Untuk Instruktur Kalimantan Selatan
Assalamu alaikum, instruktur. Malam ini saya akan sampaikan seputar mental set. Hal-hal yang berkaitan dengan loyalitas kita kepada gerakan ini.
Sebelum itu, mari berpikir. Apa itu dauroh? Mengapa kita harus mengajak orang berangkat dauroh? Mengapa orang tak hendak berangkat dauroh?
Mengapa di KAMMI menggunakan sistem dauroh?
Mengapa orang berbondong-bondong masuk ke dalam jamaah ini, lalu mengapa pula ada sekelompok orang keluar dari kammi?
Instruktur. Saat antum mengasesmen pada momen ekspektasi kelas; ada hal penting yang ditulis sebagai harapan semua orang, pada DM 1. Harapan itu adalah:
"Ana ingin mengenal islam, ana ingin berjuang untuk islam, ana ingin bergerak di barisan islam."
Maka, orang-orang itu dengan penuh harap, mencoba menyerap apa yang ditawarkan oleh imat pada saat dauroh. Mereka mencoba membandingkan antara gaya penyampaian, susunan acara, gerak gerik panitia. Semua akan berujung pada satu kesimpulan akhir:
Apakah saya akan bergabung ke dalam kammi?
*
Lalu, ada sebagian dari mereka, jawabannya adalah Ya. Mereka menganggap, kammi menjawab kebutuhan mereka tentang islam.
Mereka percaya bahwa kammi mampu menjaga amalan ibadah mereka. Mereka percaya bahwa kammi mampu menjaga salat mereka. Puasa mereka. Bacaan Al-Qur'an mereka. Dan lain sebagainya.
Lantas; dauroh demi dauroh diadakan, dan merekapun lebih intens lagi berinteraksi dengan instruktur sebagai sumber ilmu primer dalam dauroh.
Mereka, memahami kammi dari dauroh. Di antara mereka, ada yang memandang dauroh sebagai masjid. Satu-satunya tempat mereka salat berjamaah tanpa terlambat.
Ada di antara mereka yang memandang dauroh sebagai tempat mabit: tempat mereka salat qiyamul lail sambil meneteskan air mata.
Instruktur sekalian. Demi menjawab kebutuhan orang atas dauroh semacam itu; dibuatlah Manhaj Pengaderan. Dibuatlah serangkaian Indeks Jatidiri Kader (IJDK). Dibuatlah berbagai macam standar dauroh:
Bahwa dauroh adalah soal hijab yang dijaga. Bahwa dauroh adalah soal hapalan wajib yang mesti disetor. Bahwa seakan-akan engkau memasuki tempat dauroh sebagaimana memasuki masjid. Kau buka alas kakimu. Kau buka jaketmu yang terlalu mencolok.
Kau tahan tertawamu yang tak perlu. Kau tahan urusan sindir menyindir. Kau tahan dendammu kepada para pengurus lain. Sebab engkau sedang memasuki sebuah tempat ibadah. Ya, sebuah tempat ibadah, bernama dauroh!
Demi memastikan dauroh sebagai tempat datangnya ampunan Allah dan berkah itulah; korps ini dibuat. Demi menjaga agar nama Allahlah yang disebut dalam dauroh, maka dibuat khusus sebuah dauroh mencetak instruktur. TFI namanya.
Itu sebabnya, untuk datang TFI, haruslah seorang itu AB 2. Bukan, bukan masalah pencapaian bacaan yang setinggi langit; pergerakan yang progresif, atau soal buku-buku tebal yang mampu ia habiskan dalam sepekan.
Tapi soal kualitas akidah dan keimanan yang memang, dibatasi oleh standar AB 2. Bahwa dia harus punya hapalan sekian. Bahwa dia harus paham fikih salat. Bahwa dia harus paham fikih muamalah sehari-hari.
Bahwa dia harus paham fikih prioritas. Dia harus hafal dua juz Al-Qur'an. Dia harus pula punya kebiasaan qiyamul-lail.
Bila tidak; bila IJDK instruktur saja tak terkontrol, maka jangan harap di dalam dauroh ampunan akan turun dan berkah akan datang.
*
Akhi, ukhti sekalian instruktur Kalimantan Selatan.
Ana pernah datang ke sebuah dauroh. Jauh di pelosok kota. Dua hari perjalanan dari Jakarta. Sesampainya di sana, ternyata para pemateri akhirnya membatalkan kedatangan. Walhasil, saya mengisi sebagian besar materi selama empat hari.
Di sana; termasuk ketua KAMMDA, pengurus daerah hanya empat orang dan semuanya akhwat. Kuat. Hebat.
Mereka menyelenggarakan semuanya: cari penginapan, cari pemateri, hingga merangkap semua perangkat. Tak ada satupun keluhan di sana. Tak ada sedikitpun kejengahan kepada mereka yang tak hadir.
Tapi bukan itu yang mau saya ceritakan. Di hari kedua dauroh, sekretariat yang mereka pinjam dari seorang ustadz, ternyata terjual. Sang Ustadz memang menjualnya. Akan tetapi, pembelinya memaksa untuk mengisi rumah di malam itu.
Apa yang terjadi? Mereka berempat mengosongkan sekretariat. Tanpa mengeluh. Mereka meninggalkan lokasi dauroh; dan "mengungsikan" barang-barang kammda ke rumah kos mereka masing-masing.
Saya akhirnya menghandle hari kedua hingga usai dauroh. Tapi saya bahagia. Mereka tak sama sekali mengeluh tentang kejadian itu.
*
Akhi, ukhti, instruktur sekalian. Ini semua soal bagaimana kita mendengar panggilan dakwah itu.
Saat semua orang memilih pergi, ternyata antum dipilih oleh Allah untuk beringan kaki dan datang ke dauroh.
Saat semua orang ditahan Allah bahkan untuk menjawab panggilan dauroh; antum dipilih oleh Allah untuk menjadi instruktur.
Berbahagialah. Dan syukuri saja, dengan memastikan bahwa di dalam daurih:
Ibadah masih terjaga. Nama Allah masih disebut, dan ukhuwwah masihlah utuh.
Tak perlu menyindir mereka yang tak menjawab. Tak perlu membatin mereka yang tak datang.
sebab, pahala dauroh ini memang hadiah khusus untuk mereka yang datang.
Rabu, 15 April 2020
Mental Set Seorang Instruktur
Kesepian; adalah konsekuensi logis atas segala pernyataan sikap dan pilihan jalan ini.
Saat semua orang meragukan islam dan Allah, kita terus menyerukan tauhid itu. Saat semua orang menahan kita, kita memutuskan untuk tetap bergerak.
Kita tak pernah diperintahkan untuk menang. Kita cuma diminta tetap bertahan, dan menunggu pertolongan Allah, berupa masuknya hidayah dalam hati mereka, atau hancurnya kesombongan itu bersama kematian.
*
Instruktur. Suatu hari, kalau kita membayangkan, berapa lama kita harus bertahan di jalan ini?
Suatu hari, seorang Nabi, diutus pada sebuah kota. Ia tak akan menyangka akan berapa lamakah dakwah ini bergulir dengan bertopang di punggungnya.
Dengan diskusi, ia gagal yakinkan orang. Dengan debat, ia malah mendapat pengusiran.
Forum siang ia adakan. Pertemuan malam tak kurang dia layani. Tetapi, bila kita menghitung, adakah setahun, dua tahun, atau tiga tahun sang Nabi bertahan?
Pengaderan sangat sulit. Penduduk kota itu menahan anak-anaknya agar tak mendekat kepada sang Nabi. Hanya satu orang setiap sepuluh tahun, yang dapat ia tarik menjadi kader.
Dan instruktur, tahukah kita, berapa lama sang Nabi bertahan?
850 tahun. Ya. Ia berdakwah tanpa catatan megah tentang mukjizat apa yang dijatuhkan Allah lewat tangannya.
Ia tak mempertontonkan laut dan bulan yang terbelah. Ia tak punya tongkat yang menjelma ular. Ia juga tak dapat mengubah patung menjadi merpati. Atas izin Allah.
Ia hanya punya akal dan lisannya. Ia hanya punya kesabaran dan kesungguhan. Dan mari saksikan, nabi ini, Nuh 'Alaihissalam, selama 850 tahun hanya mampu mengader 85 orang saja.
*
Instruktur. Kadang-kadang, kita menjadi orang yang tidak sabar. Kita lebih senang dengan kerja-kerja administrasi yang pura-pura terukur, tapi mengabaikan tahapan-tahapan dakwah.
Kita lebih senang menyebar poster lewat media sosial daripada mengajak orang bicara tentang gerakan ini, walau sebentar saja.
Kita, sebagai instruktur, merasa telah berdakwah karena menyebar broadcast yang sama sekali tidak informatif. Kita merasa telah berdakwah tanpa sedikitpun pernah mengajak orang secara langsung ikut dalam barisan ini.
Kita merasa telah sangat sabar hanya karena dalam sebuah musim dauroh kita telah memaafkan orang, lalu menolak terlibat lagi di dauroh selanjutnya.
Kita lebih senang menulis self reminder sebagai sindiran, dan self talk untuk memaki-maki orang lain.
Lalu dengan bangganya, itu semua kita sebut dakwah.
*
Segala hal tentang dakwah, tentang berinstruktur selalu bermula pada satu hal. Kesabaran; untuk tidak mengutamakan data kegagalan daripada data keberhasilan.
Kesabaran, untuk tetap berdakwah meskipun teman berubah jadi musuh, dan lebih banyak tumit yang berbalik daripada tumit yang bertahan.
