Rabu, 15 April 2020

Ilmu Sanad dalam Penciptaan Karya Sastra

I
Sanad, menunjukkan betapa adabmu kepada sumber ilmu. Sebab, pengetahuan saja bisa kau dapat dari media sosial.

Tapi sanad, memastikan ilmumu benar, adabmu benar, dan kau dikenal oleh lingkungan tempat ilmu itu dikembangkan.

II

Dalam dunia puisi, adakah yang semacam itu? Ada. Seseorang disebut penyair bukan karena dia menulis puisi. Penulis puisi, berbeda dengan penyair.

Dia mengandung tiga makna. Mengabdikan dirinya untuk puisi, lalu lahir dan turut terlibat dalam ekosistem budaya, dan ada orang bersaksi bahwa karyanya bernilai. Orang ini, disebut sebagai "kritikus sastra".

III

 Para "penyair" di zaman sekarang, rata-rata adalah mereka yang viral. Bukan mereka yang punya sanad. Apa maksudnya? Tak ada pertanggungjawaban dalam karya mereka.

Padahal, puisi adalah sebuah ilmu. Bukan cuma racauan semata. Ilmu puisi semacam ini, harus dipertanggungjawabkan. Puisi-puisi kita, harus dikaji secara ilmiah. Dalam sebuah metode "kritik sastra", dan pula, harus mau kita terlibat dalam "pengembangan budaya"

IV

Mengapa Umar bin Khattab mengatakan, pengajaran puisi berdampak kepada keberanian orang? Sebab, puisi adalah sebuah sikap.

Puisi yang jujur selalu adalah puisi yang melawan sesuatu. Puisi yang baik, adalah selalu yang di atas kata-kata, tak hanya bicara diri dan segala keakuannya, tapi mengabadikan usaha manusia di suatu zaman melawan sesuatu.

Itu sebabnya, ada "Angkatan sastra."

V

Jadi, bukan masalah segera membukukan puisi, atau ikut lomba, menang, lalu kau jadi pembicara di mana-mana. Atas puisi-puisi yang kau bikin setengah sadar dan ternyata dianggap bagus.

Hari ini, ada istilah baru. "Poet-shaming" atau penghinaan pada puisi. Para penulis puisi mula dan baperan, yang tak paham sastra membela racauan-racauannya dan mencoba melawan tatanan keilmuan dan sanad sastra Indonesia yang hampir mapan.

VI

Kau harus punya sanad kata. Kau belajar pada pakar linguistik, kau belajar makna sebuah kata. Bahwa kata "Cinta" misalnya, berasal dari bahasa Sanskerta. Maknanya, berkaitan dengan "kepada sesuatu yang fana" dan berkonsekuensi pada "kekhawatiran dan kekecewaan."

Lalu, kau menggunakan itu untuk Tuhan. "Tuhan, aku cinta padamu." dia cinta kepada Tuhan tapi masih kecewa. Sedangkan, kekecewaan hanya didapat dari kefanaan, karena yang kita cintai itu suatu saat pasti hilang. Tapi Tuhan tidak.

VII

Muncul sekelompok orang yang menulis dengan mematah-matahkan sintaksis. Padahal dia harus memahami bagaimana Bahasa Indonesia bekerja. Perubahan kelas kata: bagaimana cara kata kerja berubah menjadi kata sifat? Bagaimana kata "kucing" bisa berubah jadi kata kerja dengan mengubah posisi sintaksisnya atau dengan menambah imbuhannya?

Itulah pentingnya sanad sastra. Agar pembaca puisi Indonesia tak melulu membaca sampah. Agar kita tak hanya baca tulisan yang seolah-olah saja puisi.

VIII

Saat Ibnu Abbas, radhiallahu'anhu, seorang sahabat Nabi yang paling menguasai ilmu tafsir itu luang atau bosan, ia biasa berkata, "berikan aku buku puisi."

Aisyah radhiallahu'anha, istri Rasulullah, dikisahkan menghafal 18.000 bait syair. Apa implikasinya? Penguasaan mereka atas bahasa, membuat Ibnu Abbas mampu memahami Al-Qur'an. Setiap kata, setiap konteks dan makna cerita dalam Al-Qur'an sehingga tafsirnya kuat. Aisyah, dengan penguasaannya kepada kata, dipilih Allah untuk menyampaikan hadis dalam jumlah luarbiasa.

