji orang, dianggap sebagai sesuatu yang baik tanpa melihat esensinya.
Angkatan sastra, sebelumnya selalu lahir dengan nilai perjuangan yang sama. Angkatan 45 misalnya, jelas menawarkan cara pandang kepada kemerdekaan bangsa Indonesia. Sedangkan sekarang, orang cukup jadi terkenal, dan pura-pura memperjuangkan sesuatu yang tidak perlu berat-berat dan mendasar.
Sebab, mereka percaya pada postulat generasi: generasi Y dan Z toh tak suka bicara urusan filsafat, agama, atau hal-hal mendasar soal kebudayaan. Terkenal saja melalui media sosial, sudah cukup.
Dongkrak saja statistik dan survei, dan buat sebuah festival. Generasi Y dan Z, seolah digambarkan sebagai generasi beringas, robot, dan bisa ditafsirkan bagai menafsir deret angka-angka yang bukan menunjukkan manusia.
Menjamurnya buku-buku dari wattpad yang menawarkan atraksi narasi--bahkan beberapa di antaranya secara ekstrim--tidak diiringi dengan pencarian jati diri kemanusiaan para penulisnya.
Karya-karya itu, sepenuhnya seperti karya terjemahan--meskipun tidak semua. Nama-nama tokohnya, sangat tidak Asia. Sangat tidak Indonesia.
Pola penyelesaian konflik dalam cerita selalu menjiplak pola-pola penyelesaian konflik instan a la kota besar. Di mana, perempuan selalu jadi korban, atau secara ekstrim, laki-laki dipaksakan menyelesaikan konflik secara perempuan.
Dalam karya-karya itu, Tuhan cuma dianggap jalan pintas. Adegan berdoa, atau tindak tanduk tokohnya, tidak terlalu intens. Nama Tuhan baru disebut bilamana cerita itu bersentuhan dengan alam gaib. Atau kadang, demi memuaskan atraksi narasi, alam gaib dikonstruk ulang, untuk menyiasati keringnya makna sebuah karya.
Nama-nama tokoh dan ciri kebiasaan sehari-hari para tokoh dalam karya-karya yang muncul di karya-karya yang jamak ada, ternyata menunjukkan bangsa kita yang masih menganggap dunia Barat, Jepang, atau Korea: yang sebut saja negara asing, lebih baik dan lebih luar biasa dari negara kita.
Kalau di tahun-tahun sebelumnya nama-nama timur tengah atau latar Mesir serta Hijaz dianggap baik, kini bergeser. Barangkali penulisnya ingin mengatakan bahwa kota-kota kita tak cukup mengandung kehidupan untuk ditulis dalam sebuah karya.
Artinya, untuk menjadi bagus, indah, terkenal, dan hebat, orang--para penulis--ternyata tak bisa memilih jati diri bangsanya sendiri, tapi musti meminjam jatidiri bangsa lain.
Inilah yang disebut orang sebagai fenomena pos kolonial. Saat sebuah bangsa belum bisa melupakan keterjajahan, dan menganggap bangsa lain lebih superior. Ajaibnya, para pembaca kita pun menikmatinya!
Barangkali, catatan bagian satu ini mesti ditutup dengan obituari. Pengarang Danarto pada bulan April dan NH Dini pada bulan Desember, meninggalkan kita. Keduanya secara simbolik mengubah bentuk karya orang pada zamannya.
Berkunjunglah ke Negeri Buku. Kami berharap, menjamurnya taman baca dan perpustakaan pribadi, akan membuat selera baca orang naik. Pada gilirannya, kita akan kembali menemukan kemanusiaan di dalamnya.
Amar Ar-Risalah
Warga Negeri Buku
Senin, 31 Desember 2018
2019, Titik Balik Gerakan Mahasiswa Muslim (1)
Amar Ar-Risalah
Akhir tahun, Pemerintahan Jokowi-JK mengesahkan aturan bahwa Ekstra Kampus kembali akan masuk kedalam kampus, sebagai salah satu tempat pengaderan politik.
Banyak orang berbeda pendapat. Sebagian menganggap bahwa gerakan ekstra akan dikontrol rektor. Sebagian beranggapan, ini menjadi peluang pengaderan.
