Sabtu, 04 Agustus 2012

Puisi Buat Amar

Amar,
Kamu selalu mengucapkan ramadhan yang penuh ampunan apakah
Hanya sekedar mengikuti Rasul, atau kamu memang telah merasakannya?
Amar,
Kamu selalu menyalah-nyalahkan ibadah orang lain. Apakah
Kamu membenci mereka, atau mencintai Allah sehingga menyalahkan cara mereka mempelajari cintanya, sehingga tanpa sadar mereka turut membenci-Nya?
Amar,
Kamu melarang orang melakukan ibadah dan berseru “itu bid’ah!” apakah
Kamu tahu kenapa mereka melakukan itu, atau hanya baru belajar fikih satu halaman?
Amar,
Kamu menghakimi mereka dengan rasa marah dan benci apakah
Kamu merasa betul sudah ikut Rasul, atau apakah
Rasul benar-benar benci pada orang-orang itu?
Amar,
Kamu menahan amarahmu sepanjang malam dan siang apakah
Kamu tidak menjadi sumber amarah orang-orang di sekitarmu?
Amar,
Maafkanlah dirimu sebelum idul fitri
Meski aku juga tak tahu caranya, tetapi apa yang terjadi di masa lalu biarkan
Menjadi masa lalu dan lupakan itu
Ya,
Lupakan itu
Amar,
 jika kamu belum mampu memaafkan dirimu janganlah memaafkan orang lain karena
Kamu membohongi mereka dengan memberi mereka maaf dan itu
Pasti tidak lebih baik daripada caramu memaafkan dirimu
Dan Amar, jika
Kamu berhasil memaafkan dirimu, nanti banyak yang memintau berbicara hanya untuk bisa
Mematahkan pendapatmu
Agar mereka punya kesempatan menjatuhkanmu dan mempertontonkan keahlian mereka mengalahkanmu lalu
Menghebatkan diri mereka
Jadi, Amar, biarkanlah.
Ini hanya antara aku, kamu, dan Allah. Kita bertiga sudah cukup kuat untuk dapat
Memaafkan diri sendiri dan hidup penuh cinta kepada diri sendiri
Untuk dapat mencintai orang lain dengan sepantasnya
Mensyukuri bencana-bencana diri yang meminta korban sepenuh diri
Amar,
Berpuasalah sekuatmu. Biarkan juga setiap anggota tubuhmu beristirahat, dan bersilaturahmi dengan sendi sepuas mereka
Antara mata dengan kelopaknya
Antara telinga dengan kesunyiannya
Antara bibir menjadi mulutnya
Biarkan tubuhmu mengganti kulitnya, dan jemari tanganmu berhenti menggenggam sesuatu
Agar mereka dapat saling bergenggaman dengan mesra
Berpuasalah, hanya sekuatmu
Amar,
Temui teman-teman lamamu dan katakan cintamu pada mereka
Dan berpuasalah bersama mereka
Amar,
Doakan dirimu sendiri-ini hanya antara kita dan Allah yang tahu doamu-dengan setulusnya
Agar kamu mengetahui perasaan orang yang didoakan dengan jernih
Dan kita, Amar, nanti
Pada saat berbuka makanlah yang manis-manis dan hangat
Agar keluargamu tidak menjadi dingin seperti malam ketika kamu pulang setiap hari