IX

 Orang yang dekat dengan sanad puisi, menghargai adab berpuisi, dan menghargai para penyair, niscaya Allah akan memberinya suatu tugas tertentu berkaitan dengan bahasa.

Ibnu Ishaq, salah satu penyusun kitab induk dalam ilmu Sirah, adalah seorang kritikus sastra. Bila kita baca Kitab Sirahnya dari riwayat Ibnu Hisyam, beliau kerap memberi komentar pada sajak para sahabat Nabi: "ini baitnya tertukar. Ini diksinya janggal, kemungkinan ditambah oleh orang lain...."

X

 Mulai hari ini. Belilah sebuah buku puisi. Dari seorang penyair. Bacalah pelan-pelan, dan bukalah kamus besar bahasa kita.

Mulai hari ini, berhenti anggap puisimu bagus, dan belajarlah adab kepada puisi dan dunia sastra.

Mengapa Manusia Perlu Beragama?

1
Setelah Allah menjelaskan 3 jenis manusia di hadapan Al-Qur'an sebagai sumber ilmu, dalam pembukaan surat Al-Baqarah: Mutaqqin, Kaafirin, dan Munaafiqin, Allah menjelaskan fungsi agama dalam kisah Nabi Adam dan Iblis.

"Siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, tak ada pada mereka ketakutan dan kesedihan."

Dalam rangka menghilangkan ketakutan dan kesedihan itulah, kita mencari petunjuk hidup.

2
Maka dalam rangka mencari obat dari ketakutan dan kesedihan itu, Bani Adam mencari petunjuk baru. Di antara mereka ada yang menemukan agama-agama baru ciptaan benak.

Ada juga di antara mereka menciptakan isme-isme: Marxisme, Leninisme, Sosialisme, Fasisme, Liberalisme, atau juga Marhaenisme.

Mengapa? Sebab ketidaktahuan, atau ketidakpercayaan mereka pada "petunjuk Allah."

3
Lalu, di Juz 1 itu, sebagai kelanjutan kisah Adam dan Iblis, Allah menjelaskan kisah Bani Israil.

"Sikap manusia kepada ilmu." itulah intinya.

Saat Musa meninggalkan mereka 40 hari lamanya, mereka tak sabar dan menyembah sapi.  Saat Musa meminta mereka menyembah Allah:

"Kami tak akan menyembah-Nya sebelum melihat-Nya dengen jelas."

4
Saat Allah meminta mereka hijrah ke Palestina, mereka keberatan, tetapi Allah menurunkan makanan segar dari langit. Manna dan Salwa. Serta 12 mata air yang memancar dari sebuah batu.

Tetapi mereka malah ingkar. Itulah yang hendak diceritakan Allah melalui Juz 1. Sikap manusia kepada sumber ilmu.

5
Kebanyakan orang mempelajari agama, belum cukup sampai pada penyerahan diri untuk menghilangkan ketakutan dan kesedihannya di dunia ini hanya kepada Allah.

Juga, sebagian dari kita bersikap seperti Bani Israil. "Apa hukumnya..." atau "bagaimana fatwanya begini, sedangkan..."

Bahwa, sejak Juz 1 saja Allah telah menggambarkan pada kita, bahwa ilmu tak akan didapat dengan sikap yang salah.

6
Jadi, mengapa orang menolak agama?

Pertama. Sejak awal, sikap dia kepada ketakutan dan kesedihan hidupnya sendiri, keliru.

Kedua. Sikap keilmuan dia kepada sumber ilmu, keliru. Pura-pura kritis, pura-pura cerdas. Itulah gambaran Bani Israil.

7
Dan mengapa kita butuh agama?

Untuk menemukan cara, bagaimana menghilangkan ketakutan dan kesedihan. Itulah fungsinya. Itulah mengapa segera setelah turun dari Surga, Adam butuh "Huda". Butuh petunjuk Agama Allah.

Sebab, ketakutan dan kesedihan datang dari ketidakapastian. Dan agama hadir memberikan kepastian hukum serta jaminan keadilan itu.