Tapi ini akan jadi titik balik bagi KAMMI. Apakah akan mati, atau akan jadi besar menuju masa kejayaan 20 tahunnya.
Kenapa? Hari ini gerakan KAMMI menghadapi generasi baru yang belum pernah dijumpai sejak Indonesia merdeka. Generasi itu punya ciri-ciri lain dari generasi sebelumnya dalam konteks keislaman.
Generasi ini punya kesadaran simbol islam yang tinggi. Mereka adalah pengikut gaib dari Ust Abdul Somad, Ust Adi Hidayat, dan 12 Ustadz Sunnah rekomendasi Radio Rodja. Mayoritas dari mereka adalah generasi seabad Muhammadiyah, dan generasi kedua tarbiyah.
Mereka punya pandangan politik yang terpisah dengan partai islam. Ini dibuktikan dengan mayoritas mereka yang menjadi peserta 212, pada saat justru sebagian partai dan ormas islam melarang masyarakat terlibat.
Bahkan, sebagian partai dan ormas islam itu memihak orang yang secara langsung dianggap penyebab aksi terjadi. Yaitu, Basuki T Purnama.
Secara keseharian, mereka berjilbab lebar--bahkan bercadar--dan timbul kesadaran untuk menutup aurat dengan kaus kaki. Mereka ingin menjalani proses pernikahan dengan perkenalan singkat tanpa berpacaran.
Di samping itu, mereka sadar isu ukhuwah dunia islam. Terhadap Palestina, Aleppo, Xinjiang, atau Kashmir, mereka sangat peduli. Asyiknya lagi, generasi ini mulai menyadari bahwa dalam memeluk sebuah agama, pemisahan dari segala hal yang menjadi lawan konsekuensi dari agama tersebut menjadi penting.
Al-Wala wal Bara'. Proses ini tidak instan. Kerjasama pada satu pihak antara semua elemen ulama, sangat berpengaruh pada hal ini. Mengenai ucapan selamat natal, perayaan tahun baru, atau bahkan pandangan politik: telah lahir generasi muslim baru di Indonesia.
Apa yang membedakan mereka dari generasi muslim tahun 60-an yang berharap dan berkumpul pada Masyumi?
Pada zaman Masyumi, umat punya musuh yang tampak. Yaitu, penjajah Jepang, Belanda, Inggris, dan pada gilirannya, PKI. Sekarang musuh itu tak ada pada sosok tapi pada pemikiran saudara mereka.
Jenis generasi ini harus diterka dengan baik apa kebutuhannya. Hari ini, dari segenap ekstra Kampus, yang dianggap memiliki tawaran yang mirip seperti harapan generasi baru ini, adalah KAMMI.
PMII dan HMI mulai kehilangan warna islam secara simbolik--meski bisa jadi secara manhaji masih bertujuan dakwah--tapi ciri kader dan cara identifikasi isunya berbeda dengan cakrawala generasi yang sedang kita bicarakan ini.
Sementara, sebagai yang paling baru lahir, di sinilah KAMMI menjadi tawaran. Sekarang, KAMMI punya sejumlah pilihan.
Pilihan pertama, terjebak pada romantisme gerakan mahasiswa dan pura-pura jadi pejabat pemerintahan: bersikap pragmatis, main banyak kaki, dan menomor sekiankan ideologi gerakan dan simbolnya, dan juga ke sana ke mari merapat ke tokoh-tokoh politik lalu umbar janji.
Pilihan ini akan membuat KAMMI kehilangan warnanya sebagai gerakan islam yang cocok buat generasi yang tadi kita bahas. Sebab, generasi ini pun terbukti tidak pragmatis. Mereka mengutuk pejabat yang bejat dan kotor, tanpa harus berkumpul dan belajar di organisasi ekstra manapun.
Pilihan kedua, kembali dengan lantang menyuarakan tawaran manhaj pengaderan KAMMI dan filosofi gerakan KAMMI. Pemisahan yang tegas, dalam konteks al-wala wal bara', dan sikap jelas berpihak kepada islam yang "itu". Islam yang ada "sekarang" dan "dianut" generasi ini.
