Jumat, 15 Maret 2013
Buat Allah-puisi
DIALEKTIK
ya Allah, kami sebenarnya bukan tidak mau berfikir
tapi kami takut menjadi kafir atau dikafir-kafirkan oleh yang telah lebih dulu berfikir
kami sebenarnya bukan tidak mau berdoa, tapi kami takut
menjadi perintah yang memaksamu melayani kami
DOA
kadang orang-orang dengan sabar bilang kau jangan melakukan ini itu nanti kau dosa
tapi pada siapa Tuhan akan marah
kadang orang-orang begitu baiknya mengingatkan kita untuk shalat, tapi shalatnya tidak mencegah keji dan munkar
katanya jangan omong sembarangan padaTuhan, lalu dengan siapa aku harus mengadu?
DOA CINTA
Ya Allah
Perkara cinta bukan perkara yang mudah buat kami
Sederhanakanlah ia
Bukan karena wajahnya yang manis
Pipinya yang halus
Tangannya yang lincah mempermainkan angin
Malam ini, izinkan aku merindukannya lagi
Dan jadikan Engkau menjaga kami
ya Allah, kami sebenarnya bukan tidak mau berfikir
tapi kami takut menjadi kafir atau dikafir-kafirkan oleh yang telah lebih dulu berfikir
kami sebenarnya bukan tidak mau berdoa, tapi kami takut
menjadi perintah yang memaksamu melayani kami
DOA
kadang orang-orang dengan sabar bilang kau jangan melakukan ini itu nanti kau dosa
tapi pada siapa Tuhan akan marah
kadang orang-orang begitu baiknya mengingatkan kita untuk shalat, tapi shalatnya tidak mencegah keji dan munkar
katanya jangan omong sembarangan padaTuhan, lalu dengan siapa aku harus mengadu?
DOA CINTA
Ya Allah
Perkara cinta bukan perkara yang mudah buat kami
Sederhanakanlah ia
Bukan karena wajahnya yang manis
Pipinya yang halus
Tangannya yang lincah mempermainkan angin
Malam ini, izinkan aku merindukannya lagi
Dan jadikan Engkau menjaga kami
Kamis, 14 Maret 2013
Cerpen-Topeng Monyet
Tiap pulang kerja, mataku selalu iseng memperhatikan Topeng Monyet dan Pawangnya, yang mangkal tepat di seberang istana.
Jalan Merdeka memang sangat padat. Memaksa mata siapa saja yang melewatinya pantang melihat kedepan karena jenuh, tetapi menengok istana yang megah, atau ke arah lapangan Monas yang sangat permai.
Ia mangkal tepat dibawah reklame yang dipasangi spanduk kampanye calon presiden. Ada foto dua orang yang sangat besar, dengan kualitas editan yang buruk, lalu ada nomor urut.
Janjinya banyak, mulai dari utara hingga selatan. Kontras dengan taman Monas di belakang reklame itu, yang segar dan hijau.
Jika lampu merah menyala, ia akan memainkan Monyetnya kesana-kemari di trotoar, bersamaan dengan berhentinya motor-motor dan pejalan kaki yang antre. Mulai dari Monyetnya yang berlagak kehujanan, memegang payung warna pelangi, berlagak perang menenteng senapan kayu kecil yang dicat putih, hingga mengenakan rok mini seperti banci. Pawangnya mengendalikan si Monyet dengan seringai senyum aneh sambil berkata-kata.
Tentu, ada jalan cerita dan hikayat yang terus dirapalkan sang Pawang. Dulu ketika kecil, di Depok, aku sering mendengarkan si Pawang itu bercerita tentang si Monyet, yang kadang dinamai Mumun, Mimin, Maman, Eman, atau yang lain—yang penting ada imbuhan -man di belakang namanya—berkelana ke berbagai tempat dan menyamar menjadi beragam tokoh.
Cerita itu kadang begini bunyinya: Suatu pagi si Mimin ingin belanja ke pasar, membeli timun, kol, terong, teri dan petai. Maka si Mimin Pergi Ke Pasaaar (pawang melemparkan keranjang kecil). Pulang dari pasar, si Mimin kehujanan! (pawang melemparkan payung mini yang segera disambar si Monyet).
Kata bapak si Monyet, kakeknya dulu adalah pejuang kemerdekaan. Begini caranya, si Mimin Jadi Pahlawaaan! (melemparkan senapan kayu kecil).
Si Pawang setengah baya. Berkumis lebat, menggantung seperti krim diatas kue ulang tahun keponakanku. Hanya, yang ini warnanya hitam. Hitam, sering berjemur di panasnya Jalan Merdeka.
Ia selalu mengenakan topi koboi putih, kaus lusuh yang kadang putih kadang hitam, celana setengah betis, dan sandal kulit hitam yang tua dan hampir lapuk.
Kandang si Monyet kecil sekali. Hanya cukup ia berjongkok di dalamnya seperti burung nuri yang dikurung. Warnanya hijau bergaris kuning dan hitam. Sambil makan pepaya atau pisang, ia menanti-nanti saat pentasnya di panggung bata trotoar Jalan Merdeka yang panas bila disentuh tanpa alas kaki.
Satu kali, aku terjebak lampu merah agak lama dan sempat kudengarkan suaranya yang khas seperti tukang hikayat dari Melayu mendendangkan cerita, diselingi irama gambang mainan, kendang plastik, dan kadang ketukan kayu di kandang kotak sang Monyet. Suaranya agak keras, tebal, namun parau.
Karena ia selalu bercerita dengan senyum lima senti, maka entah kenapa ceritanya selalu terdengar lebih ceria dari seharusnya. Lebih mampu menonjolkan kesan jenaka.
“Si Mimin keeehujanaaan!” lalu si Monyet memegang payung yang dilemparkan Pawang.
“Si Mimin kepanasaaaaan!” lalu si Monyet berlagak membuka baju dan minum beer. Kaleng kosong.