8
Lalu mengapa kita harus berdakwah, mengajak orang kepada Agama?

Jelas. Mengajak mereka untuk bangkit dari ketakutan dan kesedihanya, lantaran ketidakpastian. Dan ketidakpastian itu muncul karena ketiadaan agama.

Kita harus mengajak orang pada agama, karena kebutuhan kita untuk bebas dari rasa takut dan sedih, bahwa orang yang kita cintai akan binasa.

Itu semua disebut: empati.

9
Itulah sebab, mengapa para pemeluk agama marah saat dibandingkan ideologi negara. Karena mereka, kita, yakin bahwa agama ini adalah cara terbaik menghilangkan ketakutan dan kesedihan hidup akibat penindasan, ketidakadilan, dan kebodohan manusia itu sendiri.

Sebab di satu sisi, kita juga yakin, bahwa segala "petunjuk buatan manusia' adalah sumber ketidakpastian itu sendiri. Sumber dari penindasan itu sendiri.

10
Usaha untuk menukar agama orang dengan ideologi ciptaan manusia di tengah kemiskinan yang justru muncul karena penerapan ideologi manusia itu adalah sia-sia.

Terutama, di negeri ini. Saat agama benar-benar memberikan kepastian dan tambatan, atas ketidakmampuan benak manusia menyingkirkan ketakutan dan kesedihan, dengan segala "isme" ciptaannya sendiri.

Atas ketidakmampuan "isme" ciptaan negara menghilangkan ketakutan dan kesedihan rakyatnya sendiri. Agamalah jawaban bagi negeri ini.

Falsafah Dasar Penciptaan Puisi

1
Saat kita menulis puisi, sesungguhnya, apa yang sedang kita tulis?

Pada dasarnya, puisi adalah bahasa. Bahasa manusia yang berkata-kata. Yang bukan sekadar meracau, atau gejala reflek yang menghasilkan bahasa konkret, semacam teriakan kesakitan, atau tertawa. Puisi, adalah bahasa sejelas-jelasnya bahasa. Tetapi, apakah bahasa itu?

2
Suatu hari, saat Allah menciptakan Adam, lalu mengajarkan padanya nama segala sesuatu, selain nama benda-benda yang kita kenal: bunga, batu, tanah, awan....barangkali nama-nama itu juga termasuk nama bagi "ketiadaan sesuatu"

Nama itu, barangkali juga mencakup "simbol bagi sesuatu yang tak terindera". Apa nama bagi "keadilan"? Apa nama bagi " ketiadaan keadilan?" apa nama bagi "cinta"? Apa nama bagi " ketiadaan cinta"?

3
Sedangkan, bahasa itu arbitrer. Sebutan bagi sesuatu belum tentu merupakan "bunyi" atau "bentuk" sesuatu. Sebuah kata, belum tentu wakil indrawi dari benda yang dia rujuk.

Tapi, ada satu yang mengganjal pikiran saya. Kalau kita reka kembali saat Adam diperkenalkan kepada Malaikat, di surat Al-Baqarah ayat 30, malaikat menyangsikan penciptaan Adam. Mereka mengatakan:  mengapa Bumi diamanahkan kepada mereka yang bakal merusak dan menumpahkan darah di sana? Tapi, yang menarik adalah, jawaban Allah.

4
"Aku lebih mengetahui apa yang tidak kalian ketahui," firman Allah. Lalu, "Kami ajarkan kepada Adam, nama segala sesuatu."

Setelah Adam menyebutkan nama segala sesuatu itu hadapan para Malaikat, maka Malaikat itu terpuaskan. Seakan-akan, nama segala sesuatu itu menjamin Adam agar tak melakukan kerusakan dan pertumpahan darah, sebagaimana perkiraan para Malaikat. Seakan-akan Adam belajar nama bagi "dampak kerusakan" dan "risiko pertumpahan darah".

5
Berarti, setiap "nama" yang diajarkan kepada Adam, bukanlah nama yang arbitrer. Dia nama yang merujuk pada kerusakan dan pertumpahan darah yang terjadi sebelumnya. Yang membuat Malaikat mengaitkan Adam dengan kerusakan itu.