Jumat, 03 Agustus 2012

Jesus


Jesus
Aku sebal. Tetapi aku senang. Ini hari pertama aku menemui teman-temanku setelah tiga bulan liburan. Aku sebal. Katanya aku terlihat senang. Tetap saja, aku sebal.
Jesus!
Aku katanya mirip Jesus!
Apa?
Ya!
Jesus.
Bukan!
Rambut panjang, keriting keemasan. Mata cokelat tanah. Terang. Tinggi dan mancung, figur Israel. Namaku Nasrul. Bukan Nasrani! Nasrul! Bukan Jesus!
Aku menyukai gadis kelas sebelah, namanya Khanza. Ia cantik, tinggi sedang, putih terang, cemerlang. Matanya sayu. Tetapi cerah dan menggairahkan. Suaranya lembut, ia cerdas, juga ramah. Senyumnya mampu mengalihkan pandangan mata Jesus.
 Bukan! Pandangan mata Nasrul!
Caranya berbicara mampu mengalihkan pandangan hati Jesus. Bukan! Nasrul! Caranya berjalan memancing Jesus untuk selalu mengikutinya. Bukan! Nasrul! Caranya menjawab pertanyaan memancing Jesus untuk selalu bertanya lagi dan lagi. Bukan! Nasrul.
Bukan! Nasrul!
Ketika aku duduk-duduk bersama rekan di bawah tembok kampus, mereka memanggilku Jesus. Ada Jesus dalam kampus. Karena rambutku mirip Jesus, maka ada Jesus di rambutku. Sinting! Aku Nasrul! Bukan Jesus!
Aku cerita pada mereka tentang aku yang menyukai wanita. “Bah! Jesus jatuh cinta!” kata mereka. Aku bukan Jesus! Apa karena rambutku mirip Jesus maka aku Jesus?
Omong-omong, hidungmu mirip pelacur, maka kamu pelacur. Matamu mirip maling, maka kamu maling. Tanganmu mirip aku, maka kamu aku tapi kamu bukan Jesus. Kamu Nasrul, karena aku bukan Jesus. Rambutmu mirip juga Jacko, maka kamu Jacko.
Entah kenapa dengan perubahan panjang rambutku yang dramatis-tapi sungguh tak ada maksud menyaingi orang anak Tuhan itu-teman-teman bilang aku mirip Jesus. Semua puisi yang mereka serukan kala latihan menghujat aku. Semua menghujat aku.
“Engkau mengaku sebagai Tuhan,
Lantas Tuhan mengakuimu sebagai apa!”
Sial.
Brengsek.
Akhirnya aku tahu juga rasanya jadi Tuhan yang dihina. Tuhan yang terhina. Tuhan yang dihujat umat-umatnya! Tuhan yang dihujat rekan-rekannya! Bah! Brengsek!
Brengsek. Tetapi tabah juga Tuhan yang asli dihina macam ini. Hm, aku diam saja. Katanya Tuhan maha penyabar. Ya! Maha penyabar. Tuhan yang Maha Penyabar. Cukup! Aku bukan Tuhan! Tetapi aku Jesus!
Bukan!
Aku Nasrul!
Ketika di kelas, aku selalu memilih duduk di dekat-Nya. Khanza. Nama yang menggetarkan tiang-tiang kampus hingga siap menimpa aku. Di dekat-Nya itu, bisa di belakang-Nya, bisa di depan-Nya, bisa di kiri-Nya. Ya! Dia adalah matahari, yang menerangi Tuhan yang butuh kasih sayang seperti aku. Bukan! Nasrul yang butuh kasih sayang. Bukan Tuhan. Bukan Jesus.
Khanza, nama yang sanggup mengganggu tidur pejabat-pejabat dan pembantunya. Yang memicu tsunami. Yang membuat pesawat jatuh di Gunung Gedhe. Yang membuat kampusku banjir tiap tahun. Yang membuat Cililitan macet! Yang membuat gempa dimana-mana!
Di dekat-Nya, Aku mulai memuja dia. Ada Tuhan yang dipuja Tuhan seperti aku. Aku juga mulai termakan sugesti mengenai diriku. Apakah aku benar-benar Jesus? Oh tidak. Apakah iya? Oh tidak.
Oh tidak. Aku menjadi Tuhan.
Oh tidak. Aku benar-benar menjadi Tuhan.
Aku harus maha kuasa atas Khanza! Tuhan! Tuhan!
Aku harus mendapatkan Khanza!
Kususun rencana, aku harus menyatakan cinta-Ku kepadanya. Wahai Khanza, Tuhan yang tercatat seperti legenda dalam kitab-kitab suci samawi kini menyatakan cinta kepada-Mu. Wahai Khanza tunggulah aku datang kepada-Mu!
***
Sebagai Tuhan yang baru diakui tahun 2012, aku harus menjaga penampilan. Baju belang-belang. Celana levi’s, rokok Magnum, tiga kali sehari. Ini asap rokok dari Surga. Gelang plastik biru, sepatu sobek-sobek. Tiga tahun ku beli. Sebelum jadi Tuhan.
Apakah aku Tuhan? Harus dikaji ulang. Aku sendiri bimbang. Menurut teori-teori dari buku-buku, Tuhan adalah maha kuasa. Kini akan ku tunjukkan kekuasaanku pada Khanza.
Akan ku pengaruhi jiwa-Nya. Akan ku renggut hati-Nya. Akan kugetarkan pula tiang-tiang penyangga kampus yang telah retak karena pesona-Nya.
Sebagai Tuhan, aku diturunkan di tengah domba-domba tersesat dari kaum sastra. Ada yang memuja puisi. Ada yang menyembah Sutardji. Ada yang cinta Sapardi. Tugasku memperbaiki akhlak mereka.
Oh tidak.
Aku mulai percaya bahwa aku adalah Tuhan.
Oh tidak.
Aku mulai percaya bahwa aku dapat menurunkan Azab bagi mereka yang mengatai aku mirip Tuhan.
Oh tidak.
Aku Jesus.
Setidaknya,
Mirip Jesus.
Aku membawa ajaran kasih. Tapi jangan kasihi Khanza, karena Khanza harus menjadi milikku seorang. Karena Khanza harus aku kasihi seorang. aku membawa ajaran kasih. Maka kasihilah aku, akan kukasihi pula kamu.
Ajaranku ajaran kasih, mengasihi sesama manusia, mengasihi sesama yang mirip Jesus. Tunggulah.
Sesungguhnya,  aku mulai bosan. Aku mulai bosan mengasihi Khanza. Huf. Hufh. Aku lelah. Aku mengejar-ngejar dia setiap hari. Seperti film India, tapi ini Indonesia. Tapi kenapa di Indonesia turun pula Jesus? Dia harusnya hanya ada di Palestina. Di Jerussalem. Di hati mereka yang penuh rasa kasih dan sayang. Bukan dalam rambutku. Bukan pula dalam namaku. Aku Nasrul!
Bukan Jesus!
Aku batalkan rencanaku menyatakan cinta kepada Khanza. Semua sandiwara ini, semua orang ini harus dihentikan! Aku bukan Tuhan! Brengsek! Aku bukan Tuhan! Aku bukan Jesus!
Brengsek bertuhan!
Apakah aku harus berteriak di depan gedung jurusan? Tidak. Mereka akan semakin percaya bahwa aku Tuhan. Tuhan yang rendah diri, tak mau mengaku Tuhan. Seperti kebiasaan orang-orang jawa yang merendahkan dirinya di hadapan tamu-tamu.
Apakah aku harus berteriak menggunakan spiker masjid? Tidak. Bisa habis aku dibabtis imam masjid. Liurnya memang seperti memandikan aku bila marah. Lagi pula, jadi apa aku di tengah anak-anak yang suka memegang Kitab Suci? Dirajamnya aku nanti.
Apakah aku harus membuat surat? Bisa-bisa suratku nanti dipandang sebagai surat ke seratuslimabelas dalam Al-Qur’an karena aku Tuhan. Atau, menjadi Injil Kelima. Bayangkan betapa kerennya, Injil Lukas, Markus, Matius, Yohanes, dan Nasrul. Injil yang langsung dari orang yang diakui sebagai Jesus.
Oh tidak.
Oh tidak.
Mengaku bukan Tuhan lebih sulit dari yang ku kira, lebih sulit dari diakui sebagai Tuhan. Oh tidak. Bagaimana caranya mengaku bukan Tuhan?
Sudahlah, mereka akan lupa seiring berjalannya waktu. Aku tenang-tenang saja, berhenti menebar keajaiban. Berhenti mengejar-ngejar Khanza. Berhenti menuhankan dia. Dia bukan Tuhan! Aku harus lebih mengasihi diriku sendiri baru mengasihi dia.
Sudahlah. Aku ingin tobat sebagai Tuhan. Ya, Jesus yang tobat. Kini namaku kembali Nasrul. Selamat tinggal, Khanza. Selamat tinggal, Jesus. Kini tugasku, menghentikan diri mengejar-ngejar kamu. Terserah apa kata temanku.
Yang jelas, aku bekas Tuhan selama beberapa bulan, dan ketika itu, aku gagal mendapatkan kekasih. Akhirnya aku paham, kenapa Tuhan tidak pernah punya pacar juga. Aku pernah menjadi Dia beberapa bulan.

