Minggu, 11 November 2018

Alasan Untuk Menulis dan Seruan Keadilan



Amar Ar-Risalah

Semua tulisan yang abadi, selalu lahir karena satu hal. Tulisan itu memberikan tawaran jalan keluar dari segala penindasan yang terjadi pada pembacanya.

Dan dengan tulisannya itu, orang diajak memahami, bahwa kebebasan yang dia alami adalah semu. Bahwa ada kekuatan manusia lain yang menindasnya, yang merampas haknya, dan islamlah, yang dapat menegakkan hak-haknya kembali.

Hasan Al-Banna. Mesir. 1930-an. Kekhalifahan Islam baru saja runtuh. Inggris menguasai militer, pelabuhan, dan media di Mesir.

Mesir memang negara merdeka di atas kertas. Tapi kebijakan Raja Faruq, tak pernah bisa membohongi rakyatnya. Bahwa ia lebih menguntungkan Inggris dengan apa yang dikenal hari ini sebagai 'investasi', 'kenyamanan bagi pelaku pasar', dan sejenisnya.

Hasan Al-Banna yang seorang penghafal Qur'an jelas menangkap hal ini. Dengan ketajaman hatinya, ia tangkap kerinduan orang pada keadilan. Maka sambil ia menyusun lapis demi lapis gerakan Ikhwanul Muslimin, ia menulis.

Tulisannya tajam, bernas, dan apa adanya. Saat ia menuliskan kata keadilan, maka ia sangat paham apa maksudnya. Ia tawarkan keadilan islam bagi bangsanya. Tulisannya itu dimuat secara berkala di Majalah Al-Ikhwanul Muslimun hingga menjelang akhir hayatnya.

Sebab, keadilan harus ada buat semua orang. Bukan cuma yang bisa menanam investasi di sebuah negara, tapi juga pada pedagang-pedagang kecil, yang saban musim pemilihan berharap diwakili pejabat yang bijak dan kritis.

Tapi pemilihan itu sendiripun sebuah pembohongan publik. Hasan Al-Banna melihat dari pemilihan semacam itulah, Negeri Mesir jatuh ke lubang hitam ketidakadilan.

Ke manakah islam? Ke manakah persaudaraan muslim?

Saat ia melihat penyebab muslim melemah dan secara pribadi begitu lembek, ia tuliskan 10 baiat Muslim yang membuat kita menjadi pribadi yang unggul.

Dari 10 baiat itu, ada 20 hal pokok yang harus dipahami seorang muslim. Ushul Isyrin namanya. Tulisannya, di masa-masa perang itu, menjawab kerinduan orang tentang cara-cara menegakkan kembali keadilan yang hilang.

Maka bersamanya, orang bergabung kedalam gerakan Ikhwanul Muslimin dan bergerak di mana-mana bagai gelombang. Saat tersiar kabar pecahnya perang dan penjajahan di Palestina, Hasan mengirim 10.000 orang dengan kemampuan militer ke sana.

Pencapaian yang luar biasa! Hasan Al-Banna dan tulisannya seolah-olah mampu menjawab kerinduan masyarakat tentang konsep keadilan itu. Sampai akhirnya, pemerintah Mesir merasa ia adalah ancaman.


Di sudut ini patutlah kita merasa: ketidakadilan yang sama terjadi di negeri kita. Negeri kita mengimpor segala sesuatu, yang mana, rakyat masih mampu mengusahakannya. Perbedaan hak si kaya dan si miskin makin tajam.


Kebijakan pemerintah juga makin menguntungkan pengusaha, atas nama data-data pembangunan. Sementara, kesakita. Rakyat tak ada tempatnya. Untuk alasan itulah, KAMMI harus senantiasa ada.

Gerakan KAMMI, ada di mana-mana dan merasakan kelaparan yang sama dengan rakyat. Tinggal kita menuliskan gagasan-gagasan keadilan itu, sebagaimana Hasan Al-Banna dalam mingguan Ikhwanul Muslimun.

Tak ada tulisan yang lebih berbahaya selain menyadarkan orang tentang ketidakadilan yang terjadi di sekitar mereka. Dan terutama, ketidakadilan Inggris kepada Mesir, dan Mesir kepada rakyatnya.

Kita sudah tahu bahwa Hasan Al-Banna akan dibunuh. Yang kata Qardhawi, ia dibunuh tiga kali. Ditembak, lalu dokter dilarang merawatnya, dan tak ada seorangpun boleh melihat pemakamannya.

Tapi siapa bisa membohongi orang, bahwa ketidakadilan masih terjadi? Untuk alasan itulah, barangkali Allah menyampaikan tulisan Al-Banna kepada kita. Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin, atau Majmuatu Rasail, yang menjadi bacaan wajib gerakan kita.

Sebab di negeri kita ketidakadilan telah detail. Telah jelas dan bahkan bisa dirasakan anak kecil sekalipun.

Kita adalah lapis tengah masyarakat Indonesia. Yang melihat megahnya gaya hidup lapis atas kita, atas harta yang dikumpulkan dari pajak-pajak rakyat di lapisan di bawah kita.

Sementara kita juga melihat, betapa tergantungnya negara kita dengan negara lain. Bahwa kemiskinan, sesungguhnya adalah saat ada makanan, tapi kau tak bisa memakannya karena telah diatur-atur oleh orang lain!