Instruktur sekalian, Korps Instruktur diciptakan untuk menjaga poros itu. Saat elemen-elemen lain di gerakan ini tercemari interaksinya sendiri dengan politik, dengan uang, atau dengan ideologi gerakan lain yang merongrong:
Instruktur hadir untuk menjaga itu semua. Ia adalah tulang yang menjaga tubuh tetap pada tempatnya. Ia adalah sungai yang menjaga hutan tetap pada hijaunya.
Ia harus lebih kuat dariapada kader lain dalam barisan ini: saat kader lain menjadi peserta, ia ada di tempat pembicara. Saat kader lain ada di tempat pembicara, ia ada di tempat perancang acara.
*
Lalu kenapa kualitas instruktur seakan-akan hilang? Tak lain karena ulah kita sendiri.
Kita tak tahu untuk apa materi syahadatain sebagai titik tolak perubahan diajarkan. Kita hanya tahu bahwa materi ini tentang makna syahadatain.
Kita menolak membaca buku. Kita mencukupkan diri pada ceramah-ceramah orang yang entah memahami KAMMI atau tidak.
Kita menolak membaca buku-buku yang jadi inti cara pandang KAMMI; dan mencukupkan diri pada tulisan-tulisan entah siapa di media sosial.
Kita lebih suka berdebat. Alih-alih umat Nabi Muhammad, kita tampak seperti Bani Israil yang membuat Nabinya mengatakan:
"aku berlindung dari orang-orang bodoh."
*
Instruktur sekalian. Dauroh adalah gerbang. Kader akan memahami KAMMI dalam bertahun-tahun kedepan berdasarkan memorinya selama dauroh berlangsung.
Jadilah instruktur yang memenuhi semua IJDK AB 2. Dalam perkara Aqidah:
Instruktur harus paham konsekuensi aqidah. Dia harus berlepas diri dari musuh-musuh islam. Dia tak lagi menjadi seorang yang belum tuntas berpikir lalu menyajikan kebelum-tuntasannya itu di hadapan dauroh dan mengemasnya atas nama "progresifitas".
Dia tak boleh pesimis bahwa islam pasti menang. Dia harus percaya dan yakin. Meskipun ia kalah, meskipun gerakan ini hancur, tapi itu tak sama dengan hancur dan kalahnya agama ini.
Di bidang fikrah dan pemikiran; dia harus tahu perbedaan antar gerakan dalam islam. Dia tak boleh menyampaikan sekadar mitos dan dongeng tentang gerakan lain.
Antum adalah instruktur. Pahami apa itu Salafiyah, apa itu Jamaah Tabligh, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Naqsyabandiyah, Nahdlatul Wathan, dan lain sebagainya.
Dia harus mengetahui sejarah, dan memahami senarai urutan pemikiran Ikhwanul Muslimin agar tak jadi orang norak yang bermasabodoh dengan fenomena gerakan; atau orang bodoh yang terpesona ulasan orang mengenai Ikhwanul Muslimin.
Dari Biografi Hasan Al-Banna, ia beranjak pada inti ajaran beliau pada bab Risalah Ta'lim: Arkanul Baiah, Ushul Isyrin, dan muwashafat.
Ia juga memahami karakter gerakan Ikhwan, bukan dari komentar orang tapi dari studi mendalam atas kitab Ma'alim fi Thariq Sayyid Quthb, Fiqh Daulah Yusuf Qardhawi, dan lain sebagainya.
Ini semua tentang proses agar keilmuan tetap terjamin. Peserta dauroh harus menjumpai instruktur daurohnya sebagai orang hebat, uswah hasanah, payung yang melindungi dari teriknya zaman.
*
Instruktur sekalian. Mental mencela, menyalahkan senior, atau mengeluhkan junior yang sedikit itu tak boleh ada lagi dalam barisan ini.
Senior biarlah berlalu. Itu urusan mereka dengan Allah. Kita diberi sepenuhnya waktu ini dan dimensi ini oleh Allah. Pikiran kita sendirilah yang membatasinya.
Syukurilah mereka yang dikirim oleh Allah untuk bergabung kepada dauroh kita, meskipun satu orangpun. Barangkali di atas sana, Allah menilai kita memang hanya mampu mengader satu orang itu.
Barangkali Allah memang meminta kita selesaikan dulu kemarahan-kemarahan internal dan keluhan-keluhan kita pada rekan kita sendiri sebelum mengajak orang bergabung.
Syukurilah bila kader yang dikirim Allah saat dauroh adalah mereka yang kosong, siap diisi apapun yang kita berikan. Syukurilah bahwa mereka hijrah karena gerakan ini; menggunakan jilbab karena gerakan ini, atau memutuskan pacar mereka karena gerakan ini.
Mohonkan ampunan bagi instruktur yang justru karena aktivitas mereka di barisan ini malah terjebak pada pintu-pintu zina; atau tenggelam pada asap rokok dan pikiran jahat ideologi selain islam.
Allah mungkin menahan orang berangkat dauroh dan bertemu dengan kita karena perkara hal-hal haram yang justru dilakukan oleh kita, si instruktur itu sendiri.
Saat semua orang meragukan islam dan Allah, kita terus menyerukan tauhid itu. Saat semua orang menahan kita, kita memutuskan untuk tetap bergerak.
Kita tak pernah diperintahkan untuk menang. Kita cuma diminta tetap bertahan, dan menunggu pertolongan Allah, berupa masuknya hidayah dalam hati mereka, atau hancurnya kesombongan itu bersama kematian.
*
Instruktur. Suatu hari, kalau kita membayangkan, berapa lama kita harus bertahan di jalan ini?
Suatu hari, seorang Nabi, diutus pada sebuah kota. Ia tak akan menyangka akan berapa lamakah dakwah ini bergulir dengan bertopang di punggungnya.
Dengan diskusi, ia gagal yakinkan orang. Dengan debat, ia malah mendapat pengusiran.
Forum siang ia adakan. Pertemuan malam tak kurang dia layani. Tetapi, bila kita menghitung, adakah setahun, dua tahun, atau tiga tahun sang Nabi bertahan?
Pengaderan sangat sulit. Penduduk kota itu menahan anak-anaknya agar tak mendekat kepada sang Nabi. Hanya satu orang setiap sepuluh tahun, yang dapat ia tarik menjadi kader.
Dan instruktur, tahukah kita, berapa lama sang Nabi bertahan?
850 tahun. Ya. Ia berdakwah tanpa catatan megah tentang mukjizat apa yang dijatuhkan Allah lewat tangannya.
Ia tak mempertontonkan laut dan bulan yang terbelah. Ia tak punya tongkat yang menjelma ular. Ia juga tak dapat mengubah patung menjadi merpati. Atas izin Allah.
Ia hanya punya akal dan lisannya. Ia hanya punya kesabaran dan kesungguhan. Dan mari saksikan, nabi ini, Nuh 'Alaihissalam, selama 850 tahun hanya mampu mengader 85 orang saja.
*
Instruktur. Kadang-kadang, kita menjadi orang yang tidak sabar. Kita lebih senang dengan kerja-kerja administrasi yang pura-pura terukur, tapi mengabaikan tahapan-tahapan dakwah.
Kita lebih senang menyebar poster lewat media sosial daripada mengajak orang bicara tentang gerakan ini, walau sebentar saja.
Kita, sebagai instruktur, merasa telah berdakwah karena menyebar broadcast yang sama sekali tidak informatif. Kita merasa telah berdakwah tanpa sedikitpun pernah mengajak orang secara langsung ikut dalam barisan ini.
Kita merasa telah sangat sabar hanya karena dalam sebuah musim dauroh kita telah memaafkan orang, lalu menolak terlibat lagi di dauroh selanjutnya.
Kita lebih senang menulis self reminder sebagai sindiran, dan self talk untuk memaki-maki orang lain.
Lalu dengan bangganya, itu semua kita sebut dakwah.
*
Segala hal tentang dakwah, tentang berinstruktur selalu bermula pada satu hal. Kesabaran; untuk tidak mengutamakan data kegagalan daripada data keberhasilan.
Kesabaran, untuk tetap berdakwah meskipun teman berubah jadi musuh, dan lebih banyak tumit yang berbalik daripada tumit yang bertahan.
Instruktur sekalian, Korps Instruktur diciptakan untuk menjaga poros itu. Saat elemen-elemen lain di gerakan ini tercemari interaksinya sendiri dengan politik, dengan uang, atau dengan ideologi gerakan lain yang merongrong:
Instruktur hadir untuk menjaga itu semua. Ia adalah tulang yang menjaga tubuh tetap pada tempatnya. Ia adalah sungai yang menjaga hutan tetap pada hijaunya.
Ia harus lebih kuat dariapada kader lain dalam barisan ini: saat kader lain menjadi peserta, ia ada di tempat pembicara. Saat kader lain ada di tempat pembicara, ia ada di tempat perancang acara.
*
Lalu kenapa kualitas instruktur seakan-akan hilang? Tak lain karena ulah kita sendiri.
Kita tak tahu untuk apa materi syahadatain sebagai titik tolak perubahan diajarkan. Kita hanya tahu bahwa materi ini tentang makna syahadatain.
Kita menolak membaca buku. Kita mencukupkan diri pada ceramah-ceramah orang yang entah memahami KAMMI atau tidak.
Kita menolak membaca buku-buku yang jadi inti cara pandang KAMMI; dan mencukupkan diri pada tulisan-tulisan entah siapa di media sosial.
Kita lebih suka berdebat. Alih-alih umat Nabi Muhammad, kita tampak seperti Bani Israil yang membuat Nabinya mengatakan:
"aku berlindung dari orang-orang bodoh."
*
Instruktur sekalian. Dauroh adalah gerbang. Kader akan memahami KAMMI dalam bertahun-tahun kedepan berdasarkan memorinya selama dauroh berlangsung.