Itu sudah cukup!
Tak perlu kita pura-pura toleran untuk memikat anak-anak muda yang baru hijrah. Mereka punya selera dan standar yang lebih mulia daripada sekadar ucapan selamat natal, selamat tahun baru, atau pembenaran pada tradisi bid'ah.
Generasi ini ternyata bisa mengidentifikasi sendiri kemenangan islam dan kebatilan tanpa bantuan pengurus KAMMI pura-pura jadi pemain politik, dan pura-pura bisa giring opini masyarakat.
Saatnya kembali kepada khittah dakwah, dalam tradisi apa KAMMI didirikan, dan dalam tindak-tanduk apa kader KAMMI berbuat.
Saat pengaderan awal, tegaskan sikap kita sebagaimana sikap Hasan Al-Banna dalam Kepada Apa Kami Menyeru Manusia. Perjelas pemisahan dan pengiringan kita pada berbagai isu umat, yang mana, umat tanpa bantuan kita sudah tahu mana yang batil mana yang haq.
Pada saat pembinaan mingguan, tahapan pemahaman makrifatullah, makrifatur-rasul, ghazwul fikr, dan seterusnya harus tersampaikan dengan baik.
Umat sudah tahu bahwa dakwah tak bakal berimplikasi pada kaya atau tidaknya dai. Tapi pada adilnya cara pandang orang pada dunia, dan halusnya tindak tanduk orang.
Aksi demonstrasi bukan jawaban. Generasi ini juga muak dengan itu. Mereka membutuhkan satu gerakan yang, kalaupun mengancam pemerintah, caranya adalah langsung memberi solusi ke tengah umat. Aneka gerakan sosial, atau juga pencerdasan.
Kecuali umat dan dakwah dianggap komoditas dagang: insya Allah, Kemenangan islam jiwa perjuangan KAMMI, kebatilan adalah musuh abadi KAMMI!
Minggu, 02 Desember 2018
KAMMI dan 212: Menanti Bangkitnya Fajar Pembebasan
Amar Ar-Risalah
Momen 212 ini menunjukkan sesuatu. Pertama, sebab awal kenapa orang berkumpul, adalah merebaknya kezaliman dan terutama dihinanya simbol yang bagi umat muslim adalah kehidupan mereka. Bagi mereka, Qur'an, ulama, jilbab, apalagi kalimat tauhid, adalah perlambang keadilan dan keselamatan.
Islam, bagi kita, adalah keselamatan dan keadilan mutlak. Jauh dalam hati kita. Dan, sekelompok ulama, baik dari FPI, HTI, maupun PKS secara simultan berdakwah, yang, muara dakwahnya, mengingatkan bahwa pangkal segala kezaliman adalah ditinggalkannya agama dalam pemerintahan.
Lalu, dihinanya simbol keadilan dan keselamatan ini, diperbesar dengan kezaliman-kezaliman yang terjadi berturut-turut. Naiknya harga-harga. Bodohnya pejabat-pejabat. Runtuhnya keadilan hukum. Itu semua entah mengapa sangat sesuai dengan tujuan kepemimpinan, dalam An-Nisa ayat 58.
Di satu sisi, ada sekelompok muslim yang memilih tak terpengaruh dan tenang di tempatnya. Mereka diwakili oleh fanatik NU dan fanatik Salafiyah-Wahhabiyah. Ironisnya, dua kelompok ini saling menyesat-nyesatkan lantaran fikih kesehariannya jauh berbeda.
Tapi, kembali pada dua penyebab 212 menjadi gerakan besar: baik golongan pertama, yaitu mereka yang mendakwahkan pentingnya agama dalam politik, maupun golongan kedua, yang bersikap tenang dan diam, maupun yang ketiga: yang memilih mendukung rezim dan memperbaiki apa adanya (insyaa Allah menjadi Rajul Mukmin dalam surat Ghafir), ketiganya punya beberapa kesamaan.