“Si Mimin jadi pahlawaan kemerdekaaaan!” maka si Monyet menyambar senapan dan mendadak, dengan suaranya yang berat dan parau si Pawang melagukan Hari Merdeka milik H. Muntahar:
“Tujuh belas Agustus tahun empat lima! Itulah hari kemerdekaan kita (sambil menatap Monyet, seolah kemerdekaan ‘kita’ adalah kemerdekaan si Pawang dan si Monyet) hari merdeka nusa dan bangsa, hari lahirnya bangsa Indonesia! Merdeka!”
Kendang dan gambang mengiringinya dengan bunyi teratur, namun tak bernada. Maklum, alatnya sederhana dan tidak di desain untuk mengiringi nyanyian lagu kemerdekaan.
Sampai sini, nyanyian biasanya berhenti karena lampu hijau menyala dan ia harus segera mengambil uang yang berserakan. Percuma diteruskan, takkan ada yang mendengar.
Monyetnya sendiri biasa saja, warnanya cokelat keunguan, mungkin sejenis dengan spesies Monyet hutan yang sering juga kutemui jika aku berlibur ke curug-curug di Puncak sana.
Taringnya panjang, sering dikeluarkan ketika tuannya menarik rantai di leher, hingga ia meringis.
Kasihan juga, sih. Sering si Monyet membangkang, misalnya jika aku iseng pulang sebelum jam empat, hari sangat panas, dan si Monyet dipaksa menari. Ia terlihat sangat kehausan, dan menatap murung pada sang Pawang yang minum minuman berenergi warna kuning yang baunya seperti urin.
Ia lantas guling-gulingan, muka ditutup topeng, dan memegang senapan. Banyak juga orang yang memberikan uang. Terhibur, sirkus trotoar ini menarik sebetulnya. Entahlah. Aku sendiri memang suka melihat ini, dari pada mendengarkan pengamen yang suaranya diakrobatkan seperti Monyet itu juga, tetapi malah terlihat seperti main-main.
Akan tetapi, tetap saja. selepas lampu merah Jalan Merdeka itu, aku memikirkan sesuatu. jika setiap main ada lima orang memberi uang, seribu, dan sehari bisa main sepuluh kali—taruhlah dia datang siang dan istirahat tengah hari, dengan durasi sekali main lima menit—maka ia hanya mendapat sekitar limapuluhribu rupiah.
Itu makanku dua kali. Belum parkirnya. Belum pertamaxnya. Ya, kan?
Masalah si Monyet ini sederhana: ia tak mungkin dipaksa makan nasi.
Dua, ia hanya makan buah. Baik, menurut lawak jam delapan di tivi, ia makan pisang.
Tiga. Yang utama, uang si Pawang tak cukup memberi makan dan minum mereka berdua.
Baiklah. Minggu datang, dan aku memutuskan bersepeda ke lapangan Monas dengan harapan bisa menjumpai Monyet dan Pawangnya. Aku ingin menontonnya sekali lagi dengan santai, dan bila perlu, menghilangkan penasaranku dengan mengobrol.
Benar saja. ia sedang memainkan Monyetnya dengan riang, dan seperti biasa, dengan gaya hikayat, sampai pada bagian menyanyikan Hari Merdeka dan lampu hijau yang muncul seenaknya. Padahal ini hari khusus, dimana mobil dilarang melintas pada hari minggu.
“Dari pagi, pak?” basa-basi, biasa.
“Iya, ini lagi ramai...” mungkin si Pawang ini berpikiran, aku seperti intel.
“Monyetnya bagus.. (sumpah, aku bingung mau bilang apa sebagai pengantar) sehari bisa dapat berapa pak?”
“ya... lumayan, gocap. Nutup makan, lah...”
“Rumah dimana, pak?” aku seperti orang penasaran yang sok akrab, ya?
Selanjutnya, benar dugaanku. Uangnya ini tak cukup menghidupinya sehari-hari. Dulu, ketika aku bekerja di BPS, aku mendapat lelucon tentang orang Indonesia. Pengeluarannya, lumrah dua kali lipat dari penghasilannya. Dan untuk memenuhi kebutuhan, mereka menggunakan cara-cara yang mustahil namun masuk akal.
Hari itu, dia menolak membeberkan rahasianya, darimana ia memenuhi pisang monyetnya, kontrakannya, sepatunya yang baru, dan sedekah bulanan. Namun ia merasa aku seperti sahabatnya dan menjadi kenalan untukku.
Minggu ini adalah musim kampanye terbuka. Banyak janji-janji mewarnai televisi. Pidato mendadak marak ditampilkan, dengan gaya ala-ala Pak Karno.
“Rakyat masih miskin....”
“Pengangguran melimpah...”
“Reformasi gagal....”
“Hanya jika saya terpilih....” sambung calon terakhir.
Ngomong-ngomong, keponakanku yang TK masih cadel. Jika ia melihat kampanye di televisi ia sontak bernyanyi:
“Langit kecil... di bintang yang biru, amat banyak... menghias angkasa....”
Lalu mengajakku melihat topeng Monyet. Padahal, sulit mencari topeng Monyet di sekitar kediamanku sekarang ini. Ah, aku jadi teringat kembali dengan Pawang dan Monyetnya.
Ketika akhirnya hari pemilihan tiba, diadakan penghitungan cepat dan aku tak terlalu peduli siapa yang menang. Pikiranku masih melayang-layang pada Pawang dan monyetnya yang misterius, memainkan atraksinya di bawah reklame calon presiden nomor sekian. Semakin misterius. Zaman sekarang, mana ada orang hidup dengan uang yang kurang, coba? Sejujur apapun dia, pasti ada main.
Akhirnya, minggu itu kuputuskan memaksaanya bercerita. Memang sangat sulit. Bahkan aku tak terlalu peduli siapa namanya. Aku hanya penasaran. Si Monyet yang tak kurus-kurus amat itu—sebagai tanda kemelaratan—memandangiku jelalatan, mencari makanan. Persis seperti laki-laki memandangi perempuan.
Si Pawang akhirnya hanya memberi petunjuk sederhana, nanti malam, dia akan pindah ke seberang jalan, tepat di depan istana. Aneh memang. Kalau malam-malam ‘kan istana tutup, persis seperti toko. Sepi pula. Buat apa ia pindah kesana? Padahal kalau malam, Monas yang ramai.