Jadilah instruktur yang memenuhi semua IJDK AB 2. Dalam perkara Aqidah:
Instruktur harus paham konsekuensi aqidah. Dia harus berlepas diri dari musuh-musuh islam. Dia tak lagi menjadi seorang yang belum tuntas berpikir lalu menyajikan kebelum-tuntasannya itu di hadapan dauroh dan mengemasnya atas nama "progresifitas".
Dia tak boleh pesimis bahwa islam pasti menang. Dia harus percaya dan yakin. Meskipun ia kalah, meskipun gerakan ini hancur, tapi itu tak sama dengan hancur dan kalahnya agama ini.
Di bidang fikrah dan pemikiran; dia harus tahu perbedaan antar gerakan dalam islam. Dia tak boleh menyampaikan sekadar mitos dan dongeng tentang gerakan lain.
Antum adalah instruktur. Pahami apa itu Salafiyah, apa itu Jamaah Tabligh, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Naqsyabandiyah, Nahdlatul Wathan, dan lain sebagainya.
Dia harus mengetahui sejarah, dan memahami senarai urutan pemikiran Ikhwanul Muslimin agar tak jadi orang norak yang bermasabodoh dengan fenomena gerakan; atau orang bodoh yang terpesona ulasan orang mengenai Ikhwanul Muslimin.
Dari Biografi Hasan Al-Banna, ia beranjak pada inti ajaran beliau pada bab Risalah Ta'lim: Arkanul Baiah, Ushul Isyrin, dan muwashafat.
Ia juga memahami karakter gerakan Ikhwan, bukan dari komentar orang tapi dari studi mendalam atas kitab Ma'alim fi Thariq Sayyid Quthb, Fiqh Daulah Yusuf Qardhawi, dan lain sebagainya.
Ini semua tentang proses agar keilmuan tetap terjamin. Peserta dauroh harus menjumpai instruktur daurohnya sebagai orang hebat, uswah hasanah, payung yang melindungi dari teriknya zaman.
*
Instruktur sekalian. Mental mencela, menyalahkan senior, atau mengeluhkan junior yang sedikit itu tak boleh ada lagi dalam barisan ini.
Senior biarlah berlalu. Itu urusan mereka dengan Allah. Kita diberi sepenuhnya waktu ini dan dimensi ini oleh Allah. Pikiran kita sendirilah yang membatasinya.
Syukurilah mereka yang dikirim oleh Allah untuk bergabung kepada dauroh kita, meskipun satu orangpun. Barangkali di atas sana, Allah menilai kita memang hanya mampu mengader satu orang itu.
Barangkali Allah memang meminta kita selesaikan dulu kemarahan-kemarahan internal dan keluhan-keluhan kita pada rekan kita sendiri sebelum mengajak orang bergabung.
Syukurilah bila kader yang dikirim Allah saat dauroh adalah mereka yang kosong, siap diisi apapun yang kita berikan. Syukurilah bahwa mereka hijrah karena gerakan ini; menggunakan jilbab karena gerakan ini, atau memutuskan pacar mereka karena gerakan ini.
Mohonkan ampunan bagi instruktur yang justru karena aktivitas mereka di barisan ini malah terjebak pada pintu-pintu zina; atau tenggelam pada asap rokok dan pikiran jahat ideologi selain islam.
Allah mungkin menahan orang berangkat dauroh dan bertemu dengan kita karena perkara hal-hal haram yang justru dilakukan oleh kita, si instruktur itu sendiri.
Selasa, 19 November 2019
Cara Baru Memandang KAMMI
Kenapa KAMMI lahir?
Kenapa KAMMI segera hadir di puluhan kampus dan segera menjadi penguasa?
Kenapa KAMMI bertahan lama sekali, hingga 21 tahun lamanya?
Dua puluh satu tahun yang lalu, di negeri kita, penindasan dan ketidakadilan itu nyata sekali. Ia mewujudkan diri menjadi sosok: Soeharto namanya.
Ketidakadilan itu juga melembaga: Orde Baru namanya.
Saat itu orang gandrung mengaji. Orang senang dengan jilbab lebar, orang senang dengan wacana-wacana takbir jalanan.
Dan saat itu sebagai perias perjuangan, muncul satu genre musik legendaris. Nasyid namanya. Nasyid-nasyid itu mampu menengahi segala perdebatan haramnya musik, karena nyaris tanpa instrument apapun.
Nadanya menghentak. Keras. Menggetarkan jalanan. Mengguncang panggung-panggung politik dan memberikan semangat.
Puisi “Lautan Jilbab”Emha Ainun Nadjib menggambarkan kondisi saat itu. Orang-orang saling berjuang membebaskan diri dari belenggu larangan jilbab di seluruh negara. Aurat, adalah seruan utama di berbagai lembaga.
Sementara itu, di ranah politik, puluhan partai islam muncul: dari yang menang besar semacam PAN dan PKB maupun yang kalah telak semacam PK.
Sementara itu secara ekonomi, orang sadar bahaya modal asing yang masuk melalui IMF atau lembaga lain atas nama investasi. Soeharto hancur karena itu.
Semuanya berlomba tampil di garis depan perjuangan. Semuanya berlomba mengalahkan kebatilan dengan caranya sendiri. Mereka yang pragmatis, berakhir dengan lemparan celana dalam, atau dipukuli di sudut jalan.
Lalu di masa-masa itu, tampilah sekelompok orang. Cita-citanya jauh kedepan. Pandangannya tunduk, tapi mengerikan saat bertakbir. Mereka berjilbab lebar; atau berdahi hitam.
Dan di ikat kepala putih mereka, kadang darah mengalir memerahkannya. Di ikat kepala itu ada tulisan yang tegas berbunyi: “KAMMI”
Di bendera mereka yang juga dibasahi darah, bertuliskan kalimat besar: Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia.
Mereka keras menentang kebatilan di siang hari. Tapi di malam hari, mereka akan dengan teguh hati melingkar di sudut paling sepi di setiap kota, menghapal hadis, membaca Al-Quran dan saling memberi nasihat.
Kalau kita perhatikan filosofi gerakan KAMMI, kita akan dapati kalimat bernas yang akan membawa kita pada satu kenyataan, bahwa gerakan ini bukan gerakan cari panggung, atau gerakan kecil yang pura-pura besar.
Gerakan ini besar karena cita-citanya. Rekan-rekanku sekalian yang lupa kenapa kita berbaris bersama, kuundang kalian membaca kembali kredo gerakan kita.
Kepada orang-orang yang sekarang pragmatis, malu-malu, bergelimang jabatan dan mabuk pujian, kuundang kalian membaca kembali prinsip gerakan kita.
Itulah hari-hari awal gerakan kita!
*
Dua puluh satu tahun berlalu sejak kejadian itu. Orang mulai ramai membicarakan perubahan arah gerakan. Demonstrasi tak lagi jadi alat utama. Media social sangat mencolok membawa harapan baru.
Kader KAMMI, masih sama banyaknya dengan dahulu kala. Tapi, secara structural, jumlah pengurusnya sedikit. Kalau dulu belum ada manhaj, sekarang manhaj dan alur pengaderan akan memandu kita sampai tamat urusan dauroh.
Hari ini, kebatilan yang dihadapi masih sama. Penindasan. Ketidakadilan. Korupsi, masih menjadi musuh utama. Hadirnya Komisi Pemberantasan Korupsi malah menjadi korupsi yang baru.
APBN semakin besar. Rakyat yang ditanggung semakin banyak. Kinipun makin banyak pula menteri yang bergelar professor dan Ph. D. tetapi, kemiskinan, tidak disikapi sebagai sejumlah nyawa yang lapar atau sejumlah mata yang pedih.
Korporasi, masih mengangkangi berbagai kebijakan. Kalau di jaman Soeharto perusahaan milik Soekanto Tanoto menggilas hutan, maka pemain di jaman ini makin banyak. Bahkan semakin berani membakar hutan.
Partai politik, sebagaimana prediksi Al-Imam Hasan Al-Banna, menjadi sumber kebatilan tersendiri mana kala persekutuan mereka di parlemen malah menjerumuskan rakyat lebih jauh dalam kondisi amoral melalui RUU P-KS dan lain sebagainya.
Kalau dulu melalui perbankan masuk modal asing yang menjerat, sekarang masuk pula modal asing itu lewat startup yang digadang-gadang sebagai pilar ekonomi kita. Presiden malah menyatakan kekalahan negara pada korporasi dengan focus pada manufaktur, bukan pembinaan Sumber Daya Alam.
Tapi di balik itu semua, ada, ada harapan besar yang dapat kita jadikan doa. Di mana-mana terjadi gelombang hijrah. Para pemuda menembus kebekuan gerakan itu dengan mendirikan komunitas hijrah. Kalau dulu jilbab, sekarang cadar. Kalau dulu baca qurán, sekarang menghafal.
Bahkan sekarang orang ramai-ramai menjadi hafizh qurán dengan harapan dapat memperbaiki kondisi umat. Dan di mana-mana orang masuk KAMMI lagi, dengan tujuan ingin belajar islam dan ikut memakmurkan bumi ini.
Di mana-mana orang malu bila auratnya terbuka. Gelombang jilbab berubah menjadi airbah. Al-Qurán berubah menjadi hujan yang menyuburkan negeri ini.
Angka pemuda-pemuda yang berjilbab lebar, menolak pacaran, dan memahami betul apa yang benar dan salah menurut AL-Quran dan Ash-Sunnah bertambah banyak. Melebihi angka yang kita kira!
