Rabu, 15 April 2020

Gajah Mada dan Permainan Jenderal

1
suatu hari, berangkatlah armada besar yang gaungkan Sumpah Palapa ke berbagai penjuru. Sang Gajah Mada; Mahapatih Kerajaan Majapahit yang besar, yang agung, yang bhinneka.

Tahun-tahun itu, sang Gajah Mada, dengan matanya yang tajam lebih dari tahu. Bahwa, ikatan perserikatan raja-raja Islam sedang hancur. Serbuan Kekaisaran Mongol benar-benar menghancurkan segalanya.

2
Di pucuk Barat, Kerajaan Samudera Pasai, sedang kebingungan. Kapal-kapal dari Timur Tengah datang dalam kondisi mengenaskan. Bahtera yang biasanya membawa emas, kini membawa kabar bencana.

Di pucuk timur, Kesultanan Jailolo juga sedang menanti, kabar apa yang digiring angin barat kepada bukit-bukit. Gajah Mada tahu itu. Ia pastikan, dua tembok yang selama ini menjepit Majapahit, bisa dijebol habis.

3
Tetapi; di dalam istana, cukup banyak jenderal-jenderal dan keluarga kerajaan yang memicingkan mata. Sang Mahapatih, apakah wewenangnya sejauh itu?

Semuanya berbisik kepada Raja. Hayam Wuruk namanya. "Percayalah pada Gajah Mada," katanya. "Orang itu sangat kuat. Sangat sangat kuat."

Bisikan-bisikan dalam istana cuma dianggap iri dan ingin cari jabatan. Atau, "itu sisa-sisa pengikut pemberontak," kata Gajah Mada.

4
Lalu, berangkatlah kapal-kapal itu dari pelabuhan militer. Menuju berbagai pulau. Apakah kapal-kapal itu benar-benar sampai atau tidak, itu tak penting. 

Diutuslah para empu, menyusun sajak-sajak dan pentas bagi mengagungkan sang Raja. Sementara, raja-raja muslim yang mendengar kedatangan kapal-kapal itu, tersenyum geli.

"Ya Allah," kata mereka. "Hayam Wuruk itu benar-benar dikibuli sang jenderal besar."

5
Sebab, tampaknya, semua orang selain Hayam Wuruk tahu: Saifuddin Qathiz, hanya setahun sebelum pasukan Sumpah Palapa itu berlayar, telah menghancurkan armada tempur Mongol di Ain Jalut. Umat Islam mendapatkan perisainya lagi, sekali lagi.

Tapi, raja-raja muslim itu tampaknya tahu apa yang terjadi di Istana Timur Majapahit. Sang Jenderal Besarlah, yang mengendalikan istana. Batalion khusus pengawal raja dan detasemen anti teror "Bhayangkara" telah menaikkan nama sang Gajah Mada, hingga Raja kehilangan kecerdikan untuk mengatur negara.

6
Mengenai kapal-kapal yang berlabuh di Jailolo atau Pasai, itu cerita lain. Tapi di Pulau Jawa, bagi rakyat Majapahit, kabar-kabar keberhasilan perang terus beredar dari para empu, tanpa perang yang sesungguhnya terjadi.

Rakyat hanya mendengar: "satu persatu wilayah Nuswantara telah berhasil tunduk kepada Majapahit!"

Di Trowulan, kini, Ibukota yang jauh dari pelabuhan itu, banjir besar terus terjadi. Penduduk Ibukota gelisah. "Mana harta dari keberhasilan Patih Gajah Mada menaklukkan Nuswantara?"

7
Dan istana, istana, mulai goncang. Para menteri dan gubernur sering diralat pernyataannya oleh Gajah Mada. Barangkali, karena tak sesuai dengan "fakta kemenangan armada Sumpah Palapa"

Aturan-aturan yang memusatkan segala kegiatan politik di tangan Raja, tepatnya di tangan sang Mahapatih, dibuat untuk "memudahkan pembangunan negara" serta "masuknya harta dari para pedagang-pedagang Islam"

8
 Mengapa? Sebab raja-raja muslim di pintu timur dan barat Nusantara yang tersenyum geli tadi, akhirnya memberikan surat kepada para panglima Armada. "Pulanglah. Kami menitip pedagang-pedagang kami."

"Pedagang kami akan datang dari Champa, India, Farisi, Yaman, Syam, Afrika, dan Andalusia. Jaringan bisnis Kekhalifahan kami akan datang mendanai pelabuhan-pelabuhan baru di negaramu!"

9
Mengapa? Sebab raja-raja muslim di pintu timur dan barat Nusantara yang tersenyum geli tadi, akhirnya memberikan surat kepada para panglima Armada. "Pulanglah. Kami menitip pedagang-pedagang kami."