Suatu saat rakyat akan sadar bahwa mereka telah dibohongi. Mereka telah ditindas. Suatu saat rakyat akan sadar bahwa hidupnya negara telah diatur tidak dengan benar sehingga terus mencetak ketidakadilan baru secara massal.

Dan, kepada para pemuda, saatnya kita menulis. Saatnya kita berdiri dan tak jadi orang yang sekadar duduk-duduk dan mencibir apa saja yang melintas di hadapan mereka.


Tulislah ketidakadilan itu! Tulislah kejahatan-kejahatan negeri ini, dan bawalah ke bawah sinar matahari yang terang, agar orang tahu bahwa kita telah dibodohi dan ditipu habis-habisan.

Biarkan tulisan kita beredar bersama kelaparan masyarakat dan perjuangan yang menyertainya. Biarkan tulisan kita membidik bersama mata marah para ulama, dan mengalir bersama sungai-sungai yang dikeringkan untuk para pengusaha.

Edarkan tulisan kita ini, pada simpul-simpul kebodohan rakyat, dan bawa mereka dari kegelapan pekat menuju cahaya yang membuat mereka memandang dunia ini dengan kesempurnaan islam.

Zaman mengamanahkan pada kita untuk menulis. Untuk mengabarkan pada rakyat bagaimana cara mengambil kembali kedaulatan mereka. Maka menulislah, dan jangan takut apapun.

Sebab ketakutanmu itu sendiri, adalah sebuah ketidakadilan!


Kita adalah orang-orang yang berpikir dan bertindak merdeka!

Rabu, 21 Maret 2018

Puisi-Puisi Amar Ar-Risalah

Nyanyian Musim


Kau tentu tahu; jika bunga-bunga randu itu beterbangan
Menutupi jalan; pada waktu menjelang Ashar
Yang ingin bunga itu katakan berbeda
saat kau dengan sengaja-diam-diam atau terbuka-mengetamnya
Menjadikannya kasur bagi tidurmu yang sejahtera

Kau tentu pernah mendengar bahwa
daun-daun jati itu pergi tanpa mengetuk pintumu
Saat tangan-tangan yang tak bakal dimakan rayap datang menebang
Dan daun-daun itu menjelma sayap; yang kaugunakan
terbang ke masa kenangan

Kau bisa jadi ingat pernah bercakap pada rebung bambu
Betapa ia tak tahu nasib memberinya berapa waktu
Barangtentu kau tak tahu bagaimana
ingatan permainan anak-anak kita
Disimpan di rongga-rongga bambu
Dan bagaimana rongga-rongga itu
akan menceritakan muasalnya padamu:
"Aku tercipta dari punggung dan jemari ibu..."



Nyanyian Semesta
 
 "Menjelang matahari terlelap;
aku mendengar nyanyian
Yang gaib. Dari dasar
alam semesta
Dari akar-akar penciptaan
Partikel Tuhan.
Dzarrah yang pekat.
Dawai yang bergetar
Nada yang gelepar
Tenaga yang pencar
Wujud dan tak wujud.
Wurd dan sujud.
Kekosongan dan materi.
Kehampaan dan gravitasi.
Cahaya adalah
yang nampak--dan--menampakkan. Kita
adalah cahaya
Nyanyian Ghazali.
Kantung-kantung cahaya.
Nyanyian taman
para pencari
Hidup-hidupkan hari
Yang telah mati
Kita di dalam peti
Yang dikunci berpuluh juta hari
Kita adalah anak-anak pewaris Sohrawardi
Kita adalah pencari
Amanat tekateki Rumi....."





Safar Hujan 


 

Suatu hari
Hujan, dengan jubahnya yang lapang
Bermurah hati
Menjenguk ladang-ladang
Di desa-desa
Menziarahi orang-orang tua
Yang paham sejarah
Bagaimana sebuah kota
Kelewat jatuh cinta
Pada dirinya sendiri

Hujanpun terus melangkah
Disingkapnya daun-daun pisang
Yang usil; ditepisnya
bunga-bunga ilalang
Dari lahan yang ditinggalkan
"Betapa lamanya," ia mendesah,
"Betapa lama desa-desa di sini
Tak dijenguk rajanya sendiri."
Dengan senyum yang lebat
Hujan membasuh pipi-pipi perawan
Yang bersitahan di celah-celah zaman
Dengan kasihnya yang deras
Ia pastikan tak ada yang sanggup melawan....




 Ode

Ijinkan aku membawakan padamu
Airmata para Nabi
Yang kerap dijatuhkan di malam-malam bisu
Kita terpaksa memanggil burung-burung bagi bernyanyi
Menutupi isak yang rahasia; yang tak seorangpun
Boleh mengetahui. Kita terpaksa
Meragukan mustajab doa-doa

Dengarkan aku: suara langkah kita
Telah berapa lama barangkali tak didengar sesiapa
Yang menjenguk taman surga. Suara bercanda kita
Yang sederhana; barangkali telah diliputi
prasangka-prasangka
pantun teka teki jenaka
Rupanya pertanyaan hidup
Telah kau jawab dengan lugas dan wibawa:
Tak ada kehidupan, jika tak ada kematian 
untuk membedakan

Belajar Menulis Pada Dua Ulama


Sepanjang peradaban manusia, sebetulnya, para ulama besar menulis sebuah proposal. Mereka—rahimahullah—menyaksikan umat ini di ambang keruntuhan: 

Jauh, setelah Rasulullah meninggal; mereka lebih dari sekadar meninggalkan Al-Qur’an. Para ulama, terbagi dua golongan. Pertama, adalah mereka yang menjual dirinya kepada para penguasa. 

