Rabu, 15 April 2020

Untuk Para Ahli Al-Qur'an

1
 Suatu hari, seorang sahabat Nabi pergi ke sebuah tempat. Ia menjumpai tenda-tenda dari sekelompok orang. Ia terpana. Bacaan ayat-ayat Al-Qur'an tergetar dari sana. Indah sekali. Ia terhanyut. Dan bahkan ia menangis.

Tapi ia tak berhenti. Ia terus berjalan. Hari itu, ia ingin menemui Khalifah. Ali bin Abu Thalib. Di Kufah. Ya; Ibukota baru saja dipindahkan ke Kufah, dari Madinah.

2
Ia menceritakan itu kepada Khalifah Ali. Ia takjub. Menjelang 30 tahun setelah Rasulullah meninggal, ia masih ingat detik-detik saat membaca Al-Qur'an adalah kejahatan di Kota Makkah. Sekarang, adalah sebuah tren.

Tetapi Khalifah Ali hanya tersenyum kecut. Telah ia tunggu-tunggu datangnya zaman itu; saat satu demi satu perkataan Rasul tentang akhir zaman terjadi. "Jangan kau kagum pada mereka," kata Ali.

3
"Rasulullah, pernah mengatakan," kata Ali, " Suatu hari nanti ada orang bacaan Qur'annya menakjubkan kita. Salatnya lebih panjang dari kita...." tutur sang Khalifah.

 "tetapi, mereka keluar dari agama ini lebih cepat dari anak panah melesat dari busurnya." sahabat, saat itu, kelompok orang yang membaca Qur'an tadi, dikenal dengan kelompok "Ahlul Qurra" . Para pembaca Al-Qur'an.

4
Berjalanlah hari-hari seperti putusnya untaian mata tasbih. Fitnah menyeruak. Perang, terjadi. Khalifah Ali terlibat perselisihan dengan orang yang tak pernah kita duga: sang Gubernur Syam.

Satu dari sedikit penulis wahyu yang masih hidup. Orang yang bergelar "Paman Kaum Muslimin" karena beliau, adalah  ipar Rasulullah. Adiknya, Ummu Habibah, adalah istri sang Nabi.

Beliau adalah, Mu'awiyah bin Abu Sufyan. Kalangan Ahlul Qurra' ini tak mampu menggapai apa yang sesungguhnya terjadi.

5
Dengan bacaan Qur'an yang indah itu; mereka memerangi Ali maupun Mu'awiyah. Dengan salat malam yang sangat panjang itu, mereka merancang sebuah bencana.

"Membunuh Khalifah Ali dan Mu'awiyah di saat bersamaan." dan terjadilah; di tahun yang ditunggu-tunggu Ali itu; sebuah pedang mengoyak kepalanya. Di subuh hari. Saat matahari belum lagi mengerti apa yang terjadi.

Bacaan Qur'an mereka yang panjang dan indah itu, tak membuat mereka memahami apa yang tengah mereka lakukan!

6
Hari itu, kita akan mengenang dua hal. Pertama. Terbunuhnya seorang Khalifah Rasyidah, salah satu lelaki pertama dalam islam; dan munculnya sebuah kelompok yang membaca Al-Qur'an, menghafal Al-Qur'an, yang bahkan sanadnya belum jauh dari Rasulullah.

Di antara mereka yang membunuh Ali, bahkan ada orang yang mendengar langsung Al-Qur'an dari Rasulullah!

Kedua: munculnya sebuah kelompok sesat dalam islam, yang ibadahnya akan mengagumkam kita. Tetapi, mereka melesat jauh dari islam sebagaimana anak panah. Khawarij, namanya.

7
Mereka akan dikenal sebagai kelompok teror pembuat onar yang bacaan Qur'annya indah; kajian fikihnya mendalam; dan ibadahnya begitu tegak.

Suatu hari karena teror yang mereka lakukan, Khalifah Abdul Malik bin Marwan, lima puluh tahun setelah gugurnya Khalifah Ali, memanggil mereka ke Istana Bani Umayyah di Damaskus. Benar saja; penampilan dan ibadahnya benar-benar mengesankan.