Nama segala sesuatu, dalam kisah ini, adalah "bahasa". Sebab, "bahasa" itu, adalah nama, adalah sebutan bagi sesuatu, ketiadaan sesuatu, keadaan sesuatu, dan kegiatan sesuatu. Sebab barangkali Adam menjamin kepada Malaikat, dia memahami  nama segala sesuatu. Keadilan, kedamaian, dan kebahagiaan.

6
Saat kita menggunakan "bahasa" untuk menulis puisi, maka kita memang harus mengerti maknanya. Sebab, pemahaman kita kepada bahasa, kepada "nama segala sesuatu" itulah, yang menjamin Adam di hadapan malaikat.

Nama apa itu? Bahasa apa itu? Bahasa, yang membuat Adam tidak melakukan kerusakan dan pertumpahan darah. Nama "sesuatu" yang menjamin Adam berhasil memakmurkan bumi sebagai Khalifah. Apa yang saya bicarakan ini, adalah, "falsafah bahasa" . mengapa manusia menggunakan bahasa.

7
Dari pemahaman mengapa manusia menamai segala sesuatu, membahasai sesuatu itulah, ada satu produk bahasa yang kita sebut "puisi".

Dari segala upaya manusia menamai segala sesuatu, ada satu upaya manusia yang disebut puisi untuk menamai apa yang terjadi di sekelilingnya dengan cara-cara yang lebih indah, mengena, dan padat. Itulah mengapa puisi-puisi terus diciptakan manusia. Itulah mengapa, puisi berbeda dengan ungkapan biasa.

8
Saat kita menulis sebuah puisi, ada suatu pengertian untuk menjamin, agar manusia tercegah dari berbuat kerusakan dan menumpahkan darah.

Dari puisi-puisi itu tersimpan "nama-nama yang mencegah Adam berbuat yufsidu fiha wa yasfiquddima" . bukan sebatas kata-kata indah, atau kebohongan-kebohongan yang kebetulan bunyinya indah. Sebab tidak semua bunyi adalah bahasa, dan tidak semua bunyi yang indah adalah puisi.

9
Kita yang berlindung dibalik idiom "pengarang telah mati" atau  "puisi adalah milik pembaca seusai diciptakan" barangkali berbeda pandangan dengan kesusastraan islam. Atau, jangan-jangan, itu cuma kalimat untuk menutupi betapa tidak pahamnya kita kepada bahan baku puisi, yaitu bahasa.

Sebab, kita memang lebih senang, dan tentu lebih mudah, menulis kebohongan yang bunyinya indah. Kita lebih senang menulis sesuatu yang cepat populer, sampah yang menghibur, dan bualan-bualan yang membius. Tapi, itu bukan puisi. Bahkan barangkali itu bukan bahasa.

10
Saya tidak hendak memberat-beratkan orang, atau menakut-nakuti orang agar tak menulis puisi. Tapi tolong pahami, bahwa  "bahasa" bukan hanya sekadar igauan kosong yang kebetulan punya makna, dan lantas kita bilang itu arbitrer. Lalu saat kita rangkai itu jadi puisi, kita katakan pengarang telah mati.

sedang, yang "allamahul bayan" adalah Allah. Yang "allama adam al-asma" adalah Allah. Lalu mengapa kita menggunakannya, seolah-olah bahasa tidak punya makna kemanusiaan, sebagaimana penjelasan Adam kepada Malaikat?

11
Kata-kata, bahasa yang digunakan tidak untuk mencegah manusia berbuat kerusakan dan menumpahkan darah, tetaplah bahasa.

Puisi yang tidak ditulis untuk mencegah itu semua, atau tidak dengan kesadaran "bahasa merupakan anugerah Tuhan kepada manusia" juga tetaplah puisi.

Tetapi, itu bukanlah puisi, yang kita buat. Itu bukanlah puisi orang yang memahami ketuhanan. Itu bukanlah puisi yang memahami bahasa sebagai asal-muasal dirinya.