Mereka mencari makan dengan cara menjual fatwa-fatwa yang disesuaikan dengan keinginan penguasa. Pengaruh mereka masih besar di masyarakat, dan para penguasa tahu itu. mereka ingin masyarakat berpihak pada penguasa; dengan cara, para ulama membuat fatwa yang mendukung pemerintahan. 

Di saat-saat seperti itu, para ulama juga menghadapi fakta bahwa pemerintahan tak lagi bekerja untuk memakmurkan rakyat dan membina umat sebagaimana seharusnya. Mereka ternyata menjilat bangsa lain yang lebih besar. 

Sehingga bangsa-bangsa itu datang dan menyerbu kekuasaan islam. Dan saat itulah kita akan mengenang peristiwa ini dengan satu kalimat kecil: “Runtuhnya dinasti islam…”

Golongan ulama jenis kedua, adalah mereka yang dengan segala ilmunya yang luas, menjadi sesat. Mereka terpapar pemikiran filsafat sesat. Di antara mereka ada yang menjadi pengikut Aristoteles. Sebagian menjadi pemikir yang terlalu jauh memikirkan Tuhan.

Akhirnya, mereka hanya memenuhi negara dengan pikiran-pikiran yang tidak perlu. Mereka kehilangan gairah kerja karena beranggapan, Tuhan mencukupkan rezeki hambanya, maka jika kita bekerja untuk mendapat rezeki, sama saja menghina Tuhan. 

Orang dengan pemikiran semacam itu, tidak mau menjawab panggilan jihad para pasukan dan juga tidak mau mendukung pemerintahan untuk memperbaiki dirinya. 

Pada waktu begitulah, bangkit para ulama bersenjatakan pena. Mereka menulis suatu blue print, suatu karya besar, yang bisa digunakan untuk membangkitkan kembali umat. Merekalah golongan ulama ketiga:

Yang senantiasa akan dibangkitkan Allah untuk kembali meluruskan agama islam. Golongan ulama ketiga ini kemudian paham betul makna dakwah para Nabi, bahwa nabi-nabi itu dibekali kitab suci yang berupa tulisan, sebagai sebuah tawaran proposal pada umat manusia. 

Dan ulama-ulama itu tinggal mengambil sisi dari proposal itu untuk dipecah kembali menjadi proposal-proposal baru yang sesuai dengan kondisi zamannya. Begitulah, setiap waktu para ulama terus menulis.
*

Awal pergantian milenium pertama sejarah manusia. Kerajaan besar dalam sejarah islam, Dinasti Abbasiyah, dilemahkan oleh kelompok Syiah Al-Buwaihi yang mengambil alih pemerintahan dari tangan Ahlu Sunnah wal Jamaah. 

Sementara, di luar tembok istana, para penduduk kehilangan pegangan. Aliran-aliran sesat masuk dan mengacaukan kehidupan keagamaan di sana: pemikiran filsafat ekstrim, syiah batiniyah, muktazilah, dan lain sebagainya membuat umat kehilangan daya pembangunan. 

Di sisi lain, muncul kelompok sufi sesat yang punya keyakinan bahwa umat islam tidak perlu mengurus politik. Fokus saja pada pencarian ketuhanan yang sebetulnya telah jelas di dalam Al-Quran. 

Segala  puji bagi Allah, yang pada tahun-tahun itu, dibangkitkan-Nya seorang ulama besar. ulama ini dengan mata kepalanya menyaksikan bahwa negara besar Abbasiyah yang menguasai seperempat dunia, hancur di tangan syiah. 

Kondisi sosial politik begitu mencekam. Entah siapa, asalkan kuat, bisa saja menginjak-injak takhta. Pelacuran marak di kota terbesar islam itu. bahkan diberitakan, ada kasus kanibalisme yang terjadi.. 

Ulama ini bukanlah ulama ahli perang. Ia hanya bisa menasihati orang lain. Akan tetapi, ia melihat satu masalah utama. Umat harus diberikan tawaran baru dari apa yang ia tulis. Sebab umat telah kehilangan identitasnya. Umat tak punya lagi rencana untuk menjalankan peradaban islam. 

Sejarah mencatat, ia akan menulis ribuan kitab yang menyelamatkan garis perjalanan umat ini. Nama ulama ini, adalah Imam Al-Ghazali. Ulama besar Ahlu Sunnah wal Jamaah. 

Kelak ia akan menulis sebuah kitab untuk membangkitkan kembali ilmu agama yang sudah mati ketika itu. Ihya Ulumuddin. Bangkitnya ilmu-ilmu agama, itulah nama kitabnya. 

Kelak, ia juga akan menulis sebuah kitab yang khusus dia hadiahkan kepada penguasa Bani Seljuk untuk memperbaiki kondisi umat dan mengkritik penguasa. 