"Hampir saja terbayang di mataku, surga diciptakan untuk mereka!"

8
Saat engkau berada di barisan dakwah; atau berada di sebuah gerakan, banyak-banyaklah merenungkan.

Saat engkau lebih banyak memusuhi orang daripada merekat persatuan; saat engkau lebih banyak mengeluarkan orang dari islam daripada memasukkan manusia ke dalam agama ini:

Barangkali engkau baru menyadarinya ketika darah kaum muslimin telah membekas di kedua tanganmu. Padahal, engkau adalah penghafal Qur'an, engkau adalah ahli salat malam.

Abu Utsman Al-Jahizh, sang Penggila Buku

1
Kalau engkau ke Basrah; lewat seribu tahun lalu, saat kanal-kanal dengan kapal kecil yang mencelah-celahi kota itu riang dengan tikar-tikar penjual ikan, ada seorang anak.

Matanya besar. Nyaris seperti mata ikan yang dijualnya itu. Kulitnya hitam. Garis matanya menjelaskan: ia begadang semalaman. Apa urusan anak penjual ikan segar begadang semalaman? 

Tentu, tentu, urusannya adalah urusan kita, yang jadi kepentingan mengapa cerita ini dituliskan.

2
Malam ini, tetaplah terjaga. Ikutlah jejak kedua kaki anak penjual ikan kita ini. Ke sebuah tempat yang pasti. Semenjak petang, ia telah di sana.

Di sebuah toko buku. Di tengah kota. "Oh, hai Anakku!" kata pemilik toko buku. "Ini kuncinya. Awaslah lampumu membakar tokoku!"

Ya. Ia menyewa toko buku itu, untuk semalam, dengan uangnya sendiri. Anak tepi kanal itu; anak penjual ikan kita itu, mencari-cari sebuah kitab yang dibacanya kemarin.

3
"Jadi," katanya. "Jangankan Tuhan,"

"Kitapun bersilang pendapat mengenai, apa itu matahari dan tak mampu menggapai hakikatnya."

"Lapisan langit yang berlubang, penuh dengan api, dan memiliki mulut yang mengembus panas dan cahaya. Itulah matahari dalam alam pikiran Anaximenes. Campuran unsur-unsur api yang dipantik uap basah, itulah kata Xenophanes. Kepingan-kepingan api, itulah kata Plato."

4
Mata kedua anak penjual ikan kita ini semakin tenggelam. Bertahun-tahun lamanya. Kisah seorang anak yang menyewa toko buku untuk membaca semalamam ini, segera menyergap perbincangan orang-orang di Basrah.

Kini, ia telah remaja. Ia menjumpai berbagai perdebatan orang tentang kebenaran. Kebiasaannya menyewa toko buku, masih ia teruskan hingga kini, di Baghdad, di pusat Ibukota Pengetahuan Dunia.

5
Ia ingin menulis segala sesuatu; dalam pencariannya kepada bangunan kebenaran dunia. Ensiklopedi "Al-Hayawan", sebuah saduran, kritik, dan bantahan kepada Aristoteles ditulisnya.

Ia ditasbih, hingga seribu tahun usianya hari ini, sebagai " Bapak Teori Evolusi Makhluk Hidup." hewan-hewan, katanya, "harus berjuang untuk bertahan hidup"

6
"Mein Kampf", agaknya inilah judulnya dalam Bahasa Jerman. " Perjuanganku". 

Kita tak pernah tahu, adakah Adolf Hitler membaca buku hasil menginapnya anak penjual ikan kita ini di toko buku semalaman. "The Origin of Species," itulah judulnya dalam bahasa lain.

Saat Darwin menemukan, memang benarlah hewan-hewan yang mirip adalah satu keluarga.

7
Tetapi bukan itu keperluan kita. Ilmu Biologi telah berkembang. Mari kita meninjau sejenak hasil pencariannya kepada hakikat angin:

"Suara," katanya, "adalah benda yang bergetar di udara. Udara itu mengantarkan suara ke telinga manusia. Sedangkan manusia terus berbicara tentang hidup mereka sepanjang hari. Bagaimana bila suara-suara ini tetap tinggal di udara?"