****
Baik. Kuturuti petunjuknya. Malam itu, dengan berkendara motor dan mengendap-endap dari rumah, aku pergi ke Monas. Jam sembilan malam, tepat ketika anak muda yang besok masuk
pagi sekolahnya bersiap pulang dari lapangan Monas. Jalanan lebar jadi lengang. Jakarta Pusat malam-malam begini malah sepi, beda dengan Depok atau Jak-sel dan Jak-tim.
Motor sudah kuparkir, aku menuju tepat ke depan istana merdeka. Benar, kutemukan dia di depan pagar istana. Hanya dia dan monyetnya. Berdua. Heran, kenapa dia seperti berlagak mengikuti monyetnya, ya?
Akan tetapi, setelah aku mendekat, alangkah terkejutnya aku, ketika mendapati rantai si Monyet kecil yang biasa melekat di leher Monyet, kini tergelang di leher sang Pawang, dan sang Pawang menari-nari layaknya Monyet kecil di siang hari.
Berlembar-lembar brosur kebijakan pemerintah masuk ke kantong bekas permen lusuh tempat ia mengumpulkan receh, dan si Monyet dengan tangkas memainkan gambang dan kendang sambil sesekali melemparkan payung, baju, boneka, apapun yang menjadi alat peraga hikayat Monyetnya.
Tepat di gerbang istana, si Pawang, yang adalah manusia, dipermainkan Monyet kecil dan berlembar-lembar brosur, cek kosong, proposal, serta koran bekas tentang masa pemilihan umum dilontarkan dari dalam istana, namun si Pawang melihatnya, persis dengan tatapan manusia diluaran sana yang melihat uang ditaburkan sekenanya!
Siapa yang melontarkan barang-barang itu? Apa pula maksudnya ini? Istana masih sepi, sepi sekali!
Si Monyet memunguti brosur, majalah, pamplet, dan koran bekas itu persis seperti pada siang hari ketika ia memunguti uang yang dilemparkan penontonnya.
Aku mengepalkan tangan untuk meyakinkan bahwa ini kenyataan, dan semakin terpana ketika si Monyet betul-betul bersuara berat, parau, dan bicara seperti manusia. tepat pada hikayat, ketika si Mimin diharuskan menenteng senjata kayu kecil seperti senapan, dan Pawang biasa menyanyikan hari merdeka milik H. Mutahar dengan suara parau dan senyum lima senti, si Monyet bernyanyi dengan seringai senang menerima brosur dan koran bekas kampanye itu:
“S’kali merdeka tetap merdekaa! Selama hayat masih di kandung badaaan! Kita tetap setia, tetap sedia, mempertahankan Indonesia, kita tetap sedia, tetap setia, membela negara k-i-t-aaaaaaaaaa!”
Cerpen: Ombak
Setahun setelah perpisahannya dengan perempuan yang sangat disayanginya, pria itu, dengan segenap hatinya telah memutuskan untuk melepaskan bingkai jendela dari dinding kamarnya di lantai dua. Ia membulatkan perasaannya, untuk terus mengembara selama beberapa bulan. Meninggalkan kesibukan untuk menenangkan dirinya sendiri.
Entah dari apa.
Entah dari siapa.
Pria itu hanya sedang ingin berjalan dengan jendelanya.
Banyak tetangga dan rekan-rekan menganggapnya gila, meski ada juga yang menyayangkan tindakannya. Mencopot jendela itu sia-sia, katanya. Pria itu mengacuhkan, lantas pergi dari rumah. Ia ingin merenung di tengah kota besar. Di puncak sebuah gedung tinggi, tempat ia bisa melihat segala dinamika kota.
Lewat jendela itu, ia menyandarkan tangannya dan memandang jauh. Di sana, ia melihat sebelum senja, matahari telah terbenam lalu padam. Burung-burung yang kebingungan, hinggap sekenanya di kabel-kabel listrik.
Jalanan macet. Semua sibuk mengomentari kendaraan di depannya, sementara kendaraan terdepan mengumpat-umpat kepada lampu merah yang menghentikannya. Kota ini kehilangan cinta. Sudah tidak mengenal senja, dan hanya menganggapnya sebagai peristiwa biasa.
Tak ada pohonan yang menghitam karena bayang-bayang sendiri. Tak ada juga awan senja yang berarak. Semua kubus. Kubus gedung-gedung kota, dan kita tinggal di salah satunya. Senja tak pernah membeda-bedakan kubus, semuanya sama.
Tidak untuk dinikmati.
Ketika senja seharusnya mencapai titik terindahnya, deretan gedung-gedung perkantoran menghalangi. Maka, tidak pernah ada warga kota yang melihat senja. Pria itu akhirnya mengerti, kenapa kotanya menjadi kaku dan kehilangan rasa cinta. Tak pernah ada yang menikmati senja. Ia lewat begitu saja.
Ketika langit betul-betul jadi malam, sebuah gedung bertanya padanya.
“Kenapa kau membawa jendela sampai kesini?”
“Aku ingin menyelamatkan senja kedalam jendelaku”
“Sendirian?”
“Aku tidak lagi mempercayai siapa-siapa”
“Kenapa?” Kaca-kaca jendela gedung membiaskan kegiatan orang-orang di dalamnya.
“Entahlah, tetapi...”
Pria itu termenung-menung melihat dua orang, di sebuah jendela gedung itu, sedang tidur dengan nyenyaknya. Berdua. Tidak takut kehilangan apa-apa.
“Banyak yang menikmati senja lewat jendela rumahnya, bersama”
“Aku hanya ingin merenung”
“Tentang apa”
“Jendelanya”
Gedung itu akhirnya paham, ia tak melanjutkan pertanyaannya. Tetapi, mata gedung itu menyiratkan sesuatu. Pria itu entah, seperti merindukan masa lalu. tetapi bukan jendelanya.
Perjalanannya membawa jendela, terus mengantarnya sampai ke sebuah tepi laut yang tenang. Ombak-ombak bisa bicara. Senjapun hampir datang.
Ombak, yang melihat pria itu lalu berbisik pada yang lainnya, untuk sekedar mengajaknya bicara. Pantai dan lautan tidak pernah membiarkan siapapun sendirian di hadapannya. Disana, siang dan malam berbagi menjadi senja.