Kita akan melihat bahwa Imam Ghazali akhirnya menulis ratusan kitab yang mengkritik penguasa syiah waktu itu, dan pada gilirannya menjadi buku petunjuk bagi umat islam. 

Buku Ghazali, terutama Ihya Ulumuddin, adalah sebuah proposal kebangsaan, untuk membangkitkan kembali daya hidup dan kebesaran umat islam lagi!

Dan hari ini kita akan mengenal Al-Ghazali sebagai peletak dasar filsafat islam. Kita juga akan mengenal Ghazali sebagai seorang pembaru, ulama besar sepanjang zaman, dan pada gilirannya menginspirasi jutaan umat di seluruh dunia.
*

Lewat 100 tahun setelah Ghazali. Kaki-kaki kuda mongol yang buas, bergemuruh di ufuk. Kota Baghdad yang megah, yang indah, yang tiada duanya, diambang kehancuran. Ratusan ribu pasukan Mongol itu merobek-robek langit dengan suara teriakannya.

Beberapa ulama besar di kota itu mengira, mereka adalah Ya’juj wa Ma’juj yang diturunkan Allah untuk menghabisi umat manusia sebab mereka membakar dan menjarah apapun yang bernyawa. Para penguasa islam ditangkap dan dipenggal, tak bisa melindungi umat islam, rakyatnya. 

Seorang anak, 6 tahun usianya, tergopoh-gopoh dilarikan keluarganya ke Suriah, menghindari serbuan pasukan itu. kehancuran kampung halamannya begitu membekas di hati anak ini. Ia bersumpah membalas kembali kehancuran kotanya. 

Di Suriah, anak ini tumbuh menjadi anak ajaib. Ia mampu menghafal ribuan hadis. Tentu saja ia sudah hafiz Qur’an. Tetapi bukan itu. kenangan masa kecilnya mengenai hancurnya Kota Baghdad yang megah begitu membekas.

Ia marah; tapi tak tahu pada siapa. Sebab ia tahu alasan utama hancurnya Baghdad adalah karena, para pemimpin dan ulama di sana menjual diri kepada bangsa Mongol, bukan karena pasukan militer islam yang lemah. 

Sepanjang usianya, kelak kita mengetahui, ia akan memimpin sebuah pasukan besar berkuda untuk mengusir Mongol yang mendekati Suriah, dan ia menang. 

Kemudian, ia juga akan memimpin pasukan besar yang memagari Jerussalem dari luapan militer Mongol ke sana. Dan, lagi-lagi ia menang. Tapi ia belum merasa puas membalaskan dendam masa kecilnya. 

Ulama-penulis ini sadar bahwa tulisan-tulisannya itu harus ditanda-tangani dengan darahnya sendiri. Diksi-diksi yang ia tulis harus tahu rasanya himpitan medan perang atas nama: "mempertahankan kehormatan umat islam."

Untuk menyelamatkan bangsanya, ia menilai bahwa islam sudah  jauh dari nilainya yang asli. Islam sudah tidak lagi diketahui dan dipelajari dari sumbernya yang pasti. Sebab ia paham, pangkal runtuhnya umat ditangan Mongol kala itu, adalah karena Al-Qur’an sudah dilupakan orang.

Maka ia menulis ratusan kitab:

Ratusan kitab itu, ia titipkan pada generasi selanjutnya. Ia hendak serang sendi-sendi kebobrokan umat dan ia tawarkan proposal baru bagi jalannya umat islam di dunia ini.

Saksikanlah, bahwa ulama ini bernama Ibnu Taimiyah. Orang besar, yang satu dari dua orang di dalam sejarah yang digelari Syaikhul Islam karena luas ilmunya. 

Orang-orang tidak menyukainya karena sikap kerasnya pada bid’ah dan kemusyrikan.  Ke mana saja ia beranjak, orang akan memenjarakannya karena kritiknya yang keras. Sebab, baginya, kebenaran harus disuarakan tanpa dirahasiakan sedikitpun.

Kritik itu, ditulisnya menjadi pedang yang tajam terhunus kepada musuh-musuh islam. Dengan tulisannya itu, ia berhasil membangkitkan kembali semangat umat, hingga mampu mengusir Mongol kembali. 

Bahwa, dekat dengan masa hidupnya, kemudian Sultan Saifuddin Qathiz bangkit dan menang untuk pertama kalinya dalam sejarah dunia, melawan Mongol di Pertempuran Ain Jalut, sebab Saifuddin Qathiz melibatkan ulama di sana. 

“Kalau aku dibunuh,” kata Ibnu Taimiyah, itu adalah kesyahidan bagiku. Bila aku diusir, itu  adalah hijrah bagiku. Kalau aku dibuang ke Siprus, lalu aku menyeru penduduknya kepada Allah, mereka akan menyambut seruanku.

Kalau mereka memenjarakan diriku, maka itu adalah tempat ibadah bagiku, aku ini bagaikan domba yang bagaimana pun berguling, ia akan berguling di bulunya yang tebal!”

Kitabnya yang berjudul Al-Furqan sangat menusuk jantung orang-orang sufi yang sesat yang menganggap diri mereka adalah kekasih Allah yang benar.

Kitab Siyasah Syar’iyah adalah tawaran proposal politiknya kepada umat islam, sebab umat pada waktu itu berada di dalam ketidak pastian pemerintahan. 

