Sepasang tikus melanggar
perjanjian di rumahku, yang baru saja pulih dari peperangan besar. “Cit!” seru
mereka, kurang lebih berarti: “Ayo tanding! Siapa di antara kita yang lebih
perkasa, dan berhak menguasai tanahnya!”
Aku kelimpungan, malam lekat
sekali, aku baru saja lepas dari tumpukan kertas-kertas kerja yang mesti
dibuatkan sajak. Senjataku Cuma pisau dapur yang kuletakkan sembarangan tiap
seusai memasak, dan rumahku sendiri. Sementara, senjata mereka tersebar di
seluruh badan: taring yang liar, bulu—kata orang—beracun, air seni radioaktif,
dan tentu saja otot tungkai yang mampu bergerak secepat peluru.
Kami bertiga berhadap-hadapan. Di
ruang keluarga, menghunus senjata masing-masing. Malam menjadi panjang. Tegang.
“Maafkan kami, Mas...”
“Tidak mengapa, dik” jawabku. “Tidak perlu meminta maaf.
Memang begitulah cara kita menghormati harkat dan martabat diri masing-masing”.
Akupun mengacungkan pisau. Mereka
menghunus taring. Tang! Pisauku memukul ubin, sementara mereka seperti membuat
kecepatan teleportasi, telah ada ke balik badanku.
Segera, mereka melesat kembali
menuju bahuku. Crat! Digigitnya sesaat, lalu melompat kembali ke tanah. “Satu
kosong,” kata mereka, “Aku lengah. Kalian hebat,” jawabku lagi.
Adu strategi yang cukup menarik.
Aku harus bertahan dengan senjata. Aku tak punya air seni radio aktif, toh? Aku
cuma punya segala yang manusia di rumahku sendiri. Segera, kubangun benteng
dari karung-karung pasir. Kugali lubang pertahanan, kupasang meriam-meriam
kaliber dewa, tak lupa: helm tentara yang bisa buat gaya. Soal dari mana
barang-barang itu, ini adalah rumahku.
Tempat segala sesuatu diinginkan lalu
diadakan dengan seperlunya.
Mereka berdua cepat menggali
lubang, dan menembus ubin ruang keluarga. “Adu strategi yang fair!” seru
mereka. Tak lama, kurasakan ubin bergemeletak seiring galian mereka yang terus
mendalam. Kubidik lantai, kuarahkan pada pusat getaran galian mereka.
Thummmmm! Dentum suara meriamku
menghancurkan lubang galian mereka. Asap meruah. Kutunggu beberapa saat sampai
keadaaan tenang kembali. Ledakan yang dahsyat, genting rumahku sampai terbang
beberapa karenanya.
“Gawat, mas, gawat! Hahaha!” Dua
ekor tikus itu berdiri di balik asap. “Senjatamu gawat sekali!”
“Bagaimana kalian selamat?”
seruku, “Ini meriam kaliber dewa lho!”
“Kita ini tikus, tidak percaya
dewa”
“Benar juga,” aku menepuk
kepalaku sendiri.
“Sekarang giliran kami!” mereka
kembali melesat seperti diletuskan, dan dengan tak terduga melepaskan air seni
radioaktif ke arah bentengku. Tidak! Aku harus pergi. Aku melompat sekenanya,
dan benar saja! daerah yang terkena air seni meleleh dan menebarkan bau amoniak
campur peledak yang sangat kuat. sangat basa. Karung-karung pasir tadi meleleh
seperti mentega begitu mudahnya. Cih!
“Giliranku!” Kupanggul sebuah
bazoka besar, “Ini bukan bazoka biasa, ini tidak didewa-dewakan!”
Mata kedua tikus itu mengerling,
mencari celah melarikan diri. Kembali kubidik, kutembakkan dan blar! Ruang keluarga meledak, menyisakan asap hitam
dan sedikit api. aku masih berdiri. Bazoka masih kutenteng. Mataku nyalang
mencari kedua tikus itu. aku yakin sekali tadi kena!
“Mas yang fair dong!” teriak
mereka,
“Lha kenapa dik!?”
“Mana bisa kami menghindar, masak
mas tiba-tiba misscall telepon
genggam saya, kan lengah!”
“Ah iya! Terpencet dik! Maaf!”
Aku membayangkan saudara mereka
yang lain di jalanan yang kerap jadi gambar di aspal setelah terlindas. “Kami
di jalan Cuma terlindas motor. Saudara mas terlindas tronton industri!”
“Siapa bilang! Kami mati dengan
baik, ada yang mengebumikan. Kalian?”
“Itu jalan kami! Mati dengan
tubuh terkorbankan dan suci kembali!”
Kami kembali menata posisi. Malam
kelihatan telanjang di atap yang bolong, kena ledakan bazoka dan meriam. Aku ke
balik benteng yang belum meleleh. Mereka siaga di dalam lubang, dan hanya kedua
matanya tampak menyala. Aku menata napas kembali. Haus.
“Minum?”
“Minum!” jawab mereka.
Kuangsurkan cawan minum secara ksatria pada mereka. Perang berhenti sejenak.