Matahari mengorbankan dirinya kepada malam, agar senja bisa muncul dan merenungi sisa-sisa siang hari. Pesisir mengorbankan dirinya dihantam ombak, agar pasir tercipta dan menjadi batas samudra.
“Senja yang indah, Teman?”
Pria itu tersenyum singkat, tetapi matanya sayu.
“Kau menikmati senja?”
“Ya, Ombak. Maukah kau duduk di sampingku?” Ia akhirnya menyerah pada sepi.
“Mari” Kata Ombak yang segera mengambil duduk di sebelah pria itu.
“Untuk apa kau membawa jendela sebesar itu?"
“Aku melepasnya dari tembok rumahku”
“Kau nampak berjalan teramat jauh. Aku melihatmu dari teluk seberang. Jendela ini untuk apa?”
“Entahlah, tetapi aku suka membawanya, untuk melihat apa saja dari salahsatu sudutnya, terutama, senja”
“Apa yang kau lihat, Teman?”
“Aku pernah melihat siang, matahari bersinar diatasnya. Aku berjalan, lalu kutemukan diriku telanjang tanpa busana”
“Bagaimana seterusnya?”
“Aku lalu merebahkan diriku di tanah. Aku melihat diriku begitu rapuhnya: matahari menghabisi kesegaranku. Aku mengering, lalu hujan turun”
“ Apa yang dikatakan hujan padamu? Ia senang sekali mengunjungi lautan dan bercerita apa saja”
“Aku diberinya pakaian hujan. Lalu aku dilarutkan, bersama jendela dan terhanyut sampai muara”
“Sebetulnya, apa yang ingin kau katakan, Teman? Jujurlah pada kami”
“Setiap kali ada wanita yang mengenakan jilbab, aku selalu teringat dia. Jilbab kesukaannya berwarna abu-abu, khas sekali, diselempangkan menyilang melingkari leher”
“Aku selalu ingat dia”
“Dua bulan yang lalu, kami tidak sedang bertengkar, tetapi dia sekejap membenci aku. Kami memang berhubungan jarak jauh, tetapi...” Pria itu merenung sebentar.
“Nampaknya, kau sangat mencintainya, hanya dengan cara yang tak ia mengerti”
“Bagaimana kau tahu?”
“Beribu tahun lamanya, aku menghantamkan diriku pada karang hitam itu, karena aku mencintainya. Aku tak pernah bicara, hingga akhirnya, ia mati menjadi pasir yang ada di kakimu saat ini, juga tanpa mengatakan apa-apa”
Matahari makin terbenam, pria itu masih memperhatikan dengan tatapan penuh makna pada senja yang merah dan bau laut. Terasa benar padanya, laut memiliki tenaga yang sangat besar.
“Tak inginkah kau kembali pulang? Tentu kau memiliki keluarga”
“Aku kehilangan diriku sendiri”
“Aku tak tahu kemana harus pulang” Tandas pria itu.
“Kau pasti tetap harus pulang”
“Suatu ketika, mungkin aku memang harus pulang. Mengetuk pintu dengan sepantasnya. Kembali menghirup aroma teh hangat di atas meja. Meletakkan tasku di kursi, dan mencium tangannya kembali.”
“Keluargamu pasti sangat merindukanmu”
“Pulanglah, teman”
“Suatu ketika, aku mungkin harus pulang. Membuka pintu kamar dengan lembut, dan berganti busana di dalam. Tidur dengan tenang, sementara sinar matahari sore masuk perlahan-lahan“
“Bukankah dengan kepergianmu, nantinya keluargamu hanya akan merasakan kehilangan yang lain?”
“Aku memang harus pulang. Aku pergi terlalu lama dan jauh untuk menyelamatkan senja. Tak kudengar kabar rumah yang nyaman, telah sekian lama...”
“Bagaimana dengan senja di rumahmu, apakah pernah kau selamatkan dengan jendela?”
Pria itu terdiam.
Pertemuan terakhirnya dengan rumah dan wanita yang sangat disayanginya, berakhir dengan perdebatan. Yang sepertinya sudah terpendam ratusan hari lamanya, tanpa sempat terselesaikan karena ragu-ragu.
“Teman?” Tegur Ombak.
“Ya, kami melinangkan airmata bersama-sama. Ia mengenakan baju ungu kemerahan, yang mengartikan ia sedang lelah terhadap sesuatu. Jilbabnya abu-abu. Sepertinya ia ragu-ragu juga dengan sesuatu...”
“Tentang wanita itu, ya?”
“Nampak benar ia menyembunyikan sesuatu”
“Sesuatu, yang aku juga tidak tahu. Aku tidak punya kemampuan membaca pikiran. Apa yang menjadi dasar pikirannya memisahkan antara kita? Aku gagal. Ya, aku gagal, aku tak bisa memaafkan diriku sendiri”
Senja sudah jadi malam, dan pria itu tak menyelamatkan sedikitpun senja di laut itu dengan jendela, karena lebih banyak merenungkan kata-kata Ombak padanya.
“Katakanlah pada kami, untuk apa kau bawa jendela ini?”
“Untuk menyelamatkan senja”
“Dari apa?”
“Aku ingin menikmatinya lagi”
“Jujurlah, teman! Itu tak akan membuatmu lebih baik!”
“Ya, aku ingin menikmatinya lagi, dengan dia! Apakah jelas?!” Tiba-tiba pria itu berseru, beban di hatinya terasa memuncak.
“Aku tak pernah bisa menikmati senja bersamanya, karena kesibukanku, karena aku tak pernah mau memahami apa yang bisa dipahaminya sebagai kasih sayang!”
****
Empatpuluh kilometer per jam. Tidak begitu kencang. Semakin senja saja, angin tak hendak menyingkir dari jalan kami berdua. Asramanya terletak agak jauh, selang satu kota dari kota asal kami. Aku mengantarnya. Senja ini. entah kenapa ada perasaan yang berbeda, langitnya lebih senja dari biasanya. Berboncengan dengan sepeda motor.
“Ta?” Aku agak mengeraskan suara, mengalahkan deru angin.
“Kenapa?” Ia menjawab lembut, mendekatkan sedikit telinganya.
