1
Akar dari segala bahasa, adalah tanda. Tanda-tanda itu dapat hadir di mana saja, menyimbolkan apa saja. Tetapi, selain tanda yang dikeluarkan oleh manusia, tak ada tanda yang dikeluarkan untuk berbohong dan sia-sia.
Mendung; adalah tanda atau bahasa langit akan datangnya hujan. Merah senja, adalah tanda malam akan menjelang. Sebuah dahan dipatahkan, lalu berbunyi "krek!" adalah bahasa bahwa ia telah patah.
2
Segala tanda-tanda bunyi, yang kita saksikan di alam, tidak melalui mulut manusia bukanlah tanda bahasa yang sia-sia. Tidak jahat, tidak pula baik menurut sesuatu pihak. Tidak berdusta, tidak pula memaksa. Segala bunyi bahasa yang kita dengar dari mulut manusia, dapat digunakan oleh nafsunya untuk memanipulasi orang lain.
Puisi sebagai sebuah gejala bahasa manusia, sudah tentu mengandung kotoran itu. Ia mengandung nois, ia mengandung kebohongan, ia mengandung ketidakjujuran. Akan tetapi, dapat juga ia menjadi puisi yang jujur, yang baik, yang alami.
4
Alam tak akan pernah berbohong. Kejujurannya itu mengakibatkan ia menjadi indah. Alam, adalah makhluk Allah yang berbahasa dengan hanya bunyi yang ia perlukan. Tak akan pernah dahan patah berbunyi sebagai raungan gunung meletus. Tak akan mau gemulung ombak bersuara sebagai angin yang menjangkiti rumpun bambu.
Saat kita menulis puisi, kebohongan-kebohongan hiperbola terus kita tulis atas kesepian yang tak seberapa, atas cinta yang tak indah-indah amat, atau rindu yang sebetulnya biasa saja.
5
Dengan begitu, sahabat, tulislah puisi yang alami. Puisi yang hanya melambangkan bagi sesuatu yang benar-benar diperlukan. Puisi yang tak pernah berbohong.
Tulislah puisi yang akan dibacakan di surga, kelak, saat engkau, penyair, telah memasukinya. Puisi itu, "la yasma'una fiha laghwa wa la kizzaba", tidak ada di surga itu kita akan mendengar perkataan sia-sia dan dusta.
6
Puisi itu, adalah puisi-puisi yang cermat membahasai apa yang perlu dibahasai. Segala perangkat keindahan, pada dasarnya hanyalah jalan pintas untuk memperindah bahasa puisi. Majas, kias, rima, irama. Itu semua hanya alat keindahan.
Tetapi, inti dari segala puisi, inti dari segala bahasa, adalah makna. Apa yang dilambangkannya. Kesepian apa yang dilambangkannya.
7
Barangkali kita terbiasa menulis omong kosong yang kita beri rima agar indah, atau juga kebohongan yang dipatut-patutkan dengan kata-kata arkais.
Itulah fungsi agama pada penyair. Mengembalikan puisinya pada kejernihan bahasa; mengembalikan bahasanya pada semurni-murninya tanda. Tanpa niatan memalsukan. Sebagaimana dahan patah, akan berbunyi sebagaimana dahan patah. Tak akan dahan patah, sampai hati memalsukan bunyinya.
8
Jujurlah. Agar puisi-puisi itu dibaca lagi di surga di hadapan penyairnya. Tempat yang tak akan dikatakan sesuatu, "illa qilan salaman-salama".
Puisi-puisi yang beruluk salam, yang indah. Sebab bila kejujuran itu tak disampaikan dengan indah, ia akan menjadi kejahatan. Bila keadilan dibahasakan tidak dengan bunyi-bunyi yang tepat, ia akan menjelma kezaliman. Itulah, itulah mengapa manusia mengkristalkan bahasa tuturnya menjadi puisi.
Rabu, 15 April 2020
Sajak Untuk Milad KAMMI
Selamat Ulang Tahun, Bang
selamat ulang tahun, Bang
Terimakasih telah mengajari aku
apa artinya berkhianat
saat situasi semakin gawat
dan jalan ini memerlukan taubat yang kuat
Lalu apa artinya dikhianati
ketika slogan-slogan berjamaah
adalah festival paling meriah
bagi merancang masa depan umat yang kalah.
Memanglah hak kita
untuk tidak memperdebatkan siapa yang bersalah
apalagi siapa yang kalah. Karena dakwah:
tentang siapa yang paling mahir bertahan
dari sakit hati dan kecewa yang rutin kita dapatkan
serta idealisme yang harus, harus diubah
demi kepentingan panggung dan kesopanan
kitapun, Bang, harus terus berharap
usia kita akan memanjang
seiring ulangtahun musiman yang terus dirayakan
Pembelaan kita kepada teman-teman di jalan, Bang, rupanya
adalah cara terbaik memberikan pesan
bahwa keadaan sedang tak terlalu aman
tetapi kita, bang, kita menyerah
kita takut pada celaan orang, atau
pada orang-orang tua yang terlalu cepat mundur
dari garis depan pencarian kita
terhadap kebenaran
kita menjadi tua, Bang,
menjadi pemuda dengan paras renta
yang lazimnya tak lagi bicara perlawanan; kezaliman, atau
usaha-usaha serius dan melelahkan
untuk menggali keadilan dari kuburnya
tulang belulang berusia duapuluh dua
yang kita bebani dengan cara hidup manusia lanjut usia
Selamat ulang tahun, Bang
ingatan kita tentang rabithah yang mewah
tentu tak bakal membuat kita saling menikam
hanya karena perebutan wewenang
atau tentang siapa yang paling berhak
tampil ke depan. Abang,
bukankah kita telah sepakat, kebatilan
adalah musuh abadi kita. Persaudaraan:
adalah watak muamalah kita?
