Selasa, 31 Maret 2015

Pulang

Aku pernah membayangkan pulang, Ibu. Karena sesakku juga sesakmu tercampur pada sekotak kabut dan segelas fajar yang kau tanak di meja.
Kita berdua sama-sama berangkat, pada pekerjaan yang tak pernah selesai.
Berulangkali kau membeli matahari terbit, namun kita tak pernah sempat menikmatinya. Itu sudah kadaluarsa.
Aku membawakanmu matahari terbenam, Ibu. Ayo minumi sampai pagi: sesakku sesakmu.


(Aku pernah membuat puisi ini jauh sebelum wafatnya Ibu, 19 Maret 2015. hm. bagaimana ya?)

Mengingat Utsman

Ternyata zaman sudah berubah; wahai Utsman.

Cuma mengulang lagi kematianmu yang pilu.
Cuma mengulang dosa-dosa purba itu.

Menentukan Sikap

Ada hujan yang berseru dan terdengar: kita ini siapa?

Kita ini puisi. Orang bisa membacanya bermacam-macam
Jadi berita, cerita, wacana

Basah! Kata hujan. Percuma! Kalian terlanjur basah! Lanjutnya.

Tetapi kami puisi!


Mengenang Shiffin

"Hai Ali. Suratmu sampai padaku: bahwa kami memang
Disekat-sekati perkiraan sendiri tentang siasat
Agar bisa terus bertempur melindungi Tuhan
Kami sudah tak bisa menerka apa yang terjadi
sebab malam sudah bertemu dengan sajadah, dan kita sama-sama melakukannya..."



Shalat

“Yang membuatku jatuh cinta, sesungguhnya sederhana:
Ketika azan mengaliri pipimu yang manis, yang manis
Kita sama-sama membaca ayat suci dan diaminkan langit
Lalu bacaan lirih itu diliriskan pada mihrab ukhrawi
Dengarlah, dengarlah:
"Wahai jiwa yang tenang, masuklah dengan hati yang ridha lagi diridhai-Nya..."


Rawamangun, Akhir 2013

"Apa yang lebih indah, ketika
bangku kampus kita kacau balau, sebentar lagi
kita akan memainkan sandiwara purba, dan segera jatuh cinta
Pada jilbab-jilbab riang seberang gedung kita
Segelas teh panas. Matamu yang hangat, cermin bening malam.
Kampus yang indah, kampus yang indah.
Tinggal bagaimana kutip-mengutip dijadikan naskah publikasi
dan waktu berjalan seperti biasanya..."