Kritik Pers


Kritis Terhadap Pers
Hingga pada akhirnya, di pulau-pulau terluar terjadi bencana. Beberapa penyihir dari Kalimantan dan daratan Jawa membuat suatu kutukan mengerikan. Entah apa alasannya, yang jelas setiap anak yang tidur di siang hari, maka ia akan hilang pada sore harinya. Tanpa jejak, dengan pintu kamar yang terkunci.
Keesokan harinya, anak-anak itu ditemukan bergelimpangan di jalan-jalan utama pulau. Telentang. Tanpa luka sedikitpun. Mati. Penduduk pulau geger, dan langsung diketahui bahwa ini adalah sihir. Tetapi siapa yang mengirimnya? Untuk apa? Kenapa pula menyasar anak-anak pulau ini?
Keesokan harinya, anak-anak itu ditemukan bergelimpangan di jalan-jalan utama pulau. Telentang. Tanpa luka sedikitpun. Mati. Penduduk pulau geger, dan langsung diketahui bahwa ini adalah sihir. Tetapi siapa yang mengirimnya? Untuk apa?
Keesokan harinya, anak-anak itu ditemukan bergelimpangan di jalan-jalan utama pulau. Telentang. Tanpa luka sedikitpun. Mati. Penduduk pulau geger, dan langsung diketahui bahwa ini adalah sihir. Tetapi siapa yang mengirimnya?
Keesokan harinya, anak-anak itu ditemukan bergelimpangan di jalan-jalan utama pulau. Telentang. Tanpa luka sedikitpun. Mati. Penduduk pulau geger, dan langsung diketahui bahwa ini adalah sihir.
Keesokan harinya, anak-anak itu ditemukan bergelimpangan di jalan-jalan utama pulau. Telentang. Tanpa luka sedikitpun. Mati. Penduduk pulau geger.
Keesokan harinya, anak-anak itu ditemukan bergelimpangan di jalan-jalan utama pulau. Telentang. Tanpa luka sedikitpun. Mati.
Keesokan harinya, anak-anak itu ditemukan bergelimpangan di jalan-jalan utama pulau. Telentang.
Keesokan harinya, anak-anak itu ditemukan bergelimpangan di jalan-jalan utama pulau.
Anak-anak bergelimpangan.
Anak-anak bergelimpangan.
Anak-anak bergelimpangan.
Ada apa sebenarnya?
Ada apa?
Ada?
Apa?
Sebenarnya?
Pada malamnya, seorang penduduk, yang kehilangan anaknya karena peristiwa itu mengalami mimpi. Sang penunggang kuda putih datang kepadanya, dan memberikan sebuah pertanda mengenai bencana yang menimpa pulaunya.
Pada malamnya, seorang penduduk, yang kehilangan anaknya karena peristiwa itu mengalami mimpi. Sang penunggang kuda putih datang kepadanya, dan memberikan sebuah pertanda mengenai bencana yang menimpa.
Pada malamnya, seorang penduduk, yang kehilangan anaknya karena peristiwa itu mengalami mimpi. Sang penunggang kuda putih datang kepadanya, dan memberikan sebuah pertanda mengenai bencana.
Pada malamnya, seorang penduduk, yang kehilangan anaknya karena peristiwa itu mengalami mimpi. Sang penunggang kuda putih datang kepadanya, dan memberikan sebuah pertanda.
Pada malamnya, seorang penduduk, yang kehilangan anaknya karena peristiwa itu mengalami mimpi. Sang penunggang kuda putih datang kepadanya.
Pada malamnya, seorang penduduk, yang kehilangan anaknya karena peristiwa itu mengalami mimpi. Sang penunggang kuda putih datang.
Pada malamnya, Sang penunggang kuda putih datang.
Sang penunggang kuda putih.
Penjuru pulau gempar, menemukan firasat yang aneh-aneh.
Penjuru pulau gempar, menemukan firasat.
Pulau gempar, menemukan aneh-aneh.
Pulau gempar, menemukan kuda putih.
Pulau gempar, menemukan sang penunggang.
Pulau gempar.
Ada apa sebenarnya?
Ada apa?
Ada?
“Tolong...!”
Ratusan tahun kemudian, berdirilah pemukiman modern diatas kepulauan itu.
Ratusan tahun kemudian, berdirilah pemukiman modern diatas kepulauan itu.
Ratusan tahun kemudian, berdirilah pemukiman modern diatas kepulauan itu.
Ratusan tahun kemudian, berdirilah pemukiman modern diatas kepulauan itu.
Ratusan tahun kemudian, berdirilah pemukiman modern diatas kepulauan itu.
Ada kita diatasnya. Berspekulasi tentang masa lalu, dan apa yang terjadi diatasnya. Sebelum kita, banyak yang terjadi. Hubungan antara kuda putih. Sang penunggang kuda putih. Sihir. Bencana. Anak-anak bergelimpangan. Kegemparan pulau. Kita bertanya-tanya:
Ada apa sebenarnya? (Jawab pertanyaannya!)
Ada apa? (Sudah kubilang jawab dulu pertanyaannya!)
Ada? (Adakah jawabnya?!)
Ada kita diatas sang penunggang kuda putih. Ada kita diatas sihir. Ada kita diatas kegemparan pulau. Ada kita diatas anak-anak yang bergelimpangan.
Kita pasti bertanya-tanya, kenapa ini menjadi bias. Kita pasti bertanya-tanya, kenapa ini menjadi. Kita pasti bertanya-tanya, kenapa ini. Kita pasti bertanya-tanya, kenapa. Kita pasti bertanya-tanya. Kita pasti.
Kita.
Dan inilah masa kita, bukan?

Di Antara


Ini hari terakhir pertemuan panjang, yang berlangsung di Aula BAPELKES Kota Bengkulu. Banyak teman yang aku dapatkan disini, baik yang satu pulau maupun seberang lautan.

Mereka lucu, hangat, tak seperti teman-teman yang ada di Facebook, aku tak tahu wajah mereka. Aku suka menjelajahi beragam kelompok, dan menemui banyak aliran. Juga tidak seperti teman di masa lalu, yang datar dan kering.

Ada Adang, yang berasal dari Bogor. Logat sundanya sangat kental, dan ekspresinya akan membuat kita tertawa jika ia melihat wanita cantik. Aku juga kenal Hamid, dari Gorontalo. Ia selalu mengucapkan Medan dan Banten terbalik, dengan Medan yang teleng dan Banten yang pepet pada huruf e. “Bantén!”

Malam itu, berlangsung malam keakraban nasional, dengan api unggun di tengah taman. Semua kontingen melepas seragam, dan mengenakan kaos pertanda pembauran. Putih, gabungan segala warna. Putih juga berarti inti segala warna.

Api menyala terang, kehangatan ini membawa kami pada riang dan tawa, setelah perdebatan dalam rapat yang panjang.

Wajah-wajah lelah berjajar namun dirias tawa dan nyala api membuat bayangan kuning lembut di pipi dan rambut. Rerumputan kering, nyaman untuk diduduki.

“Teman....” Hembusku dalam lirih.
****


Aku sungguh kesepian. Di Jakarta, aku menemui udara panas. Memang banyak yang hangat, tetapi tersamar angin yang terhangatkan asap. Kemacetan membuat aku dan yang lain lelah untuk tersenyum. Kami tak sempat saling sapa, menanyakan kabar, dan tertawa.

Banyak teman di dunia maya, namun aku tak dapat melihat senyum yang tulus. Tertutup layar. Tersaput debu. Terbatasi kata-kata. “Senyum” terlalu panjang dituliskan, terlalu lama didengarkan.

Satu ketika,  disebuah kelompok pertemanan jejaring, aku ditegur seorang teman,
           
“Kamu pasti Hizbut Tahrir! Fotomu Palestina terus!” Ia mengaitkan HT dengan aktifis lokal pro-Palestina.

“Kenapa engkau berpendapat seperti itu, saudaraku?” Kataku dalam ketikan, menahan sesuatu.

“Saya kenal betul HT! Tujuh tahun saya bertetangga dengan orang HT, yang dibicarakan hanya Palestina, antidemokrasi, dan khilafah!” Aku tak tahu perubahan wajahnya. Tulisan tak pernah menggambarkan kehalusan tangan yang menulisnya dengan sempurna.

“Apakah dengan demikian saya bukan saudaramu?” Aku menawarkan suasana. Belum ada komentar dari yang lain, yang aku anggap saudara. Aku bukan HT, namun aku tak menolak organisasi itu.

Pada sebuah status, yang secara spontan diluar grup itu, aku menyindirnya. Dia memang belum berteman dengan aku, tetapi aku sudah menganggapnya saudara. Setiap mukmin itu bersaudara!

“Saudara tersayang, bukankah syahadat kita sama?” Aku biasa memanggil “Sayang” atau “Saudara” pada teman dekat soal keislaman.

Percakapan terus berlanjut kering, panas. Menggambarkan keriuhan dan ketidaksukaan. Embun yang senantiasa terselip dalam susunan kalimat antar saudara satu agama, satu guru, mengering tersengat panas matahari yang tersisip tanpa sengaja dalam hati.

“Sudahlah! Jangan mengelak! Dari foto profilmu aku tahu engkau HT! Kafir bughat, yang menentang pemerintah!”

Aku mengikuti perkembangan Palestina setiap hari. Sungguh! Bukan karena aku benci Yahudi. Bukankah Tuhan kami sama? Aku tak memiliki kemampuan menyiksa. Tuhan yang berhak. Aku hanya dapat memperkirakan surga atau neraka, tetapi tetap Tuhan yang menentukan.

Aku tidak benci Yahudi, tetapi aku cinta Palestina.  Itupun karena, aku mengenal salah seorang dari mereka. Esraa Saqer. Gadis cantik, berkulit gelap, mancung. Alisnya tebal, namun matanya sayu dan lebar. Garis pelangi matanya menyiratkan perang yang tak henti.