"Pedagang kami akan datang dari Champa, India, Farisi, Yaman, Syam, Afrika, dan Andalusia. Jaringan bisnis Kekhalifahan kami akan datang mendanai pelabuhan-pelabuhan baru di negaramu!"

10
Dari "sumpah palapa" tadi, investor-investor muslim datang atas nama "pedagang dari gujarat". Mereka datang membawa zaman baru ekonomi dan investasi. Pelabuhan-pelabuhan baru dikejar pembuatannya.

Sang Gajah Mada, terpaksa mengendalikan istana demi "kelancaran pembangunan negara". Dia, yang seorang prajurit militer tanpa kans atau kendaraan politik untuk jadi raja, sesungguhnya telah memenangkan takhta!

11
Jadi kalau hari ini, di atas runtuhan kerajaan  Majapahit, di tanah yang sama, ada seorang jenderal besar, mengepalai sebuah proposal raksasa investasi dan militer untuk "membangun Nusantara",

Kita tidaklah perlu heran. Terutama bila sang jenderal lebih kuat daripada Raja Hayam Wuruk. Dan tak perlu ikut tersenyum geli, bila raja-raja Negeri Tetangga sering dibuat tersenyum pula dengan apa yang terjadi di dalam istana.

12
Bila Mahapatih Gajah Mada sukses dengan Detasemen Khusus Bhayangkara dan menangkal aksi terorisme Ra Kuti, maka jenderal kita mendirikan Detasemen 81, sebagai perintis segala pencegahan terorisme.

Sementara para empu terus menceritakan betapa hebatnya negara membangun; di saat yang sama pembangunan itu tidak menghidupi rakyatnya. Nanti kita akan tahu, kerajaan itu akan berakhir dengan Perang Paregreg. Perang saudara, bagi menyebut "siapa yang paling Majapahit" di antara dua saudara.

13
Sebab sang jenderal tak sadar.

Apa yang dilakukannya, akan menghancurkan negara, perlahan-lahan, hingga muncul lagi cara baru bernegara. Demak; yang istananya ada di sebalik mimbar masjid, yang lautan dijadikan sahabat bagi rakyatnya.

14
Barangkali hari ini, Hayam Wuruk boleh saja selalu mendapat laporan: "aman baginda," setiap ia bertanya.

Tapi rakyat, rakyat tak bisa dibohongi. Mereka mulai tahu permainan Gajah Mada dan mulai hidup tanpa negara. Letusan Semeru, Bromo, Merapi, atau juga pageblug besar yang melanda Majapahit, tidak diurus dengan baik.

Rakyat, tak lagi meminta apapun kepada Hayam Wuruk atau Gajah Mada. Ya, jenderal, rakyat telah sadar permainan itu.

Yusuf Qardhawi dan Dauroh

Suatu hari, Syaikh Yusuf Qardhawi, dalam sebuah catatan keberangkatan daurohnya mengenang saat-saat jamaahnya dibangun.

Ia pergi ke sebuah dauroh di tempat yang jauhnya begitu entah. Biasanya, pihak markas daerah akan memberinya bekal. Tetapi kali ini, tidak. Uang di sakunya, hanya cukup untuk biaya berangkat.

Saat itu, Syaikh Qardhawi muda, yang berusia 20-an tahun, mengira markas daerah yang mengundangnya akan membiayai. Iapun berangkat. Dengan semangat sederhana. Dengan cita-cita yang masih sederhana. Yang tak dikotori hasrat jabat-menjabat, negosiasi biaya politik, apalagi mencari panggung dan lain sebagainya.

Sesampainya di lokasi dauroh, seperti biasa, ia memandu Ikhwah di sana. Ia memandu pembinaan ruhani maupun intelektual. Dan, hari itu, saatnya ia pulang.

Syaikh muda itupun berangkat ke stasiun dengan diantar oleh Ikhwah di sana. Markas daerah itu belum juga memberi bekal pulang. Sementara, uang yang dimiliki syaikh telah habis untuk berangkat dan makan selama perjalanan.

Ternyata, sesampainya di stasiun, sang Syaikh ditinggal. Tanpa dibekali. "Aku tak pernah mengharapkan dibekali atau dibayar," kenang Syaikh berpuluh tahun kemudian.

"Akan tetapi saat itu, aku sangat berharap bisa pulang."

Akhirnya, sang syaikh, pura-pura menetap di stasiun sampai pengantar pergi. Syaikh, mulai berjalan melangkah. Berjalan kaki. Dalam kisahnya itu, saya lupa apakah tertulis 12 mil atau 12 KM. Tetapi, beliau benar-benar berjalan kaki.

"Aku tak melapor ke markas daerah asalku. Akupun tak enak meminta kepada akh pengantar itu." katanya. "Aku malu bila memberatkan orang lain saat berdakwah."