8
"Jika suara-suara ini tetap di udara sebagaimana kertas, dunia ini akan sesak dengan segala keresahan dan kesakitan kita."

"Sang Pencipta, yang Mahamengetahui, telah menjadikan udara sebagai lembaran kertas yang rahasia. Udara menyampaikan kata-kata kita seperlunya. Kemudian," katanya:

"Kata-kata itu terhapus oleh angin, dan udara bersih kembali. Tanpa perlu bersusah payah, angin, dengan setia, terus mengantarkan segala sesuatu yang kita bebankan padanya."

10
Syahdan, legenda tentang "anak penjual ikan berkulit hitam yang ahli filsafat" ini sampai ke gerbang Istana Khalifah di Baghdad. Al-Ma'mun, ingin memanggilnya menjadi guru bagi anak-anaknya.

"Tetapi, wahai Amirul Mukminin," kata seorang menteri. "Ia punya gaya belajar yang mengerikan."

"Tak apa," kata Khalifah.  "Biarkan ia bertemu anakku dulu."

11
Tetapi pagi itu, sang pangeran menghadap ayahnya. "Aku takut, Ayah!" katanya.

"Cara belajarnya benar-benar mengerikan! Ia memintaku membaca buku sejak petang hingga fajar tanpa istirahat!"

Ya. Cara membaca anak penjual ikan ini tidaklah tertandingi di zamannya. Akhirnya, Khalifah hanya memintanya menulis berbagai buku, untuk disebar ke penjuru negeri.

12
Dari Baghdad, lima puluh tahun setelah ia menghabiskan segala buku yang pernah ditulis oleh umat manusia, matanya mengkhianati dirinya sendiri.

Ia lumpuh. Kehidupan malamnya bersama buku-buku harus ditebus dengan tubuhnya sendiri. Ia, dengan ditandu, kemudian menyepi. Ia menyembunyikan dirinya, pulang ke kotanya yang lama. Ke tempat kanal-kanal membelah, dan aroma ikan-ikan di pasar pinggir kanal itu mengantarnya pada masa kecilnya dulu:

Saat cinta, ia tafsirkan sebagai menyewa toko buku.

13
Hari itu, di rumahnya, ia menata kembali buku-bukunya. Di lemari. Tinggi. Limapuluh tahun yang luar biasa di Baghdad. Ia menemukan kebenaran itu dan hendak menuliskannya.

Lalu di atas meja, ia mulai menulis. Tentang segala kebenaran. Tentang segala kebakhilan dunia. Tentang penemuannya kepada kenyataan. Lalu, buku-buku di lemari mulai condong padanya. Mengintip apa yang ditulisnya.

Sambil menggumam; ia melukis kebenaran itu dengan bantuan segala benda-benda yang hadir di ingatannya.

14
Buku-buku yang mengintip tuannya yang sedang menulis itu tak sabar. Mereka berdesakan ingin tahu kebenaran apa yang dituliskan.

Merekapun ambruk. Runtuh; menimpa sang anak penjual ikan itu. Iapun wafat seketika. Bersama buku-buku, dengan cara yang barangkali, menjelaskan betapa bukulah yang mencintainya, lebih dari ia mencintai buku.

Abu Utsman Al-Jahizh Al-Mu'tazili. Bapak Teori Evolusi, salah satu tokoh filsafat islam. Itulah nama anak penjual ikan ini!

15
Ia adalah, "pakar dari teori suara. Ia juga adalah 'Bapak Teori Evolusi' yang mencetuskan kekerabatan antar binatang." tulis jurnal-jurnal ilmiah hari ini.

"Ia adalah salah satu tokoh Muktazilah yang berhasil membantah ketidaktahuan orang atheis bahwa Tuhan ada, dengan berbagai penalaran yang tak dapat ditandingi."

16
Memang, ada kelirunya juga Abu Utsman Al-Jahizh ini. Pemikiran Muktazilah jauh menelusup dalam sumsumnya. Akan tetapi, perjuangannya menemukan inti segala kebenaran; itulah inti cerita ini.