12
Berbahasalah. Dan cegahlah kerusakan serta pertumpahan darah itu. Namailah segala sesuatu untuk menjawab pertanyaan:

Apakah Adil itu? Apakah damai itu? Apakah nama bagi ketiadaan keadilan itu? Apakah nama bagi ketiadaan kedamaian itu? Namailah semuanya dengan puisi!

Untuk Para Ahli Al-Qur'an

1
 Suatu hari, seorang sahabat Nabi pergi ke sebuah tempat. Ia menjumpai tenda-tenda dari sekelompok orang. Ia terpana. Bacaan ayat-ayat Al-Qur'an tergetar dari sana. Indah sekali. Ia terhanyut. Dan bahkan ia menangis.

Tapi ia tak berhenti. Ia terus berjalan. Hari itu, ia ingin menemui Khalifah. Ali bin Abu Thalib. Di Kufah. Ya; Ibukota baru saja dipindahkan ke Kufah, dari Madinah.

2
Ia menceritakan itu kepada Khalifah Ali. Ia takjub. Menjelang 30 tahun setelah Rasulullah meninggal, ia masih ingat detik-detik saat membaca Al-Qur'an adalah kejahatan di Kota Makkah. Sekarang, adalah sebuah tren.

Tetapi Khalifah Ali hanya tersenyum kecut. Telah ia tunggu-tunggu datangnya zaman itu; saat satu demi satu perkataan Rasul tentang akhir zaman terjadi. "Jangan kau kagum pada mereka," kata Ali.

3
"Rasulullah, pernah mengatakan," kata Ali, " Suatu hari nanti ada orang bacaan Qur'annya menakjubkan kita. Salatnya lebih panjang dari kita...." tutur sang Khalifah.

 "tetapi, mereka keluar dari agama ini lebih cepat dari anak panah melesat dari busurnya." sahabat, saat itu, kelompok orang yang membaca Qur'an tadi, dikenal dengan kelompok "Ahlul Qurra" . Para pembaca Al-Qur'an.

4
Berjalanlah hari-hari seperti putusnya untaian mata tasbih. Fitnah menyeruak. Perang, terjadi. Khalifah Ali terlibat perselisihan dengan orang yang tak pernah kita duga: sang Gubernur Syam.

Satu dari sedikit penulis wahyu yang masih hidup. Orang yang bergelar "Paman Kaum Muslimin" karena beliau, adalah  ipar Rasulullah. Adiknya, Ummu Habibah, adalah istri sang Nabi.

Beliau adalah, Mu'awiyah bin Abu Sufyan. Kalangan Ahlul Qurra' ini tak mampu menggapai apa yang sesungguhnya terjadi.

5
Dengan bacaan Qur'an yang indah itu; mereka memerangi Ali maupun Mu'awiyah. Dengan salat malam yang sangat panjang itu, mereka merancang sebuah bencana.

"Membunuh Khalifah Ali dan Mu'awiyah di saat bersamaan." dan terjadilah; di tahun yang ditunggu-tunggu Ali itu; sebuah pedang mengoyak kepalanya. Di subuh hari. Saat matahari belum lagi mengerti apa yang terjadi.

Bacaan Qur'an mereka yang panjang dan indah itu, tak membuat mereka memahami apa yang tengah mereka lakukan!

6
Hari itu, kita akan mengenang dua hal. Pertama. Terbunuhnya seorang Khalifah Rasyidah, salah satu lelaki pertama dalam islam; dan munculnya sebuah kelompok yang membaca Al-Qur'an, menghafal Al-Qur'an, yang bahkan sanadnya belum jauh dari Rasulullah.

Di antara mereka yang membunuh Ali, bahkan ada orang yang mendengar langsung Al-Qur'an dari Rasulullah!

Kedua: munculnya sebuah kelompok sesat dalam islam, yang ibadahnya akan mengagumkam kita. Tetapi, mereka melesat jauh dari islam sebagaimana anak panah. Khawarij, namanya.

7
Mereka akan dikenal sebagai kelompok teror pembuat onar yang bacaan Qur'annya indah; kajian fikihnya mendalam; dan ibadahnya begitu tegak.

Suatu hari karena teror yang mereka lakukan, Khalifah Abdul Malik bin Marwan, lima puluh tahun setelah gugurnya Khalifah Ali, memanggil mereka ke Istana Bani Umayyah di Damaskus. Benar saja; penampilan dan ibadahnya benar-benar mengesankan.