Bahwa, keikhlasan sang syaikh hari itu, yang barangkali membuat nama beliau sampai ke negeri ini. Yang membuat nasihat-nasihat dan buku beliau disampaikan Allah ke tangan kita, puluhan tahun setelah dauroh itu.

Begitulah. Instruktur, saat diminta berangkat, berangkatlah. Alamatkanlah perjalanan pergi dan pulangmu hanya kepada Allah.

Kisah Syaikh Qardhawi ini saya temukan dalam memoarnya. "Kenang-kenanganku Bersama Ikhwanul Muslimin."

Tetapi, sebagaimana itu. Beliau merasa terundang oleh panggilan Allah ke tempat-tempat itu. Tempat umat sedang penuh harap untuk memperbaiki dirinya.

Instruktur dan Al-Qur'an

Memang, kita ini, instuktur, senang menumpuk-numpuk amanah. Kita mengira sedang berdakwah. Padahal kita hanya melarikan diri dari masalah rumah, dari masalah pertemanan, dan dari kesepian kita yang tidak seberapa.

Suatu hari kita akan dipaksa menyadari bahwa ada amanah-amanah yang tidak produktif. Yang, meskipun disebut sebagai amanah dakwah, tapi malah menjauhkan lisan kita dari menyebut nama Allah, dan dari Al-Qur'an.

*

Instruktur. Kapan terakhir kali kita berkumpul bukan untuk mendaftar aib barisan, bukan untuk mencela kegagalan kerja:


Tetapi untuk hanya sekadar membaca Al-Qur'an bersama-sama, saling memastikan hafalan, dan mematutkan lafazh-lafazh agar tepat pada tempatny. Kapan terakhir kali kita membicarakan Al-Qur'an, sehingga sepulang agenda dakwah itu, bertambahlan Al-Qur'an dalam dada kita?


*
Instruktur adalah parameter keimanan dalam gerakan ini. Melalui dauroh, para peserta akan memahami bagaimana kultur dan cara pandang gerakan kepada Al-Qur'an dan ibadah.


Akan tetapi, barangkali hati kita memang telah terlalu membatu untuk sekadar mendengarkan pembacaan ayat-ayat itu ketika syuro, atau juga menuntaskan murojaah dan tilawah barang setengah juz sehari. Kita menerjemahkan dauroh sebagai medan pamer bacaan dan kutipan ucapan tokoh yang tidak pernah temui, sampai subuh menjelang.


*
Instruktur. Sampai ketemu di dauroh terdekat. Di tempat itu, kita saling bertukar hafalan, saling menyimak bacaan.

Kita harus menjadikan pertemuan kita adalah tempat hafalan-hafalan ditambah, dan diluruskan. Jadilah seseorang, yang bila peserta melihatnya saja, mereka akan mematut-matutkan diri mereka.

Orang, yang bila kita melihatnya, kita tidak segan melepaskan telepon genggam dan menggantinya dengan Al-Qur'an. Yang orang akan merasa mubazir bila bicara selain Al-Qur'an kepada dirinya.


Jazak

Mental Set Seorang Instruktur (2)

Untuk Instruktur Kalimantan Selatan


Assalamu alaikum, instruktur. Malam ini saya akan sampaikan seputar mental set. Hal-hal yang berkaitan dengan loyalitas kita kepada gerakan ini.


Sebelum itu, mari berpikir. Apa itu dauroh? Mengapa kita harus mengajak orang berangkat dauroh? Mengapa orang tak hendak berangkat dauroh?



Mengapa di KAMMI menggunakan sistem dauroh?


Mengapa orang berbondong-bondong masuk ke dalam jamaah ini, lalu mengapa pula ada sekelompok orang keluar dari kammi?


Instruktur. Saat antum mengasesmen pada momen ekspektasi kelas; ada hal penting yang ditulis sebagai harapan semua orang, pada DM 1. Harapan itu adalah:

"Ana ingin mengenal islam, ana ingin berjuang untuk islam, ana ingin bergerak di barisan islam."

Maka, orang-orang itu dengan penuh harap, mencoba menyerap apa yang ditawarkan oleh imat pada saat dauroh. Mereka mencoba membandingkan antara gaya penyampaian, susunan acara, gerak gerik panitia. Semua akan berujung pada satu kesimpulan akhir:


Apakah saya akan bergabung ke dalam kammi?


*
Lalu, ada sebagian dari mereka, jawabannya adalah Ya. Mereka menganggap, kammi menjawab kebutuhan mereka tentang islam.


Mereka percaya bahwa kammi mampu menjaga amalan ibadah mereka. Mereka percaya bahwa kammi mampu menjaga salat mereka. Puasa mereka. Bacaan Al-Qur'an mereka. Dan lain sebagainya.



Lantas; dauroh demi dauroh diadakan, dan merekapun lebih intens lagi berinteraksi dengan instruktur sebagai sumber ilmu primer dalam dauroh.