Gencatan senjata berlangsung untuk alasan kemanusiaan, dan aku mengamati ruang
keluarga yang berantakan. Hanya kami bertiga. Perang yang mesra dan fair
sekali. tak ada yang mengundang wartawan di antara kami, atau membuat lembaga
pemertahanan HAM.
“Kenapa kalian melanggar
peraturan, dik?”
“Karena tidak cocok, mas”
“Baiklah. Ayo tanding lagi.
Langgarlah peraturan dengan terhormat!”
“Pertahankanlah peraturan yang
ada di rumah ini, juga dengan terhormat, Mas!”
“Demi kehormatan manusiaa!”
teriakku, “Demi harkat dan martabat tikuus!” balas mereka.
Kami kembali ke
posisi masing-masing. Kembali saling membidik. Tikus pertama mencoba
mengalihkan perhatianku dengan menggali lubang lurus ke arahku, sementara tikus
kedua loncat tinggi-tinggi dan mengarahkan radioaktifnya ke arahku.
“Aku tak akan terkecoh!”
kuarahkan bazoka ke arah tikus yang nyaris terbang itu, dan dengan sekali
hentak, blaarr! Meledaklah peluru itu di udara. Ah tidak! Ternyata tikus yang
meloncat itulah pengalih perhatiannya, tepat dari lubang yang mengarah padaku,
cairan radioaktif bermuncratan dan tepat mengancam dadaku. Aku loncat
sejauh-jauhnya ke belakang, dan cairan itu mengenai sepatuku.
“Bingo!” kata mereka.
“Tidak ya! Aku tidak
kenapa-kenapa”
“Lho mas, kan pelurumu hilang
satu sia-sia, sementara air seni bisa dibuat lagi”
“Ah, bagaimana tikus satunya
selamat?!”
“Mas saja yang ngawur
tembakannya!”
Kami bertiga terengah-engah.
Sepatuku segera kucopot lalu kulemparkan. Amunisiku tinggal satu. Aku harus
menggunakannya dengan baik.
Perang di antara kami terus
terjadi, malam jadi seru sekaligus bising sekali. duar! Duar! Duar! Begitu
terus, belum ada yang menunjukkan kelengahan. Sekali dua kali ledakan
menghantam lubang mereka, dan sekali dua kali aku terpapar radioaktif. Size
doesnt matter! Seru mereka, dan kubalas, “Gede cilik podo kabeh!”
*
Lama kemudian, kami bertiga lelah
sekali. tak ada yang mengalah di antara kami. Ruang keluarga rata dengan tanah,
terlihat bolong-bolong bekas lubang galian mereka. Lantai rumah tampak seperti
keju yang habis meledak. Kertas-kertas berisi sajak dan calon sajak berserakan
di mana-mana. Sebagian hangus terbakar.
“Mereka menjalankan tugas sajak dengan baik di tengah peperangan. Semoga masuk
surga.”
“Amin,” jawab mereka.
Bagiku, kertas berserakan berisi
sajak di tengah perang, adalah korban yang tak termaafkan.
“Damai?”
“Ndak mas,”
“Kami bukan polisi yang biasa
damai-damaian,” kami berdiri berhadap-hadapan. Dengan wajah paling prajurit
yang kami miliki.
Kami saling menatap. Bagaimanapun
kami adalah tiga orang sekeluarga. Seorang manusia dan dua ekor tikus, cuma
kebetulan sedang terlibat perang.
“Kukuruyuuuk!” seru ayam dari
ujung jalan, di luar rumah, “Tong kukuruyukan!” lanjutnya. Sudah jelang pagi,
tanda perang harus segera diakhiri, apapun caranya.
Aku kembali mengamati ruang
keluarga yang berantakan sehabis perang. Kedua tikus yang melanggar aturan lalu
kuperangi itu tampak kelelahan tapi masih bertahan. Benar-benar kesatria,
pikirku. Kedua tikus itu, entah apa yang mereka pikirkan, juga melawanku dengan
terhormat.
Sekujur rumahku masih bau basa
radioaktif. Tubuh mereka juga diliputi bekas ledakan. Sesekali darah.
“Kukuruyuuuk!” ayam di ujung
jalan kembali berseru, “Asholaaaaah!”
Ah! Pak Haji sudah melantangkan ultimatum
di pengeras suara masjid. Aku harus menghormati seruan perdamaian itu. waktu
ketika kedua belah pihak menghentikan perang, istirahat, dan melakukan ibadah.
Meskipun, menurut perspektif
kami, perang inipun ibadah. Saling menghormati dan mengagumi dengan saling
menyerang secara jantan.
Inilah rumahku, tempat segala
sesuatu muncul apabila dibutuhkan. Tempat peperangan mahaksatria sekaligus
peristirahatan paling indah.
“Damai?” tawarku lagi,
“Ndak mas!”
“Demi kemanusiaan!”
“Tidak, demi harkat ketikusan!”
“Jangan keras kepala. Kalian
bertarung begitu ksatria malam ini!”
“Tapi begitulah cara kita
menghabiskan waktu di ruang keluarga, kan, Mas?”