Kebersamaanya dengan buku tak dapat dilambangkan kecuali dengan kematiannya, yang berakhir di timbunan buku-buku. Kalau engkau mendengar kisah "ulama yang meninggal tertimpa buku-buku koleksinya yang banyak",

Maka Abu Utsman Al-Jahizhlah orangnya.

Puisi dan Tanda-Tanda

1
Akar dari segala bahasa, adalah tanda. Tanda-tanda itu dapat hadir di mana saja, menyimbolkan apa saja. Tetapi, selain tanda yang dikeluarkan oleh manusia, tak ada tanda yang dikeluarkan untuk berbohong dan sia-sia.

Mendung; adalah tanda atau bahasa langit akan datangnya hujan. Merah senja, adalah tanda malam akan menjelang. Sebuah dahan dipatahkan, lalu berbunyi "krek!" adalah bahasa bahwa ia telah patah.

2
Segala tanda-tanda bunyi, yang kita saksikan di alam, tidak melalui mulut manusia bukanlah tanda bahasa yang sia-sia. Tidak jahat, tidak pula baik menurut sesuatu pihak. Tidak berdusta, tidak pula memaksa.  Segala bunyi bahasa yang kita dengar dari mulut manusia, dapat digunakan oleh nafsunya untuk memanipulasi orang lain.

Puisi sebagai sebuah gejala bahasa manusia, sudah tentu mengandung kotoran itu. Ia mengandung nois, ia mengandung kebohongan, ia mengandung ketidakjujuran. Akan tetapi, dapat juga ia menjadi puisi yang jujur, yang baik, yang alami.

4
Alam tak akan pernah berbohong. Kejujurannya itu mengakibatkan ia menjadi indah. Alam, adalah makhluk Allah yang berbahasa dengan hanya bunyi yang ia perlukan. Tak akan pernah dahan patah berbunyi sebagai raungan gunung meletus. Tak akan mau gemulung ombak bersuara sebagai angin yang menjangkiti rumpun bambu.

Saat kita menulis puisi, kebohongan-kebohongan hiperbola  terus kita tulis atas kesepian yang tak seberapa, atas cinta yang tak indah-indah amat, atau rindu yang sebetulnya biasa saja.

5
Dengan begitu, sahabat, tulislah puisi yang alami. Puisi yang hanya melambangkan bagi sesuatu yang benar-benar diperlukan. Puisi yang tak pernah berbohong.

Tulislah puisi yang akan dibacakan di surga, kelak, saat engkau, penyair, telah memasukinya. Puisi itu, "la yasma'una fiha laghwa wa la kizzaba", tidak ada di surga itu kita akan mendengar perkataan sia-sia dan dusta.

6
Puisi itu, adalah puisi-puisi yang cermat membahasai apa yang perlu dibahasai. Segala perangkat keindahan, pada dasarnya hanyalah jalan pintas untuk memperindah bahasa puisi. Majas, kias, rima, irama. Itu semua hanya alat keindahan.

Tetapi, inti dari segala puisi, inti dari segala bahasa, adalah makna. Apa yang dilambangkannya. Kesepian apa yang dilambangkannya.

7
Barangkali kita terbiasa menulis omong kosong yang kita beri rima agar indah, atau juga kebohongan yang dipatut-patutkan dengan kata-kata arkais.

Itulah fungsi agama pada penyair. Mengembalikan puisinya pada kejernihan bahasa; mengembalikan bahasanya pada semurni-murninya tanda. Tanpa niatan memalsukan. Sebagaimana dahan patah, akan berbunyi sebagaimana dahan patah. Tak akan dahan patah, sampai hati memalsukan bunyinya.

8
Jujurlah. Agar puisi-puisi itu dibaca lagi di surga di hadapan penyairnya. Tempat yang tak akan dikatakan sesuatu, "illa qilan salaman-salama".

Puisi-puisi yang beruluk salam, yang indah. Sebab bila kejujuran itu tak disampaikan dengan indah, ia akan menjadi kejahatan. Bila keadilan dibahasakan tidak dengan bunyi-bunyi yang tepat, ia akan menjelma kezaliman. Itulah, itulah mengapa manusia mengkristalkan bahasa tuturnya menjadi puisi.