Selain dua kitab itu, ada ratusan kitab lain yang semuanya merupakan proposal kebangkitan umat kala itu. ia ingin membangun kembali islam di atas reruntuhan kampung halamannya!

Dan kini kita tahu bahwa Ibnu Taimiyah, adalah salah satu ulama paling berpengaruh sepanjang sejarah islam. Kitab-kitabnya begitu mengubah wajah dunia dan bagaimana muslim memandang bid’ah.

*
Menulis dan dakwah, sesungguhnya adalah dua sisi mata uang. Tulisan adalah alat dari dakwah, dan memang hanya salah satu alat. Akan tetapi, dengan buku-buku itu, nama para ulama itu menjadi abadi. 

Sesungguhnya, latar belakang mengapa mereka menulis selalu sama. Sebab mereka memandang, pada suatu waktu, umat islam telah kehilangan identitasnya. Maka para ulama penulis itu bangkit dengan caranya sendiri.

Mereka menulis ribuan kitab untuk membangkitkan semangat juang orang-orang islam. Mereka gugah kembali kesadaran umat, dan pada gilirannya, kitab-kitab itu menjadi tenaga kebangkitan umat islam. 

Dan untuk itu, para ulama menempuh jalan yang tidak sepele. Mereka menulis di bawah ancaman pemenjaraan, pembunuhan, dan pengasingan. Tetapi semua itu mereka hadapi sebagai tebusan kebangkitan umat.

Dan tak ada yang lebih baik mengartikulasikan arti dari tulisan itu, daripada seorang tokoh besar umat islam yang terkenal pada tahun 60-an, sebelum ia dihukum mati akibat “menulis buku”:

Para penulis sebenarnya bisä berbuat banyak. Tetapi ada satu syaratnya: mereka mati agar fikirannya dapat hidup. Fikiran mereka itu harus diberi makan dengan daging dan darah mereka sendiri. 

Mereka harus mengatakan apa yang mereka percayai benar, dan mereka mau menyerahkan darah mereka sebagai tebusan dan kebenaran itu. 

Pemikiran dan kata-kata kita tetap akan merupakan mayat yang kaku, sampai kita mahu mati untuk kepentingannya dan kita sirami ia dengan darah kita. 

Lalu ia tumbuh menjadi hidup, dan hidup di antara orang-orang yang hidup. 

Maka kepada orang-orang yang duduk di meja tulis mereka, yang bekerja keras untuk bakat mereka, memilih kata-kata yang indah, mengukir kalimat-kalimat yang berbunyi keras, menciptakan kata-kata yang penuh khayal yang gemilang, kepada orang-orang seperti ini, saya ingin memberikan nasihat: 

“Janganlah bersusah payah seperti itu, kerana kilatan jiwa, cahaya hati, yang didapat dengan hati yang suci, api keimanan kepada gagasan, inilah satu—satunya yang menimbulkan kehidupan, kehidupan kata-kata dan kehidupan kalimat-kalimat!”

Dari perbandingan dua sosok ulama di atas, kita akan dapati beberapa pola yang sama, sehingga nalar kritis tulisan ulama dan dampaknya bisa muncul ke tengah-tengah peradaban manusia. 

Pertama, di tengah kondisi bangsa dan umatnya yang berantakan, ulama-ulama itu dibukakan hatinya oleh Allah bahwa ada sesuatu yang harus mereka lawan dan perjuangkan. Sehingga, cara dasar menulis, bukan dengan membagus-baguskan diksi. 

Tetapi menemukan alasan melawan dan berjuang. Semua ulama yang menulis, diawali dari menemukan fakta bahwa di tengah umat ada kesalahan besar yang harus mereka lawan. Kesalahan itu bisa berupa sosok, bisa berupa konsep dan pemikiran.

Kedua, dalam sejarah islam, buku yang ditulis para ulama harus kita sikapi sebagai sebuah proposal dan rencana kerja, yang dapat digunakan untuk memperbaiki kondisi umat dan membangunnya kembali dari tatanan lama yang telah bergeser jauh dari Al-Quran.

Maka menulislah; dan jangan takut diburu, jangan takut diasingkan. Sebab kita hanya akan diburu oleh orang yang terlanjur hidup dari kejahatannya, yang mana kejahatannya itu telah menjadi sistem hidup dan identitas kemanusiaannya. 

Maka menulislah, karena dengan itu, rencana peradaban kita tengah dipersiapkan. Hanya orang-orang bernyali besar dan mengetahui akar permasalahan umat saja yang berani menuliskan proposal itu untuk umat.
Ya! Saya te
gaskan bahwa di dalam islam, segala tulisan adalah sebuah ide, rencana, yang harus digunakan untuk menafsirkan Al-Qur’an menjadi sebuah rencana kerja dalam hidup manusia!

Menulislah, dan lawanlah sesuatu!

Minggu, 18 Maret 2018

KAMMI dan Proposal Identitas Keindonesiaan Kita



Malam itu, sepulang dari perjalanan yang entah, menjelang tengah malam, saya mampir di sebuah mushala. Diskusi mengenai Sayyid Quthb dan Ali Alija tengah dilangsungkan.