Selamat, bang. Selamat ulang tahun
dari adikmu, yang selalu engkau sayang.
Milad KAMMI ke-22
2020
selamat ulang tahun, Bang
Terimakasih telah mengajari aku
apa artinya berkhianat
saat situasi semakin gawat
dan jalan ini memerlukan taubat yang kuat
Lalu apa artinya dikhianati
ketika slogan-slogan berjamaah
adalah festival paling meriah
bagi merancang masa depan umat yang kalah.
Memanglah hak kita
untuk tidak memperdebatkan siapa yang bersalah
apalagi siapa yang kalah. Karena dakwah:
tentang siapa yang paling mahir bertahan
dari sakit hati dan kecewa yang rutin kita dapatkan
serta idealisme yang harus, harus diubah
demi kepentingan panggung dan kesopanan
kitapun, Bang, harus terus berharap
usia kita akan memanjang
seiring ulangtahun musiman yang terus dirayakan
Pembelaan kita kepada teman-teman di jalan, Bang, rupanya
adalah cara terbaik memberikan pesan
bahwa keadaan sedang tak terlalu aman
tetapi kita, bang, kita menyerah
kita takut pada celaan orang, atau
pada orang-orang tua yang terlalu cepat mundur
dari garis depan pencarian kita
terhadap kebenaran
kita menjadi tua, Bang,
menjadi pemuda dengan paras renta
yang lazimnya tak lagi bicara perlawanan; kezaliman, atau
usaha-usaha serius dan melelahkan
untuk menggali keadilan dari kuburnya
tulang belulang berusia duapuluh dua
yang kita bebani dengan cara hidup manusia lanjut usia
Selamat ulang tahun, Bang
ingatan kita tentang rabithah yang mewah
tentu tak bakal membuat kita saling menikam
hanya karena perebutan wewenang
atau tentang siapa yang paling berhak
tampil ke depan. Abang,
bukankah kita telah sepakat, kebatilan
adalah musuh abadi kita. Persaudaraan:
adalah watak muamalah kita?
Selamat, bang. Selamat ulang tahun
dari adikmu, yang selalu engkau sayang.
Milad KAMMI ke-22
2020
Gajah Mada dan Permainan Jenderal
1
suatu hari, berangkatlah armada besar yang gaungkan Sumpah Palapa ke berbagai penjuru. Sang Gajah Mada; Mahapatih Kerajaan Majapahit yang besar, yang agung, yang bhinneka.
Tahun-tahun itu, sang Gajah Mada, dengan matanya yang tajam lebih dari tahu. Bahwa, ikatan perserikatan raja-raja Islam sedang hancur. Serbuan Kekaisaran Mongol benar-benar menghancurkan segalanya.
2
Di pucuk Barat, Kerajaan Samudera Pasai, sedang kebingungan. Kapal-kapal dari Timur Tengah datang dalam kondisi mengenaskan. Bahtera yang biasanya membawa emas, kini membawa kabar bencana.
Di pucuk timur, Kesultanan Jailolo juga sedang menanti, kabar apa yang digiring angin barat kepada bukit-bukit. Gajah Mada tahu itu. Ia pastikan, dua tembok yang selama ini menjepit Majapahit, bisa dijebol habis.
3
Tetapi; di dalam istana, cukup banyak jenderal-jenderal dan keluarga kerajaan yang memicingkan mata. Sang Mahapatih, apakah wewenangnya sejauh itu?
Semuanya berbisik kepada Raja. Hayam Wuruk namanya. "Percayalah pada Gajah Mada," katanya. "Orang itu sangat kuat. Sangat sangat kuat."
Bisikan-bisikan dalam istana cuma dianggap iri dan ingin cari jabatan. Atau, "itu sisa-sisa pengikut pemberontak," kata Gajah Mada.
4
Lalu, berangkatlah kapal-kapal itu dari pelabuhan militer. Menuju berbagai pulau. Apakah kapal-kapal itu benar-benar sampai atau tidak, itu tak penting.
Diutuslah para empu, menyusun sajak-sajak dan pentas bagi mengagungkan sang Raja. Sementara, raja-raja muslim yang mendengar kedatangan kapal-kapal itu, tersenyum geli.
"Ya Allah," kata mereka. "Hayam Wuruk itu benar-benar dikibuli sang jenderal besar."
5
Sebab, tampaknya, semua orang selain Hayam Wuruk tahu: Saifuddin Qathiz, hanya setahun sebelum pasukan Sumpah Palapa itu berlayar, telah menghancurkan armada tempur Mongol di Ain Jalut. Umat Islam mendapatkan perisainya lagi, sekali lagi.
Tapi, raja-raja muslim itu tampaknya tahu apa yang terjadi di Istana Timur Majapahit. Sang Jenderal Besarlah, yang mengendalikan istana. Batalion khusus pengawal raja dan detasemen anti teror "Bhayangkara" telah menaikkan nama sang Gajah Mada, hingga Raja kehilangan kecerdikan untuk mengatur negara.
6
Mengenai kapal-kapal yang berlabuh di Jailolo atau Pasai, itu cerita lain. Tapi di Pulau Jawa, bagi rakyat Majapahit, kabar-kabar keberhasilan perang terus beredar dari para empu, tanpa perang yang sesungguhnya terjadi.
Rakyat hanya mendengar: "satu persatu wilayah Nuswantara telah berhasil tunduk kepada Majapahit!"