Pertama, di tengah-tengah mereka, ada pengikut-pengikut yang mulai sadar dan mencari jalan tengah. Mereka tidak lagi fanatik bendera dan organisasi, akan tetapi berpikir bijak, dengan pertanyaan kunci: apa yang menyebabkan saya bisa mendapatkan jawaban dari organisasi ini?
Akumulasinya, ada di 212. Mereka yang fanatik organisasinya, mampu datang tanpa membawa simbol apapun. Sekalipun itu gerakan mahasiswa seperti HMI, KAMMI, dan Gema Pembebasan.
Di antara golongan ini, barangkali ada yang pernah menganut paham fikih praktis khas kerajaan diktator yang tidak mau diskusi: demo haram, apalagi membicarakan kebijakan penguasa. Lebih dari haram.
Begitu juga mereka yang tidak menjadi anggota organisasi manapun, bergabung dalam reuni ini. Bisa jadi di antara mereka ada yang telah berazzam untuk golput. Bisa jadi pula pemilih paslon yang dianggap anti islam dalam pilpres.
Kedua, mereka akhirnya tanpa sadar memilah sendiri dalam benak: mana yang merupakan jawaban bagi keadilan dan kedamaian di negeri saya? Perbedaan fikih? Perbedaan manhaj? Perbedaan guru dan sanad? Perbedaan zikir dan pakaian?
Apa hakikat dari haramnya demo atau halalnya menyerukan kebenaran? Apa intisari dari mengaji kitab dan menghafal qur'an?
Mereka yang ikut 212 akhirnya menyadari sesuatu. Kesadaran itu adalah: itu semua tidak menjadi jawaban. Betul, penting mencari dalil dan contoh. Tapi sebagaimana muasalnya, islam harus dikembalikan sebagai cara pandang, bukan cuma prosedur ritual.
Mereka menemukan satu persamaan dari semua ustadz, ulama, dan organisasi: sama-sama mencari cara memperoleh keadilan dan jaminan keselamatan.
Akhirnya, muncul jenis massa, definisi umat, atau sederhanakan menjadi: generasi baru muslim di Indonesia. Titik tolak baru cara pandang Islam dan negara.
Yang masa bodoh dengan di mana tempat mengaji. Masa bodoh dengan perbedaan fikih. Masa bodoh juga dengan tinggi-tinggian sanad. Yang menemukan jawaban dari ketidakadilan, penindasan, kegagalan berpikir, dan bahkan dari ketidakpantasan dan kebiadaban orang.
Mereka tetap mengaji ke ustadz atau organisasi asal dan favoritnya. Tapi, hati kecil mereka sebagai muslim tak bisa dibohongi. Apapun organisasinya, mereka merasa diwakili oleh 212 ini.
Nah, di luar itu, saya mau bicara soal, bagaimana mujaddid atau Pembaru Zaman, muncul di tengah-tengah kita. Dalam bahasa Hasan Al-Banna, adalah Fajar Kebebasan. Sang Fajar Kebebasan ini bukanlah pejabat administratif. Bukan pula syaikh besar yang agung. Bukan pula sang Revolusioner.
Dia hanya perlu menyatukan dan membuat garis tengah dari semua kelompok umat yang dibedakan oleh organisasi mereka. Hal yang bisa menyatukan itu sudah ada. Yaitu, kesadaran agama dan politik (dalam hal ini, Hasan Al-Banna menyebutnya Syumuliatul Islam), dan pengalaman yang sama terhadap kezaliman. Sederhananya, kerinduan pada keadilan, dan mereka paham agama islamlah obatnya. Ia beyond fikih. Fikih, diserahkan pada pribadi-pribadi. Tapi, soal keadilan dan tujuan besar, harus dipimpin.
Siapakah mujaddid ini? Siapakah fajar kemenangan ini? Sudah dewasakah ia? Masih mudakah ia? Bersembunyikah ia di suatu tempat? Butuh serangkaian momentum yang ekstrim lagi untuk memunculkannya.
Apakah pembaru itu kini disembunyikan dalam istana Firaun oleh Allah, sebagaimana Firman-Nya dalam surat Al-Qasas, ayat 8:
Maka dipungutlah ia oleh keluarga Fir'aun yang akibatnya dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka. Sesungguhnya Fir'aun dan Haman beserta tentaranya adalah orang-orang yang bersalah.