"Hampir saja terbayang di mataku, surga diciptakan untuk mereka!"

8
Saat engkau berada di barisan dakwah; atau berada di sebuah gerakan, banyak-banyaklah merenungkan.

Saat engkau lebih banyak memusuhi orang daripada merekat persatuan; saat engkau lebih banyak mengeluarkan orang dari islam daripada memasukkan manusia ke dalam agama ini:

Barangkali engkau baru menyadarinya ketika darah kaum muslimin telah membekas di kedua tanganmu. Padahal, engkau adalah penghafal Qur'an, engkau adalah ahli salat malam.

Abu Utsman Al-Jahizh, sang Penggila Buku

1
Kalau engkau ke Basrah; lewat seribu tahun lalu, saat kanal-kanal dengan kapal kecil yang mencelah-celahi kota itu riang dengan tikar-tikar penjual ikan, ada seorang anak.

Matanya besar. Nyaris seperti mata ikan yang dijualnya itu. Kulitnya hitam. Garis matanya menjelaskan: ia begadang semalaman. Apa urusan anak penjual ikan segar begadang semalaman? 

Tentu, tentu, urusannya adalah urusan kita, yang jadi kepentingan mengapa cerita ini dituliskan.

2
Malam ini, tetaplah terjaga. Ikutlah jejak kedua kaki anak penjual ikan kita ini. Ke sebuah tempat yang pasti. Semenjak petang, ia telah di sana.

Di sebuah toko buku. Di tengah kota. "Oh, hai Anakku!" kata pemilik toko buku. "Ini kuncinya. Awaslah lampumu membakar tokoku!"

Ya. Ia menyewa toko buku itu, untuk semalam, dengan uangnya sendiri. Anak tepi kanal itu; anak penjual ikan kita itu, mencari-cari sebuah kitab yang dibacanya kemarin.

3
"Jadi," katanya. "Jangankan Tuhan,"

"Kitapun bersilang pendapat mengenai, apa itu matahari dan tak mampu menggapai hakikatnya."

"Lapisan langit yang berlubang, penuh dengan api, dan memiliki mulut yang mengembus panas dan cahaya. Itulah matahari dalam alam pikiran Anaximenes. Campuran unsur-unsur api yang dipantik uap basah, itulah kata Xenophanes. Kepingan-kepingan api, itulah kata Plato."

4
Mata kedua anak penjual ikan kita ini semakin tenggelam. Bertahun-tahun lamanya. Kisah seorang anak yang menyewa toko buku untuk membaca semalamam ini, segera menyergap perbincangan orang-orang di Basrah.

Kini, ia telah remaja. Ia menjumpai berbagai perdebatan orang tentang kebenaran. Kebiasaannya menyewa toko buku, masih ia teruskan hingga kini, di Baghdad, di pusat Ibukota Pengetahuan Dunia.

5
Ia ingin menulis segala sesuatu; dalam pencariannya kepada bangunan kebenaran dunia. Ensiklopedi "Al-Hayawan", sebuah saduran, kritik, dan bantahan kepada Aristoteles ditulisnya.

Ia ditasbih, hingga seribu tahun usianya hari ini, sebagai " Bapak Teori Evolusi Makhluk Hidup." hewan-hewan, katanya, "harus berjuang untuk bertahan hidup"

6
"Mein Kampf", agaknya inilah judulnya dalam Bahasa Jerman. " Perjuanganku". 

Kita tak pernah tahu, adakah Adolf Hitler membaca buku hasil menginapnya anak penjual ikan kita ini di toko buku semalaman. "The Origin of Species," itulah judulnya dalam bahasa lain.

Saat Darwin menemukan, memang benarlah hewan-hewan yang mirip adalah satu keluarga.

7
Tetapi bukan itu keperluan kita. Ilmu Biologi telah berkembang. Mari kita meninjau sejenak hasil pencariannya kepada hakikat angin:

"Suara," katanya, "adalah benda yang bergetar di udara. Udara itu mengantarkan suara ke telinga manusia. Sedangkan manusia terus berbicara tentang hidup mereka sepanjang hari. Bagaimana bila suara-suara ini tetap tinggal di udara?"