Di Trowulan, kini, Ibukota yang jauh dari pelabuhan itu, banjir besar terus terjadi. Penduduk Ibukota gelisah. "Mana harta dari keberhasilan Patih Gajah Mada menaklukkan Nuswantara?"
7
Dan istana, istana, mulai goncang. Para menteri dan gubernur sering diralat pernyataannya oleh Gajah Mada. Barangkali, karena tak sesuai dengan "fakta kemenangan armada Sumpah Palapa"
Aturan-aturan yang memusatkan segala kegiatan politik di tangan Raja, tepatnya di tangan sang Mahapatih, dibuat untuk "memudahkan pembangunan negara" serta "masuknya harta dari para pedagang-pedagang Islam"
8
Mengapa? Sebab raja-raja muslim di pintu timur dan barat Nusantara yang tersenyum geli tadi, akhirnya memberikan surat kepada para panglima Armada. "Pulanglah. Kami menitip pedagang-pedagang kami."
"Pedagang kami akan datang dari Champa, India, Farisi, Yaman, Syam, Afrika, dan Andalusia. Jaringan bisnis Kekhalifahan kami akan datang mendanai pelabuhan-pelabuhan baru di negaramu!"
9
Mengapa? Sebab raja-raja muslim di pintu timur dan barat Nusantara yang tersenyum geli tadi, akhirnya memberikan surat kepada para panglima Armada. "Pulanglah. Kami menitip pedagang-pedagang kami."
"Pedagang kami akan datang dari Champa, India, Farisi, Yaman, Syam, Afrika, dan Andalusia. Jaringan bisnis Kekhalifahan kami akan datang mendanai pelabuhan-pelabuhan baru di negaramu!"
10
Dari "sumpah palapa" tadi, investor-investor muslim datang atas nama "pedagang dari gujarat". Mereka datang membawa zaman baru ekonomi dan investasi. Pelabuhan-pelabuhan baru dikejar pembuatannya.
Sang Gajah Mada, terpaksa mengendalikan istana demi "kelancaran pembangunan negara". Dia, yang seorang prajurit militer tanpa kans atau kendaraan politik untuk jadi raja, sesungguhnya telah memenangkan takhta!
11
Jadi kalau hari ini, di atas runtuhan kerajaan Majapahit, di tanah yang sama, ada seorang jenderal besar, mengepalai sebuah proposal raksasa investasi dan militer untuk "membangun Nusantara",
Kita tidaklah perlu heran. Terutama bila sang jenderal lebih kuat daripada Raja Hayam Wuruk. Dan tak perlu ikut tersenyum geli, bila raja-raja Negeri Tetangga sering dibuat tersenyum pula dengan apa yang terjadi di dalam istana.
12
Bila Mahapatih Gajah Mada sukses dengan Detasemen Khusus Bhayangkara dan menangkal aksi terorisme Ra Kuti, maka jenderal kita mendirikan Detasemen 81, sebagai perintis segala pencegahan terorisme.
Sementara para empu terus menceritakan betapa hebatnya negara membangun; di saat yang sama pembangunan itu tidak menghidupi rakyatnya. Nanti kita akan tahu, kerajaan itu akan berakhir dengan Perang Paregreg. Perang saudara, bagi menyebut "siapa yang paling Majapahit" di antara dua saudara.
13
Sebab sang jenderal tak sadar.
Apa yang dilakukannya, akan menghancurkan negara, perlahan-lahan, hingga muncul lagi cara baru bernegara. Demak; yang istananya ada di sebalik mimbar masjid, yang lautan dijadikan sahabat bagi rakyatnya.
14
Barangkali hari ini, Hayam Wuruk boleh saja selalu mendapat laporan: "aman baginda," setiap ia bertanya.
Tapi rakyat, rakyat tak bisa dibohongi. Mereka mulai tahu permainan Gajah Mada dan mulai hidup tanpa negara. Letusan Semeru, Bromo, Merapi, atau juga pageblug besar yang melanda Majapahit, tidak diurus dengan baik.
Rakyat, tak lagi meminta apapun kepada Hayam Wuruk atau Gajah Mada. Ya, jenderal, rakyat telah sadar permainan itu.
suatu hari, berangkatlah armada besar yang gaungkan Sumpah Palapa ke berbagai penjuru. Sang Gajah Mada; Mahapatih Kerajaan Majapahit yang besar, yang agung, yang bhinneka.
Tahun-tahun itu, sang Gajah Mada, dengan matanya yang tajam lebih dari tahu. Bahwa, ikatan perserikatan raja-raja Islam sedang hancur. Serbuan Kekaisaran Mongol benar-benar menghancurkan segalanya.
2
Di pucuk Barat, Kerajaan Samudera Pasai, sedang kebingungan. Kapal-kapal dari Timur Tengah datang dalam kondisi mengenaskan. Bahtera yang biasanya membawa emas, kini membawa kabar bencana.
Di pucuk timur, Kesultanan Jailolo juga sedang menanti, kabar apa yang digiring angin barat kepada bukit-bukit. Gajah Mada tahu itu. Ia pastikan, dua tembok yang selama ini menjepit Majapahit, bisa dijebol habis.
3
Tetapi; di dalam istana, cukup banyak jenderal-jenderal dan keluarga kerajaan yang memicingkan mata. Sang Mahapatih, apakah wewenangnya sejauh itu?
Semuanya berbisik kepada Raja. Hayam Wuruk namanya. "Percayalah pada Gajah Mada," katanya. "Orang itu sangat kuat. Sangat sangat kuat."
Bisikan-bisikan dalam istana cuma dianggap iri dan ingin cari jabatan. Atau, "itu sisa-sisa pengikut pemberontak," kata Gajah Mada.