Kami pernah mengobrol dalam bahasa inggris, dan ia minta didoakan agar anak muridnya sehat. Dia seorang guru bagi pengungsi di perbatasan Jordania dan Tepi Barat, kerajinan tangan dan bahasa Inggris.

“Kamu tidak minta kemerdekaan negerimu?” Tegurku, suatu saat.

“Kami sudah merdeka!”

Oleh karena dia, aku berteman dengan wartawan italia yang bekerja di Palestina, Vittoria. Ia memberi kabar langsung dan foto-foto ekslusif yang tidak dipajang di media massa.

Hari “perayaan” kemerdekaan palestina tiba, dan ia mengabarkan festival besar, ribuan orang yang tersisa. Anak-anak yang tersisa, gadis dan pemuda yang tersisa, turun ke lapangan di Gaza dan Jerussalem. Membawa bendera, putih. Hijau. Hitam. Merah.

Yang mengesankan, semuanya tertawa dan tersenyum, tak ada yang menangis. Dalam foto yang ia berikan kepadaku, tergambar seorang anak yang digendong ayahnya, dan tertawa, sambil di sebelahnya ada yang mengibarkan tinggi-tinggi bendera baru dan masih baik.

Ini kujadikan foto pengenal Facebook, dan banyak yang menyangka aku aktifis, pengamat, bahkan ada juga yang menyangka aku anak rohis yang didoktrin mentornya.
Aku mencintai Palestina karena ada manusia di sana. Bukan karena benderanya. Bukan juga karena Jerussalem. Tuhan tidak pernah menyuruh kita mencintai Makkah, bukan? Tetapi mencintai penduduk Makkah dan mereka yang shalat di Haram bersama-sama.

Aku mencintai prinsip Esraa, karena dia berjuang dengan mengajar anak-anak pengungsi di Jordania, padahal dia seusia aku. Sangat belia. Orang tuanya tetap berjaga di Ramallah, kedua kakaknya entah dimana, namun terakhir terdengar di Jerussalem.

“Tentara Israel tidak mencarimu?” Aku penasaran.

“Kenapa harus mencariku?” Kata-katanya menyiratkan ketenangan. Dalam.

“Bukankah kamu orang Palestina?” Desakku.

“Israel tidak mencari kami, tetapi mencari tanah kami. Tanah yang tejanji buat mereka. Mereka tidak haus darah kami, tetapi mencari tanah buat rumah” Aku terpana, aku salah sangka kepada Israel selama ini.

Orang yang menuduh HT tadi tetap berkeras, aku meninggalkan percakapan.

“Saudaraku, kenapa syahadatmu tertuju kepadaku? Bukankah syahadat kita sama?” Aku mencoba membuka pemahamannya, namun gagal.

“Saudara....” Kata-kataku menguap bersama udara panas yang senantiasa mengelilingi kami.

****

Api unggun semakin besar, menghangatkan malam yang indah dan panjang. Ada halo, lingkaran pelangi yang mengelilingi bulan karena embun membiaskan cahaya halusnya. Sejuk. Tidak akan tercipta kemarahan. Pemandu acara juga dengan ceria menanyakan kabar kami satu persatu.

Rafian, yang diangkat sebagai wakil pemimpin organisasi bidang keuangan, terpergok baru pulang bersama gadis berjaket merah, salah seorang panitia. Wah! Kami semua tergelak dan tertawa, dengan muka merah ia menjelaskan, tetapi kami tetap tertawa.

Pikiranku melayang kepada alamat jejaring  bernama Fahmi,  juga seperti Rafian, sempat pergi namun kembali membawa kejutan.

Di grup pertemanan lain, akun-akun lintas agama membuat misi untuk berdamai. Namun, dengan disusupi akun yang menghendaki permusuhan atau perpindahan agama dengan kerusuhan, alamat itu berubah menjadi promosi agama.

Agama yang dijual seperti obat batuk, berkhasiat macam-macam, dan saling menjelekkan. Yang ini tidak menyebabkan kantuk, yang lain menyebabkan kantuk menahun. Yang ini rasa jeruk, yang lain rasa obat. Nah!

“Aku tidak percaya Tuhan lagi, jadi maaf, mau kamu tawarkan agama macam-macam, agama saya sekarang itu ya “Tanpa Agama”, jadi jangan paksa” dia tadinya debater, dan banyak orang Hindu serta Katolik yang ia ajak berdialog, bahkan berdebat.

“Anak ini kenapa sih?” Joseph, seorang katolik berkomentar di kirimannya. Memang, kami memiliki mengelompokkan sebutan berdasarkan umur. Jadi, seperti keluarga besar.

“Ampun, baru kemarin dia berjuang buat agamanya!” Paradev, menyela dan berkomentar keheranan.

Rupanya, ia terkena masalah, ada sesuatu dengan keluarga nyatanya. Seperti lilin-lilin kecil yang mati, kami semua-lintas agama-tersulut hangat pagi. Menyala kecil-kecil, namun jadi satu, menerangi kedalaman malam hingga mampu melihat sekeliling.

Justru, kami semua mengarahkan pemahamannya kepada keberadaan Tuhan. Dan yang mengherankan, baik hindu, kristen, budha, islam, semuanya satu pendapat: Kita mau tidak mau dibawah kepemilikan Tuhan. Mungkin, Tuhan yang dikenal Fahmi sebelumnya salah, Tuhan yang hanya bisa menyiksa.

Ia tidak kenal Tuhan yang penyayang. Padahal Tuhan itu penyayang, mungkin ia hanya diberi gambaran neraka, tanpa diberi gambaran surga.

Ia akhirnya mengerti. Kami senang, dan esoknya kembali diskusi dan debat seperti biasa. Inilah saudara, dan kami sama-sama manusia. Saudara, yang menyatu lintas agama, hingga kami lupa, kami tak pernah melihat satu sama lain, namun seperti keluarga yang sama-sama mencari Tuhan.

“Keluarga....” Semoga kami menemukan Tuhan yang sempurna.

****

Sebelum api unggun diadakan, kami berkunjung ke Pusat oleh-oleh Bengkulu. Macam-macam dijual. Yang banyak aku beli gantungan kunci dari kulit kayu, namun disusun menyerupai bunga Raflesia, lambang kota Bengkulu. Kata salah satu panitia, harusnyakami ke hutan wisata bunga ini, namun sedang tidak musim.

Aku memang sedang kurang enak badan, rapat berlangsung dengan sangat lama. Debat. Membuat dehidrasi. Aku membeli tiga botol teh dan memegangnya, tanpa pembungkus, karena tak disediakan plastik.

Mendadak, seorang gadis cantik, berjilbab hijau muda, duduk di sebelahku karena bangku lain memang sudah penuh. Mungkin karena aku menjadi salah satu pimpinan dalam jajak pendapat, ia tak lagi segan. Seperti sudah kenal, padahal aku tidak kenal dia. Aku hanya tahu dia delegasi Semarang.

“Boleh minta air tidak? Aku sangat haus” Kata-katanya tersusun lembut, ia tampak lesu dan agak pucat memang.

Kami melanjutkan perbincangan, yang awalnya untuk membunuh waktu, tetapi malah ia mengalihkan pada yang tak kusangka.

“Kamu kok bisa menyanggah pendapat dengan kuat, ya? Suka baca buku ya?” Aku terkejut.