Mereka, memahami kammi dari dauroh. Di antara mereka, ada yang memandang dauroh sebagai masjid. Satu-satunya tempat mereka salat berjamaah tanpa terlambat.


Ada di antara mereka yang memandang dauroh sebagai tempat mabit: tempat mereka salat qiyamul lail sambil meneteskan air mata.

Instruktur sekalian. Demi menjawab kebutuhan orang atas dauroh semacam itu; dibuatlah Manhaj Pengaderan. Dibuatlah serangkaian Indeks Jatidiri Kader (IJDK). Dibuatlah berbagai macam standar dauroh:

Bahwa dauroh adalah soal hijab yang dijaga. Bahwa dauroh adalah soal hapalan wajib yang mesti disetor. Bahwa seakan-akan engkau memasuki tempat dauroh sebagaimana memasuki masjid. Kau buka alas kakimu. Kau buka jaketmu yang terlalu mencolok.

Kau tahan tertawamu yang tak perlu. Kau tahan urusan sindir menyindir. Kau tahan dendammu kepada para pengurus lain. Sebab engkau sedang memasuki sebuah tempat ibadah. Ya, sebuah tempat ibadah, bernama dauroh!


Demi memastikan dauroh sebagai tempat datangnya ampunan Allah dan berkah itulah; korps ini dibuat. Demi menjaga agar nama Allahlah yang disebut dalam dauroh, maka dibuat khusus sebuah dauroh mencetak instruktur. TFI namanya.


Itu sebabnya, untuk datang TFI, haruslah seorang itu AB 2. Bukan, bukan masalah pencapaian bacaan yang setinggi langit; pergerakan yang progresif, atau soal buku-buku tebal yang mampu ia habiskan dalam sepekan.

Tapi soal kualitas akidah dan keimanan yang memang, dibatasi oleh standar AB 2. Bahwa dia harus punya hapalan sekian. Bahwa dia harus paham fikih salat. Bahwa dia harus paham fikih muamalah sehari-hari.


Bahwa dia harus paham fikih prioritas. Dia harus hafal dua juz Al-Qur'an. Dia harus pula punya kebiasaan qiyamul-lail.


Bila tidak; bila IJDK instruktur saja tak terkontrol, maka jangan harap di dalam dauroh ampunan akan turun dan berkah akan datang.


*

Akhi, ukhti sekalian instruktur Kalimantan Selatan.


Ana pernah datang ke sebuah dauroh. Jauh di pelosok kota. Dua hari perjalanan dari Jakarta. Sesampainya di sana, ternyata para pemateri akhirnya membatalkan kedatangan. Walhasil, saya mengisi sebagian besar materi selama empat hari.

Di sana; termasuk ketua KAMMDA, pengurus daerah hanya empat orang dan semuanya akhwat. Kuat. Hebat.


Mereka menyelenggarakan semuanya: cari penginapan, cari pemateri, hingga merangkap semua perangkat. Tak ada satupun keluhan di sana. Tak ada sedikitpun kejengahan kepada mereka yang tak hadir.


Tapi bukan itu yang mau saya ceritakan. Di hari kedua dauroh, sekretariat yang mereka pinjam dari seorang ustadz, ternyata terjual. Sang Ustadz memang menjualnya. Akan tetapi, pembelinya memaksa untuk mengisi rumah di malam itu.


Apa yang terjadi? Mereka berempat mengosongkan sekretariat. Tanpa mengeluh. Mereka meninggalkan lokasi dauroh; dan "mengungsikan" barang-barang kammda ke rumah kos mereka masing-masing.

Saya akhirnya menghandle hari kedua hingga usai dauroh. Tapi saya bahagia. Mereka tak sama sekali mengeluh tentang kejadian itu.


*
Akhi, ukhti, instruktur sekalian. Ini semua soal bagaimana kita mendengar panggilan dakwah itu.


Saat semua orang memilih pergi, ternyata antum dipilih oleh Allah untuk beringan kaki dan datang ke dauroh.


Saat semua orang ditahan Allah bahkan untuk menjawab panggilan dauroh; antum dipilih oleh Allah untuk menjadi instruktur.



Berbahagialah. Dan syukuri saja, dengan memastikan bahwa di dalam daurih:

Ibadah masih terjaga. Nama Allah masih disebut, dan ukhuwwah masihlah utuh.


Tak perlu menyindir mereka yang tak menjawab. Tak perlu membatin mereka yang tak datang.


sebab, pahala dauroh ini memang hadiah khusus untuk mereka yang datang.

Mental Set Seorang Instruktur

Kesepian; adalah konsekuensi logis atas segala pernyataan sikap dan pilihan jalan ini.

Saat semua orang meragukan islam dan Allah, kita terus menyerukan tauhid itu. Saat semua orang menahan kita, kita memutuskan untuk tetap bergerak.