4
Lalu, berangkatlah kapal-kapal itu dari pelabuhan militer. Menuju berbagai pulau. Apakah kapal-kapal itu benar-benar sampai atau tidak, itu tak penting.
Diutuslah para empu, menyusun sajak-sajak dan pentas bagi mengagungkan sang Raja. Sementara, raja-raja muslim yang mendengar kedatangan kapal-kapal itu, tersenyum geli.
"Ya Allah," kata mereka. "Hayam Wuruk itu benar-benar dikibuli sang jenderal besar."
5
Sebab, tampaknya, semua orang selain Hayam Wuruk tahu: Saifuddin Qathiz, hanya setahun sebelum pasukan Sumpah Palapa itu berlayar, telah menghancurkan armada tempur Mongol di Ain Jalut. Umat Islam mendapatkan perisainya lagi, sekali lagi.
Tapi, raja-raja muslim itu tampaknya tahu apa yang terjadi di Istana Timur Majapahit. Sang Jenderal Besarlah, yang mengendalikan istana. Batalion khusus pengawal raja dan detasemen anti teror "Bhayangkara" telah menaikkan nama sang Gajah Mada, hingga Raja kehilangan kecerdikan untuk mengatur negara.
6
Mengenai kapal-kapal yang berlabuh di Jailolo atau Pasai, itu cerita lain. Tapi di Pulau Jawa, bagi rakyat Majapahit, kabar-kabar keberhasilan perang terus beredar dari para empu, tanpa perang yang sesungguhnya terjadi.
Rakyat hanya mendengar: "satu persatu wilayah Nuswantara telah berhasil tunduk kepada Majapahit!"
Di Trowulan, kini, Ibukota yang jauh dari pelabuhan itu, banjir besar terus terjadi. Penduduk Ibukota gelisah. "Mana harta dari keberhasilan Patih Gajah Mada menaklukkan Nuswantara?"
7
Dan istana, istana, mulai goncang. Para menteri dan gubernur sering diralat pernyataannya oleh Gajah Mada. Barangkali, karena tak sesuai dengan "fakta kemenangan armada Sumpah Palapa"
Aturan-aturan yang memusatkan segala kegiatan politik di tangan Raja, tepatnya di tangan sang Mahapatih, dibuat untuk "memudahkan pembangunan negara" serta "masuknya harta dari para pedagang-pedagang Islam"
8
Mengapa? Sebab raja-raja muslim di pintu timur dan barat Nusantara yang tersenyum geli tadi, akhirnya memberikan surat kepada para panglima Armada. "Pulanglah. Kami menitip pedagang-pedagang kami."
"Pedagang kami akan datang dari Champa, India, Farisi, Yaman, Syam, Afrika, dan Andalusia. Jaringan bisnis Kekhalifahan kami akan datang mendanai pelabuhan-pelabuhan baru di negaramu!"
9
Mengapa? Sebab raja-raja muslim di pintu timur dan barat Nusantara yang tersenyum geli tadi, akhirnya memberikan surat kepada para panglima Armada. "Pulanglah. Kami menitip pedagang-pedagang kami."
"Pedagang kami akan datang dari Champa, India, Farisi, Yaman, Syam, Afrika, dan Andalusia. Jaringan bisnis Kekhalifahan kami akan datang mendanai pelabuhan-pelabuhan baru di negaramu!"
10
Dari "sumpah palapa" tadi, investor-investor muslim datang atas nama "pedagang dari gujarat". Mereka datang membawa zaman baru ekonomi dan investasi. Pelabuhan-pelabuhan baru dikejar pembuatannya.
Sang Gajah Mada, terpaksa mengendalikan istana demi "kelancaran pembangunan negara". Dia, yang seorang prajurit militer tanpa kans atau kendaraan politik untuk jadi raja, sesungguhnya telah memenangkan takhta!
11
Jadi kalau hari ini, di atas runtuhan kerajaan Majapahit, di tanah yang sama, ada seorang jenderal besar, mengepalai sebuah proposal raksasa investasi dan militer untuk "membangun Nusantara",
Kita tidaklah perlu heran. Terutama bila sang jenderal lebih kuat daripada Raja Hayam Wuruk. Dan tak perlu ikut tersenyum geli, bila raja-raja Negeri Tetangga sering dibuat tersenyum pula dengan apa yang terjadi di dalam istana.
12
Bila Mahapatih Gajah Mada sukses dengan Detasemen Khusus Bhayangkara dan menangkal aksi terorisme Ra Kuti, maka jenderal kita mendirikan Detasemen 81, sebagai perintis segala pencegahan terorisme.
Sementara para empu terus menceritakan betapa hebatnya negara membangun; di saat yang sama pembangunan itu tidak menghidupi rakyatnya. Nanti kita akan tahu, kerajaan itu akan berakhir dengan Perang Paregreg. Perang saudara, bagi menyebut "siapa yang paling Majapahit" di antara dua saudara.
13
Sebab sang jenderal tak sadar.
Apa yang dilakukannya, akan menghancurkan negara, perlahan-lahan, hingga muncul lagi cara baru bernegara. Demak; yang istananya ada di sebalik mimbar masjid, yang lautan dijadikan sahabat bagi rakyatnya.
14
Barangkali hari ini, Hayam Wuruk boleh saja selalu mendapat laporan: "aman baginda," setiap ia bertanya.
Tapi rakyat, rakyat tak bisa dibohongi. Mereka mulai tahu permainan Gajah Mada dan mulai hidup tanpa negara. Letusan Semeru, Bromo, Merapi, atau juga pageblug besar yang melanda Majapahit, tidak diurus dengan baik.