“Iya, memang, tetapi aku tak seberapa dibanding mereka,” Mukaku mungkin merah, tetapi ia tersenyum halus.

“Suka buku apa?”

“Jujur, mungkin kamu tak tahu. Aku suka buku karangan Mutahhari, Manusia dan Agama. Juga Sayyid, Milestone” Aku benar-benar mengira dia gadis yang pintar, namun tak suka baca buku yang itu.

“Lho, Mutahhari? Wah, kamu mau tahu sesuatu?”

“Memang kenapa?” Aku heran, wajah cantiknya seakan menyimpan sesuatu dari balik tirai.

“Aku keponakan Kang Jalal” Mataku hampir minta liburan keluar, dan jantungku sudah menulis surat cuti. Jalaluddin Rahmat?

“Ulama besar Syi’ah asal Indonesia? Wah....”

****

Malam ini hari terakhir kami berkumpul, sebab setelah malam keakraban aku pulang dengan pesawat. Dia juga, pulang ke Semarang.

Sesi bersalaman, sesi terakhir yang dilakukan sebelum bubar, membuat barisan melingkar dan aku akhirnya sampai ke barisannya. “Syafa, malam ini aku pulang” kataku menahan haru. Dia menyisipkan matanya kedalam mataku lekat-lekat.

“Iya, sayang sekali, kita belum bicara banyak,” Ia menjawab juga dengan haru, namun masih sempat tersenyum indah.

Tanpa sengaja, aku mengangkat tangannya, yang tanpa sadar masih aku jemba sedari tadi hingga barisan terhenti dan semua penglihatan pasti menuju kami. Waktu berhenti. Tak lagi terdengar dentang.

“Kita harus bertemu lagi, meskipun entah kapan, ya?” Ia berkata lambat, barisan-entah kenapa-tidak protes dan justru semakin mendekatkan diri pada kami.

Aku meletakkan tangannya yang halus di dada kiriku, ia dapat merasakan detak jantungku, dan aku dapat merasakan tangannya makin erat. Hangat.

Hei! Ia Keponakan Jalal! Ulama yang dikecam sesat oleh banyak orang, dan membuat geger kalangan ulama. Lantas bagaimana?

“Kita memang harus bertemu lagi...”

Di Antara


Ini hari terakhir pertemuan panjang, yang berlangsung di Aula BAPELKES Kota Bengkulu. Banyak teman yang aku dapatkan disini, baik yang satu pulau maupun seberang lautan.

Mereka lucu, hangat, tak seperti teman-teman yang ada di Facebook, aku tak tahu wajah mereka. Aku suka menjelajahi beragam kelompok, dan menemui banyak aliran. Juga tidak seperti teman di masa lalu, yang datar dan kering.

Ada Adang, yang berasal dari Bogor. Logat sundanya sangat kental, dan ekspresinya akan membuat kita tertawa jika ia melihat wanita cantik. Aku juga kenal Hamid, dari Gorontalo. Ia selalu mengucapkan Medan dan Banten terbalik, dengan Medan yang teleng dan Banten yang pepet pada huruf e. “Bantén!”

Malam itu, berlangsung malam keakraban nasional, dengan api unggun di tengah taman. Semua kontingen melepas seragam, dan mengenakan kaos pertanda pembauran. Putih, gabungan segala warna. Putih juga berarti inti segala warna.

Api menyala terang, kehangatan ini membawa kami pada riang dan tawa, setelah perdebatan dalam rapat yang panjang.

Wajah-wajah lelah berjajar namun dirias tawa dan nyala api membuat bayangan kuning lembut di pipi dan rambut. Rerumputan kering, nyaman untuk diduduki.

“Teman....” Hembusku dalam lirih.
****


Aku sungguh kesepian. Di Jakarta, aku menemui udara panas. Memang banyak yang hangat, tetapi tersamar angin yang terhangatkan asap. Kemacetan membuat aku dan yang lain lelah untuk tersenyum. Kami tak sempat saling sapa, menanyakan kabar, dan tertawa.

Banyak teman di dunia maya, namun aku tak dapat melihat senyum yang tulus. Tertutup layar. Tersaput debu. Terbatasi kata-kata. “Senyum” terlalu panjang dituliskan, terlalu lama didengarkan.

Satu ketika,  disebuah kelompok pertemanan jejaring, aku ditegur seorang teman,
           
“Kamu pasti Hizbut Tahrir! Fotomu Palestina terus!” Ia mengaitkan HT dengan aktifis lokal pro-Palestina.

“Kenapa engkau berpendapat seperti itu, saudaraku?” Kataku dalam ketikan, menahan sesuatu.

“Saya kenal betul HT! Tujuh tahun saya bertetangga dengan orang HT, yang dibicarakan hanya Palestina, antidemokrasi, dan khilafah!” Aku tak tahu perubahan wajahnya. Tulisan tak pernah menggambarkan kehalusan tangan yang menulisnya dengan sempurna.

“Apakah dengan demikian saya bukan saudaramu?” Aku menawarkan suasana. Belum ada komentar dari yang lain, yang aku anggap saudara. Aku bukan HT, namun aku tak menolak organisasi itu.

Pada sebuah status, yang secara spontan diluar grup itu, aku menyindirnya. Dia memang belum berteman dengan aku, tetapi aku sudah menganggapnya saudara. Setiap mukmin itu bersaudara!

“Saudara tersayang, bukankah syahadat kita sama?” Aku biasa memanggil “Sayang” atau “Saudara” pada teman dekat soal keislaman.

Percakapan terus berlanjut kering, panas. Menggambarkan keriuhan dan ketidaksukaan. Embun yang senantiasa terselip dalam susunan kalimat antar saudara satu agama, satu guru, mengering tersengat panas matahari yang tersisip tanpa sengaja dalam hati.

“Sudahlah! Jangan mengelak! Dari foto profilmu aku tahu engkau HT! Kafir bughat, yang menentang pemerintah!”

Aku mengikuti perkembangan Palestina setiap hari. Sungguh! Bukan karena aku benci Yahudi. Bukankah Tuhan kami sama? Aku tak memiliki kemampuan menyiksa. Tuhan yang berhak. Aku hanya dapat memperkirakan surga atau neraka, tetapi tetap Tuhan yang menentukan.

Aku tidak benci Yahudi, tetapi aku cinta Palestina.  Itupun karena, aku mengenal salah seorang dari mereka. Esraa Saqer. Gadis cantik, berkulit gelap, mancung. Alisnya tebal, namun matanya sayu dan lebar. Garis pelangi matanya menyiratkan perang yang tak henti.

Kami pernah mengobrol dalam bahasa inggris, dan ia minta didoakan agar anak muridnya sehat. Dia seorang guru bagi pengungsi di perbatasan Jordania dan Tepi Barat, kerajinan tangan dan bahasa Inggris.

“Kamu tidak minta kemerdekaan negerimu?” Tegurku, suatu saat.

“Kami sudah merdeka!”

Oleh karena dia, aku berteman dengan wartawan italia yang bekerja di Palestina, Vittoria. Ia memberi kabar langsung dan foto-foto ekslusif yang tidak dipajang di media massa.

Hari “perayaan” kemerdekaan palestina tiba, dan ia mengabarkan festival besar, ribuan orang yang tersisa. Anak-anak yang tersisa, gadis dan pemuda yang tersisa, turun ke lapangan di Gaza dan Jerussalem. Membawa bendera, putih. Hijau. Hitam. Merah.