Kita tak pernah diperintahkan untuk menang. Kita cuma diminta tetap bertahan, dan menunggu pertolongan Allah, berupa masuknya hidayah dalam hati mereka, atau hancurnya kesombongan itu bersama kematian.

*

Instruktur. Suatu hari, kalau kita membayangkan, berapa lama kita harus bertahan di jalan ini?

Suatu hari, seorang Nabi, diutus pada sebuah kota. Ia tak akan menyangka akan berapa lamakah dakwah ini bergulir dengan bertopang di punggungnya.

Dengan diskusi, ia gagal yakinkan orang. Dengan debat, ia malah mendapat pengusiran.

Forum siang ia adakan. Pertemuan malam tak kurang dia layani. Tetapi, bila kita menghitung, adakah setahun, dua tahun, atau tiga tahun sang Nabi bertahan?


Pengaderan sangat sulit. Penduduk kota itu menahan anak-anaknya agar tak mendekat kepada sang Nabi. Hanya satu orang setiap sepuluh tahun, yang dapat ia tarik menjadi kader.


Dan instruktur, tahukah kita, berapa lama sang Nabi bertahan?


850 tahun. Ya. Ia berdakwah tanpa catatan megah tentang mukjizat apa yang dijatuhkan Allah lewat tangannya.

Ia tak mempertontonkan laut dan bulan yang terbelah. Ia tak punya tongkat yang menjelma ular. Ia juga tak dapat mengubah patung menjadi merpati. Atas izin Allah.


Ia hanya punya akal dan lisannya. Ia hanya punya kesabaran dan kesungguhan. Dan mari saksikan, nabi ini, Nuh 'Alaihissalam, selama 850 tahun hanya mampu mengader 85 orang saja.

*

Instruktur. Kadang-kadang, kita menjadi orang yang tidak sabar. Kita lebih senang dengan kerja-kerja administrasi yang pura-pura terukur, tapi mengabaikan tahapan-tahapan dakwah.


Kita lebih senang menyebar poster lewat media sosial daripada mengajak orang bicara tentang gerakan ini, walau sebentar saja.

Kita, sebagai instruktur, merasa telah berdakwah karena menyebar broadcast yang sama sekali tidak informatif. Kita merasa telah berdakwah tanpa sedikitpun pernah mengajak orang secara langsung ikut dalam barisan ini.


Kita merasa telah sangat sabar hanya karena dalam sebuah musim dauroh kita telah memaafkan orang, lalu menolak terlibat lagi di dauroh selanjutnya.


Kita lebih senang menulis self reminder sebagai sindiran, dan self talk untuk memaki-maki orang lain.

Lalu dengan bangganya, itu semua kita sebut dakwah.


*
Segala hal tentang dakwah, tentang berinstruktur selalu bermula pada satu hal. Kesabaran; untuk tidak mengutamakan data kegagalan daripada data keberhasilan.


Kesabaran, untuk tetap berdakwah meskipun teman berubah jadi musuh, dan lebih banyak tumit yang berbalik daripada tumit yang bertahan.


Instruktur sekalian, Korps Instruktur diciptakan untuk menjaga poros itu. Saat elemen-elemen lain di gerakan ini tercemari interaksinya sendiri dengan politik, dengan uang, atau dengan ideologi gerakan lain yang merongrong:

Instruktur hadir untuk menjaga itu semua. Ia adalah tulang yang menjaga tubuh tetap pada tempatnya. Ia adalah sungai yang menjaga hutan tetap pada hijaunya.

Ia harus lebih kuat dariapada kader lain dalam barisan ini: saat kader lain menjadi peserta, ia ada di tempat pembicara. Saat kader lain ada di tempat pembicara, ia ada di tempat perancang acara.

*

Lalu kenapa kualitas instruktur seakan-akan hilang? Tak lain karena ulah kita sendiri.


Kita tak tahu untuk apa materi syahadatain sebagai titik tolak perubahan diajarkan. Kita hanya tahu bahwa materi ini tentang makna syahadatain.

Kita menolak membaca buku. Kita mencukupkan diri pada ceramah-ceramah orang yang entah memahami KAMMI atau tidak.


Kita menolak membaca buku-buku yang jadi inti cara pandang KAMMI; dan mencukupkan diri pada tulisan-tulisan entah siapa di media sosial.


Kita lebih suka berdebat. Alih-alih umat Nabi Muhammad, kita tampak seperti Bani Israil yang membuat Nabinya mengatakan:

"aku berlindung dari orang-orang bodoh."


*

Instruktur sekalian. Dauroh adalah gerbang. Kader akan memahami KAMMI dalam bertahun-tahun kedepan berdasarkan memorinya selama dauroh berlangsung.