Rakyat, tak lagi meminta apapun kepada Hayam Wuruk atau Gajah Mada. Ya, jenderal, rakyat telah sadar permainan itu.
Yusuf Qardhawi dan Dauroh
Suatu hari, Syaikh Yusuf Qardhawi, dalam sebuah catatan keberangkatan daurohnya mengenang saat-saat jamaahnya dibangun.
Ia pergi ke sebuah dauroh di tempat yang jauhnya begitu entah. Biasanya, pihak markas daerah akan memberinya bekal. Tetapi kali ini, tidak. Uang di sakunya, hanya cukup untuk biaya berangkat.
Saat itu, Syaikh Qardhawi muda, yang berusia 20-an tahun, mengira markas daerah yang mengundangnya akan membiayai. Iapun berangkat. Dengan semangat sederhana. Dengan cita-cita yang masih sederhana. Yang tak dikotori hasrat jabat-menjabat, negosiasi biaya politik, apalagi mencari panggung dan lain sebagainya.
Sesampainya di lokasi dauroh, seperti biasa, ia memandu Ikhwah di sana. Ia memandu pembinaan ruhani maupun intelektual. Dan, hari itu, saatnya ia pulang.
Syaikh muda itupun berangkat ke stasiun dengan diantar oleh Ikhwah di sana. Markas daerah itu belum juga memberi bekal pulang. Sementara, uang yang dimiliki syaikh telah habis untuk berangkat dan makan selama perjalanan.
Ternyata, sesampainya di stasiun, sang Syaikh ditinggal. Tanpa dibekali. "Aku tak pernah mengharapkan dibekali atau dibayar," kenang Syaikh berpuluh tahun kemudian.
"Akan tetapi saat itu, aku sangat berharap bisa pulang."
Akhirnya, sang syaikh, pura-pura menetap di stasiun sampai pengantar pergi. Syaikh, mulai berjalan melangkah. Berjalan kaki. Dalam kisahnya itu, saya lupa apakah tertulis 12 mil atau 12 KM. Tetapi, beliau benar-benar berjalan kaki.
"Aku tak melapor ke markas daerah asalku. Akupun tak enak meminta kepada akh pengantar itu." katanya. "Aku malu bila memberatkan orang lain saat berdakwah."
Bahwa, keikhlasan sang syaikh hari itu, yang barangkali membuat nama beliau sampai ke negeri ini. Yang membuat nasihat-nasihat dan buku beliau disampaikan Allah ke tangan kita, puluhan tahun setelah dauroh itu.
Begitulah. Instruktur, saat diminta berangkat, berangkatlah. Alamatkanlah perjalanan pergi dan pulangmu hanya kepada Allah.
Kisah Syaikh Qardhawi ini saya temukan dalam memoarnya. "Kenang-kenanganku Bersama Ikhwanul Muslimin."
Tetapi, sebagaimana itu. Beliau merasa terundang oleh panggilan Allah ke tempat-tempat itu. Tempat umat sedang penuh harap untuk memperbaiki dirinya.
Ia pergi ke sebuah dauroh di tempat yang jauhnya begitu entah. Biasanya, pihak markas daerah akan memberinya bekal. Tetapi kali ini, tidak. Uang di sakunya, hanya cukup untuk biaya berangkat.
Saat itu, Syaikh Qardhawi muda, yang berusia 20-an tahun, mengira markas daerah yang mengundangnya akan membiayai. Iapun berangkat. Dengan semangat sederhana. Dengan cita-cita yang masih sederhana. Yang tak dikotori hasrat jabat-menjabat, negosiasi biaya politik, apalagi mencari panggung dan lain sebagainya.
Sesampainya di lokasi dauroh, seperti biasa, ia memandu Ikhwah di sana. Ia memandu pembinaan ruhani maupun intelektual. Dan, hari itu, saatnya ia pulang.
Syaikh muda itupun berangkat ke stasiun dengan diantar oleh Ikhwah di sana. Markas daerah itu belum juga memberi bekal pulang. Sementara, uang yang dimiliki syaikh telah habis untuk berangkat dan makan selama perjalanan.
Ternyata, sesampainya di stasiun, sang Syaikh ditinggal. Tanpa dibekali. "Aku tak pernah mengharapkan dibekali atau dibayar," kenang Syaikh berpuluh tahun kemudian.
"Akan tetapi saat itu, aku sangat berharap bisa pulang."
Akhirnya, sang syaikh, pura-pura menetap di stasiun sampai pengantar pergi. Syaikh, mulai berjalan melangkah. Berjalan kaki. Dalam kisahnya itu, saya lupa apakah tertulis 12 mil atau 12 KM. Tetapi, beliau benar-benar berjalan kaki.
"Aku tak melapor ke markas daerah asalku. Akupun tak enak meminta kepada akh pengantar itu." katanya. "Aku malu bila memberatkan orang lain saat berdakwah."
Bahwa, keikhlasan sang syaikh hari itu, yang barangkali membuat nama beliau sampai ke negeri ini. Yang membuat nasihat-nasihat dan buku beliau disampaikan Allah ke tangan kita, puluhan tahun setelah dauroh itu.
Begitulah. Instruktur, saat diminta berangkat, berangkatlah. Alamatkanlah perjalanan pergi dan pulangmu hanya kepada Allah.
Kisah Syaikh Qardhawi ini saya temukan dalam memoarnya. "Kenang-kenanganku Bersama Ikhwanul Muslimin."
Tetapi, sebagaimana itu. Beliau merasa terundang oleh panggilan Allah ke tempat-tempat itu. Tempat umat sedang penuh harap untuk memperbaiki dirinya.