Barangkali nama Sayyid Quthb sudah familiar. Tetapi, Ali Alija, adalah nama Presiden Bosnia yang mengarang sebuah buku, Mencari Jalan Tengah. Diskusi kami malam itu fokus pada tawaran apa yang diberikan Quthb kepada dunia.

Tetapi bukan itu. diskusi kami meriap pada suatu rumusan: terlepas dari putusnya sanad Sayyid Quthb secara keilmuan agama dan sejarah, di manakah posisi kitab Ma’alim fi Thariq, dan pada gilirannya, bagaimana posisi Ikhwanul Muslimin di tengah percaturan dunia, dan Indonesia?

Ma’alim fi Thariq, sebuah kitab yang ditulis pada awal tahun 60-an. Kitab itu dipelajari di internal Ikhwanul Muslimin dan kemudian ada sekelompok orang menyempal, lalu menciptakan jamaah jihad. Hari ini, dua negara atas pemikiran Quthb telah berdiri: Imarah Islam Afghanistan, dan, Daulah Islam Irak-Suriah.

Ada lagi sekelompok orang yang menamai diri mereka salafiyah, dan membawa kitab itu ke balik pegunungan Afghanistan. Orang itu, adalah Dr. Aiman Zawahiri. Jadilah pada awal abad 21, organisasi   terbesar yang melampaui negara: Al-Qaeda.

Tak cukup sampai di situ, Ayatollah Khomeini, menyelundupkan kitab itu ke balik tebalnya kabut di Iran, pada akhir tahun 1970. Ia menciptakan Garda Revolusi Iran dari blue print Ikhwanul Muslimin, dan menambahkan warna Quthbisme ke sana. Akhirnya; terjadilah revolusi itu. Republik Islam Iran.

Lalu, mengapa kitab Ma’alim fi Thariq, dan pada gilirannya, kitab Fi Zhilalil Qur’an, begitu mampu menciptakan alasan orang bergerak?

Kitab itu, sebagaimana kitab-kitab lain dari orang-orang sebelum Quthb, adalah sebuah proposal. Proposal bagi kemanusiaan. Proposal yang diajukan oleh seorang pemikir, bagi menyelesaikan krisis identitas yang terjadi.

Sebab, kondisi dunia pada masa itu ada pada kebingungan global: perang dunia yang sudah selesai satu generasi lalu melahirkan generasi Bunga. Mereka yang anti perang. Mereka yang anti penindasan. Tetapi mereka melihat:

Generasi di atas mereka hidup dengan sistem yang diciptakan sebagai hasil dari perang dunia: mereka menyaksikan sebuah negara dipecah-pecah sebagai tropi pemenang perang. Mereka melihat negara-negara Asia dan Afrika yang hancur lebur.

Mereka dibuai dengan “keberhasilan” PBB, dan dua negara besar: Amerika dan Sovyet. Kapitalis, dan Komunis. Mereka ada pada kebingungan identitas. Sebab untuk “ada” dan “eksis” di dunia, mereka harus memilih dua identitas politik: Barat, atau Komunis.

Di tengah kebingungan itu, Quthb, muncul dengan proposal identitasnya: betapa buku Ma’aim fi Thariq, menjadi jawaban orang-orang, setidaknya, jawaban orang-orang islam yang kala itu menolak tunduk pada dua identitas dunia.

Ma’alim fi Thariq, sebagaimana maknanya, dipilih menjadi “jalan lurus”, dipilih sebagai “jalan identitas” orang-orang muslim yang membutuhkan proposal untuk mereka jalankan.

Betapa, ide-ide mengenai “islam lintas negara” dan “union muslim”, diterjemahkan menjadi dua hal: “Negara-Islam baru”, dan “kekhalifahan post-modern”, dari sintesa pemikiran dan proposal seorang Sayyid Quthb.
*

Hari ini. Di masa ketika negeri kita meributkan identitasnya: mereka yang mengenal dunia ini melalui konstruksi berpikir barat yang agung itu, memahami semuanya sebagai objek berpikir yang harus diragukan, tetapi pemikiran mereka masih belum lepas dari budaya Asia yang penuh dengan magisme, mitos dan logical fallacy.

Pada suatu kali, mereka akan menggunakan standar barat dan PBB untuk menetapkan bagaimana negara dan bangsa ini harus berjalan, dan ke mana arahnya. Sebagai proposal ekonomi, mereka menggunakan Washington Consensus dengan 10 pasalnya.

Sebagai tawaran kebudayaan, mereka dengan keras memperjuangkan seni untuk seni, dan seni yang independen. Seni yang di luar peradaban dunia. Yang adanya di museum-museum.

Ada pula sebagian dari mereka yang menerima proposal dari sisa-sisa pemikiran Marx dan Lenin. Tak perlu kita ceritakan mengenai gagalnya Sovyet dan Yugoslavia, sebab pemikiran ini punya warnanya sendiri yang baru.

Sebab golongan kedua ini mencari jawaban dari kapitalisme Washington Consensus golongan pertama, yang terbukti sangat berhasil untuk “menyelamatkan sebuah negara dari kemiskinan,” dengan “menjualnya pada pemilik modal”.

Akan tetapi, ada pihak ketiga. Mereka yang berpikir kritis. Mereka yang jemu dengan tindak represif negara pada diri mereka. Mereka yang mulai mempertanyakan kebutuhan mereka atas negara kita.