Jadilah instruktur yang memenuhi semua IJDK AB 2. Dalam perkara Aqidah:


Instruktur harus paham konsekuensi aqidah. Dia harus berlepas diri dari musuh-musuh islam. Dia tak lagi menjadi seorang yang belum tuntas berpikir lalu menyajikan kebelum-tuntasannya itu di hadapan dauroh dan mengemasnya atas nama "progresifitas".


Dia tak boleh pesimis bahwa islam pasti menang. Dia harus percaya dan yakin. Meskipun ia kalah, meskipun gerakan ini hancur, tapi itu tak sama dengan hancur dan kalahnya agama ini.


Di bidang fikrah dan pemikiran; dia harus tahu perbedaan antar gerakan dalam islam. Dia tak boleh menyampaikan sekadar mitos dan dongeng tentang gerakan lain.

Antum adalah instruktur. Pahami apa itu Salafiyah, apa itu Jamaah Tabligh, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Naqsyabandiyah, Nahdlatul Wathan, dan lain sebagainya.


Dia harus mengetahui sejarah, dan memahami senarai urutan pemikiran Ikhwanul Muslimin agar tak jadi orang norak yang bermasabodoh dengan fenomena gerakan; atau orang bodoh yang terpesona ulasan orang mengenai Ikhwanul Muslimin.


Dari Biografi Hasan Al-Banna, ia beranjak pada inti ajaran beliau pada bab Risalah Ta'lim: Arkanul Baiah, Ushul Isyrin, dan muwashafat.


Ia juga memahami karakter gerakan Ikhwan, bukan dari komentar orang tapi dari studi mendalam atas kitab Ma'alim fi Thariq Sayyid Quthb, Fiqh Daulah Yusuf Qardhawi, dan lain sebagainya.


Ini semua tentang proses agar keilmuan tetap terjamin. Peserta dauroh harus menjumpai instruktur daurohnya sebagai orang hebat, uswah hasanah, payung yang melindungi dari teriknya zaman.

*
Instruktur sekalian. Mental mencela, menyalahkan senior, atau mengeluhkan junior yang sedikit itu tak boleh ada lagi dalam barisan ini.


Senior biarlah berlalu. Itu urusan mereka dengan Allah. Kita diberi sepenuhnya waktu ini dan dimensi ini oleh Allah. Pikiran kita sendirilah yang membatasinya.

Syukurilah mereka yang dikirim oleh Allah untuk bergabung kepada dauroh kita, meskipun satu orangpun. Barangkali di atas sana, Allah menilai kita memang hanya mampu mengader satu orang itu.

Barangkali Allah memang meminta kita selesaikan dulu kemarahan-kemarahan internal dan keluhan-keluhan kita pada rekan kita sendiri sebelum mengajak orang bergabung.


Syukurilah bila kader yang dikirim Allah saat dauroh adalah mereka yang kosong, siap diisi apapun yang kita berikan. Syukurilah bahwa mereka hijrah karena gerakan ini; menggunakan jilbab karena gerakan ini, atau memutuskan pacar mereka karena gerakan ini.


Mohonkan ampunan bagi instruktur yang justru karena aktivitas mereka di barisan ini malah terjebak pada pintu-pintu zina; atau tenggelam pada asap rokok dan pikiran jahat ideologi selain islam.


Allah mungkin menahan orang berangkat dauroh dan bertemu dengan kita karena perkara hal-hal haram yang justru dilakukan oleh kita, si instruktur itu sendiri.

Selasa, 19 November 2019

Cara Baru Memandang KAMMI

Kenapa KAMMI lahir?

Kenapa KAMMI segera hadir di puluhan kampus dan segera menjadi penguasa?

Kenapa KAMMI bertahan lama sekali, hingga 21 tahun lamanya?

Dua puluh satu tahun yang lalu, di negeri kita, penindasan dan ketidakadilan itu nyata sekali. Ia mewujudkan diri menjadi sosok: Soeharto namanya.

Ketidakadilan itu juga melembaga: Orde Baru namanya.

Saat itu orang gandrung mengaji. Orang senang dengan jilbab lebar, orang senang dengan wacana-wacana takbir jalanan.

Dan saat itu sebagai perias perjuangan, muncul satu genre musik legendaris. Nasyid namanya. Nasyid-nasyid itu mampu menengahi segala perdebatan haramnya musik, karena nyaris tanpa instrument apapun.

Nadanya menghentak. Keras. Menggetarkan jalanan. Mengguncang panggung-panggung politik dan memberikan semangat.

Puisi “Lautan Jilbab”Emha Ainun Nadjib menggambarkan kondisi saat itu. Orang-orang saling berjuang membebaskan diri dari belenggu larangan jilbab di seluruh negara. Aurat, adalah seruan utama di berbagai lembaga.

Sementara itu, di ranah politik, puluhan partai islam muncul: dari yang menang besar semacam PAN dan PKB maupun yang kalah telak semacam PK.