Instruktur dan Al-Qur'an
Memang, kita ini, instuktur, senang menumpuk-numpuk amanah. Kita mengira sedang berdakwah. Padahal kita hanya melarikan diri dari masalah rumah, dari masalah pertemanan, dan dari kesepian kita yang tidak seberapa.
Suatu hari kita akan dipaksa menyadari bahwa ada amanah-amanah yang tidak produktif. Yang, meskipun disebut sebagai amanah dakwah, tapi malah menjauhkan lisan kita dari menyebut nama Allah, dan dari Al-Qur'an.
*
Instruktur. Kapan terakhir kali kita berkumpul bukan untuk mendaftar aib barisan, bukan untuk mencela kegagalan kerja:
Tetapi untuk hanya sekadar membaca Al-Qur'an bersama-sama, saling memastikan hafalan, dan mematutkan lafazh-lafazh agar tepat pada tempatny. Kapan terakhir kali kita membicarakan Al-Qur'an, sehingga sepulang agenda dakwah itu, bertambahlan Al-Qur'an dalam dada kita?
*
Instruktur adalah parameter keimanan dalam gerakan ini. Melalui dauroh, para peserta akan memahami bagaimana kultur dan cara pandang gerakan kepada Al-Qur'an dan ibadah.
Akan tetapi, barangkali hati kita memang telah terlalu membatu untuk sekadar mendengarkan pembacaan ayat-ayat itu ketika syuro, atau juga menuntaskan murojaah dan tilawah barang setengah juz sehari. Kita menerjemahkan dauroh sebagai medan pamer bacaan dan kutipan ucapan tokoh yang tidak pernah temui, sampai subuh menjelang.
*
Instruktur. Sampai ketemu di dauroh terdekat. Di tempat itu, kita saling bertukar hafalan, saling menyimak bacaan.
Kita harus menjadikan pertemuan kita adalah tempat hafalan-hafalan ditambah, dan diluruskan. Jadilah seseorang, yang bila peserta melihatnya saja, mereka akan mematut-matutkan diri mereka.
Orang, yang bila kita melihatnya, kita tidak segan melepaskan telepon genggam dan menggantinya dengan Al-Qur'an. Yang orang akan merasa mubazir bila bicara selain Al-Qur'an kepada dirinya.
Jazak
Suatu hari kita akan dipaksa menyadari bahwa ada amanah-amanah yang tidak produktif. Yang, meskipun disebut sebagai amanah dakwah, tapi malah menjauhkan lisan kita dari menyebut nama Allah, dan dari Al-Qur'an.
*
Instruktur. Kapan terakhir kali kita berkumpul bukan untuk mendaftar aib barisan, bukan untuk mencela kegagalan kerja:
Tetapi untuk hanya sekadar membaca Al-Qur'an bersama-sama, saling memastikan hafalan, dan mematutkan lafazh-lafazh agar tepat pada tempatny. Kapan terakhir kali kita membicarakan Al-Qur'an, sehingga sepulang agenda dakwah itu, bertambahlan Al-Qur'an dalam dada kita?
*
Instruktur adalah parameter keimanan dalam gerakan ini. Melalui dauroh, para peserta akan memahami bagaimana kultur dan cara pandang gerakan kepada Al-Qur'an dan ibadah.
Akan tetapi, barangkali hati kita memang telah terlalu membatu untuk sekadar mendengarkan pembacaan ayat-ayat itu ketika syuro, atau juga menuntaskan murojaah dan tilawah barang setengah juz sehari. Kita menerjemahkan dauroh sebagai medan pamer bacaan dan kutipan ucapan tokoh yang tidak pernah temui, sampai subuh menjelang.
*
Instruktur. Sampai ketemu di dauroh terdekat. Di tempat itu, kita saling bertukar hafalan, saling menyimak bacaan.
Kita harus menjadikan pertemuan kita adalah tempat hafalan-hafalan ditambah, dan diluruskan. Jadilah seseorang, yang bila peserta melihatnya saja, mereka akan mematut-matutkan diri mereka.
Orang, yang bila kita melihatnya, kita tidak segan melepaskan telepon genggam dan menggantinya dengan Al-Qur'an. Yang orang akan merasa mubazir bila bicara selain Al-Qur'an kepada dirinya.
Jazak
Mental Set Seorang Instruktur (2)
Untuk Instruktur Kalimantan Selatan
Assalamu alaikum, instruktur. Malam ini saya akan sampaikan seputar mental set. Hal-hal yang berkaitan dengan loyalitas kita kepada gerakan ini.
Sebelum itu, mari berpikir. Apa itu dauroh? Mengapa kita harus mengajak orang berangkat dauroh? Mengapa orang tak hendak berangkat dauroh?
Mengapa di KAMMI menggunakan sistem dauroh?
Mengapa orang berbondong-bondong masuk ke dalam jamaah ini, lalu mengapa pula ada sekelompok orang keluar dari kammi?
Instruktur. Saat antum mengasesmen pada momen ekspektasi kelas; ada hal penting yang ditulis sebagai harapan semua orang, pada DM 1. Harapan itu adalah:
"Ana ingin mengenal islam, ana ingin berjuang untuk islam, ana ingin bergerak di barisan islam."
Maka, orang-orang itu dengan penuh harap, mencoba menyerap apa yang ditawarkan oleh imat pada saat dauroh. Mereka mencoba membandingkan antara gaya penyampaian, susunan acara, gerak gerik panitia. Semua akan berujung pada satu kesimpulan akhir:
Apakah saya akan bergabung ke dalam kammi?
*
Lalu, ada sebagian dari mereka, jawabannya adalah Ya. Mereka menganggap, kammi menjawab kebutuhan mereka tentang islam.