“Macet, ya?” Bodoh. Aku memulai percakapan dengan bodoh. Memang macet, tetapi bukan itu!
“Iya, kamu lelah? Kita istirahat saja dulu,” Jawabnya.
“Tidak, tidak usah, jika kamu lelah, tidurlah di punggungku”
“Iya, santai saja. jangan terlalu cepat”
“Kenapa, ya, kita mesti terpisah jauh? Dan ini hari terakhir aku bisa mengantarmu”
“Jangan begitu”
“beberapa jam, dalam sebulan. Aku hanya mampu memberikan itu”
“Jangan dipikirkan...”
“Jalanan ini makin macet, ya, sayang?”
“ini akhir pekan, semuanya keluar untuk menyentuh senja”
“Kita?”
“Apa?”
“Iya, kita, keluar untuk apa?”
“Maafkan aku, sayang”
“Tidak apa-apa. Kamu lelah, kan? Tidurlah. Akan kujalankan pelan-pelan motornya”
Percakapan-percakapan ini memperlambat senja. Apa lagi yang harus ku katakan? Dia telah tertidur di punggungku. Beberapa minggu ini dia mendiamkan aku. Tak juga dibalasnya pesan singkatku. Panggilanku. Nada-nada yang sama ketika aku memanggilnya menusuk-nusuk mimpi dan prasangkaku.
Jenuhkah ia?
Ya,
Jenuhkah ia?
Aku sadar betul, sikap dan penampilanku selama ini akan membuat orang berpikir dua kali untuk menghubungiku. Tegakah aku padanya? Jalanan yang aku lalui menuju asramanya menjadi penuh angka-angka dan huruf yang berantakan untuk aku tata sedemikian rupa: menjadi jawaban pertanyaan-pertanyaanku padanya. Dia diam.
“Kamu sudah makan, sayang? Ayo kita ke By Pass, ada warung enak disana...”
“Belum, kebetulan! Jam berapa?”
“Hm... Jam lima? Sudah siap, kan, sayang?”
Pesan semakin singkat saja. semakin mampu mewakili sebanyak mumgkin arti dalam sesedikit mungkin kata-kata. pada pertemuan terakhir sebelum saat ini, ada yang berbeda. Dia lebih lemah, terlihat lebih rapuh.
Ia tak mau dipaksa memberikan alasan-alasan yang logis menurut senja, ketika kutanya sebabnya. Wajahnya yang pucat. Matanya yang sayu. Flu. Suaranya yang lebih lembut. Ia hanya terlihat menikmati makan malam bersamaku, tidak lebih.
“Masih jauh, ya?”
“Iya, semakin gelap”
“Kamu sakit, ya?” Beban kuliahnya teras berat, membekas di matanya.
“tidak,” jawabnya. Sangat singkat.
“Baiklah,”
“Sayang?” aku menyapanya ketika terdiam. Sudah saatnya aku bicara serius!
“Kamu... jenuh, ya?”
Semakin malam. Mobil-mobil sudah menyalakan lampu, jalan raya semakin semarak.
Selasa, 19 Februari 2013
Hutan Kupu-Ku
Ranying Ratalla Langit, Sang Maha Tunggal, menata hutan demikian indahnya. Dedaunan tersusun seperti sayap burung-burung rangkong yang beterbangan mencari pasangannya. Ranting-ranting terjulur lembut, dan sinar gading matahari menembus sela-selanya. Beragam anggrek tumbuh dan kerap kali menyapa burung-burung yang berkunjung.
Pepohonan di hutan ini telah amat tinggi, mereka sudah tua. Memahami seluk-beluk manusia dan lingkungannya. Mereka menyaksikan manusia mati, lahir, mati, kemudian lahir lagi. Peperangan antar suku terjadi silih berganti, dan banyak yang mati. Darahnya menyuburkan lantai hutan, lalu embun pagi mengurainya menjadi hara.
Segala pohon yang telah diciptakan Ranying Ratalla Langit, diberi anugerah dan kutukan secara bersamaan. Mereka memiliki jiwa; namun disaat yang sama jiwa mereka membatu dan terendap menjadi lapisan-lapisan tahunan kayu. Itulah sebabnya, dimasa kita sekarang, jika kita menajamkan pendengaran akan terdengar melalui angin pohon-pohon bernyanyi. Menari. Menyenandungkan lagu-lagu kesegaran dan wangi rimba raya. Wangi surga.
Kupu-kupu adalah lambang jiwa. Jiwa pohon, jiwa bumi, jiwa manusia. jiwa yang belajar dari masa lalunya dan melalui saat-saat perenungan menuju kedewasaan. Kupu-kupu bisa terbang kesana-kemari karena terbebas dari pengaruh hawa nafsu, baik makanan, minuman, suami-istri, maupun kelelahan.
Ia hanya akan mati jika tugasnya selesai: membuat keturunan atau mati diterkam masa.
Bagi suku-suku yang ada sekarang, kupu-kupu adalah lambang jiwa suci yang terbebas dari segalanya, dan jika salah seorang diantara mereka mati, entah karena perang, penyakit, atau celaka, mereka akan berubah menjadi kupu-kupu. Semakin baik hidupnya, semakin putih warna sayapnya dan memendarkan cahaya yang menuntun kita yang masih hidup, jika tersesat dalam hutan maha indah itu.
Segala macam pohonan dan kupu-kupu, lalu dihimpun oleh leluhur pertama manusia, Manyamei Tunggul Garing Janjahunan Laut. Ia menciptakan taman yang luar biasa indah di tengah hutan, sebagai rasa syukurnya pada Ranying Hattala Langit, yang oleh beberapa klan dayak juga dipuja dengan nama Mahatara, karena telah mempertemukannya dengan perempuan, istrinya. Cinta yang diabadikan menjadi hutan yang hidup dan bernafas, bukan benda-benda mati. Taman itu kini ada di Meratus, Hutan Kupu-kupu.
Setiap hari, ia menyapa kupu-kupu, yang nantinya menjadi jiwa bagi anak-anaknya dalam kehidupan selanjutnya. Ia mengumpulkan segala jenis kupu-kupu yang menjadi perlambang jiwa.