Sementara itu secara ekonomi, orang sadar bahaya modal asing yang masuk melalui IMF atau lembaga lain atas nama investasi. Soeharto hancur karena itu.

Semuanya berlomba tampil di garis depan perjuangan. Semuanya berlomba mengalahkan kebatilan dengan caranya sendiri. Mereka yang pragmatis, berakhir dengan lemparan celana dalam, atau dipukuli di sudut jalan.

Lalu di masa-masa itu, tampilah sekelompok orang. Cita-citanya jauh kedepan. Pandangannya tunduk, tapi mengerikan saat bertakbir. Mereka berjilbab lebar; atau berdahi hitam.

Dan di ikat kepala putih mereka, kadang darah mengalir memerahkannya. Di ikat kepala itu ada tulisan yang tegas berbunyi: “KAMMI”

Di bendera mereka yang juga dibasahi darah, bertuliskan kalimat besar: Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia.

Mereka keras menentang kebatilan di siang hari. Tapi di malam hari, mereka akan dengan teguh hati melingkar di sudut paling sepi di setiap kota, menghapal hadis, membaca Al-Quran dan saling memberi nasihat.

Kalau kita perhatikan filosofi gerakan KAMMI, kita akan dapati kalimat bernas yang akan membawa kita pada satu kenyataan, bahwa gerakan ini bukan gerakan cari panggung, atau gerakan kecil yang pura-pura besar.

Gerakan ini besar karena cita-citanya. Rekan-rekanku sekalian yang lupa kenapa kita berbaris bersama, kuundang kalian membaca kembali kredo gerakan kita.

Kepada orang-orang yang sekarang pragmatis, malu-malu, bergelimang jabatan dan mabuk pujian, kuundang kalian membaca kembali prinsip gerakan kita.

Itulah hari-hari awal gerakan kita!

*

Dua puluh satu tahun berlalu sejak kejadian itu. Orang mulai ramai membicarakan perubahan arah gerakan. Demonstrasi tak lagi jadi alat utama. Media social sangat mencolok membawa harapan baru.

Kader KAMMI, masih sama banyaknya dengan dahulu kala. Tapi, secara structural, jumlah pengurusnya sedikit. Kalau dulu belum ada manhaj, sekarang manhaj dan alur pengaderan akan memandu kita sampai tamat urusan dauroh.

Hari ini, kebatilan yang dihadapi masih sama. Penindasan. Ketidakadilan. Korupsi, masih menjadi musuh utama. Hadirnya Komisi Pemberantasan Korupsi malah menjadi korupsi yang baru.

APBN semakin besar. Rakyat yang ditanggung semakin banyak. Kinipun makin banyak pula menteri yang bergelar professor dan Ph. D. tetapi, kemiskinan, tidak disikapi sebagai sejumlah nyawa yang lapar atau sejumlah mata yang pedih.

Korporasi, masih mengangkangi berbagai kebijakan. Kalau di jaman Soeharto perusahaan milik Soekanto Tanoto menggilas hutan, maka pemain di jaman ini makin banyak. Bahkan semakin berani membakar hutan.

Partai politik, sebagaimana prediksi Al-Imam Hasan Al-Banna, menjadi sumber kebatilan tersendiri mana kala persekutuan mereka di parlemen malah menjerumuskan rakyat lebih jauh dalam kondisi amoral melalui RUU P-KS  dan lain sebagainya.


Kalau dulu melalui perbankan masuk modal asing yang menjerat, sekarang masuk pula modal asing itu lewat startup yang digadang-gadang sebagai pilar ekonomi kita. Presiden malah menyatakan kekalahan negara pada korporasi dengan focus pada manufaktur, bukan pembinaan Sumber Daya Alam.

Tapi di balik itu semua, ada, ada harapan besar yang dapat kita jadikan doa. Di mana-mana terjadi gelombang hijrah. Para pemuda menembus kebekuan gerakan itu dengan mendirikan komunitas hijrah. Kalau dulu jilbab, sekarang cadar. Kalau dulu baca qurán, sekarang menghafal.

Bahkan sekarang orang ramai-ramai menjadi hafizh qurán dengan harapan dapat memperbaiki kondisi umat. Dan di mana-mana orang masuk KAMMI lagi, dengan tujuan ingin belajar islam dan ikut memakmurkan bumi ini.

Di mana-mana orang malu bila auratnya terbuka. Gelombang jilbab berubah menjadi airbah. Al-Qurán berubah menjadi hujan yang menyuburkan negeri ini.

Angka pemuda-pemuda yang berjilbab lebar, menolak pacaran, dan memahami betul apa yang benar dan salah menurut AL-Quran dan Ash-Sunnah bertambah banyak. Melebihi angka yang kita kira!