Sajak Untuk Milad KAMMI

Selamat Ulang Tahun, Bang

selamat ulang tahun, Bang
Terimakasih telah mengajari aku
apa artinya berkhianat
saat situasi semakin gawat
dan jalan ini memerlukan taubat yang kuat
Lalu apa artinya dikhianati
ketika slogan-slogan berjamaah
adalah festival paling meriah
bagi merancang masa depan umat yang kalah.

Memanglah hak kita
untuk tidak memperdebatkan siapa yang bersalah
apalagi siapa yang kalah. Karena dakwah:
tentang siapa yang paling mahir bertahan
dari sakit hati dan kecewa yang rutin kita dapatkan
serta idealisme yang harus, harus diubah
demi kepentingan panggung dan kesopanan
kitapun, Bang, harus terus berharap
usia kita akan memanjang
seiring ulangtahun musiman yang terus dirayakan

Pembelaan kita kepada teman-teman di jalan, Bang, rupanya
adalah cara terbaik memberikan pesan
bahwa keadaan sedang tak terlalu aman
tetapi kita, bang, kita menyerah
kita takut pada celaan orang, atau
pada orang-orang tua yang terlalu cepat mundur
dari garis depan pencarian kita
terhadap kebenaran

kita menjadi tua, Bang,
menjadi pemuda dengan paras renta
yang lazimnya tak lagi bicara perlawanan; kezaliman, atau
usaha-usaha serius dan melelahkan
untuk menggali keadilan dari kuburnya
tulang belulang berusia duapuluh dua
yang kita bebani dengan cara hidup manusia lanjut usia

Selamat ulang tahun, Bang
ingatan kita tentang rabithah yang mewah
tentu tak bakal membuat kita saling menikam
hanya karena perebutan wewenang
atau tentang siapa yang paling berhak
tampil ke depan. Abang,
bukankah kita telah sepakat, kebatilan
adalah musuh abadi kita. Persaudaraan:
adalah watak muamalah kita?
Selamat, bang. Selamat ulang tahun
dari adikmu, yang selalu engkau sayang.


Milad KAMMI ke-22
2020

Gajah Mada dan Permainan Jenderal

1
suatu hari, berangkatlah armada besar yang gaungkan Sumpah Palapa ke berbagai penjuru. Sang Gajah Mada; Mahapatih Kerajaan Majapahit yang besar, yang agung, yang bhinneka.

Tahun-tahun itu, sang Gajah Mada, dengan matanya yang tajam lebih dari tahu. Bahwa, ikatan perserikatan raja-raja Islam sedang hancur. Serbuan Kekaisaran Mongol benar-benar menghancurkan segalanya.

2
Di pucuk Barat, Kerajaan Samudera Pasai, sedang kebingungan. Kapal-kapal dari Timur Tengah datang dalam kondisi mengenaskan. Bahtera yang biasanya membawa emas, kini membawa kabar bencana.

Di pucuk timur, Kesultanan Jailolo juga sedang menanti, kabar apa yang digiring angin barat kepada bukit-bukit. Gajah Mada tahu itu. Ia pastikan, dua tembok yang selama ini menjepit Majapahit, bisa dijebol habis.

3
Tetapi; di dalam istana, cukup banyak jenderal-jenderal dan keluarga kerajaan yang memicingkan mata. Sang Mahapatih, apakah wewenangnya sejauh itu?

Semuanya berbisik kepada Raja. Hayam Wuruk namanya. "Percayalah pada Gajah Mada," katanya. "Orang itu sangat kuat. Sangat sangat kuat."

Bisikan-bisikan dalam istana cuma dianggap iri dan ingin cari jabatan. Atau, "itu sisa-sisa pengikut pemberontak," kata Gajah Mada.

4
Lalu, berangkatlah kapal-kapal itu dari pelabuhan militer. Menuju berbagai pulau. Apakah kapal-kapal itu benar-benar sampai atau tidak, itu tak penting. 

Diutuslah para empu, menyusun sajak-sajak dan pentas bagi mengagungkan sang Raja. Sementara, raja-raja muslim yang mendengar kedatangan kapal-kapal itu, tersenyum geli.