Atau adakah ia kini dari kejauhan, mengamati arah angin dengan luasan kulitnya, merasakan perubahan tekanan udara dengan sarafnya, dan sedang belajar memimpin umat ketika saatnya tiba?
Semua organisasi islam, semua gerakan harus bersiap. Sistem pengaderan harus diperbaiki. Sebab sang Pembaru, sang Fajar Kemenangan itu tidak datang dengan perbedaan hasil fikih atau datang dari hafalan hukum yang menumpuk di kepalanya. Ia akan datang, sebagaimana Umar bin Abdul Aziz, Imam Syafi'i, Imam Bukhari, dan seterusnya;
Dengan cara pandang baru kepada dunia, berdasarkan agama Islam.
*
Bagaimana dengan KAMMI? Apa yang bisa kita lakukan?
Jangan pernah sekadar jadi peserta aksi dan reuni. Kita harus tampil sebagai penyambut, pendamping, penyiap Mujaddid itu. Bahkan bilamana perlu, merekrut dan mendidik calon mujaddid itu untuk mempercepat datangnya.
Kini organisasi mahasiswa yang dianggap masih paling depan menyuarakan islam sebagai tawaran politik, adalah KAMMI. Begitu juga melihat kebatilan penyelenggaraan negara dari sudut pandang islam, tinggal KAMMI.
Lalu bagaimana cara KAMMI mempersiapkan mujaddid, sang Fajar Kemenangan dalam istilah Hasan Al-Banna itu?
Hasan Al-Banna menjelaskan istilah Fajar Kemenangan, atau tepatnya Fajar Pembebasan, Fajrul Hurriyat itu, saat menawarkan ulang surat Al-Qashash 1-5. Bahwa Rasulullah Musa diutus Allah sebagai jawaban atas kesewenang-wenangan dan pecah belahnya penduduk bumi.
Dauroh Marhalah 1 hingga 3 harus menjalankan tugasnya dengan baik. Komposisi materi dan cara penyampaiannya harus disusun ulang sebagai cara untuk menyadarkan orang bahwa kesewenang-wenangan dan penindasan sedang terjadi.
Begitu juga, rangkaian metode berpikir yang diberikan dalam Madrasah KAMMI. MK harus disikapi ulang sebagai alat membentuk kesamaan pola pikir kepada butuhnya orang pada islam, dan penyebab segala penindasan ini, adalah keadaan tanpa agama.
Bukan cuma kegiatan seminar dan pertemuan rutin dengan pembicara mentereng yang diikuti sambil main game online di gadget, dan pesertanya pun berduyun-duyun datang terlambat. Alih-alih mencerdaskan, MK malah membosankan dan paling banter jadi Ice Cream Party.
Bahwa Syahadatain sebagai titik tolak perubahan, kelak menuntun kader KAMMI pada suatu konsep Ummah, dan pada gilirannya, mampu membimbing umat islam ini kepada Tamkin, atau Kejayaan.
Manhaj harus didesain sebagai cara untuk membangkitkan orang paling bodoh dan tertindas sekalipun menjadi calon pembaru itu. Setidak-tidaknya, sebagian besar kita akan jadi pendukung sang Mujaddid, dan satu akan dipilih sebagai sang Mujaddid itu.
Sekarang, jangan lagi menyikapi materi dauroh sebagai alat pemuasan pemikiran para pengisi dauroh. Habis baca satu dua buku, bertemu satu dua tokoh, lalu menyampaikannya pada peserta dengan kebanggaan tiada tara.
Materi dauroh tidak boleh disampaikan sebagai hal yang membuat kita terjangkit virus pesimisme dan akhirnya turut campur dalam mafia politik dengan segala uang yang bisa didapatkan. Materi dauroh itu harus bisa memberikan gambaran tahapan kisah bangkitnya umat dalam Risalah Pegerakan Ikhwanul Muslimin:
Kelemahan umat, akan dijawab dengab datangnya seorang pemimpin, penuntun, yang digambarkan Hasan dengan "maka iapun pergi membawa diri dan kebebasannya, di mana kelak Allah menumbuhkannya sebagai pembawa Risalah-Nya, menjadikannya sebagai tumpuan harapan pembebasan bangsanya."