Lalu di masa-masa semacam ini, mulai banyak yang berkata: apalah gunanya berorganisasi islam? Apalah gunanya memadukan saf, saat saf-saf yang ada malah mudah dibeli, imamnya adalah orang fasik yang terlihat saleh, atau para muazinnya adalah orang munafik yang pandai bicara?
Fenomena zaman masih sama. Kebatilannya masih sama. Tapi orang-orangnya sudah lain. Mereka bukan orang yang bisa dikibuli dengan gemerlap pembangunan, atau indahnya angka investasi. Maka kalau kita bicara tentang inovasi ber-KAMMI, marilah kita beranjak dari sini.
*
Orang sekarang itu unik. Mereka mengaji pada kelompok yang dinyatakan salafi, tapi ikut pula amalan-amalan kelompok tradisionalis. Mereka gabung halaqah, tapi turut menyerukan khilafah. Mereka ikut kajian hijrah, dan bersama-sama menolak terorisme.
Mereka memadati mabit. Ramai-ramai menggunakan cadar, ramai-ramai menolak pacaran. Mereka ikut dan membangun startup, tapi sadar bahayanya modal asing. Mereka memenuhi kelas-kelas pemikiran islam yang diadakan oleh para cendekiawan muda muslim.
Tapi mereka punya satu persamaan. Mereka sadar bahwa Al-Qurán adalah jawaban, Al-Qurán adalah solusi. Dan hal itu dapatlah kita rumuskan dengan enam kalimat tegas yang ada dalam prinsip gerakan KAMMI.
Lalu, inovasi apa yang kita butuhkan? Kenapa di mana-mana ada suara sumbang soal matinya gerakan, pudarnya semangat pengaderan, atau tumpulnya gagasan?
Karena sekarang memang kita hanya butuh kembali menyatakan dengan tegas, siapa kita. Di pihak manakah kita. Ketegasan terhadap kebatilan itulah yang dulu dirindukan orang pada masa reformasi, dan kini dirindukan lagi sebagai jawaban.
Kita mau mengubah apapun, akan percuma bila ketegasan itu hilang. Kita adalah orang-orangan plastic yang gampang letoi kena panas sedikit. Kita adalah manusia selebgram yang gampang sakit hati karena tidak disukai publik. Apakah kita mau begitu?
Kalau ada inovasi yang kita butuhkan, sekarang saya akan tegas berkata: kitalah barisan yang akan membongkar kebatilan sampai ke akar-akarnya. Kajian kita, hari-hari kedepan, akan berlangsung untuk melacak sejauh mana kebatilan bekerja.
Rakyat sudah merasakan, tapi belum mengerti kebatilan apa yang membelit mereka. Rakyat menangis, tapi belum paham kenapa mereka menangis. Kita hadir di sana. Kita hadir dengan jelas untuk menjawab airmata rakyat itu.
*
Madrasah KAMMI adalah kelas-kelas yang memberikan jawaban itu. Kalau di satu komisariat atau KAMMDA mengalami kematian gagasan, maka ada masalah pada kualitas Madrasah mereka.
Urutan-urutan materi yang ada dalam dauroh pertama maupun kedua, sudah sangat rapi membawa pola pikir kita pada jawaban apa yang pantas kita berikan bagi umat ini. Akan tetapi, di mana-mana instruktur tidak memahami apa yang hendak mereka sampaikan pada dauroh itu.
Kelas-kelas pemikiran itu akan kita buka. Di suatu pekan kita akan membahas macam aliran politik di dunia ini. Di pekan yang lain, kita akan bedah apa saja aliran ekonomi di dunia ini.
Di pekan yang lain, kita buka kelas siroh dan kelas sejarah, dari Nabi Muhammad hingga Sultan Abdul Hamid II di Turki. Dari Purnawarman di Tarumanegara hingga Joko Widodo.
Kelas-kelas lain akan kita masukkan dalam lokus yang jelas: bisnis, sastra, guru , buruh, digital, dan lain sebagainya. Tapi tak perlu KAMMI berubah menjadi komunitas. Ia hanya cukup menaungi itu. Akan lahir ribuan komunitas yang didirikan kader KAMMI dengan semangat zaman yang tak lekang itu!
Barangkali, inovasi ini harus dipuncaki dengan itikad baik para pengurus: jangan biasakan bicara sebagai banci. Yang bersayap, yang pragmatis, yang menunggu dibayar oleh pelanggan lalu pergi. Atau kalau tidak dibayar, maka si banci akan keras sekali tinjunya!
Jangan takut kehilangan kader. Kader pergi dari gerakan ini karena alamat perjuangan kita yang mulai tak jelas. Karena kita tak lagi memperjuangkan syumuliatul islam, tapi ambisi para pengurusnya semata.
Terakhir, marilah berbaris kembali. Kita penuhi hak dan kewajiban kita sebagai mahasiswa muslim Indonesia dan berbarislah dalam kesatuan aksi!
Kenapa KAMMI segera hadir di puluhan kampus dan segera menjadi penguasa?
Kenapa KAMMI bertahan lama sekali, hingga 21 tahun lamanya?
Dua puluh satu tahun yang lalu, di negeri kita, penindasan dan ketidakadilan itu nyata sekali. Ia mewujudkan diri menjadi sosok: Soeharto namanya.
Ketidakadilan itu juga melembaga: Orde Baru namanya.
Saat itu orang gandrung mengaji. Orang senang dengan jilbab lebar, orang senang dengan wacana-wacana takbir jalanan.
Dan saat itu sebagai perias perjuangan, muncul satu genre musik legendaris. Nasyid namanya. Nasyid-nasyid itu mampu menengahi segala perdebatan haramnya musik, karena nyaris tanpa instrument apapun.
Nadanya menghentak. Keras. Menggetarkan jalanan. Mengguncang panggung-panggung politik dan memberikan semangat.
Puisi “Lautan Jilbab”Emha Ainun Nadjib menggambarkan kondisi saat itu. Orang-orang saling berjuang membebaskan diri dari belenggu larangan jilbab di seluruh negara. Aurat, adalah seruan utama di berbagai lembaga.
Sementara itu, di ranah politik, puluhan partai islam muncul: dari yang menang besar semacam PAN dan PKB maupun yang kalah telak semacam PK.
Sementara itu secara ekonomi, orang sadar bahaya modal asing yang masuk melalui IMF atau lembaga lain atas nama investasi. Soeharto hancur karena itu.
Semuanya berlomba tampil di garis depan perjuangan. Semuanya berlomba mengalahkan kebatilan dengan caranya sendiri. Mereka yang pragmatis, berakhir dengan lemparan celana dalam, atau dipukuli di sudut jalan.
Lalu di masa-masa itu, tampilah sekelompok orang. Cita-citanya jauh kedepan. Pandangannya tunduk, tapi mengerikan saat bertakbir. Mereka berjilbab lebar; atau berdahi hitam.
Dan di ikat kepala putih mereka, kadang darah mengalir memerahkannya. Di ikat kepala itu ada tulisan yang tegas berbunyi: “KAMMI”
Di bendera mereka yang juga dibasahi darah, bertuliskan kalimat besar: Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia.
Mereka keras menentang kebatilan di siang hari. Tapi di malam hari, mereka akan dengan teguh hati melingkar di sudut paling sepi di setiap kota, menghapal hadis, membaca Al-Quran dan saling memberi nasihat.
Kalau kita perhatikan filosofi gerakan KAMMI, kita akan dapati kalimat bernas yang akan membawa kita pada satu kenyataan, bahwa gerakan ini bukan gerakan cari panggung, atau gerakan kecil yang pura-pura besar.
Gerakan ini besar karena cita-citanya. Rekan-rekanku sekalian yang lupa kenapa kita berbaris bersama, kuundang kalian membaca kembali kredo gerakan kita.
Kepada orang-orang yang sekarang pragmatis, malu-malu, bergelimang jabatan dan mabuk pujian, kuundang kalian membaca kembali prinsip gerakan kita.
Itulah hari-hari awal gerakan kita!
*
Dua puluh satu tahun berlalu sejak kejadian itu. Orang mulai ramai membicarakan perubahan arah gerakan. Demonstrasi tak lagi jadi alat utama. Media social sangat mencolok membawa harapan baru.
Kader KAMMI, masih sama banyaknya dengan dahulu kala. Tapi, secara structural, jumlah pengurusnya sedikit. Kalau dulu belum ada manhaj, sekarang manhaj dan alur pengaderan akan memandu kita sampai tamat urusan dauroh.
Hari ini, kebatilan yang dihadapi masih sama. Penindasan. Ketidakadilan. Korupsi, masih menjadi musuh utama. Hadirnya Komisi Pemberantasan Korupsi malah menjadi korupsi yang baru.
APBN semakin besar. Rakyat yang ditanggung semakin banyak. Kinipun makin banyak pula menteri yang bergelar professor dan Ph. D. tetapi, kemiskinan, tidak disikapi sebagai sejumlah nyawa yang lapar atau sejumlah mata yang pedih.
Korporasi, masih mengangkangi berbagai kebijakan. Kalau di jaman Soeharto perusahaan milik Soekanto Tanoto menggilas hutan, maka pemain di jaman ini makin banyak. Bahkan semakin berani membakar hutan.
Partai politik, sebagaimana prediksi Al-Imam Hasan Al-Banna, menjadi sumber kebatilan tersendiri mana kala persekutuan mereka di parlemen malah menjerumuskan rakyat lebih jauh dalam kondisi amoral melalui RUU P-KS dan lain sebagainya.
Kalau dulu melalui perbankan masuk modal asing yang menjerat, sekarang masuk pula modal asing itu lewat startup yang digadang-gadang sebagai pilar ekonomi kita. Presiden malah menyatakan kekalahan negara pada korporasi dengan focus pada manufaktur, bukan pembinaan Sumber Daya Alam.