"Ya Allah," kata mereka. "Hayam Wuruk itu benar-benar dikibuli sang jenderal besar."

5
Sebab, tampaknya, semua orang selain Hayam Wuruk tahu: Saifuddin Qathiz, hanya setahun sebelum pasukan Sumpah Palapa itu berlayar, telah menghancurkan armada tempur Mongol di Ain Jalut. Umat Islam mendapatkan perisainya lagi, sekali lagi.

Tapi, raja-raja muslim itu tampaknya tahu apa yang terjadi di Istana Timur Majapahit. Sang Jenderal Besarlah, yang mengendalikan istana. Batalion khusus pengawal raja dan detasemen anti teror "Bhayangkara" telah menaikkan nama sang Gajah Mada, hingga Raja kehilangan kecerdikan untuk mengatur negara.

6
Mengenai kapal-kapal yang berlabuh di Jailolo atau Pasai, itu cerita lain. Tapi di Pulau Jawa, bagi rakyat Majapahit, kabar-kabar keberhasilan perang terus beredar dari para empu, tanpa perang yang sesungguhnya terjadi.

Rakyat hanya mendengar: "satu persatu wilayah Nuswantara telah berhasil tunduk kepada Majapahit!"

Di Trowulan, kini, Ibukota yang jauh dari pelabuhan itu, banjir besar terus terjadi. Penduduk Ibukota gelisah. "Mana harta dari keberhasilan Patih Gajah Mada menaklukkan Nuswantara?"

7
Dan istana, istana, mulai goncang. Para menteri dan gubernur sering diralat pernyataannya oleh Gajah Mada. Barangkali, karena tak sesuai dengan "fakta kemenangan armada Sumpah Palapa"

Aturan-aturan yang memusatkan segala kegiatan politik di tangan Raja, tepatnya di tangan sang Mahapatih, dibuat untuk "memudahkan pembangunan negara" serta "masuknya harta dari para pedagang-pedagang Islam"

8
 Mengapa? Sebab raja-raja muslim di pintu timur dan barat Nusantara yang tersenyum geli tadi, akhirnya memberikan surat kepada para panglima Armada. "Pulanglah. Kami menitip pedagang-pedagang kami."

"Pedagang kami akan datang dari Champa, India, Farisi, Yaman, Syam, Afrika, dan Andalusia. Jaringan bisnis Kekhalifahan kami akan datang mendanai pelabuhan-pelabuhan baru di negaramu!"

9
Mengapa? Sebab raja-raja muslim di pintu timur dan barat Nusantara yang tersenyum geli tadi, akhirnya memberikan surat kepada para panglima Armada. "Pulanglah. Kami menitip pedagang-pedagang kami."

"Pedagang kami akan datang dari Champa, India, Farisi, Yaman, Syam, Afrika, dan Andalusia. Jaringan bisnis Kekhalifahan kami akan datang mendanai pelabuhan-pelabuhan baru di negaramu!"

10
Dari "sumpah palapa" tadi, investor-investor muslim datang atas nama "pedagang dari gujarat". Mereka datang membawa zaman baru ekonomi dan investasi. Pelabuhan-pelabuhan baru dikejar pembuatannya.

Sang Gajah Mada, terpaksa mengendalikan istana demi "kelancaran pembangunan negara". Dia, yang seorang prajurit militer tanpa kans atau kendaraan politik untuk jadi raja, sesungguhnya telah memenangkan takhta!

11
Jadi kalau hari ini, di atas runtuhan kerajaan  Majapahit, di tanah yang sama, ada seorang jenderal besar, mengepalai sebuah proposal raksasa investasi dan militer untuk "membangun Nusantara",

Kita tidaklah perlu heran. Terutama bila sang jenderal lebih kuat daripada Raja Hayam Wuruk. Dan tak perlu ikut tersenyum geli, bila raja-raja Negeri Tetangga sering dibuat tersenyum pula dengan apa yang terjadi di dalam istana.

12
Bila Mahapatih Gajah Mada sukses dengan Detasemen Khusus Bhayangkara dan menangkal aksi terorisme Ra Kuti, maka jenderal kita mendirikan Detasemen 81, sebagai perintis segala pencegahan terorisme.