Hingga pada suatu hari, keturunan Manyamei telah memenuhi hutan. Ia melakukan tapa moksa. Menghilang dalam perenungannya di tengah taman. Ia mencapai tingkatan bersama Mahatara.
Kini, keturunannya menetap di berbagai sudut hutan itu. Anak-anak ini tak ada lagi yang mengetahui keberadaan Hutan Taman yang dibangun oleh leluhur mereka.
Raja Sangen menjadi kepala sukubesar itu, dan ratusan orang berlindung kepadanya. Demikian kehidupan berjalan seperti biasa, setiap hari. Sepanjang siang. Anaknya, seorang putri yang cantik jelita, menjadi buah bibir segala isi desa. Tua muda. Kecantikannya dijaga betul-betul oleh Raja Sangen, sang putri dipingit begitu tersembunyi, hingga kecantikannya seperti anggrek hutan yang tersembunyi di puncak-puncak pohonan. Agung, putihnya memancarkan cahaya gading.
Sampai satu ketika, Suku Sungai, yang menjadi tetangga suku Batu, mulai memicu perkelahian dengan menghina dan mengganggu di perbatasan ladang antara Suku Sungai dan Suku Batu. Awal mulanya, perseteruan biasa.
Lama-kelamaan, orang-orang dayak ini lupa Adat Kaharingan mereka. Mereka saling membunuh dalam pertempuran besar, dua orang ksatria Batu terbunuh. Akhirnya semua menghentikan pertempuran setelah terdengar kabar Kepala Suku mereka, yang tidak mengikuti pertempuran, wafat terkena tulah yang disisipkan orang-orang Batu kedalam minumannya.
Untuk beberapa lama, keadaan hutan tempat mereka dibesarkan amatlah mencekam, bau darah bersahutan dengan teriakan jiwa pohon-pohon. Kupu-kupu beterbangan, seperti menaburkan melati perpisahan bagi pahlawan-pahlawan perang yang gugur dalam pertempuran ini, tetapi sebenarnya, kupu-kupu itu adalah jiwa mereka sendiri yang meratapi raganya, hancur sia-sia dalam pertempuran.
Dayak Sungai dan Dayak Batu sebetulnya memiliki watak asli yang sangat pemurah dan lembut. Hanya saja, ketika mereka lupa bahwa mereka berasal dari keturunan yang sama, mereka menjadi tak saling kenal dan lupa.
Raja Sangen, akhirnya mengadakan upacara besar untuk mengumpulkan para tetua-tetua, Dato, dan ksatria yang tersisa untuk membicarakan pemindahan kampung. Mereka memilih mengalah, demi terjaganya hutan dari bau darah, dan agar kupu-kupu bisa beterbangan dengan bebas.
Ada seorang ksatria, Mahin namanya. Ia berwajah tampan. Berdada bidang, dan tubuhnya tegap berisi. Kecerdasannya melebihi yang lain. Itu sebabnya Raja Sangen mempercayainya untuk mencari tanah yang baru, untuk ditempati. Di pipinya, ada goresan tato bergambar kupu-kupu, sebagai lambang ksatria utama. Namun, karena ia biasa mengenakan topeng, maka jarang yang mengetahui tato jenis apa yang ia punya, kupu-kupu Dato kah? Kupu-kupu ksatria kah? Atau kupu-kupu tanah-lambang anggota bawahan suku Batu?
Sang Putri, yang sempat mengamat-amati tato ini, berkesimpulan bahwa tatonya cukup aneh, gabungan antara Dato dan Ksatria. Tetapi, dia tampan juga.
Memang, di kalangan Suku Batu dan juga suku-suku lainnya, tato dianggap mewakili kekastaan tertentu, dan tato ini mutlak bergambar kupu-kupu sebagai simbol jiwa manusia.
Putri Raja Sangen juga ikut menemui para Tetua sebagai keluarga Kepala Suku. Mahin, yang masih berusia muda, merasakan sinar gading sang putri meresap jauh kedalam hatinya. Suaranya, entah kenapa tiba-tiba menjadi suara serunai terindah dalam hutan. Ah, ia mengingatkan Mahin pada Hutan Perenungan tempat para Dato bertapa, melepaskan segala nafsu. Menyayangi Ratalla Langit lebih dalam pada pertapaannya.
Mahin jatuh cinta. Ya, kupu-kupu nampak lebih indah dari seharusnya.
Disaat yang sama, Suku Sungai mengirimkan duta. Mereka ternyata ingin berdamai dan hidup seperti sedia kala, tak harus berperang dan melupakan sanak saudara. Mereka datang bertepatan dengan upacara berlangsung, dan diterima oleh seluruh pemimpin suku Batu.
Setelah beragam Kaba dibacakan, pantun dan lain-lain juga selesai sebagai tanda ramah tamah, mulailah Suku Sungai menceritakan niatnya.
Perdamaian mereka, ternyata menuntut syarat persembahan.
Sang putri, yang kecantikannya menjadi cahaya gading hutan mereka.
Raja Sangen terang saja menolak, Putri adalah juga lambang kehormatan suku. Jika Sungai menuntut persembahan, itu sama saja dengan merendahkan martabat Batu!
Ya, manusia. dengan segala nafsunya, melupakan hasil petapaan mereka dalam kepompong, dan kembali menjadi ulat yang memakan segalanya. Kehilangan sayap kupu-kupu.
Duta Sungai kembali dengan emosi yang tertahan, dan segera menyarankan agar sukunya mengadakan persiapan perang, karena melihat, apa yang dilakukan Sangen dan Batu adalah sebuah pelecehan juga.
Perang, akan segera dimulai diantara para kupu-kupu. Kupu-kupu amarah manusia.
Suatu malam, Sangen dan keluarga besar Suku Batu mengadakan perkemahan besar sebagai tanda mereka bersiap pindah pada esok harinya. Mahin telah berhasil menemukan dataran indah yang ditumbuhi makanan dan landai untuk ditempati, namun ia hanya mengirim utusan semata.
Ada yang tertahan dalam hatinya: ia merenung-renung saja.
Sang Putri.