Lalu, terjadilah pertarungan dua gagasan itu. Yang, diperkuat dengan iman. Iman di sini barangkali adalah hasil dari pertarungan kebenaran dengan tirani dan kebatilan itu. Maka, akhirnya, akan terjadi kemenangan itu.
Materi DM 1 adalah persiapan. Materi DM 2, adalah panduan teknis, dan materi DM 3 adalah baiat untuk para calon pembaru itu. Maka bilamana ada alumni pengaderan KAMMI yang malah jadi bagian kebatilan itu, itu adalah residu yang tidak kita harapkan, tapi niscaya muncul. Abaikan saja mereka, fokuslah pada tujuan kita.
Akhirnya, tak perlu menanyakan apa peran KAMMI dalam 212. Tapi, apa yang dilakukan KAMMI setelah jelas kemana arah angin ini. Bersiap-siaplah!
Momen 212 ini menunjukkan sesuatu. Pertama, sebab awal kenapa orang berkumpul, adalah merebaknya kezaliman dan terutama dihinanya simbol yang bagi umat muslim adalah kehidupan mereka. Bagi mereka, Qur'an, ulama, jilbab, apalagi kalimat tauhid, adalah perlambang keadilan dan keselamatan.
Islam, bagi kita, adalah keselamatan dan keadilan mutlak. Jauh dalam hati kita. Dan, sekelompok ulama, baik dari FPI, HTI, maupun PKS secara simultan berdakwah, yang, muara dakwahnya, mengingatkan bahwa pangkal segala kezaliman adalah ditinggalkannya agama dalam pemerintahan.
Lalu, dihinanya simbol keadilan dan keselamatan ini, diperbesar dengan kezaliman-kezaliman yang terjadi berturut-turut. Naiknya harga-harga. Bodohnya pejabat-pejabat. Runtuhnya keadilan hukum. Itu semua entah mengapa sangat sesuai dengan tujuan kepemimpinan, dalam An-Nisa ayat 58.
Di satu sisi, ada sekelompok muslim yang memilih tak terpengaruh dan tenang di tempatnya. Mereka diwakili oleh fanatik NU dan fanatik Salafiyah-Wahhabiyah. Ironisnya, dua kelompok ini saling menyesat-nyesatkan lantaran fikih kesehariannya jauh berbeda.
Tapi, kembali pada dua penyebab 212 menjadi gerakan besar: baik golongan pertama, yaitu mereka yang mendakwahkan pentingnya agama dalam politik, maupun golongan kedua, yang bersikap tenang dan diam, maupun yang ketiga: yang memilih mendukung rezim dan memperbaiki apa adanya (insyaa Allah menjadi Rajul Mukmin dalam surat Ghafir), ketiganya punya beberapa kesamaan.
Pertama, di tengah-tengah mereka, ada pengikut-pengikut yang mulai sadar dan mencari jalan tengah. Mereka tidak lagi fanatik bendera dan organisasi, akan tetapi berpikir bijak, dengan pertanyaan kunci: apa yang menyebabkan saya bisa mendapatkan jawaban dari organisasi ini?
Akumulasinya, ada di 212. Mereka yang fanatik organisasinya, mampu datang tanpa membawa simbol apapun. Sekalipun itu gerakan mahasiswa seperti HMI, KAMMI, dan Gema Pembebasan.
Di antara golongan ini, barangkali ada yang pernah menganut paham fikih praktis khas kerajaan diktator yang tidak mau diskusi: demo haram, apalagi membicarakan kebijakan penguasa. Lebih dari haram.
Begitu juga mereka yang tidak menjadi anggota organisasi manapun, bergabung dalam reuni ini. Bisa jadi di antara mereka ada yang telah berazzam untuk golput. Bisa jadi pula pemilih paslon yang dianggap anti islam dalam pilpres.
Kedua, mereka akhirnya tanpa sadar memilah sendiri dalam benak: mana yang merupakan jawaban bagi keadilan dan kedamaian di negeri saya? Perbedaan fikih? Perbedaan manhaj? Perbedaan guru dan sanad? Perbedaan zikir dan pakaian?