Ya; diskusi kami malam itu, berkembang menjadi: saat ini, apakah kita bisa mendeskripsikan identitas keindonesiaan kita? Atau jangan-jangan, nama Indonesia sebagai sebuah negara sendiri, mulai kita ragukan?

Butuhkah kita pada negara yang memberikan identitas “tertentu” kepada kita? Sebab keindonesiaan ternyata ditafsirkan secara semberono oleh dua golongan di atas, yang sedang bertarung menjadikan Indonesia sebagai dirinya.

Kira-kira, kalau kita tanyakan pada diri kita sendiri, dan kepada masyarakat, masihkah mereka butuh negara? Dan ujung pertanyaan ini, kemudian menjadi, apakah mereka butuh identitas baru yang post-Indonesia?

Sebab ternyata tafsir identitas dari dua golongan di atas melulu kita dapati sebagai: turunnya harga rupiah. Naiknya harga beras. Naiknya harga bahan bakar. Hilangnya muru’ah para petani. Penguasaan tanah dalam jumlah besar oleh pemilik lahan.

Impor bawang putih hingga 96 persen. Impor beras saat swasembada. Impor garam saat laut begitu luas. Dikuasainya mayoritas lahan sawit oleh asing. Dikeruknya cadangan emas oleh Freeport. Hancurnya tata keagamaan bangsa.

Diserangnya simbol-simbol keislaman. Dihinanya jilbab dan jenggot. Dibuangnya Al-Qur’an. Dilarangnya atribut-atribut ibadah. Dibatasinya kemerdekaan berpikir orang-orang islam. Dibelinya beberapa ormas besar islam oleh pemilik modal. Dipesannya fatwa-fatwa. Ceramah-ceramah yang bertentangan satu sama lain.

*

Di masa-masa seperti ini, sebagai yang saya jelaskan di atas, saat inilah bangsa kita membutuhkan suatu proposal baru. suatu proposal yang belum pernah ada dalam sejarah negerinya. Suatu proposal yang mampu menjawab segala permasalahan.


Sebab tanda-tanda di bangsa kita ini sama persis dengan bulan-bulan mematikan yang terjadi di negara-negara besar yang kemudian runtuh di tangan orang-orang dengan tawaran identitas baru: Iran Lama, Kerajaan Saudi lama, Turki Utsmani, Uni Sovyet, pseudo-negara Hindia Belanda, dan bahkan di Mesir, sesaat sebelum Gamal berkuasa.

Maka kemudian wajar, para teolog dan ideolog dunia, baik yang mewujudkan dirinya menjadi suatu organisasi lintas negara, maupun yang berupa sebuah negara besar dengan ideologi tertentu, berlomba mendatangi bangsa kita.

Sebab, mereka tahu pasti melebihi tahunya kita, bahwa bangsa kita ini sudah tidak mencintai lagi dirinya sebagai identitas yang sudah ada. Setelah tahun-tahun konflik, kita membutuhkan identitas baru.

Lalu apa hubungannya dengan KAMMI? KAMMI terus menggembar-gemborkan “Jayakan Indonesia 2045”. Proposal yang kita punya, adalah manhaj pengaderan, AD ART, dan platform gerakan. Dari titik ini, apakah proposal ini cukup kuat?

Atau apakah tiga  paket proposal KAMMI kepada bangsa Indonesia itu cukup mampu menjadi jawaban identitas masa depan bangsa Indonesia?

Kiranya kita tidak perlu takut dikatakan radikal. Sebab pihak-pihak yang menggelari sebuah pergerakan dengan radikal, adalah sekelompok orang jahat yang terlanjur hidup dari tafsiran batil atas sebuah ideologi negara

Kini kita sedang melawan sebuah identitas Indonesia lama yang terbukti gagal menjawab kebutuhan kebangsaan. Telah 70 tahun kita merdeka, tapi cita-cita kemerdekaan itu terkubur di bawah kolam kodok di depan Istana Negara.

Dan, semua orang, dalam hatinya, cepat atau lambat akan sadar bahwa mereka perlu sebuah proposal untuk menghancurkan identitas lama itu, mereka sedang mencari proposal identitas baru yang berbeda secara mendasar, bahkan mungkin dengan terma Indonesia.

Hancurnya identitas lama itu tak perlu kita bayangkan caranya, yang paling lunak bisa jadi sebatas reformasi. Yang lebih kuat, bisa jadi sebuah referendum dan revolusi untuk mengeliminasi simbol-simbol identitas lama yang gagal dan busuk itu.

Dan di titik ini, formulasi manhaj dan AD ART KAMMI, saya pandang mampu menjawab itu. Manhaj Pengaderan KAMMI yang memasukkan unsur Ma’alim fi Thariq dan bahkan blue print Ikhwanul Muslimin dalam Majmu’atu Rasail, saya anggap akan mampu menjadi tawaran besar bagi bangsa ini.

Akan tetapi saya juga memperingatkan kepada kita semua. Manhaj pengaderan dan AD ART hanyalah sebuah luncuran liur dari orang yang ketiduran, ketika sekelompok kader KAMMI sendiri tidak menggunakannya sebagai tawaran identitas.