Yang mengesankan, semuanya tertawa dan tersenyum, tak ada yang menangis. Dalam foto yang ia berikan kepadaku, tergambar seorang anak yang digendong ayahnya, dan tertawa, sambil di sebelahnya ada yang mengibarkan tinggi-tinggi bendera baru dan masih baik.

Ini kujadikan foto pengenal Facebook, dan banyak yang menyangka aku aktifis, pengamat, bahkan ada juga yang menyangka aku anak rohis yang didoktrin mentornya.
Aku mencintai Palestina karena ada manusia di sana. Bukan karena benderanya. Bukan juga karena Jerussalem. Tuhan tidak pernah menyuruh kita mencintai Makkah, bukan? Tetapi mencintai penduduk Makkah dan mereka yang shalat di Haram bersama-sama.

Aku mencintai prinsip Esraa, karena dia berjuang dengan mengajar anak-anak pengungsi di Jordania, padahal dia seusia aku. Sangat belia. Orang tuanya tetap berjaga di Ramallah, kedua kakaknya entah dimana, namun terakhir terdengar di Jerussalem.

“Tentara Israel tidak mencarimu?” Aku penasaran.

“Kenapa harus mencariku?” Kata-katanya menyiratkan ketenangan. Dalam.

“Bukankah kamu orang Palestina?” Desakku.

“Israel tidak mencari kami, tetapi mencari tanah kami. Tanah yang tejanji buat mereka. Mereka tidak haus darah kami, tetapi mencari tanah buat rumah” Aku terpana, aku salah sangka kepada Israel selama ini.

Orang yang menuduh HT tadi tetap berkeras, aku meninggalkan percakapan.

“Saudaraku, kenapa syahadatmu tertuju kepadaku? Bukankah syahadat kita sama?” Aku mencoba membuka pemahamannya, namun gagal.

“Saudara....” Kata-kataku menguap bersama udara panas yang senantiasa mengelilingi kami.

****

Api unggun semakin besar, menghangatkan malam yang indah dan panjang. Ada halo, lingkaran pelangi yang mengelilingi bulan karena embun membiaskan cahaya halusnya. Sejuk. Tidak akan tercipta kemarahan. Pemandu acara juga dengan ceria menanyakan kabar kami satu persatu.

Rafian, yang diangkat sebagai wakil pemimpin organisasi bidang keuangan, terpergok baru pulang bersama gadis berjaket merah, salah seorang panitia. Wah! Kami semua tergelak dan tertawa, dengan muka merah ia menjelaskan, tetapi kami tetap tertawa.

Pikiranku melayang kepada alamat jejaring  bernama Fahmi,  juga seperti Rafian, sempat pergi namun kembali membawa kejutan.

Di grup pertemanan lain, akun-akun lintas agama membuat misi untuk berdamai. Namun, dengan disusupi akun yang menghendaki permusuhan atau perpindahan agama dengan kerusuhan, alamat itu berubah menjadi promosi agama.

Agama yang dijual seperti obat batuk, berkhasiat macam-macam, dan saling menjelekkan. Yang ini tidak menyebabkan kantuk, yang lain menyebabkan kantuk menahun. Yang ini rasa jeruk, yang lain rasa obat. Nah!

“Aku tidak percaya Tuhan lagi, jadi maaf, mau kamu tawarkan agama macam-macam, agama saya sekarang itu ya “Tanpa Agama”, jadi jangan paksa” dia tadinya debater, dan banyak orang Hindu serta Katolik yang ia ajak berdialog, bahkan berdebat.

“Anak ini kenapa sih?” Joseph, seorang katolik berkomentar di kirimannya. Memang, kami memiliki mengelompokkan sebutan berdasarkan umur. Jadi, seperti keluarga besar.

“Ampun, baru kemarin dia berjuang buat agamanya!” Paradev, menyela dan berkomentar keheranan.

Rupanya, ia terkena masalah, ada sesuatu dengan keluarga nyatanya. Seperti lilin-lilin kecil yang mati, kami semua-lintas agama-tersulut hangat pagi. Menyala kecil-kecil, namun jadi satu, menerangi kedalaman malam hingga mampu melihat sekeliling.

Justru, kami semua mengarahkan pemahamannya kepada keberadaan Tuhan. Dan yang mengherankan, baik hindu, kristen, budha, islam, semuanya satu pendapat: Kita mau tidak mau dibawah kepemilikan Tuhan. Mungkin, Tuhan yang dikenal Fahmi sebelumnya salah, Tuhan yang hanya bisa menyiksa.

Ia tidak kenal Tuhan yang penyayang. Padahal Tuhan itu penyayang, mungkin ia hanya diberi gambaran neraka, tanpa diberi gambaran surga.

Ia akhirnya mengerti. Kami senang, dan esoknya kembali diskusi dan debat seperti biasa. Inilah saudara, dan kami sama-sama manusia. Saudara, yang menyatu lintas agama, hingga kami lupa, kami tak pernah melihat satu sama lain, namun seperti keluarga yang sama-sama mencari Tuhan.

“Keluarga....” Semoga kami menemukan Tuhan yang sempurna.

****

Sebelum api unggun diadakan, kami berkunjung ke Pusat oleh-oleh Bengkulu. Macam-macam dijual. Yang banyak aku beli gantungan kunci dari kulit kayu, namun disusun menyerupai bunga Raflesia, lambang kota Bengkulu. Kata salah satu panitia, harusnyakami ke hutan wisata bunga ini, namun sedang tidak musim.

Aku memang sedang kurang enak badan, rapat berlangsung dengan sangat lama. Debat. Membuat dehidrasi. Aku membeli tiga botol teh dan memegangnya, tanpa pembungkus, karena tak disediakan plastik.

Mendadak, seorang gadis cantik, berjilbab hijau muda, duduk di sebelahku karena bangku lain memang sudah penuh. Mungkin karena aku menjadi salah satu pimpinan dalam jajak pendapat, ia tak lagi segan. Seperti sudah kenal, padahal aku tidak kenal dia. Aku hanya tahu dia delegasi Semarang.

“Boleh minta air tidak? Aku sangat haus” Kata-katanya tersusun lembut, ia tampak lesu dan agak pucat memang.

Kami melanjutkan perbincangan, yang awalnya untuk membunuh waktu, tetapi malah ia mengalihkan pada yang tak kusangka.

“Kamu kok bisa menyanggah pendapat dengan kuat, ya? Suka baca buku ya?” Aku terkejut.

“Iya, memang, tetapi aku tak seberapa dibanding mereka,” Mukaku mungkin merah, tetapi ia tersenyum halus.

“Suka buku apa?”

“Jujur, mungkin kamu tak tahu. Aku suka buku karangan Mutahhari, Manusia dan Agama. Juga Sayyid, Milestone” Aku benar-benar mengira dia gadis yang pintar, namun tak suka baca buku yang itu.

“Lho, Mutahhari? Wah, kamu mau tahu sesuatu?”

“Memang kenapa?” Aku heran, wajah cantiknya seakan menyimpan sesuatu dari balik tirai.

“Aku keponakan Kang Jalal” Mataku hampir minta liburan keluar, dan jantungku sudah menulis surat cuti. Jalaluddin Rahmat?

“Ulama besar Syi’ah asal Indonesia? Wah....”

****

Malam ini hari terakhir kami berkumpul, sebab setelah malam keakraban aku pulang dengan pesawat. Dia juga, pulang ke Semarang.