8
"Jika suara-suara ini tetap di udara sebagaimana kertas, dunia ini akan sesak dengan segala keresahan dan kesakitan kita."

"Sang Pencipta, yang Mahamengetahui, telah menjadikan udara sebagai lembaran kertas yang rahasia. Udara menyampaikan kata-kata kita seperlunya. Kemudian," katanya:

"Kata-kata itu terhapus oleh angin, dan udara bersih kembali. Tanpa perlu bersusah payah, angin, dengan setia, terus mengantarkan segala sesuatu yang kita bebankan padanya."

10
Syahdan, legenda tentang "anak penjual ikan berkulit hitam yang ahli filsafat" ini sampai ke gerbang Istana Khalifah di Baghdad. Al-Ma'mun, ingin memanggilnya menjadi guru bagi anak-anaknya.

"Tetapi, wahai Amirul Mukminin," kata seorang menteri. "Ia punya gaya belajar yang mengerikan."

"Tak apa," kata Khalifah.  "Biarkan ia bertemu anakku dulu."

11
Tetapi pagi itu, sang pangeran menghadap ayahnya. "Aku takut, Ayah!" katanya.

"Cara belajarnya benar-benar mengerikan! Ia memintaku membaca buku sejak petang hingga fajar tanpa istirahat!"

Ya. Cara membaca anak penjual ikan ini tidaklah tertandingi di zamannya. Akhirnya, Khalifah hanya memintanya menulis berbagai buku, untuk disebar ke penjuru negeri.

12
Dari Baghdad, lima puluh tahun setelah ia menghabiskan segala buku yang pernah ditulis oleh umat manusia, matanya mengkhianati dirinya sendiri.

Ia lumpuh. Kehidupan malamnya bersama buku-buku harus ditebus dengan tubuhnya sendiri. Ia, dengan ditandu, kemudian menyepi. Ia menyembunyikan dirinya, pulang ke kotanya yang lama. Ke tempat kanal-kanal membelah, dan aroma ikan-ikan di pasar pinggir kanal itu mengantarnya pada masa kecilnya dulu:

Saat cinta, ia tafsirkan sebagai menyewa toko buku.

13
Hari itu, di rumahnya, ia menata kembali buku-bukunya. Di lemari. Tinggi. Limapuluh tahun yang luar biasa di Baghdad. Ia menemukan kebenaran itu dan hendak menuliskannya.

Lalu di atas meja, ia mulai menulis. Tentang segala kebenaran. Tentang segala kebakhilan dunia. Tentang penemuannya kepada kenyataan. Lalu, buku-buku di lemari mulai condong padanya. Mengintip apa yang ditulisnya.

Sambil menggumam; ia melukis kebenaran itu dengan bantuan segala benda-benda yang hadir di ingatannya.

14
Buku-buku yang mengintip tuannya yang sedang menulis itu tak sabar. Mereka berdesakan ingin tahu kebenaran apa yang dituliskan.

Merekapun ambruk. Runtuh; menimpa sang anak penjual ikan itu. Iapun wafat seketika. Bersama buku-buku, dengan cara yang barangkali, menjelaskan betapa bukulah yang mencintainya, lebih dari ia mencintai buku.

Abu Utsman Al-Jahizh Al-Mu'tazili. Bapak Teori Evolusi, salah satu tokoh filsafat islam. Itulah nama anak penjual ikan ini!

15
Ia adalah, "pakar dari teori suara. Ia juga adalah 'Bapak Teori Evolusi' yang mencetuskan kekerabatan antar binatang." tulis jurnal-jurnal ilmiah hari ini.

"Ia adalah salah satu tokoh Muktazilah yang berhasil membantah ketidaktahuan orang atheis bahwa Tuhan ada, dengan berbagai penalaran yang tak dapat ditandingi."

16
Memang, ada kelirunya juga Abu Utsman Al-Jahizh ini. Pemikiran Muktazilah jauh menelusup dalam sumsumnya. Akan tetapi, perjuangannya menemukan inti segala kebenaran; itulah inti cerita ini.