Mahin melihat dengan mata batinnya, bagaimana kupu-kupu tercipta melalui telur dari induknya, lalu ia menetas. Ini mengingatkannya pada masa kecil yang sungguh bahagia: belum mengenal perang.
Ulat itu lalu memakan daun-daunan, dengan lahap. Tanpa henti. Hingga badannya membesar berkali-kali lipat. Berbahaya, ada yang beracun dan bisa menyengat. Sebelum manusia dewasa, memang egonya bertambah besar. Ini yang terjadi pada kedua suku, yang sebetulnya masih bersaudara itu.
Kepompong lalu tercipta, ulat itu berhenti memakan dedaunan. Ia menjauhkan diri dari hawa nafsu. Bersembunyi jauh dibalik daun-daun tertinggi di hutan. Tiga minggu lamanya, kepompong siap mengeluarkan manusia sempurna, sebagai perujudan kupu-kupu.
Hingga akhirnya, tanpa mengenal perang, kupu-kupu itu terbang kesana-kemari. Hinggap memperindah bunga-bunga.
Seekor kupu-kupu lainnya mendekati, dengan warna yang tak jauh berbeda. Mereka memadu sayapnya, dan tercipta tarian-tarian indah cinta kupu-kupu di udara. Begitu seterusnya.
Sang putri, ternyata demikian pula. Ia dengan kelembutan hati hutannya, terus mengamati perkembangan sukunya. Kabar Mahin, dan segala tindakannya.
Kupu-kupu terbang di hadapannya, lalu hinggap di sebuah tangkai mati: narasi-narasi daam benaknya mengalir, merindukan Mahin sebagai kupu-kupu yang jauh lebih dewasa darinya.
Beberapa hari kemudian, Suku Batu mempersiapkan perkemahan untuk berganti tempat dan kampung, sesuai dengan petunjuk yang diberikan Mahin. Hutan Utara. Raja Sangen memahami, bukan orang sembarangan yang bisa menembus hutan Utara, karena itu ia mengutus Mahin. Ada sesuatu dalam silsilahnya.
Perkemahan rombongan Suku Batu berhenti di sebuah lembah untuk bermalam, dan mereka menyusun-nyusun bekal untuk esok hari. Perjalanan terasa amat panjang, namun setidaknya mereka tak perlu lagi berseteru dengan Dayak Sungai.
****
Tiba-tiba malam menjadi mencekam, berkabut merah. Perkemahan Batu, entah dari mana asalnya dilempari bara api, sehingga keadaan menjadi genting. Mendadak, sumpit berlesatan seperti elang, menembus leher orang-orang Batu.
Di tengah kegaduhan, Raja Sangen terbata-bata mengatur sukunya dalam formasi perang. Namun percuma; serangan mendadak ini telah menghabisi sebagian besar laki-laki Batu. Tinggal puluhan orang saja yang siap memegang senjata, dan pertempuran berlangsung.
Apa daya jika Suku Sungai yang merencanakan peperangan ini terlanjur menemukan tenda Raja Sangen, dan pergumulan terjadi. Segala macam ajian dikerahkan Sangen untuk mengalahkan penyusup bertopeng perang yang memasuki tendanya, namun dari belakang sebuah tombak menembus tenda dan langsung merobek lambung Raja Sangen.
Malang, Raja Sangen yang tak sempat mengelak: racun menjalari darahnya. Giliran si pria bertopeng mencari tenda sang putri sebagai persembahan kepada kepala suku Sungai. Ketika tenda sang putri telah ditemukan, pria bertopeng itu seketika merobek-robek kain tenda, dan kini sang putri terduduk di tanah dengan ketakutan.
Apa yang ia alami kini, adalah sebuah perang buta, yang tak pernah ia bayangkan.
Ayahnya gugur.
Pria bertopeng bersegera meraih tubuh sang Putri, namun mendadak pria bertopeng ditendang oleh pria bertopeng lain yang memegang mandau, mandaunya khas berhiasan ksatria Dayak Batu.
Siapa dia? Sang Putri seolah mengenalnya.
Di tengah keributan yang mencekam, kedua pria bertopeng bertempur mati-matian. Segala bentuk mantra mereka ternyata imbang, bahkan cahayanya kadang terlontar kesegala arah.
Satu ketika, penyelamat putri ini lengah. Dadanya tertembus sumpit beracun yang melesat dari arah depan, seorang Sungai bersembunyi dibalik semak-semak, mengintai sejak tadi.
Pagi hampir tiba, sudah remang-remang. Pria Bertopeng yang menyelamatkan sang putri masih bergeming, seperti tembok Batu.
“Pergilah, putri! Larilah!”
“Ke utara!”
Putri bimbang, dalam pengetahuannya, Hutan Utara adalah hutan larangan, karena dipercaya disanalah ruh orang-orang mati bersemayam bersama leluhurnya.
Ia terus menyerang lawannya meski hampir kehabisan darah. Satu ketika, tinju petir penyerangnya menghantam topeng penyelamat, sekaligus melemparnya keudara. Ia terbanting dengan keras.
“Cepatlah! Akan ada yang menunggumu di sana!”
Mendadak, penyerang memanggil kalajengking dan kelabang dari dalam tanah, untuk memakan daging-daging pria bertopeng penyelamat itu. Berpencaran kesegala penjuru, memenuhi arena pertempuran. Sang putri, sempat melihat tato dari balik topeng sang penolong yang pecah: kupu-kupu ksatria yang sangat ia kenal, dan mata yang pernah beradu pandang dengannya. Tetapi siapa?
Pria penyelamat lengah, ia tertebas mandau tepat di lambungnya. Terjatuhlah ia, lalu ia seperti akan mati. Ia melihat kupu-kupu putih pucat di penjuru arena pertempuran.
Jiwanya seperti ditarik ke alam para dewa, namun tiba-tiba perasaannya menjadi tenang, entah kenapa seperti ada zat penenang yang mengaliri darahnya.
Ia melihat leluhurnya hadir di arena pertempuran, namun tak seorangpun bisa melukai mereka karena mereka hadir dalam bentuk gaib. Semua bersayap kupu-kupu putih.
Dalam kegaiban itu, hadir pula ayahnya. Seorang tua, dengan kewibawaan tiada tara.
“Anakku” Katanya tenang.