Apa hakikat dari haramnya demo atau halalnya menyerukan kebenaran? Apa intisari dari mengaji kitab dan menghafal qur'an?
Mereka yang ikut 212 akhirnya menyadari sesuatu. Kesadaran itu adalah: itu semua tidak menjadi jawaban. Betul, penting mencari dalil dan contoh. Tapi sebagaimana muasalnya, islam harus dikembalikan sebagai cara pandang, bukan cuma prosedur ritual.
Mereka menemukan satu persamaan dari semua ustadz, ulama, dan organisasi: sama-sama mencari cara memperoleh keadilan dan jaminan keselamatan.
Akhirnya, muncul jenis massa, definisi umat, atau sederhanakan menjadi: generasi baru muslim di Indonesia. Titik tolak baru cara pandang Islam dan negara.
Yang masa bodoh dengan di mana tempat mengaji. Masa bodoh dengan perbedaan fikih. Masa bodoh juga dengan tinggi-tinggian sanad. Yang menemukan jawaban dari ketidakadilan, penindasan, kegagalan berpikir, dan bahkan dari ketidakpantasan dan kebiadaban orang.
Mereka tetap mengaji ke ustadz atau organisasi asal dan favoritnya. Tapi, hati kecil mereka sebagai muslim tak bisa dibohongi. Apapun organisasinya, mereka merasa diwakili oleh 212 ini.
Nah, di luar itu, saya mau bicara soal, bagaimana mujaddid atau Pembaru Zaman, muncul di tengah-tengah kita. Dalam bahasa Hasan Al-Banna, adalah Fajar Kebebasan. Sang Fajar Kebebasan ini bukanlah pejabat administratif. Bukan pula syaikh besar yang agung. Bukan pula sang Revolusioner.
Dia hanya perlu menyatukan dan membuat garis tengah dari semua kelompok umat yang dibedakan oleh organisasi mereka. Hal yang bisa menyatukan itu sudah ada. Yaitu, kesadaran agama dan politik (dalam hal ini, Hasan Al-Banna menyebutnya Syumuliatul Islam), dan pengalaman yang sama terhadap kezaliman. Sederhananya, kerinduan pada keadilan, dan mereka paham agama islamlah obatnya. Ia beyond fikih. Fikih, diserahkan pada pribadi-pribadi. Tapi, soal keadilan dan tujuan besar, harus dipimpin.
Siapakah mujaddid ini? Siapakah fajar kemenangan ini? Sudah dewasakah ia? Masih mudakah ia? Bersembunyikah ia di suatu tempat? Butuh serangkaian momentum yang ekstrim lagi untuk memunculkannya.
Apakah pembaru itu kini disembunyikan dalam istana Firaun oleh Allah, sebagaimana Firman-Nya dalam surat Al-Qasas, ayat 8:
Maka dipungutlah ia oleh keluarga Fir'aun yang akibatnya dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka. Sesungguhnya Fir'aun dan Haman beserta tentaranya adalah orang-orang yang bersalah.
Atau adakah ia kini dari kejauhan, mengamati arah angin dengan luasan kulitnya, merasakan perubahan tekanan udara dengan sarafnya, dan sedang belajar memimpin umat ketika saatnya tiba?
Semua organisasi islam, semua gerakan harus bersiap. Sistem pengaderan harus diperbaiki. Sebab sang Pembaru, sang Fajar Kemenangan itu tidak datang dengan perbedaan hasil fikih atau datang dari hafalan hukum yang menumpuk di kepalanya. Ia akan datang, sebagaimana Umar bin Abdul Aziz, Imam Syafi'i, Imam Bukhari, dan seterusnya;
Dengan cara pandang baru kepada dunia, berdasarkan agama Islam.
*
Bagaimana dengan KAMMI? Apa yang bisa kita lakukan?
Jangan pernah sekadar jadi peserta aksi dan reuni. Kita harus tampil sebagai penyambut, pendamping, penyiap Mujaddid itu. Bahkan bilamana perlu, merekrut dan mendidik calon mujaddid itu untuk mempercepat datangnya.