Tapi di balik itu semua, ada, ada harapan besar yang dapat kita jadikan doa. Di mana-mana terjadi gelombang hijrah. Para pemuda menembus kebekuan gerakan itu dengan mendirikan komunitas hijrah. Kalau dulu jilbab, sekarang cadar. Kalau dulu baca qurán, sekarang menghafal.
Bahkan sekarang orang ramai-ramai menjadi hafizh qurán dengan harapan dapat memperbaiki kondisi umat. Dan di mana-mana orang masuk KAMMI lagi, dengan tujuan ingin belajar islam dan ikut memakmurkan bumi ini.
Di mana-mana orang malu bila auratnya terbuka. Gelombang jilbab berubah menjadi airbah. Al-Qurán berubah menjadi hujan yang menyuburkan negeri ini.
Angka pemuda-pemuda yang berjilbab lebar, menolak pacaran, dan memahami betul apa yang benar dan salah menurut AL-Quran dan Ash-Sunnah bertambah banyak. Melebihi angka yang kita kira!
Lalu di masa-masa semacam ini, mulai banyak yang berkata: apalah gunanya berorganisasi islam? Apalah gunanya memadukan saf, saat saf-saf yang ada malah mudah dibeli, imamnya adalah orang fasik yang terlihat saleh, atau para muazinnya adalah orang munafik yang pandai bicara?
Fenomena zaman masih sama. Kebatilannya masih sama. Tapi orang-orangnya sudah lain. Mereka bukan orang yang bisa dikibuli dengan gemerlap pembangunan, atau indahnya angka investasi. Maka kalau kita bicara tentang inovasi ber-KAMMI, marilah kita beranjak dari sini.
*
Orang sekarang itu unik. Mereka mengaji pada kelompok yang dinyatakan salafi, tapi ikut pula amalan-amalan kelompok tradisionalis. Mereka gabung halaqah, tapi turut menyerukan khilafah. Mereka ikut kajian hijrah, dan bersama-sama menolak terorisme.
Mereka memadati mabit. Ramai-ramai menggunakan cadar, ramai-ramai menolak pacaran. Mereka ikut dan membangun startup, tapi sadar bahayanya modal asing. Mereka memenuhi kelas-kelas pemikiran islam yang diadakan oleh para cendekiawan muda muslim.
Tapi mereka punya satu persamaan. Mereka sadar bahwa Al-Qurán adalah jawaban, Al-Qurán adalah solusi. Dan hal itu dapatlah kita rumuskan dengan enam kalimat tegas yang ada dalam prinsip gerakan KAMMI.
Lalu, inovasi apa yang kita butuhkan? Kenapa di mana-mana ada suara sumbang soal matinya gerakan, pudarnya semangat pengaderan, atau tumpulnya gagasan?
Karena sekarang memang kita hanya butuh kembali menyatakan dengan tegas, siapa kita. Di pihak manakah kita. Ketegasan terhadap kebatilan itulah yang dulu dirindukan orang pada masa reformasi, dan kini dirindukan lagi sebagai jawaban.
Kita mau mengubah apapun, akan percuma bila ketegasan itu hilang. Kita adalah orang-orangan plastic yang gampang letoi kena panas sedikit. Kita adalah manusia selebgram yang gampang sakit hati karena tidak disukai publik. Apakah kita mau begitu?
Kalau ada inovasi yang kita butuhkan, sekarang saya akan tegas berkata: kitalah barisan yang akan membongkar kebatilan sampai ke akar-akarnya. Kajian kita, hari-hari kedepan, akan berlangsung untuk melacak sejauh mana kebatilan bekerja.
Rakyat sudah merasakan, tapi belum mengerti kebatilan apa yang membelit mereka. Rakyat menangis, tapi belum paham kenapa mereka menangis. Kita hadir di sana. Kita hadir dengan jelas untuk menjawab airmata rakyat itu.
*
Madrasah KAMMI adalah kelas-kelas yang memberikan jawaban itu. Kalau di satu komisariat atau KAMMDA mengalami kematian gagasan, maka ada masalah pada kualitas Madrasah mereka.
Urutan-urutan materi yang ada dalam dauroh pertama maupun kedua, sudah sangat rapi membawa pola pikir kita pada jawaban apa yang pantas kita berikan bagi umat ini. Akan tetapi, di mana-mana instruktur tidak memahami apa yang hendak mereka sampaikan pada dauroh itu.
Kelas-kelas pemikiran itu akan kita buka. Di suatu pekan kita akan membahas macam aliran politik di dunia ini. Di pekan yang lain, kita akan bedah apa saja aliran ekonomi di dunia ini.
Di pekan yang lain, kita buka kelas siroh dan kelas sejarah, dari Nabi Muhammad hingga Sultan Abdul Hamid II di Turki. Dari Purnawarman di Tarumanegara hingga Joko Widodo.
Kelas-kelas lain akan kita masukkan dalam lokus yang jelas: bisnis, sastra, guru , buruh, digital, dan lain sebagainya. Tapi tak perlu KAMMI berubah menjadi komunitas. Ia hanya cukup menaungi itu. Akan lahir ribuan komunitas yang didirikan kader KAMMI dengan semangat zaman yang tak lekang itu!
Barangkali, inovasi ini harus dipuncaki dengan itikad baik para pengurus: jangan biasakan bicara sebagai banci. Yang bersayap, yang pragmatis, yang menunggu dibayar oleh pelanggan lalu pergi. Atau kalau tidak dibayar, maka si banci akan keras sekali tinjunya!
Jangan takut kehilangan kader. Kader pergi dari gerakan ini karena alamat perjuangan kita yang mulai tak jelas. Karena kita tak lagi memperjuangkan syumuliatul islam, tapi ambisi para pengurusnya semata.
Terakhir, marilah berbaris kembali. Kita penuhi hak dan kewajiban kita sebagai mahasiswa muslim Indonesia dan berbarislah dalam kesatuan aksi!
Senin, 21 Oktober 2019
Mau Ke Mana Transformasi Gerakan KAMMI?
Hasil Rapimnas baru sempat saya renungkan. Di tengah kejaran analisis berbagai isu yang mesti saya renungkan, dan ingar bingar berita politik, ekonomi, sosial, budaya, dan lain sebagainya:
Ijinkan saya memberikan pandangan tentang hasil rapimnas. Pandangan ini tak mewakili posisi saya di Pusat, tetapi bentuk adu gagasan semata.
Mari dengan tegas katakan: bentuk transformasi gerakan yang ditawarkan Rapimnas, adalah transformasi yang gagal paham pada kondisi lapangan, cacat sejarah, dan tak berdasar analisis yang cermat pada kondisi KAMMI di lapangan.
Transformasi ini mengajak kita menjadi gerakan pengkaryaan; yang tampak betul didasari kekaguman pada gemerlapnya jaman ekonomi digital. Era Startup dan ekonomi digital yang dibuka Presiden Joko Widodo adalah euforia negara berkembang.
Jujurlah pada diri sendiri. Masalah utama pada gerakan kita adalah, tumpulnya analisis dan beloknya orientasi dakwah.
Desain produk dauroh dan MK, sejak DM 1 hingga DM 3, menghasilkan orang-orang yang dapat memberi solusi dan kepemimpinan pada segala bidang, bukan terkhusus pada bidang startup dan ekonomi digital.
Susunan pencerdasan dari materi yang disajikan, harusnya membuat kader paham cara memperbaiki kondisi negara yang rusak parah.
Bukan malah bertransformasi menjadi rumah besar stratup. Ingat! Kita bukan organisasi yang mampu mendatangkan investasi besar. Sedangkan ribuan startup mati karena gagal menghadapi fase bakar duit di empat tahun pertama.
KAMMI yang masih menghadapi sulitnya dana dauroh jangan sombong berpura-pura mampu mencetak pelaku startup, yang desainnya dari investasi.
Kedua. Saya bukan ekonom. Tapi saya bukan orang yang buta berita. Era startup dan ekonomi digital, adalah bentuk lain kapitalisme yang menjerat negeri ini. Sebab, pola ini telah kita temukan di tiga puluh tahun lalu, saat Presiden Soeharto membuka Era Perbankan melalui Pakto 88.
Saat itu, persyaratan membuka sebuah bank dipermudah. Tujuannya: investasi lokal maupun asing akan diserap ribuan bank kecil itu, lalu disalurkan lagi kepada unit usaha yang membutuhkan dengan skema tertentu.
Hasilnya? Investasi asing menjebak kita semua. Hanya 10 tahun setelah Pakto 88 dideklarasikan, terjadi bencana ekonomi: krisis moneter, dan jatuhnya rupiah, serta bengkaknya utang korporasi yang segera mengoyak ekonomi negara kita.
Ribuan bank itu binasa. Berikut ratusan ribu unit usaha yang mendapat investasi dari bank-bank itu dalam tahun-tahun krismon.
Kalau kita mau jeli; bahaya terselubung era ekonomi digital ini yang harusnya jadi perhatian Bidang Kebijakan Publik dua tahun kedepan.
Ke mana investasi asing dilabuhkan? Mengapa mereka bersemangat memberikan dana besar kepada model bisnis yang sangat spekulatif ini?
Apalagi, ada satu hal yang masih belum jadi perhatian pengguna jasa ekonomi digital. Privasi data. Privasi data ini pernah jadi isu besar saat Xiaomi dan Huawei disinyalir melakukan penyadapan data:
Atas tuduhan Amerika Serikat. Berita ini memang tak sampai ke negeri kita; karena memang media adalah alat opini pasar yang paling baik.
Rangkaian aturan yang diluncurkan pads 2017 berkaitan cara baru berbisnis ini, masih belum diiringi dengan jaminan privasi dan hadirnya keadilan di tengah pasar.
