Rabu, 08 Agustus 2012
Cinta
sebab disana aku melihat karang mencintai samudra
meski anak-anak riak terus menggerus tetapi ia tetap akan berdiri dan hanya akan berkata
biarkan aku tetap mencintaimu
aku suka bukit-bukit
sebab disana aku melihat bulan mencintai matahari
meski dengan terbitnya, bulan akan mati dan terganti tetapi ia tetap akan kembali dan berkata
biarkan aku tetap mencintaimu
Senin, 06 Agustus 2012
Agama
mari mengafirkan sesama muslim, dan mari menyayangi musuh-musuh kita sebagai saudara
tiada cinta selain Cinta
jika Cinta adalah syahadat maka saksikan bahwa syahadat itu tepat menghunjam kedalam dadamu, dan mematikanmu, lalu membakarmu dengan api yang mengerikan
mari memunafikkan ulama, dan merobek-robek luka mereka
tiada cinta selain Cinta
jika Cinta adalah syahadat maka saksikan bahwa syahadat itu tepat menghunjam kedalam dadamu, dan mematikanmu, lalu membakarmu dengan api yang mengerikan
mari memunafikkan ulama, dan merobek-robek luka mereka
tiada ilmu selain Ilmu
kita hanya menonton siaran masa lampau di masa kita sekarang
dan tak lebih dari cuplikan percakapan antara
kita dan Tuhan
mari memanas-manaskan neraka dan menutup jauh-jauh surga
dari mereka yang berzina, mereka yang mabuk
karena surga hanya milikmu yang berpeci, berbaju muslim, berkutang taqwa, dan berjanggut seperti air terjun yang terjungkal diatas batuan
mari mengarab-arabkan apa yang kita cinta sebagai arab
memasir-masirkan hutan dan mengharamkan tetes-tetes air menembus batuan
kita hanya menonton siaran masa lampau di masa kita sekarang
dan tak lebih dari cuplikan percakapan antara
kita dan Tuhan
mari memanas-manaskan neraka dan menutup jauh-jauh surga
dari mereka yang berzina, mereka yang mabuk
karena surga hanya milikmu yang berpeci, berbaju muslim, berkutang taqwa, dan berjanggut seperti air terjun yang terjungkal diatas batuan
mari mengarab-arabkan apa yang kita cinta sebagai arab
memasir-masirkan hutan dan mengharamkan tetes-tetes air menembus batuan
Kamu
"Jangan beritahu siapa-siapa bahwa aku mencintaimu"
karena aku terlanjur membenamkan kaki pada sepi
dan sult beranjak kepada pagi
Tahukah kamu, Sayang
ulat yang memangsa bunga tak pernah menyadari bahwa bunga
terlalu mencintainya
hingga ia tergetar menjadi kupu-kupu
juga matahari yang terlalu mencintai bulan, sehingga membenamkan diri menjadi senja yang sepi
tetapi indah bagi kita berbagi
karena aku terlanjur membenamkan kaki pada sepi
dan sult beranjak kepada pagi
Tahukah kamu, Sayang
ulat yang memangsa bunga tak pernah menyadari bahwa bunga
terlalu mencintainya
hingga ia tergetar menjadi kupu-kupu
juga matahari yang terlalu mencintai bulan, sehingga membenamkan diri menjadi senja yang sepi
tetapi indah bagi kita berbagi
YA ALLAH
Ya Allah
Ayat-ayatmu berdentingan dengan sederhana dan nada-nadanya
Tiba jauh kedalam dada
Getarnya mebuat kita saling cinta, dan kita akan saling
menjaga
Hari-hari terbangun jadi surga
Ya Allah
Hari ini ayat-ayatmu turun menyerupai cinta, maafkanlah aku dengan
cinta
Matahari tak bisa dipaksa jadi senja karena siang terlalu
bijaksana
Untuk menerangi langkahku yang mendekat, terus mendekat
kepadaMu
Ya Allah
Aku ingin pulang kepada Tangan-Mu sebagai anak-anak yang
sederhana
Tidak mengenal dosa dan berhiaskan tawa
Tidak kenal luka dan beban kerja karena
Ya Allah,
Beban kerja membuat aku menjauh dariMu
Aku kehilangan cinta, padahal tiada cinta selain Cinta
Ya Allah
Disaat aku ingin kembali mencintaimu maka tangan-tangan
manusia ramai-ramai
Memegang tanganku dan mengiblis-ibliskan aku
Mengafir-ngafirkan yang cinta kepadaMu dengan caranya
sendiri
Ya Allah
Cinta kepada dia yang Engkau bangkitkan dari sulbi membuat
aku kehilangan Cinta
Padahal tiada cinta selain Cinta
Sabtu, 04 Agustus 2012
Kita Harus Menyelamatkan Sebanyak Mungkin Manusia
Kita
Harus Menyelamatkan Sebanyak Mungkin Manusia!