Mereka percaya bahwa kammi mampu menjaga amalan ibadah mereka. Mereka percaya bahwa kammi mampu menjaga salat mereka. Puasa mereka. Bacaan Al-Qur'an mereka. Dan lain sebagainya.
Lantas; dauroh demi dauroh diadakan, dan merekapun lebih intens lagi berinteraksi dengan instruktur sebagai sumber ilmu primer dalam dauroh.
Mereka, memahami kammi dari dauroh. Di antara mereka, ada yang memandang dauroh sebagai masjid. Satu-satunya tempat mereka salat berjamaah tanpa terlambat.
Ada di antara mereka yang memandang dauroh sebagai tempat mabit: tempat mereka salat qiyamul lail sambil meneteskan air mata.
Instruktur sekalian. Demi menjawab kebutuhan orang atas dauroh semacam itu; dibuatlah Manhaj Pengaderan. Dibuatlah serangkaian Indeks Jatidiri Kader (IJDK). Dibuatlah berbagai macam standar dauroh:
Bahwa dauroh adalah soal hijab yang dijaga. Bahwa dauroh adalah soal hapalan wajib yang mesti disetor. Bahwa seakan-akan engkau memasuki tempat dauroh sebagaimana memasuki masjid. Kau buka alas kakimu. Kau buka jaketmu yang terlalu mencolok.
Kau tahan tertawamu yang tak perlu. Kau tahan urusan sindir menyindir. Kau tahan dendammu kepada para pengurus lain. Sebab engkau sedang memasuki sebuah tempat ibadah. Ya, sebuah tempat ibadah, bernama dauroh!
Demi memastikan dauroh sebagai tempat datangnya ampunan Allah dan berkah itulah; korps ini dibuat. Demi menjaga agar nama Allahlah yang disebut dalam dauroh, maka dibuat khusus sebuah dauroh mencetak instruktur. TFI namanya.
Itu sebabnya, untuk datang TFI, haruslah seorang itu AB 2. Bukan, bukan masalah pencapaian bacaan yang setinggi langit; pergerakan yang progresif, atau soal buku-buku tebal yang mampu ia habiskan dalam sepekan.
Tapi soal kualitas akidah dan keimanan yang memang, dibatasi oleh standar AB 2. Bahwa dia harus punya hapalan sekian. Bahwa dia harus paham fikih salat. Bahwa dia harus paham fikih muamalah sehari-hari.
Bahwa dia harus paham fikih prioritas. Dia harus hafal dua juz Al-Qur'an. Dia harus pula punya kebiasaan qiyamul-lail.
Bila tidak; bila IJDK instruktur saja tak terkontrol, maka jangan harap di dalam dauroh ampunan akan turun dan berkah akan datang.
*
Akhi, ukhti sekalian instruktur Kalimantan Selatan.
Ana pernah datang ke sebuah dauroh. Jauh di pelosok kota. Dua hari perjalanan dari Jakarta. Sesampainya di sana, ternyata para pemateri akhirnya membatalkan kedatangan. Walhasil, saya mengisi sebagian besar materi selama empat hari.
Di sana; termasuk ketua KAMMDA, pengurus daerah hanya empat orang dan semuanya akhwat. Kuat. Hebat.
Mereka menyelenggarakan semuanya: cari penginapan, cari pemateri, hingga merangkap semua perangkat. Tak ada satupun keluhan di sana. Tak ada sedikitpun kejengahan kepada mereka yang tak hadir.
Tapi bukan itu yang mau saya ceritakan. Di hari kedua dauroh, sekretariat yang mereka pinjam dari seorang ustadz, ternyata terjual. Sang Ustadz memang menjualnya. Akan tetapi, pembelinya memaksa untuk mengisi rumah di malam itu.
Apa yang terjadi? Mereka berempat mengosongkan sekretariat. Tanpa mengeluh. Mereka meninggalkan lokasi dauroh; dan "mengungsikan" barang-barang kammda ke rumah kos mereka masing-masing.
Saya akhirnya menghandle hari kedua hingga usai dauroh. Tapi saya bahagia. Mereka tak sama sekali mengeluh tentang kejadian itu.
*
Akhi, ukhti, instruktur sekalian. Ini semua soal bagaimana kita mendengar panggilan dakwah itu.
Saat semua orang memilih pergi, ternyata antum dipilih oleh Allah untuk beringan kaki dan datang ke dauroh.
Saat semua orang ditahan Allah bahkan untuk menjawab panggilan dauroh; antum dipilih oleh Allah untuk menjadi instruktur.
Berbahagialah. Dan syukuri saja, dengan memastikan bahwa di dalam daurih:
Ibadah masih terjaga. Nama Allah masih disebut, dan ukhuwwah masihlah utuh.
Tak perlu menyindir mereka yang tak menjawab. Tak perlu membatin mereka yang tak datang.
sebab, pahala dauroh ini memang hadiah khusus untuk mereka yang datang.
Assalamu alaikum, instruktur. Malam ini saya akan sampaikan seputar mental set. Hal-hal yang berkaitan dengan loyalitas kita kepada gerakan ini.
Sebelum itu, mari berpikir. Apa itu dauroh? Mengapa kita harus mengajak orang berangkat dauroh? Mengapa orang tak hendak berangkat dauroh?
Mengapa di KAMMI menggunakan sistem dauroh?
Mengapa orang berbondong-bondong masuk ke dalam jamaah ini, lalu mengapa pula ada sekelompok orang keluar dari kammi?