Hadirnua startup di bidang transportasi membuat sektor ini hancur berantakan. Tata aturan transportasi darat kacau balau: akhirnya rakyat main hakim sendiri karena negara tak memberi jalan tengah, tapi melindungi yang modalnya besar.
Ini terjadi pada gojek dan grab. Ketidakadilan negara pada pelaku pasar di jalan raya; malah disikapi secara neolib oleh generasi milenial: Organda telat berubah; dan lain sebagainya.
Padahal ini semua tentang negara yang tak memberi keadilan yang sama. Akses yang sama pada sumber dana, kepada semua pelaku pasar.
Bisnis pendidikan, menjadi masalah saat tata krama dan moral yang diajarkan di sekolah; serta sakralisasi guru melalui UU Guru dan Dosen habis diterjang startup berbasis pendidikan.
Munculnya kasus kekerasan pada guru dan penistaan pada sekolah, jelas merupakan dampak dari desakralisasi pendidikan, sebab orientasi pendidikan kini bukan lagi dakwah:
Tapi bisnis. "Oh sir, i am hired you, you are'nt my teacher. You are knowledge-seller!" kondisi anomie semacam itukah yang mau diraih KAMMI?
kewaspadaan jangan sampai hilang! Janganlah kekaguman kita pada perhiasan dunia mengakibatkan hilangnya nalar kritis dalam membaca ke mana zaman akan beredar.
Saya ramalkan: akhir pemerintahan Jokowi periode dua akan diwarnai kolapsnya sejumlah raksasa startup dan beralihnya bentuk bisnis, karena perubahan peta ekonomi global yang merusak skema dan mood investasi.
Ketiga. Apakah para perumus transformasi gerakan tidak berasal dari kalangan pengkader yang dari padi di tanam, mau berkotor-kotor di sawah?
Semua orang saat rekrutmen awal, punya satu harapan. Mereka melihat KAMMI dengan satu cara: "ingin belajar islam lebih dalam."
Sebab itu, desain materi MK Khos dibuat memenuhi dasar-dasar keislaman itu. Harga diri dan jati diri seorang muslim dididik, diasuh, dibina pelan-pelan sampai berubah menjadi prinsip hidup yang tak lekang oleh waktu.
Sang kader akan dicobai dengan kerasnya tembakan water cannon, dan derasnya uang dari kejahatan-kejahatan terselubung yang hendak ditutupi.
Setelah itu; pilihan menjadi pelaku startup hanyalah satu di antara banyak pilihan dari mana kita akan berjihad memerangi kebatilan.
Untuk itu, perlu ada sebuah rencana taktis, kuat, dan cerdas untuk menguatkan sistem kaderisasi. Tapi saya tak melihat itu dalam hasil Rapimnas, terkhusus pada proses transformasi gerakan.
Skema transformasi gerakan ini--dalam pembacaan saya--akan mengubah besar-besaran citra dan cara pandang KAMMI kepada dunia.
Ada beberapa resiko yang harus kita tanggung berkaitan dengan perubahan ini.
Satu. Jelas dan tegas; saat ini ada satu generasi muslim yang jiwanya sedang haus pada solusi konkret penindasan pada bangsa ini.
Baik penindasan investasi, penindasan budaya, penindasan politik, dan juga penindasan militer.
Momentum yang ada membuat generasi ini semakin cinta kepada agamanya. Simbol-simbol islam: cadar, jilbab, kaus kaki, bendera tauhid, takbir, dan al-Qur'an sekarang menjadi alat unjuk jatidiri generasi itu.
Dan di gerakan ini, jati diri kader berdasarkan manhaj, sangat menjawab kehausan generasi itu. Kalau KAMMI tak ingin mengambil generasi itu sebagai bagian dari umat yang hendak dibina:
Lalu mereka akan mengambil generasi yang mana? Startup, adalah monopoli sedikit orang. Yang dibesarkan dari kultur kampus para pengusaha, atau keluarga para pialang. Apa mau ambil dana dari alumni?
Jaringan alumni kita masih pragmatis. Belum mikirin kita. Mereka masih senang rebutan hal-hal yang belum jadi bahan rebutan kita.
Silakan periksa puluhan survei mengenai milenial islam yang bertebaran. Fakta yang didapat mudah kita sederhanakan bahwa:
Ada satu generasi, yang jumlahnya besar, sedang sangat tergila-gila pada islamisasi kehidupan, bukan startup-isasi.
Ayo turun ke dauroh. Saksikan generasi itu saat ini berbondong-bondong bergabung bukan karena ingin jadi pengusaha, tapi ingin menjadi orang yang dimaksud dalam kredo gerakan KAMMI. Yang mewah itu.
Marilah jujur kepada diri sendiri:
Yang diperlukan adalah pemulihan unsur-unsur dan alat kaderisasi. Jumlah instruktur kurang. Sementara dauroh digenjot atas nama rekrutmen 100.000 kader.
Selepas dauroh, ada perkara MK, sebagai alat pencerdasan utama kita. Tapi alat pencerdasan ini rusak, maka kita masih hobi nitip kader ke sistem pengaderan di luar KAMMI. Kualitas pemandu masih minim.
Mereka perlu kehadiran orang-orang pusat dan wilayah untuk sekadar transfer ilmu. Transfer cara-cara teknis mengkader.
Kalau alatnya sudah diperbaiki, transformasi gerakan KAMMI tak perlu diarahkan jadi organisasi pencetak startup baru. Semua lini harus kita garap.
Jangan kagum pada fenomena zaman. Di hadapan kita, betul startup juga bagian dari problematika umat. Tapi politik, sosial, ekonomi, budaya, juga masalah umat.
Itu!
Senin, 05 Agustus 2019
Islam dan Soal-soal Razia Buku
Sebuah buku tak akan berbunyi apa-apa, kalau tak ada yang membacanya, mendiskusikannya, lalu menghasilkan sebuah ide baru dari buku itu.
Dan sebuah ide yang bagus, yang membangun, yang sehat, tak mesti lahir dari buku yang bagus, atau lolos razia.
Di perpustakaan saya, bertengger Das Kapital. Terbitan Moskow, 1959. Ya, buku ini adalah Risalah Pergerakan Ikhwanul Komunis di seluruh dunia. Tetapi, ada dua stempel dalam buku yang ada di rumah saya ini.
Stempel pertama, yang lebih tua, tertanda Brigjend. H. M. Bachrun. Tintanya berwarna hijau pucat. Nama ini, orang hanya mengetahui sebagai nama jalan di banyak tempat. Tapi siapa yang tahu kalau dia adalah Ketua Gerakan Ahmadiyah Indonesia di era Orde Baru?
Mungkin buku ini didapatnya semasa menjadi asisten pribadi Presiden Soekarno. Atau juga dalam lawatannya ke berbagai tempat, sebagai cara untuk memahami gerakan komunisme. Dan buku ini tidak musnah.
Tapi, bukan itu saja. Tampaknya buku ini berpindah tangan lagi. Di bagian bawah halaman pertama buku Das Kapital itu, ada sebuah stempel lain berwarna ungu yang menunjukkan dari zaman lebih baru.
Stempel itu, bertulis Perpustakaan Asrama Pelajar Islam: Prawoto Mangkusasmito. Kalau kita masih ingat, Prawoto, adalah ketua terakhir dari Masyumi. Sebuah partai yang hadir sebagai lawan paling keras dari PKI.
Ya; saya sendiri mulanya terperangah. Di masa Prawoto, perjuangan Masyumi di parlemen maupun di jalan-jalan mencapai puncaknya. Tapi, ia tetap ingin perlawanan itu berdasar.
Ia tidak melarang anak-anak didiknya di asrama pelajar yang ia bina itu, untuk membaca buku ini. Bahkan meletakkannya di perpustakaan. Saya tidak tahu, adakah Brigjend Bachrun menghadiahkannya pada Prawoto ataupun ia mendapatkannya dari toko buku bekas.
Tapi, sebuah buku, betapapun itu, tetaplah layak dibaca. Selain buku ini, saya menemukan pula di tepi toko-toko buku loak, sebuah naskah legendaris: "Masyahid Al-Qiyamah fil Qur'an". Atau, " Hari Akhir Menurut Qur'an". Buku ini adalah karya orang yang sama yang menulis buku-buku keras, semacam 'Petunjuk Jalan'.
Sayyid Quthb. Ketua Harian Ikhwanul Muslimin di masa krisis 1960-an, yang dianggap 'berjasa' memberikan ruang dialektika lahirnya gerakan-gerakan jihad islam di abad modern dengan buku-bukunya.
Dan, penerjemah penyunting buku ini, yang terbit tahun 1986 di Indonesia, adalah Masdar F Mas'udi.
Ya. Tokoh besar Jamaah Islam Liberal, yang hari ini menjadi salah satu petinggi dari PBNU. Dia adalah tokoh yang dianggap membuat wajah islam Indonesia semakin bebas dan liberal. Jauh dari pemikiran Sayyid Quthb.
Dua kasus di atas membuat saya terpaksa menyimpulkan begini: sebuah buku belum tentu bisa mengendalikan pikiran pembacanya. Seorang pembaca, belum tentu juga bisa mengetahui maksud asli bukunya.
Bulan-bulan belakangan, saya banyak ditanya: bahwa sejumlah besar buku tengah dilarang. Kiri dan kanan. Oleh BNPT dan densus, buku-buku bercorak islam kerap disita sebagai barang bukti penangkapan terorisme.
Sementara oleh pasukan yang loreng-loreng itu, buku-buku dengan kata kunci komunis, meskipun itu anti komunis, akan diambil dan dibakar.