Sesi bersalaman, sesi terakhir yang dilakukan sebelum bubar, membuat barisan melingkar dan aku akhirnya sampai ke barisannya. “Syafa, malam ini aku pulang” kataku menahan haru. Dia menyisipkan matanya kedalam mataku lekat-lekat.

“Iya, sayang sekali, kita belum bicara banyak,” Ia menjawab juga dengan haru, namun masih sempat tersenyum indah.

Tanpa sengaja, aku mengangkat tangannya, yang tanpa sadar masih aku jemba sedari tadi hingga barisan terhenti dan semua penglihatan pasti menuju kami. Waktu berhenti. Tak lagi terdengar dentang.

“Kita harus bertemu lagi, meskipun entah kapan, ya?” Ia berkata lambat, barisan-entah kenapa-tidak protes dan justru semakin mendekatkan diri pada kami.

Aku meletakkan tangannya yang halus di dada kiriku, ia dapat merasakan detak jantungku, dan aku dapat merasakan tangannya makin erat. Hangat.

Hei! Ia Keponakan Jalal! Ulama yang dikecam sesat oleh banyak orang, dan membuat geger kalangan ulama. Lantas bagaimana?

“Kita memang harus bertemu lagi...”

Di Antara


Ini hari terakhir pertemuan panjang, yang berlangsung di Aula BAPELKES Kota Bengkulu. Banyak teman yang aku dapatkan disini, baik yang satu pulau maupun seberang lautan.

Mereka lucu, hangat, tak seperti teman-teman yang ada di Facebook, aku tak tahu wajah mereka. Aku suka menjelajahi beragam kelompok, dan menemui banyak aliran. Juga tidak seperti teman di masa lalu, yang datar dan kering.

Ada Adang, yang berasal dari Bogor. Logat sundanya sangat kental, dan ekspresinya akan membuat kita tertawa jika ia melihat wanita cantik. Aku juga kenal Hamid, dari Gorontalo. Ia selalu mengucapkan Medan dan Banten terbalik, dengan Medan yang teleng dan Banten yang pepet pada huruf e. “Bantén!”

Malam itu, berlangsung malam keakraban nasional, dengan api unggun di tengah taman. Semua kontingen melepas seragam, dan mengenakan kaos pertanda pembauran. Putih, gabungan segala warna. Putih juga berarti inti segala warna.

Api menyala terang, kehangatan ini membawa kami pada riang dan tawa, setelah perdebatan dalam rapat yang panjang.

Wajah-wajah lelah berjajar namun dirias tawa dan nyala api membuat bayangan kuning lembut di pipi dan rambut. Rerumputan kering, nyaman untuk diduduki.

“Teman....” Hembusku dalam lirih.
****


Aku sungguh kesepian. Di Jakarta, aku menemui udara panas. Memang banyak yang hangat, tetapi tersamar angin yang terhangatkan asap. Kemacetan membuat aku dan yang lain lelah untuk tersenyum. Kami tak sempat saling sapa, menanyakan kabar, dan tertawa.

Banyak teman di dunia maya, namun aku tak dapat melihat senyum yang tulus. Tertutup layar. Tersaput debu. Terbatasi kata-kata. “Senyum” terlalu panjang dituliskan, terlalu lama didengarkan.

Satu ketika,  disebuah kelompok pertemanan jejaring, aku ditegur seorang teman,
           
“Kamu pasti Hizbut Tahrir! Fotomu Palestina terus!” Ia mengaitkan HT dengan aktifis lokal pro-Palestina.

“Kenapa engkau berpendapat seperti itu, saudaraku?” Kataku dalam ketikan, menahan sesuatu.

“Saya kenal betul HT! Tujuh tahun saya bertetangga dengan orang HT, yang dibicarakan hanya Palestina, antidemokrasi, dan khilafah!” Aku tak tahu perubahan wajahnya. Tulisan tak pernah menggambarkan kehalusan tangan yang menulisnya dengan sempurna.

“Apakah dengan demikian saya bukan saudaramu?” Aku menawarkan suasana. Belum ada komentar dari yang lain, yang aku anggap saudara. Aku bukan HT, namun aku tak menolak organisasi itu.

Pada sebuah status, yang secara spontan diluar grup itu, aku menyindirnya. Dia memang belum berteman dengan aku, tetapi aku sudah menganggapnya saudara. Setiap mukmin itu bersaudara!

“Saudara tersayang, bukankah syahadat kita sama?” Aku biasa memanggil “Sayang” atau “Saudara” pada teman dekat soal keislaman.

Percakapan terus berlanjut kering, panas. Menggambarkan keriuhan dan ketidaksukaan. Embun yang senantiasa terselip dalam susunan kalimat antar saudara satu agama, satu guru, mengering tersengat panas matahari yang tersisip tanpa sengaja dalam hati.

“Sudahlah! Jangan mengelak! Dari foto profilmu aku tahu engkau HT! Kafir bughat, yang menentang pemerintah!”

Aku mengikuti perkembangan Palestina setiap hari. Sungguh! Bukan karena aku benci Yahudi. Bukankah Tuhan kami sama? Aku tak memiliki kemampuan menyiksa. Tuhan yang berhak. Aku hanya dapat memperkirakan surga atau neraka, tetapi tetap Tuhan yang menentukan.

Aku tidak benci Yahudi, tetapi aku cinta Palestina.  Itupun karena, aku mengenal salah seorang dari mereka. Esraa Saqer. Gadis cantik, berkulit gelap, mancung. Alisnya tebal, namun matanya sayu dan lebar. Garis pelangi matanya menyiratkan perang yang tak henti.

Kami pernah mengobrol dalam bahasa inggris, dan ia minta didoakan agar anak muridnya sehat. Dia seorang guru bagi pengungsi di perbatasan Jordania dan Tepi Barat, kerajinan tangan dan bahasa Inggris.

“Kamu tidak minta kemerdekaan negerimu?” Tegurku, suatu saat.

“Kami sudah merdeka!”

Oleh karena dia, aku berteman dengan wartawan italia yang bekerja di Palestina, Vittoria. Ia memberi kabar langsung dan foto-foto ekslusif yang tidak dipajang di media massa.

Hari “perayaan” kemerdekaan palestina tiba, dan ia mengabarkan festival besar, ribuan orang yang tersisa. Anak-anak yang tersisa, gadis dan pemuda yang tersisa, turun ke lapangan di Gaza dan Jerussalem. Membawa bendera, putih. Hijau. Hitam. Merah.

Yang mengesankan, semuanya tertawa dan tersenyum, tak ada yang menangis. Dalam foto yang ia berikan kepadaku, tergambar seorang anak yang digendong ayahnya, dan tertawa, sambil di sebelahnya ada yang mengibarkan tinggi-tinggi bendera baru dan masih baik.

Ini kujadikan foto pengenal Facebook, dan banyak yang menyangka aku aktifis, pengamat, bahkan ada juga yang menyangka aku anak rohis yang didoktrin mentornya.
Aku mencintai Palestina karena ada manusia di sana. Bukan karena benderanya. Bukan juga karena Jerussalem. Tuhan tidak pernah menyuruh kita mencintai Makkah, bukan? Tetapi mencintai penduduk Makkah dan mereka yang shalat di Haram bersama-sama.

Aku mencintai prinsip Esraa, karena dia berjuang dengan mengajar anak-anak pengungsi di Jordania, padahal dia seusia aku. Sangat belia. Orang tuanya tetap berjaga di Ramallah, kedua kakaknya entah dimana, namun terakhir terdengar di Jerussalem.

“Tentara Israel tidak mencarimu?” Aku penasaran.