“Ayah?” ia terpana.
“ Ini dimana? Apakah aku sudah mati?”
“Kau tidak mati. Kami membawamu ke persemayaman para dewa, alam kupu-kupu yang telah menemui kebijaksanaan sejati. Lihatlah ke bumi”
“Dipenuhi darah, ayah”
“Bagaimana aku menyelamatkan sang putri?”
“Sadarilah, segala jenis hikmat yang kau dapatkan selama perenunganmu sedang diuji. Kau adalah kupu-kupu diantara banyak kupu-kupu milik Mahatara. Kini, aku akan menyatu dengan ragamu, dan menyelesaikan pertempuran ini”
“Anakku, kau mencintai putri Sangen, aku memahami itu, tetapi kini, kau harus pergi menuju hutan yang dibangun leluhur kita, Hutan Kupu-kupu”
“Relakanlah hatimu, anakku. Aku akan menyatu denganmu”
Pikirannya mengawang-awang. Tetapi, penyerangnya melihat pelan-pelan raga sang penolong ini berubah menjadi ribuan kupu-kupu, dan menyerangnya dengan kibasan sayap.
Ribuan kupu-kupu coklat ini lalu berkumpul, membentuk sesosok tubuh lain, yang telah menjadi legenda: Raja Sangui. Dato terbesar suku Batu yang moksa dalam petapaannya puluhan tahun lalu. Matanya tajam, namun bercahaya. Tangannya besar.
Ia merapalkan mantra dengan keras, lalu mendadak keajaiban terjadi. Ruh para penyerang, yang berbentuk kupu-kupu dilepaskan dengan isyarat; keluar dari mulut para penyerang. Bercahaya biru, lalu terbang mengitari arena pertempuran.
Penyerang yang mati bergelimpangan, lunglai dan mati seketika. Dengan keajaiban lagi, kupu-kupu biru lalu mengikuti sang Raja Sangui ke udara, ke langit tanpa batas.
Seekor kupu-kupu putih, bersinar pucat, memisahkan diri dari tubuh Raja Sangui. Tepat dari arah hatinya.
Kupu-kupu ini lalu kembali ke bumi, namun menuju Hutan Utara. Tempat persemayaman para dewa.
****
Sang putri, yang lari ke Utara, ketakutan, karena siang tetap seperti malam di Hutan Utara. Hening dan beku, tetapi dipenuhi suara-suara makhluk yang tak terlihat bentuknya.
Mencekam.
Bau darah menyeruak.
Putri melihat wajah-wajah yang ia kenal semasa kecil, yang mati ketika Putri mendewasakan diri, muncul dan menyatu di batang-batang pohon. Ya, pohon-pohon di hutan utara dipenuhi wajah. Dan hanya wajah orang yang kita kenallah yang bisa kita lihat.
Ia melihat wajah ayahnya yang masih segar muncul di sana. Ia juga melihat wajah kakaknya yang tewas dalam pencegatan beberapa tahun lalu. Mengeras, menjadi kulit pohon dan kayu.
Putri hanya bisa menangis, lalu dengan magis, tangisannya menggema ke seluruh hutan seperti bersahut-sahutan. Wajah-wajah yang ada di pohonan juga ikut menitikkan air mata, namun dengan suara lirih.
Mereka mengingatkan sang putri tentang perang, tentang kematian ayahnya. Tiba-tiba, seekor kupu-kupu putih muncul dari selatan. Cahayanya berpendar lembut, mengalahkan malam.
Kupu-kupu ini seperti ia kenal. Putri lalu mengikuti kupu-kupu ini, ia ingin bersegera meninggalkan hutan yang menyedihkan ini, yang dipenuhi wajah korban-korban pertempuran.
Ia setengah berlari, begitu takut kehilangan kupu-kupu putih ini. Putri menerobos duri-duri, sampai suatu ketika ia sampai di sebuah daratan luas, lalu ia melihat hutan yang dipenuhi kupu-kupu aneka warna.
Ditengah hutan yang dipenuhi kupu-kupu itu, ia merasa luka-lukanya sembuh seketika. Tak lama kemudian, ia melihat kupu-kupu putih yang tadi membantunya terbang ke sudut hutan.
Berkumpul dengan kupu-kupu lainnya. Membentuk sebuah raga, raga yang sangat ia kenal: Ksatria Mahin. Wajahnya bercahaya. Ia muncul dalam rupa seorang Dato.
“Kanda?”
“Selamat datang, Dinda”
“Ini Hutan Kupu-Kupu milik leluhur kita”
“Bagaimana kanda bisa sampai di...”
“Ah! Bukankah Kanda yang menolongku di peperangan malam itu?” Tiba-tiba Putri teringat sesuatu. Tato, yang terpampang di pipi Mahin.
“Dinda,” Sela Mahin.
“Dalam kehidupan, ada perputaran. Ulat, kepompong, lalu kupu-kupu”
“Bukankah kanda telah gugur?”
“Aku adalah kupu-kupu, gugur hanya salah satu perputaran kehidupan. Bukankah dinda juga kupu-kupu? Kesedihan akan berganti. Sang Mahatara telah mempersiapkan segalanya”
“Maksud kanda?”
“Para leluhur menyelamatkanku, dan tanah yang kutemukan bagi kampung kita yang baru adalah Hutan Kupu-Kupu, yang hanya bisa ditemukan jika seorang laki-laki mencintai dengan tulus perempuan dari bangsanya” Angin mengusap-usap bunga.
Perenungan Mahin menjadikannya lebih tulus mencintai Sang Putri, lebih dari sekedar mencintai perempuan jelita. Tetapi kupu-kupu: harus tetap mewarnai hutannya, hutan Pegunungan Meratus yang lugu.
Perenungannya juga yang kini menjadikannya setaraf dengan ayahnya: seorang Dato, penghubung dunia Mahatara dengan dunia manusia dan kupu-kupu.
“Kanda...”
“Ini negeri yang diwariskan pada kita berdua, Dinda” cahaya gading sang putri meruah.
“Hutan Kupu-Kupu, Sebagai perlambang baru Suku kita, Suku Anak Kupu-Kupu”
Langganan:
Postingan (Atom)