Bahkan terakhir saya dengar, buku belajar bahasa Arab yang populer itu, Durusul Lughoh, disita.
Ah. Ada banyak orang tak pernah baca buku, lalu menghadapi buku sebagai barang menakutkan. Islam tak pernah mengajarkan kita untuk menyita buku-buku.
Justru kelindan pemikiran islam berkembang dengan saling berbalas buku: belum lekas dari ingatan, betapa Imam Ghazali mengkritik para Filsuf dengan Tahafut Al-Falasifah.
Lalu, ternyata buku itu tak luput dari kritik dengan munculnya sanggahan dari Ibnu Rusyd: Tahafut min Tahafut Al-Falasifah. Begitu juga yang terjadi sepanjang zaman.
Sebab begitulah cara kita dididik untuk berpikir dan saling menyanggah. Razia buku adalah tindakan orang yang tak pernah membaca buku tapi mengetahui betapa berbahayanya orang yang bergerak karena buku. Persis, sebagaimana dulu Belanda merazia majalah Al-Manar dari Muhammad Rasyid Ridha yang masuk ke Indonesia, dan dengan itu, KH. Ahmad Dahlan terpaksa menyobek-nyobeknya hingga tampak seperti pembungkus pakaian, agar lolos dari razia di pelabuhan.
Belanda tak ingin bangsa kita tahu sedang ada apa di dunia ini. Belanda tak ingin negeri kita punya alasan melawan. Memang, selain majalah Al-Manar itu, dirazia pula buku-buku komunisme.
Saya tak tahu, pihak yang merampas buku itu ingin melarang kita dari berbuat apa atau berpikir seperti apa. Tetapi islam tak mengajarkan kita menjadi manusia nirbaca.
Sebagai muslim, kita dituntut memahami perbandingan segala ideologi yang kita temui dalam perjalanan hidup, dan mampu menjelaskannya dengan baik, lalu membandingkannya dengan islam.
Agar, islam semakin kuat dan semakin punya alasan untuk diyakini penganutnya. Agar ada kedewasaan berpikir dan titik tengah dalam perjuangan bersama orang lain, yang juga kebetulan punya musuh yang sama, tapi ideologi berbeda.
Mari sebagai muslim, kita melindungi pikiran kita dari ancaman razia buku. Mari lindungi buku-buku dari tangan orang yang keras hatinya dan tak pernah membaca buku, dan mudah menghancurkan buku-buku itu.
Marilah melindungi para pembaca buku dari kebekuan ide serta kegagalan pikir dengan menyediakan ruang-ruang diskusi: di taman, di sekolah, di restoran, di sungai, di kantor polisi, di istana Presiden, di Masjid, atau di mana saja.
Sebab islam dibangun atas dasar pemahaman. Agar hal-hal baik dalam buku-buku tetap dapat ruang, tetap punya hak untuk dikembangkan, sementara hal-hal buruk dari sebuah buku dapat didiskusikan dengan aman. Sebagaimana, saat Hasan Al-Banna, di musim semi 1935, menulis saat ditanya mengenai sikapnya terhadap berbagai isme:
"Tidak ada sisi yang baik dalam sebuah isme apapun itu, melainkan ia juga ada pada dakwah kami, dan kamipun menyeru kepadanya..."
Rabu, 31 Juli 2019
Saat Para Profesional Gabung KAMMI
Di musim-musim perang itu, Hasan Al-Banna dengan dua matanya yang teduh, terus memandang negerinya. Mesir. Yang tak pernah sederhana.
1930-an itu, telah puluhan ribu orang bergabung bersamanya untuk menegakkan apa yang disebutnya sebagai kebangkitan umat.
Ia merenungkan kembali Khilafah, yang telah bertahun lamanya runtuh. Ia juga memandang, bahwa sekarang, negara demokrasi adalah apa yang dimiliki umat islam.
Risalah Manhaj ditulisnya dengan tajam. Ia mulai memahami, apa saja elemen-elemen kebangkitan itu. Ia harus membangkitkan keterampilan-keterampilan penting dari orang per orang, agar setiap sudut kehidupan memiliki pakarnya sendiri.
Kelak, kita akan mengenal ini, sebagai masa-masa Mihwar Mihani. Saat para pakar dan profesional bergabung kedalam gerakan Ikhwanul Muslimin.
Hasan Al-Banna sendiri adalah seorang pendidik. Ia seorang guru pegawai negeri. Di tahun 30-an itu, cabang-cabang kerja dari Ikhwan didirikan:
Aneka himpunan dagang, guru, buruh, petani, nelayan, mahasiswa, dan para insinyur diberinya ruang dialektika dalam kerangka "Ta'lim" yang sama: Arkanul Bai'ah dan Ushul Isyrin, serta 10 Muwashafat yang mengikat mereka.
Untuk mengikat ideologi para profesional itu, Hasan Al-Banna membuat sebuah metode ideologisasi: Katibah namanya. Pertemuan malam dengan 40 orang hadirin, yang mendengarkan uraian dari da'i yang dipilih untuk mengisinya.
Dan di salah satu katibah itu, Hasan Al-Banna menggagas keinginan untuk mengajak segenap profesional yang punya kekhawatiran yang sama: kemerosotan umat.
Lembaga-lembaga pendidikan, pabrik, restoran, bahkan pusat perbelanjaan milik kader Ikhwan merajai Mesir. Seiring besarnya pengaruh politik Ikhwan dan juga jumlah pengikut, Pemerintah Mesir saat itu menganggap Hasan Al-Banna dan gerakannya sebagai "bahaya".
Berbagai muslihat diadakan. Tapi Hasan Al-Banna tak gentar. Sampai akhirnya, pemerintah sadar: para profesional itu telah mengakar, bahkan menguasai sebagian perekonomian, budaya, dan bahkan pemerintahan Mesir sendiri.
Ikhwanul Muslimin pun, di detik-detik akhir hidup Hasan Al-Banna, dibubarkan. Beliau sendiri ditembak mati. Dengan tangan-tangan gelap yang entah dari mana.
Tapi, jaringan profesional itu, tidaklah bisa dibunuh. Mereka terus menghidupi napas umat, dengan mengisi ceruk-ceruk kehidupan itu.
Kepemimpinan Ikhwan terus berlanjut, 70 tahun setelah Hasan Al-Banna tiada. Orang boleh bilang, inilah keberhasilan sesungguhnya dari Ikhwanul Muslimin.
" memberikan para profesional itu, alasan untuk membela agama Allah." dan, "memberikan penjelasan kepada umat, betapa kekuasaan sangatlah berbeda dengan jabatan".
*
70 tahun setelah Ikhwanul Muslimin diserukan Hasan Al-Banna di Isma'iliyyah, KAMMI dideklarasikan. Hadirnya disambut oleh ratusan Majelis Syuro LDK yang saat itu bergerak di bawah tanah, menajamkan keimanan untuk berhadapan dengan urusan-urusan politik islam.
KAMMI segera menarik hati siapa saja yang kebetulan ada di masjid. Sosok sederhana, berjanggut tipis, celana bahan, dan wajah yang serius tetapi memancarkan senyum, tapi begitu berapi-api saat berorasi: orang-orang semacam ini memenuhi masjid kampus saat itu. Membawa bendera dan seruan aksi.
Tak ketinggalan, semua presiden berkuasa selalu mendapatkan limpahan pengeras suara untuk mundur dari KAMMI. Jalan-jalan protokol Ibukota di ring 1 istana, adalah medan jihad yang biasa dilangkahi.
Tapi, telah lewat 20 tahun dari hari itu. Kini umat butuh jawaban baru. Presiden Joko Widodo membuka era e-commerce. Sementara, kampus dan sekolah kini tinggal fatamorgana di kota-kota besar.
Orang cuma punya dua pilihan: jadi ahli akademik sekalian, atau jadi pedagang dengan rupa-rupa bentuknya. Umat butuh jawaban KAMMI. Apa jawaban KAMMI?
Saat nanti Daulah telah tegak, adakah orang-orang yang mewarisi ideologi itu, di setiap lini kehidupan umat? Bilamana jutaan orang mengikuti DM 1, lalu akan jadi apa mereka itu?
Apa jawaban KAMMI pada para profesional yang kini memilih berbisnis, atau membangun dunianya sendiri, gerakannya sendiri, dan bahkan perusahaannya sendiri di usia belasan tahun?
Katibah harus tetap berjalan. Artinya, KAMMI harus punya tempat membersihkan kotoran-kotoran sekular umat di dalam sarana pengaderannya. Lalu, setelah kotoran itu lenyap, para profesional itu haruslah punya saluran di KAMMI.
Di titik inilah, KAMMI musti menyempurnakan dirinya. Ia harus punya saluran itu. Mekanisme pengaderan biarlah berjalan di relnya. Tapi, sebagaimana jawaban Hasan Al-Banna, di tahun 30-an itu, para profesional musti punya tempat mengembangkan dirinya.
Lokus-lokus karya itu, harus diisi mereka yang sangat pakar. Lokus jurnalisme dan sastra, dulu diisi sastrawan besar semacam Sayyid Quthb, yang juga jadi Pemred Buletin Al-Ikhwanul Muslimun.
Lokus-lokus kajian fikih secara kultural, diwakili oleh Sayyid Sabiq dan juga Syaikh Yusuf Qardhawi. Lokus hukum, tentu saja, kita punya Umar Tilmisani sang pengacara ulung.
Masih ada belasan lokus lain, baik yang tertubuhkan maupun tidak. Ushul Isyrin, dan Muwashafat sangatlah membebaskan kita menciptakan apapun di dalam tubuh Jamaah, dan apalagi, di tengah-tengah umat ini.
Itulah jawaban kita!