15.
00.
“Kita harus
menyelamatkan sebanyak mungkin manusia, yang muda terutama. Yang wanita harus
yang cantik demi menyelamatkan keturunan
kita dari penyakit. Yang remaja, periksakan dan beri kartu lulus uji, standar
bahwa dia lulus uji penyakit dan IQ. Apapun agamanya!”
“Berapa jam yang kita
punya?!” tanyanya kembali sambil mengacak-acak dokumen. Mencari sesuatu.
“Menurut prediksi,
hanya tinggal lima belas jam lagi!” sahut bawahannya.
Dia termenung kembali.
Negeri yang dia bangun
selama ini, akan hancur seketika, ditelan bencana. Ombak mahadahsyat, yang akan
muncul akibat letusan gunung raksasa di tepi lautan.
Para ahlinya, di Kementerian
Kebumian Dan Kelautan telah meramalkan setengah hari lagi daratan kepulauan itu
akan lenyap, ombak yang terjadi akan setinggi 150 meter, menyapu 100 km keatas
daratan.
Hanya puncak Gunung
Gede, dan pegunungan diatas tigaribu meter yang akan selamat. Siapa yang dapat
menghindar dari hujan batu dan api? Selama satu bulan, sudah tiga meter abu
menimbun segalanya. Bahkan istana negara sudah terbenam, hujan yang belum lama
terjadi mengubah abu menjadi air bah hitam yang membawa pasir dan menewaskan
ratusan orang.
Empat setengah tahun
dia memimpin, tak akan pernah terbayangkan apa yang dibangun oleh kesepuluh
pendahulunya akan hancur sia-sia. Monas sudah hampir rubuh, ia terhantam air
bah. Gelora Bung Karno ambruk tak kuat menahan abu setinggi lima meter di
tribunnya.
Getaran akibat
letusan-letusan kecil telah meruntuhkan bagian terbesar kota, dan meretakkan
jalan-jalan hingga tak dapat dilalui mobil, truk, dan ambulans.
Pasar tanah abang habis
terjarah lalu dibakar, dan tinggal bertingkat dua saja. Sementara koleksi
museum-museum dibawa ke negera eropa untuk diamankan. Tentu, dalam keadaan
hancur.
PLN telah lama memutus
aliran listrik, sebab pembangkit utama di seluruh pulau dan lautan bergaris 500
km sudah rusak dan tertimbun abu.
Di Jawa Tengah saja,
semua sungai sudah hilang, terendapkan oleh lahar dan pasir panas, yang sekejap
berganti lumpur hitam.
Banyak yang menangis,
pengungsian untuk pejabat itu nampak dipenuhi bacaan-bacaan yaasin dan shalat
taubat, sementara yang Kristen menggelar misa terakhir kali sebelum evakuasi.
15. 30.
Dengan tergesa, ajudan
melaporkan bahwa lahar sudah keluar dalam skala kecil, dan membuat sekitar
kawah gunung laut itu ditutupi awan dan uap air.
Ada yang sudah sampai
daratan, dan menimbun habis pelabuhan Sunda Kelapa, Muara Angke, Tanjung Priok,
dan pelabuhan kecil-kecil di Jawa Tengah.
18. 00.
“Mana kapal kita?”
“di pelabuhan selatan”
“berapa kapasitasnya?”
“lima ratus”
“mau kemana?”
“Pak Wakil bilang, ke
utara, entah Rusia atau China, asal jangan Jepang.”
“Jepang?”
“ya, patah lempeng kita
sampai sana”
“siapa nanti yang
menemani kita selain pejabat atas departemen?”
“atasan Kepolisian, TNI,
PGRI, pemilik-pemilik perusahaan BUMN, gubernur, dan sebagian walikota”
“Jakarta sudah hancur”
“berapa yang selamat?”
“lima ribuan katanya,
tak ada mayat-semua-terbawa ke laut. Pak?
“ya?”
“boleh saya bertanya?”
“saya lelah, dan saya
butuh teman bicara”
“pak, belakangan ini
nada bicara bapak menjadi datar. Hilang. Ada yang bisa saya bantu pak?”
“kamu adalah ajudanku
yang terbaik, Kolonel”
“terimakasih, pak”
“aku kehilangan semua
keluargaku. Aku menahan-nahan emosi agar masyarakat tak ikut emosi. Bila aku
menangis, masyarakat akan betul-betul menganggap ini bencana besar”
“ini memang besar, pak”
“kamu belum pernah
melihat ketika aku menghancurkan kota dulu, waktu aku memimpin pertempuran di
Iran”
“maksud Bapak?”