Sementara para empu terus menceritakan betapa hebatnya negara membangun; di saat yang sama pembangunan itu tidak menghidupi rakyatnya. Nanti kita akan tahu, kerajaan itu akan berakhir dengan Perang Paregreg. Perang saudara, bagi menyebut "siapa yang paling Majapahit" di antara dua saudara.

13
Sebab sang jenderal tak sadar.

Apa yang dilakukannya, akan menghancurkan negara, perlahan-lahan, hingga muncul lagi cara baru bernegara. Demak; yang istananya ada di sebalik mimbar masjid, yang lautan dijadikan sahabat bagi rakyatnya.

14
Barangkali hari ini, Hayam Wuruk boleh saja selalu mendapat laporan: "aman baginda," setiap ia bertanya.

Tapi rakyat, rakyat tak bisa dibohongi. Mereka mulai tahu permainan Gajah Mada dan mulai hidup tanpa negara. Letusan Semeru, Bromo, Merapi, atau juga pageblug besar yang melanda Majapahit, tidak diurus dengan baik.

Rakyat, tak lagi meminta apapun kepada Hayam Wuruk atau Gajah Mada. Ya, jenderal, rakyat telah sadar permainan itu.

Yusuf Qardhawi dan Dauroh

Suatu hari, Syaikh Yusuf Qardhawi, dalam sebuah catatan keberangkatan daurohnya mengenang saat-saat jamaahnya dibangun.

Ia pergi ke sebuah dauroh di tempat yang jauhnya begitu entah. Biasanya, pihak markas daerah akan memberinya bekal. Tetapi kali ini, tidak. Uang di sakunya, hanya cukup untuk biaya berangkat.

Saat itu, Syaikh Qardhawi muda, yang berusia 20-an tahun, mengira markas daerah yang mengundangnya akan membiayai. Iapun berangkat. Dengan semangat sederhana. Dengan cita-cita yang masih sederhana. Yang tak dikotori hasrat jabat-menjabat, negosiasi biaya politik, apalagi mencari panggung dan lain sebagainya.

Sesampainya di lokasi dauroh, seperti biasa, ia memandu Ikhwah di sana. Ia memandu pembinaan ruhani maupun intelektual. Dan, hari itu, saatnya ia pulang.

Syaikh muda itupun berangkat ke stasiun dengan diantar oleh Ikhwah di sana. Markas daerah itu belum juga memberi bekal pulang. Sementara, uang yang dimiliki syaikh telah habis untuk berangkat dan makan selama perjalanan.

Ternyata, sesampainya di stasiun, sang Syaikh ditinggal. Tanpa dibekali. "Aku tak pernah mengharapkan dibekali atau dibayar," kenang Syaikh berpuluh tahun kemudian.

"Akan tetapi saat itu, aku sangat berharap bisa pulang."

Akhirnya, sang syaikh, pura-pura menetap di stasiun sampai pengantar pergi. Syaikh, mulai berjalan melangkah. Berjalan kaki. Dalam kisahnya itu, saya lupa apakah tertulis 12 mil atau 12 KM. Tetapi, beliau benar-benar berjalan kaki.

"Aku tak melapor ke markas daerah asalku. Akupun tak enak meminta kepada akh pengantar itu." katanya. "Aku malu bila memberatkan orang lain saat berdakwah."

Bahwa, keikhlasan sang syaikh hari itu, yang barangkali membuat nama beliau sampai ke negeri ini. Yang membuat nasihat-nasihat dan buku beliau disampaikan Allah ke tangan kita, puluhan tahun setelah dauroh itu.

Begitulah. Instruktur, saat diminta berangkat, berangkatlah. Alamatkanlah perjalanan pergi dan pulangmu hanya kepada Allah.

Kisah Syaikh Qardhawi ini saya temukan dalam memoarnya. "Kenang-kenanganku Bersama Ikhwanul Muslimin."

Tetapi, sebagaimana itu. Beliau merasa terundang oleh panggilan Allah ke tempat-tempat itu. Tempat umat sedang penuh harap untuk memperbaiki dirinya.