*
Tapi, memasuki masa Mihwar Mihani ini, orang perlu batasnya. Kini orang mulai bertanya-tanya:
Profesional bertebaran di KAMMI. Ada artis pilem. Ada seniman. Ada filantrop. Ada pengusaha besar. Ada newcomer startup. Dan lain-lain. Tapi hadirnya mereka dalam jumlah besar juga diiringi pertanyaan yang sering masuk kedalam pesan chat saya:
Apa yang ditawarkan KAMMI? Mengapa saya harus mengajak orang gabung KAMMI?
Ikhwan menjawabnya dengan risalah-risalah bernas. "Kepada Apa Kami Menyeru Manusia". "Risalah Manhaj", " Risalah Ta'lim", "Menuju Cahaya", dan lain-lain.
Isinya: memberikan alasan orang, mengapa mereka masih harus menjadi islam. Mengapa saya harus salat? Bukankah mendingan berdagang atau ikut rebutan jabatan di negara demokrasi?
Sarana pengaderan, seiring masuknya para profesional itu kedalam tubuh jama'ah, harus dikuatkan. Hasan Al-Banna merumuskan Katibah dengan kuat.
Setelah tubuh jamaah diancam pemerintahan, Hasan Al-Banna bahkan terus berpikir dan menciptakan Usroh, atau Halaqah yang kita kenal sekarang.
Lalu, mau apa di sana? Tak lain tak bukan, ikatan ukhuwwah. Sebab, titik utama dari Nizhamul Usar, hanyalah ukhuwwah.
Atas dasar, persamaan ideologi. Ayo! Jangan ragu-ragu. Tanyakan lagi, apa alasan kita harus mengajak orang gabung KAMMI.
Sebab orang menunggu jawaban KAMMI itu!
1930-an itu, telah puluhan ribu orang bergabung bersamanya untuk menegakkan apa yang disebutnya sebagai kebangkitan umat.
Ia merenungkan kembali Khilafah, yang telah bertahun lamanya runtuh. Ia juga memandang, bahwa sekarang, negara demokrasi adalah apa yang dimiliki umat islam.
Risalah Manhaj ditulisnya dengan tajam. Ia mulai memahami, apa saja elemen-elemen kebangkitan itu. Ia harus membangkitkan keterampilan-keterampilan penting dari orang per orang, agar setiap sudut kehidupan memiliki pakarnya sendiri.
Kelak, kita akan mengenal ini, sebagai masa-masa Mihwar Mihani. Saat para pakar dan profesional bergabung kedalam gerakan Ikhwanul Muslimin.
Hasan Al-Banna sendiri adalah seorang pendidik. Ia seorang guru pegawai negeri. Di tahun 30-an itu, cabang-cabang kerja dari Ikhwan didirikan:
Aneka himpunan dagang, guru, buruh, petani, nelayan, mahasiswa, dan para insinyur diberinya ruang dialektika dalam kerangka "Ta'lim" yang sama: Arkanul Bai'ah dan Ushul Isyrin, serta 10 Muwashafat yang mengikat mereka.
Untuk mengikat ideologi para profesional itu, Hasan Al-Banna membuat sebuah metode ideologisasi: Katibah namanya. Pertemuan malam dengan 40 orang hadirin, yang mendengarkan uraian dari da'i yang dipilih untuk mengisinya.
Dan di salah satu katibah itu, Hasan Al-Banna menggagas keinginan untuk mengajak segenap profesional yang punya kekhawatiran yang sama: kemerosotan umat.
Lembaga-lembaga pendidikan, pabrik, restoran, bahkan pusat perbelanjaan milik kader Ikhwan merajai Mesir. Seiring besarnya pengaruh politik Ikhwan dan juga jumlah pengikut, Pemerintah Mesir saat itu menganggap Hasan Al-Banna dan gerakannya sebagai "bahaya".
Berbagai muslihat diadakan. Tapi Hasan Al-Banna tak gentar. Sampai akhirnya, pemerintah sadar: para profesional itu telah mengakar, bahkan menguasai sebagian perekonomian, budaya, dan bahkan pemerintahan Mesir sendiri.
Ikhwanul Muslimin pun, di detik-detik akhir hidup Hasan Al-Banna, dibubarkan. Beliau sendiri ditembak mati. Dengan tangan-tangan gelap yang entah dari mana.
Tapi, jaringan profesional itu, tidaklah bisa dibunuh. Mereka terus menghidupi napas umat, dengan mengisi ceruk-ceruk kehidupan itu.
Kepemimpinan Ikhwan terus berlanjut, 70 tahun setelah Hasan Al-Banna tiada. Orang boleh bilang, inilah keberhasilan sesungguhnya dari Ikhwanul Muslimin.
" memberikan para profesional itu, alasan untuk membela agama Allah." dan, "memberikan penjelasan kepada umat, betapa kekuasaan sangatlah berbeda dengan jabatan".
*
70 tahun setelah Ikhwanul Muslimin diserukan Hasan Al-Banna di Isma'iliyyah, KAMMI dideklarasikan. Hadirnya disambut oleh ratusan Majelis Syuro LDK yang saat itu bergerak di bawah tanah, menajamkan keimanan untuk berhadapan dengan urusan-urusan politik islam.
KAMMI segera menarik hati siapa saja yang kebetulan ada di masjid. Sosok sederhana, berjanggut tipis, celana bahan, dan wajah yang serius tetapi memancarkan senyum, tapi begitu berapi-api saat berorasi: orang-orang semacam ini memenuhi masjid kampus saat itu. Membawa bendera dan seruan aksi.
Tak ketinggalan, semua presiden berkuasa selalu mendapatkan limpahan pengeras suara untuk mundur dari KAMMI. Jalan-jalan protokol Ibukota di ring 1 istana, adalah medan jihad yang biasa dilangkahi.
Tapi, telah lewat 20 tahun dari hari itu. Kini umat butuh jawaban baru. Presiden Joko Widodo membuka era e-commerce. Sementara, kampus dan sekolah kini tinggal fatamorgana di kota-kota besar.
Orang cuma punya dua pilihan: jadi ahli akademik sekalian, atau jadi pedagang dengan rupa-rupa bentuknya. Umat butuh jawaban KAMMI. Apa jawaban KAMMI?
Saat nanti Daulah telah tegak, adakah orang-orang yang mewarisi ideologi itu, di setiap lini kehidupan umat? Bilamana jutaan orang mengikuti DM 1, lalu akan jadi apa mereka itu?
Apa jawaban KAMMI pada para profesional yang kini memilih berbisnis, atau membangun dunianya sendiri, gerakannya sendiri, dan bahkan perusahaannya sendiri di usia belasan tahun?
Katibah harus tetap berjalan. Artinya, KAMMI harus punya tempat membersihkan kotoran-kotoran sekular umat di dalam sarana pengaderannya. Lalu, setelah kotoran itu lenyap, para profesional itu haruslah punya saluran di KAMMI.
Di titik inilah, KAMMI musti menyempurnakan dirinya. Ia harus punya saluran itu. Mekanisme pengaderan biarlah berjalan di relnya. Tapi, sebagaimana jawaban Hasan Al-Banna, di tahun 30-an itu, para profesional musti punya tempat mengembangkan dirinya.
Lokus-lokus karya itu, harus diisi mereka yang sangat pakar. Lokus jurnalisme dan sastra, dulu diisi sastrawan besar semacam Sayyid Quthb, yang juga jadi Pemred Buletin Al-Ikhwanul Muslimun.
Lokus-lokus kajian fikih secara kultural, diwakili oleh Sayyid Sabiq dan juga Syaikh Yusuf Qardhawi. Lokus hukum, tentu saja, kita punya Umar Tilmisani sang pengacara ulung.
Masih ada belasan lokus lain, baik yang tertubuhkan maupun tidak. Ushul Isyrin, dan Muwashafat sangatlah membebaskan kita menciptakan apapun di dalam tubuh Jamaah, dan apalagi, di tengah-tengah umat ini.
Itulah jawaban kita!
*
Tapi, memasuki masa Mihwar Mihani ini, orang perlu batasnya. Kini orang mulai bertanya-tanya:
Profesional bertebaran di KAMMI. Ada artis pilem. Ada seniman. Ada filantrop. Ada pengusaha besar. Ada newcomer startup. Dan lain-lain. Tapi hadirnya mereka dalam jumlah besar juga diiringi pertanyaan yang sering masuk kedalam pesan chat saya:
Apa yang ditawarkan KAMMI? Mengapa saya harus mengajak orang gabung KAMMI?
Ikhwan menjawabnya dengan risalah-risalah bernas. "Kepada Apa Kami Menyeru Manusia". "Risalah Manhaj", " Risalah Ta'lim", "Menuju Cahaya", dan lain-lain.
Isinya: memberikan alasan orang, mengapa mereka masih harus menjadi islam. Mengapa saya harus salat? Bukankah mendingan berdagang atau ikut rebutan jabatan di negara demokrasi?
Sarana pengaderan, seiring masuknya para profesional itu kedalam tubuh jama'ah, harus dikuatkan. Hasan Al-Banna merumuskan Katibah dengan kuat.
Setelah tubuh jamaah diancam pemerintahan, Hasan Al-Banna bahkan terus berpikir dan menciptakan Usroh, atau Halaqah yang kita kenal sekarang.
Lalu, mau apa di sana? Tak lain tak bukan, ikatan ukhuwwah. Sebab, titik utama dari Nizhamul Usar, hanyalah ukhuwwah.
Atas dasar, persamaan ideologi. Ayo! Jangan ragu-ragu. Tanyakan lagi, apa alasan kita harus mengajak orang gabung KAMMI.
Sebab orang menunggu jawaban KAMMI itu!
Langganan:
Postingan (Atom)