“mungkin ini menjadi
penebus dosaku di waktu dulu”
“sudahlah, pak”
“aku salah, ya?” senyum
sang Presiden mengembang, getir.
21. 00.
Pasukan Indonesia
menghancurkan Teheran, ketika kota itu dikuasai Amerika. Lima tahun yang lalu.
Jenderal Ibrahim, yang menjadi panglima perang, mengeluarkan senjata rahasia
yang ditemukan berkat teknologi terbaru mahasiswa ITS, pelontar petir, yang
mampu meledakkan sebuah tank sekali lecut. Senjata itu kecil, seperti AK-47 dan
petir putih akan melecut seperti cemeti.
Ribuan orang tewas,
sebagian karena ketika 500 pesawat AS datang, dihantam petir raksasa dari
pesawat siluman Indonesia.
Gosong.
Akhirnya, Jenderal
Ibrahim menjadi presiden pada pemilu, setahun kemudian. ia memiliki program
pengembangan angkatan perang dan teknologi, disamping peningkatan pendidikan
dengan meningkatkan jam tatap muka para guru.
Gaji naik.
Subsidi bensin
besar-besaran dicabut.
Dialihkan kepada
subsidi koran dan buku.
Internet menjangkau
hingga kawah gunung Tambora.
Ia membangun proyek
sejuta hektar kembali, yang telah lama mati karena Soeharto gagal menjalankan
itu, enampuluh tahun yang lalu.
Karena kekuatan militer
ini, ia berhasil menguasai PBB dengan segala intriknya. Indonesia menjadi
pemimpin dunia.
Meski banyak bencana,
empat tahun berjalan dengan aman. Kejahatan turun, karena polisi dibekali
pelatihan cuci otak dan hipnotis.
“aku sedih juga,
kolonel. Ini semua aku bangun dengan sulit. Berapa yang mesti kita keluarkan
untuk membangun kembali makam-makam korban”
“kenapa bukan
perumahan, pak?”
“siapa yang akan
tinggal?”
Mereka berdua termenung.
23.30.
“Kolonel, kamu ingat,
pertama kali dimana kamu bertemu dengan istrimu?”
“ya, tentu pak, kami
bertemu ketika sebelum masuk dinas, di Ancol, dan kami bertukar nomor”
“sekarang Ancol hilang”
“iya, pak”
“rumahku, hancur. Anak
saya yang bungsu yang menjadi taruna juga mati, kena ombak di Priok ketika
evakuasi.”
“pak?”
“ya?”
“berapa yang mau bapak
selamatkan?”
“menteri, sarjana,
dokter, guru, orang kaya”
“maksud saya, yang
bapak selamatkan karena bapak sayang mereka?”
01. 00
Gunung itu dengan
keganasannya telah mengubah wajah Presiden-entah kenapa-mencintai makam
rakyatnya.
apa itu kebosanan?
Yang kita inginkan, sesungguhnya sederhana, bukan? Untuk
dapat saling menggenggam tangan dengan erat, hingga kehilangan adalah
fatamorgana, dan pertemuan adalah keabadian dan kita bersemayam di dalamnya.
Dalam taman kita berjalan, angin menerbangkan dedunan hingga
jatuh, dan menerpa riak-riak air, lalu mawar mekar tepat di hadapanku. Aku
bersegera memetiknya, ketika aromanya tercium di pipimu. Setiap helainya merah,
juga seperti pipimu, lembut dan memerah.
Jangan malu-malu, ini taman kita. Tenang saja, duri tidak
lagi berbahaya. Racun tidak lagi berbahaya. Udara tak akan panas atau dingin,
cukup saja sejuk bagi kita berdua. Jalan setapak juga cukup bagi kita berdua
agar tetap menyentuhkan tangan. Agar aku memastikan tanganmu tetap hangat, agar
aku memastikan tanganmu tetap menyerupai tanganku.
“Apakah nanti, dalam taman ini, kita temui rasa bosan?”
Tanyamu dengan sederhana. Meriapkan keriuhan yang tersemnbunyi.
“Bosan adalah sudut pandang, Sayang.” Angin menyela ketika
aku bicara.
Kamu tersenyum lirih, seperti angin yang segera meninggalkan
kita. “Kebosanan adalah ketika aku kehilangan cara memperbarui waktu kita
berdua.”
“Apa maksud kamu?”
“Kita setiap hari bertemu. Berdua, dan berjalan dalam taman
ini.” Jawabku.
“Lalu?” Kamu mengejar jawabanku.
“Bosan, nanti akan datang menjadi yang keempat diantara kita
dan Tuhan, ketika aku mulai memandang hari ini adalah sama seperti kemarin, dan
demikian pula kamu. Kita kehabisan cara membuat sesuatu yang baru dalam taman
kita setiap hari,”
Langganan:
Postingan (Atom)