Kebersamaanya dengan buku tak dapat dilambangkan kecuali dengan kematiannya, yang berakhir di timbunan buku-buku. Kalau engkau mendengar kisah "ulama yang meninggal tertimpa buku-buku koleksinya yang banyak",

Maka Abu Utsman Al-Jahizhlah orangnya.

Puisi dan Tanda-Tanda

1
Akar dari segala bahasa, adalah tanda. Tanda-tanda itu dapat hadir di mana saja, menyimbolkan apa saja. Tetapi, selain tanda yang dikeluarkan oleh manusia, tak ada tanda yang dikeluarkan untuk berbohong dan sia-sia.

Mendung; adalah tanda atau bahasa langit akan datangnya hujan. Merah senja, adalah tanda malam akan menjelang. Sebuah dahan dipatahkan, lalu berbunyi "krek!" adalah bahasa bahwa ia telah patah.

2
Segala tanda-tanda bunyi, yang kita saksikan di alam, tidak melalui mulut manusia bukanlah tanda bahasa yang sia-sia. Tidak jahat, tidak pula baik menurut sesuatu pihak. Tidak berdusta, tidak pula memaksa.  Segala bunyi bahasa yang kita dengar dari mulut manusia, dapat digunakan oleh nafsunya untuk memanipulasi orang lain.

Puisi sebagai sebuah gejala bahasa manusia, sudah tentu mengandung kotoran itu. Ia mengandung nois, ia mengandung kebohongan, ia mengandung ketidakjujuran. Akan tetapi, dapat juga ia menjadi puisi yang jujur, yang baik, yang alami.

4
Alam tak akan pernah berbohong. Kejujurannya itu mengakibatkan ia menjadi indah. Alam, adalah makhluk Allah yang berbahasa dengan hanya bunyi yang ia perlukan. Tak akan pernah dahan patah berbunyi sebagai raungan gunung meletus. Tak akan mau gemulung ombak bersuara sebagai angin yang menjangkiti rumpun bambu.

Saat kita menulis puisi, kebohongan-kebohongan hiperbola  terus kita tulis atas kesepian yang tak seberapa, atas cinta yang tak indah-indah amat, atau rindu yang sebetulnya biasa saja.

5
Dengan begitu, sahabat, tulislah puisi yang alami. Puisi yang hanya melambangkan bagi sesuatu yang benar-benar diperlukan. Puisi yang tak pernah berbohong.

Tulislah puisi yang akan dibacakan di surga, kelak, saat engkau, penyair, telah memasukinya. Puisi itu, "la yasma'una fiha laghwa wa la kizzaba", tidak ada di surga itu kita akan mendengar perkataan sia-sia dan dusta.

6
Puisi itu, adalah puisi-puisi yang cermat membahasai apa yang perlu dibahasai. Segala perangkat keindahan, pada dasarnya hanyalah jalan pintas untuk memperindah bahasa puisi. Majas, kias, rima, irama. Itu semua hanya alat keindahan.

Tetapi, inti dari segala puisi, inti dari segala bahasa, adalah makna. Apa yang dilambangkannya. Kesepian apa yang dilambangkannya.

7
Barangkali kita terbiasa menulis omong kosong yang kita beri rima agar indah, atau juga kebohongan yang dipatut-patutkan dengan kata-kata arkais.

Itulah fungsi agama pada penyair. Mengembalikan puisinya pada kejernihan bahasa; mengembalikan bahasanya pada semurni-murninya tanda. Tanpa niatan memalsukan. Sebagaimana dahan patah, akan berbunyi sebagaimana dahan patah. Tak akan dahan patah, sampai hati memalsukan bunyinya.

8
Jujurlah. Agar puisi-puisi itu dibaca lagi di surga di hadapan penyairnya. Tempat yang tak akan dikatakan sesuatu, "illa qilan salaman-salama".

Puisi-puisi yang beruluk salam, yang indah. Sebab bila kejujuran itu tak disampaikan dengan indah, ia akan menjadi kejahatan. Bila keadilan dibahasakan tidak dengan bunyi-bunyi yang tepat, ia akan menjelma kezaliman. Itulah, itulah mengapa manusia mengkristalkan bahasa tuturnya menjadi puisi.