Kini organisasi mahasiswa yang dianggap masih paling depan menyuarakan islam sebagai tawaran politik, adalah KAMMI. Begitu juga melihat kebatilan penyelenggaraan negara dari sudut pandang islam, tinggal KAMMI.
Lalu bagaimana cara KAMMI mempersiapkan mujaddid, sang Fajar Kemenangan dalam istilah Hasan Al-Banna itu?
Hasan Al-Banna menjelaskan istilah Fajar Kemenangan, atau tepatnya Fajar Pembebasan, Fajrul Hurriyat itu, saat menawarkan ulang surat Al-Qashash 1-5. Bahwa Rasulullah Musa diutus Allah sebagai jawaban atas kesewenang-wenangan dan pecah belahnya penduduk bumi.
Dauroh Marhalah 1 hingga 3 harus menjalankan tugasnya dengan baik. Komposisi materi dan cara penyampaiannya harus disusun ulang sebagai cara untuk menyadarkan orang bahwa kesewenang-wenangan dan penindasan sedang terjadi.
Begitu juga, rangkaian metode berpikir yang diberikan dalam Madrasah KAMMI. MK harus disikapi ulang sebagai alat membentuk kesamaan pola pikir kepada butuhnya orang pada islam, dan penyebab segala penindasan ini, adalah keadaan tanpa agama.
Bukan cuma kegiatan seminar dan pertemuan rutin dengan pembicara mentereng yang diikuti sambil main game online di gadget, dan pesertanya pun berduyun-duyun datang terlambat. Alih-alih mencerdaskan, MK malah membosankan dan paling banter jadi Ice Cream Party.
Bahwa Syahadatain sebagai titik tolak perubahan, kelak menuntun kader KAMMI pada suatu konsep Ummah, dan pada gilirannya, mampu membimbing umat islam ini kepada Tamkin, atau Kejayaan.
Manhaj harus didesain sebagai cara untuk membangkitkan orang paling bodoh dan tertindas sekalipun menjadi calon pembaru itu. Setidak-tidaknya, sebagian besar kita akan jadi pendukung sang Mujaddid, dan satu akan dipilih sebagai sang Mujaddid itu.
Sekarang, jangan lagi menyikapi materi dauroh sebagai alat pemuasan pemikiran para pengisi dauroh. Habis baca satu dua buku, bertemu satu dua tokoh, lalu menyampaikannya pada peserta dengan kebanggaan tiada tara.
Materi dauroh tidak boleh disampaikan sebagai hal yang membuat kita terjangkit virus pesimisme dan akhirnya turut campur dalam mafia politik dengan segala uang yang bisa didapatkan. Materi dauroh itu harus bisa memberikan gambaran tahapan kisah bangkitnya umat dalam Risalah Pegerakan Ikhwanul Muslimin:
Kelemahan umat, akan dijawab dengab datangnya seorang pemimpin, penuntun, yang digambarkan Hasan dengan "maka iapun pergi membawa diri dan kebebasannya, di mana kelak Allah menumbuhkannya sebagai pembawa Risalah-Nya, menjadikannya sebagai tumpuan harapan pembebasan bangsanya."
Lalu, terjadilah pertarungan dua gagasan itu. Yang, diperkuat dengan iman. Iman di sini barangkali adalah hasil dari pertarungan kebenaran dengan tirani dan kebatilan itu. Maka, akhirnya, akan terjadi kemenangan itu.
Materi DM 1 adalah persiapan. Materi DM 2, adalah panduan teknis, dan materi DM 3 adalah baiat untuk para calon pembaru itu. Maka bilamana ada alumni pengaderan KAMMI yang malah jadi bagian kebatilan itu, itu adalah residu yang tidak kita harapkan, tapi niscaya muncul. Abaikan saja mereka, fokuslah pada tujuan kita.
Akhirnya, tak perlu menanyakan apa peran KAMMI dalam 212. Tapi, apa yang dilakukan KAMMI setelah jelas kemana arah angin ini. Bersiap-siaplah!
Langganan:
Postingan (Atom)