Lalu di masa-masa semacam ini, mulai banyak yang berkata: apalah gunanya berorganisasi islam? Apalah gunanya memadukan saf, saat saf-saf yang ada malah mudah dibeli, imamnya adalah orang fasik yang terlihat saleh, atau para muazinnya adalah orang munafik yang pandai bicara?

Fenomena zaman masih sama. Kebatilannya masih sama. Tapi orang-orangnya sudah lain. Mereka bukan orang yang bisa dikibuli dengan gemerlap pembangunan, atau indahnya angka investasi. Maka kalau kita bicara tentang inovasi ber-KAMMI, marilah kita beranjak dari sini.

*

Orang sekarang itu unik. Mereka mengaji pada kelompok yang dinyatakan salafi, tapi ikut pula amalan-amalan kelompok tradisionalis. Mereka gabung halaqah, tapi turut menyerukan khilafah. Mereka ikut kajian hijrah, dan bersama-sama menolak terorisme.

Mereka memadati mabit. Ramai-ramai menggunakan cadar, ramai-ramai menolak pacaran. Mereka ikut dan membangun startup, tapi sadar bahayanya modal asing. Mereka memenuhi kelas-kelas pemikiran islam yang diadakan oleh para cendekiawan muda muslim.

Tapi mereka punya satu persamaan. Mereka sadar bahwa Al-Qurán adalah jawaban, Al-Qurán adalah solusi. Dan hal itu dapatlah kita rumuskan dengan enam kalimat tegas yang ada dalam prinsip gerakan KAMMI.

Lalu, inovasi apa yang kita butuhkan? Kenapa di mana-mana ada suara sumbang soal matinya gerakan, pudarnya semangat pengaderan, atau tumpulnya gagasan?

Karena sekarang memang kita hanya butuh kembali menyatakan dengan tegas, siapa kita. Di pihak manakah kita. Ketegasan terhadap kebatilan itulah yang dulu dirindukan orang pada masa reformasi, dan kini dirindukan lagi sebagai jawaban.

Kita  mau mengubah apapun, akan percuma bila ketegasan itu hilang. Kita adalah orang-orangan plastic yang gampang letoi kena panas sedikit. Kita adalah manusia selebgram yang gampang sakit hati karena tidak disukai publik. Apakah kita mau begitu?

Kalau ada inovasi yang kita butuhkan, sekarang saya akan tegas berkata: kitalah barisan yang akan membongkar kebatilan sampai ke akar-akarnya. Kajian kita, hari-hari kedepan, akan berlangsung untuk melacak sejauh mana kebatilan bekerja.

Rakyat sudah merasakan, tapi belum mengerti kebatilan apa yang membelit mereka. Rakyat menangis, tapi belum paham kenapa mereka menangis. Kita hadir di sana. Kita hadir dengan jelas untuk menjawab airmata rakyat itu.

*

Madrasah KAMMI adalah kelas-kelas yang memberikan jawaban itu. Kalau di satu komisariat atau KAMMDA mengalami kematian gagasan, maka ada masalah pada kualitas Madrasah mereka.

Urutan-urutan materi yang ada dalam dauroh pertama maupun kedua, sudah sangat rapi membawa pola pikir kita pada jawaban apa yang pantas kita berikan bagi umat ini. Akan tetapi, di mana-mana instruktur tidak memahami apa yang hendak mereka sampaikan pada dauroh itu.

Kelas-kelas pemikiran itu akan kita buka. Di suatu pekan kita akan membahas macam aliran politik di dunia ini. Di pekan yang lain, kita akan bedah apa saja aliran ekonomi di dunia ini.

Di pekan yang lain, kita buka kelas siroh dan kelas sejarah, dari Nabi Muhammad hingga Sultan Abdul Hamid II di Turki. Dari Purnawarman di Tarumanegara hingga Joko Widodo.

Kelas-kelas lain akan kita masukkan dalam lokus yang jelas: bisnis, sastra, guru , buruh, digital, dan lain sebagainya. Tapi tak perlu KAMMI berubah menjadi komunitas. Ia hanya cukup menaungi itu. Akan lahir ribuan komunitas yang didirikan kader KAMMI dengan semangat zaman yang tak lekang itu!

Barangkali, inovasi ini harus dipuncaki dengan itikad baik para pengurus: jangan biasakan bicara sebagai banci. Yang bersayap, yang pragmatis, yang menunggu dibayar oleh pelanggan lalu pergi. Atau kalau tidak dibayar, maka si banci akan keras sekali tinjunya!

Jangan takut kehilangan kader. Kader pergi dari gerakan ini karena alamat perjuangan kita yang mulai tak jelas. Karena kita tak lagi memperjuangkan syumuliatul islam, tapi ambisi para pengurusnya semata.

Terakhir, marilah berbaris kembali. Kita penuhi hak dan kewajiban kita sebagai mahasiswa muslim Indonesia dan berbarislah dalam kesatuan aksi!