Instruktur. Saat antum mengasesmen pada momen ekspektasi kelas; ada hal penting yang ditulis sebagai harapan semua orang, pada DM 1. Harapan itu adalah:
"Ana ingin mengenal islam, ana ingin berjuang untuk islam, ana ingin bergerak di barisan islam."
Maka, orang-orang itu dengan penuh harap, mencoba menyerap apa yang ditawarkan oleh imat pada saat dauroh. Mereka mencoba membandingkan antara gaya penyampaian, susunan acara, gerak gerik panitia. Semua akan berujung pada satu kesimpulan akhir:
Apakah saya akan bergabung ke dalam kammi?
*
Lalu, ada sebagian dari mereka, jawabannya adalah Ya. Mereka menganggap, kammi menjawab kebutuhan mereka tentang islam.
Mereka percaya bahwa kammi mampu menjaga amalan ibadah mereka. Mereka percaya bahwa kammi mampu menjaga salat mereka. Puasa mereka. Bacaan Al-Qur'an mereka. Dan lain sebagainya.
Lantas; dauroh demi dauroh diadakan, dan merekapun lebih intens lagi berinteraksi dengan instruktur sebagai sumber ilmu primer dalam dauroh.
Mereka, memahami kammi dari dauroh. Di antara mereka, ada yang memandang dauroh sebagai masjid. Satu-satunya tempat mereka salat berjamaah tanpa terlambat.
Ada di antara mereka yang memandang dauroh sebagai tempat mabit: tempat mereka salat qiyamul lail sambil meneteskan air mata.
Instruktur sekalian. Demi menjawab kebutuhan orang atas dauroh semacam itu; dibuatlah Manhaj Pengaderan. Dibuatlah serangkaian Indeks Jatidiri Kader (IJDK). Dibuatlah berbagai macam standar dauroh:
Bahwa dauroh adalah soal hijab yang dijaga. Bahwa dauroh adalah soal hapalan wajib yang mesti disetor. Bahwa seakan-akan engkau memasuki tempat dauroh sebagaimana memasuki masjid. Kau buka alas kakimu. Kau buka jaketmu yang terlalu mencolok.
Kau tahan tertawamu yang tak perlu. Kau tahan urusan sindir menyindir. Kau tahan dendammu kepada para pengurus lain. Sebab engkau sedang memasuki sebuah tempat ibadah. Ya, sebuah tempat ibadah, bernama dauroh!
Demi memastikan dauroh sebagai tempat datangnya ampunan Allah dan berkah itulah; korps ini dibuat. Demi menjaga agar nama Allahlah yang disebut dalam dauroh, maka dibuat khusus sebuah dauroh mencetak instruktur. TFI namanya.
Itu sebabnya, untuk datang TFI, haruslah seorang itu AB 2. Bukan, bukan masalah pencapaian bacaan yang setinggi langit; pergerakan yang progresif, atau soal buku-buku tebal yang mampu ia habiskan dalam sepekan.
Tapi soal kualitas akidah dan keimanan yang memang, dibatasi oleh standar AB 2. Bahwa dia harus punya hapalan sekian. Bahwa dia harus paham fikih salat. Bahwa dia harus paham fikih muamalah sehari-hari.
Bahwa dia harus paham fikih prioritas. Dia harus hafal dua juz Al-Qur'an. Dia harus pula punya kebiasaan qiyamul-lail.
Bila tidak; bila IJDK instruktur saja tak terkontrol, maka jangan harap di dalam dauroh ampunan akan turun dan berkah akan datang.
*
Akhi, ukhti sekalian instruktur Kalimantan Selatan.
Ana pernah datang ke sebuah dauroh. Jauh di pelosok kota. Dua hari perjalanan dari Jakarta. Sesampainya di sana, ternyata para pemateri akhirnya membatalkan kedatangan. Walhasil, saya mengisi sebagian besar materi selama empat hari.
Di sana; termasuk ketua KAMMDA, pengurus daerah hanya empat orang dan semuanya akhwat. Kuat. Hebat.
Mereka menyelenggarakan semuanya: cari penginapan, cari pemateri, hingga merangkap semua perangkat. Tak ada satupun keluhan di sana. Tak ada sedikitpun kejengahan kepada mereka yang tak hadir.
Tapi bukan itu yang mau saya ceritakan. Di hari kedua dauroh, sekretariat yang mereka pinjam dari seorang ustadz, ternyata terjual. Sang Ustadz memang menjualnya. Akan tetapi, pembelinya memaksa untuk mengisi rumah di malam itu.
Apa yang terjadi? Mereka berempat mengosongkan sekretariat. Tanpa mengeluh. Mereka meninggalkan lokasi dauroh; dan "mengungsikan" barang-barang kammda ke rumah kos mereka masing-masing.
Saya akhirnya menghandle hari kedua hingga usai dauroh. Tapi saya bahagia. Mereka tak sama sekali mengeluh tentang kejadian itu.
*
Akhi, ukhti, instruktur sekalian. Ini semua soal bagaimana kita mendengar panggilan dakwah itu.
Saat semua orang memilih pergi, ternyata antum dipilih oleh Allah untuk beringan kaki dan datang ke dauroh.
Saat semua orang ditahan Allah bahkan untuk menjawab panggilan dauroh; antum dipilih oleh Allah untuk menjadi instruktur.
Berbahagialah. Dan syukuri saja, dengan memastikan bahwa di dalam daurih:
Ibadah masih terjaga. Nama Allah masih disebut, dan ukhuwwah masihlah utuh.
Tak perlu menyindir mereka yang tak menjawab. Tak perlu membatin mereka yang tak datang.
sebab, pahala dauroh ini memang hadiah khusus untuk mereka yang datang.
Langganan:
Postingan (Atom)