“Kenapa harus mencariku?” Kata-katanya menyiratkan ketenangan. Dalam.

“Bukankah kamu orang Palestina?” Desakku.

“Israel tidak mencari kami, tetapi mencari tanah kami. Tanah yang tejanji buat mereka. Mereka tidak haus darah kami, tetapi mencari tanah buat rumah” Aku terpana, aku salah sangka kepada Israel selama ini.

Orang yang menuduh HT tadi tetap berkeras, aku meninggalkan percakapan.

“Saudaraku, kenapa syahadatmu tertuju kepadaku? Bukankah syahadat kita sama?” Aku mencoba membuka pemahamannya, namun gagal.

“Saudara....” Kata-kataku menguap bersama udara panas yang senantiasa mengelilingi kami.

****

Api unggun semakin besar, menghangatkan malam yang indah dan panjang. Ada halo, lingkaran pelangi yang mengelilingi bulan karena embun membiaskan cahaya halusnya. Sejuk. Tidak akan tercipta kemarahan. Pemandu acara juga dengan ceria menanyakan kabar kami satu persatu.

Rafian, yang diangkat sebagai wakil pemimpin organisasi bidang keuangan, terpergok baru pulang bersama gadis berjaket merah, salah seorang panitia. Wah! Kami semua tergelak dan tertawa, dengan muka merah ia menjelaskan, tetapi kami tetap tertawa.

Pikiranku melayang kepada alamat jejaring  bernama Fahmi,  juga seperti Rafian, sempat pergi namun kembali membawa kejutan.

Di grup pertemanan lain, akun-akun lintas agama membuat misi untuk berdamai. Namun, dengan disusupi akun yang menghendaki permusuhan atau perpindahan agama dengan kerusuhan, alamat itu berubah menjadi promosi agama.

Agama yang dijual seperti obat batuk, berkhasiat macam-macam, dan saling menjelekkan. Yang ini tidak menyebabkan kantuk, yang lain menyebabkan kantuk menahun. Yang ini rasa jeruk, yang lain rasa obat. Nah!

“Aku tidak percaya Tuhan lagi, jadi maaf, mau kamu tawarkan agama macam-macam, agama saya sekarang itu ya “Tanpa Agama”, jadi jangan paksa” dia tadinya debater, dan banyak orang Hindu serta Katolik yang ia ajak berdialog, bahkan berdebat.

“Anak ini kenapa sih?” Joseph, seorang katolik berkomentar di kirimannya. Memang, kami memiliki mengelompokkan sebutan berdasarkan umur. Jadi, seperti keluarga besar.

“Ampun, baru kemarin dia berjuang buat agamanya!” Paradev, menyela dan berkomentar keheranan.

Rupanya, ia terkena masalah, ada sesuatu dengan keluarga nyatanya. Seperti lilin-lilin kecil yang mati, kami semua-lintas agama-tersulut hangat pagi. Menyala kecil-kecil, namun jadi satu, menerangi kedalaman malam hingga mampu melihat sekeliling.

Justru, kami semua mengarahkan pemahamannya kepada keberadaan Tuhan. Dan yang mengherankan, baik hindu, kristen, budha, islam, semuanya satu pendapat: Kita mau tidak mau dibawah kepemilikan Tuhan. Mungkin, Tuhan yang dikenal Fahmi sebelumnya salah, Tuhan yang hanya bisa menyiksa.

Ia tidak kenal Tuhan yang penyayang. Padahal Tuhan itu penyayang, mungkin ia hanya diberi gambaran neraka, tanpa diberi gambaran surga.

Ia akhirnya mengerti. Kami senang, dan esoknya kembali diskusi dan debat seperti biasa. Inilah saudara, dan kami sama-sama manusia. Saudara, yang menyatu lintas agama, hingga kami lupa, kami tak pernah melihat satu sama lain, namun seperti keluarga yang sama-sama mencari Tuhan.

“Keluarga....” Semoga kami menemukan Tuhan yang sempurna.

****

Sebelum api unggun diadakan, kami berkunjung ke Pusat oleh-oleh Bengkulu. Macam-macam dijual. Yang banyak aku beli gantungan kunci dari kulit kayu, namun disusun menyerupai bunga Raflesia, lambang kota Bengkulu. Kata salah satu panitia, harusnyakami ke hutan wisata bunga ini, namun sedang tidak musim.

Aku memang sedang kurang enak badan, rapat berlangsung dengan sangat lama. Debat. Membuat dehidrasi. Aku membeli tiga botol teh dan memegangnya, tanpa pembungkus, karena tak disediakan plastik.

Mendadak, seorang gadis cantik, berjilbab hijau muda, duduk di sebelahku karena bangku lain memang sudah penuh. Mungkin karena aku menjadi salah satu pimpinan dalam jajak pendapat, ia tak lagi segan. Seperti sudah kenal, padahal aku tidak kenal dia. Aku hanya tahu dia delegasi Semarang.

“Boleh minta air tidak? Aku sangat haus” Kata-katanya tersusun lembut, ia tampak lesu dan agak pucat memang.

Kami melanjutkan perbincangan, yang awalnya untuk membunuh waktu, tetapi malah ia mengalihkan pada yang tak kusangka.

“Kamu kok bisa menyanggah pendapat dengan kuat, ya? Suka baca buku ya?” Aku terkejut.

“Iya, memang, tetapi aku tak seberapa dibanding mereka,” Mukaku mungkin merah, tetapi ia tersenyum halus.

“Suka buku apa?”

“Jujur, mungkin kamu tak tahu. Aku suka buku karangan Mutahhari, Manusia dan Agama. Juga Sayyid, Milestone” Aku benar-benar mengira dia gadis yang pintar, namun tak suka baca buku yang itu.

“Lho, Mutahhari? Wah, kamu mau tahu sesuatu?”

“Memang kenapa?” Aku heran, wajah cantiknya seakan menyimpan sesuatu dari balik tirai.

“Aku keponakan Kang Jalal” Mataku hampir minta liburan keluar, dan jantungku sudah menulis surat cuti. Jalaluddin Rahmat?

“Ulama besar Syi’ah asal Indonesia? Wah....”

****

Malam ini hari terakhir kami berkumpul, sebab setelah malam keakraban aku pulang dengan pesawat. Dia juga, pulang ke Semarang.

Sesi bersalaman, sesi terakhir yang dilakukan sebelum bubar, membuat barisan melingkar dan aku akhirnya sampai ke barisannya. “Syafa, malam ini aku pulang” kataku menahan haru. Dia menyisipkan matanya kedalam mataku lekat-lekat.

“Iya, sayang sekali, kita belum bicara banyak,” Ia menjawab juga dengan haru, namun masih sempat tersenyum indah.

Tanpa sengaja, aku mengangkat tangannya, yang tanpa sadar masih aku jemba sedari tadi hingga barisan terhenti dan semua penglihatan pasti menuju kami. Waktu berhenti. Tak lagi terdengar dentang.

“Kita harus bertemu lagi, meskipun entah kapan, ya?” Ia berkata lambat, barisan-entah kenapa-tidak protes dan justru semakin mendekatkan diri pada kami.

Aku meletakkan tangannya yang halus di dada kiriku, ia dapat merasakan detak jantungku, dan aku dapat merasakan tangannya makin erat. Hangat.

Hei! Ia Keponakan Jalal! Ulama yang dikecam sesat oleh banyak orang, dan membuat geger kalangan ulama. Lantas bagaimana?

“Kita memang harus bertemu lagi...”