Pada hakikatnya, manhaj, adalah tawaran itu. kemudian jika kini kader KAMMI repot-repot mendekat kepada seorang tokoh yang kurang terkenal dan ikut meneriakkan arah baru Indonesia, atau kemudian susah payah menembus pintu usang partai yang kehilangan identitasnya:

Saat itu juga KAMMI akan ikut hilang bersama ditemukannya proposal baru yang lebih mapan, lebih tegar, dan mampu menjawab krisis identitas bangsa kita.

Sebab jika begitu, berarti kita sendiri masih gamang dengan identitas itu. yang kita cari bukanlah tokoh yang menjanjikan ini itu. berhentilah bersalawat pada Erdogan atau Sohibul Iman. Sebab yang kita cari adalah identitas baru yang ajeg dan kuat.

Identitas bukan ditemukan dengan ikut pada tokoh berduit atau orang nyentrik yang cuma terkenal di kalangan kecil saja. Identitas didapat dari proposal besar perjuangan dan kehidupan.

Ya. Saya ingin katakan dua hal kepada pembaca tulisan ini. Pertama, bahwa manhaj pengaderan KAMMI memang harus radikal, destruktif, dan cepat menghabisi identitas kebangsaan kita yang gagal dan berbahaya ini.

Kedua, laksanakanlah manhaj pengaderan itu sebagai sebuah proposal identitas kebangsaan. Memang dibutuhkan semacam buku tafsir atau keutuhan konstruk, tetapi biarkan bangsa kita melihat bahwa KAMMI memang yang akan memenangkan pertarungan identitas baru ini!

Senin, 19 Februari 2018

Hari-Hari Akhir Ekstra Kampus



Mesir. Perang Dunia I meninggalkan banyak ketidakstabilan di mana-mana. Sementara, Perang Dunia II sekejap mata lagi terjadi. Ekskalasi kekuatan di seluruh dunia bergeser besar-besaran dengan bangkitnya Jerman, Jepang, Italia, dan Uni Sovyet.

Gerakan Ikhwanul Muslimin kala itu cukup besar untuk bisa mempengaruhi opini publik. Kader-kadernya terdiri dari para mahasiswa yang justru mencari mati. Orang-orang muda yang tegap, tangkas, dan  kuat.

Di samping Gerakan Ikhwan, ada banyak partai politik. Partai-partai itu, ada yang sekular dan ada pula yang sosialis. Akan tetapi, di parlemen, berhadapan dengan Raja Farouk yang licik:

Partai-partai itu tak lebih dari sekadar atlet catur yang sedang latihan. Bidak-bidaknya adalah, terutama, rakyat.

Hasan Al-Banna dihadapkan pada satu  masalah: partai-partai itu mengkader sebagaimana Ikhwan mengkader. Partai-partai itu menyasar anak muda, sebagaimana Ikhwan mencari anak muda untuk dibina.

Perebutan kader menjadi hal biasa. Tidak ada data yang sampai pada kita di negeri ini, mengenai berapa dominasi anggota parlemen atau menteri yang berusia muda, relatif di bawah 40 atau 30 tahun.

Hanya saja kala itu, Gerakan Ikhwan dan Hasan Al-Banna dihadapkan pada sebuah tantangan: mengapa para pemuda harus memilih Ikhwan? Mengapa tidak langsung memilih partai politik yang menyediakan lapangan besar permainan politik?

Mengapa para mahasiswa dan pelajar yang cerdas, kuat, dan tangkas, harus memilih Ikhwan ketika partai politik lebih menjanjikan jabatan, uang-uang besar yang syubhat, dan keterkenalan yang cepat?

Dari tahun-tahun 30-an itu, kita beranjak ke Indonesia. Hari ini. Masa-masa ketika para pemuda dihadapkan pada pilihan yang sama. Mereka bisa memilih KAMMI, HMI, IMM, atau PMII.


Tetapi di hadapan mereka, juga ada partai-partai yang menyediakan kursi-kursi seksi. Ada PSI yang jelas berplatform partai anak muda. Ada Perindo yang menjanjikan hal serupa. Bahkan belum lama kader-kader KAMMI kalangkabut, iri, dengki, hasud, dan mungkin bangga-bangga malu dengan PKS Muda yang mencalonkan kader berusia 18 tahun sebagai calon anggota legislatif!

Lalu mengapa para pemuda dan pemudi harus memilih KAMMI? Apa alasannya kita harus bersesak-sesakan di Musda, Muswil, dan Muktamar berebut jabatan, padahal partai politik sudah menyediakan ruang seluas-luasnya untuk berpolitik?

Organisasi ekstra kampus yang memiliki basis kajian politik sudah jelas tanpa perlu mengutip pendapat siapapun, bertujuan mempersiapkan kadernya, mempersiapkan satu generasi untuk menempati posisi strategis kepemimpinan umat.

Hanya saja, tantangan besarnya adalah, ternyata partai politik melakukan pengaderan serupa. Sehingga, agaknya, di era milenial hari ini, organisasi seperti KAMMI harus menghadapi ancaman tidak lakunya gerakan yang menawarkan an sich kajian dan pengalaman politik laboratorium, di tengah promosi partai praktis semacam PSI dan PKS Muda.

Lalu bagaiman cara KAMMI bertahan? Apa yang membuat kader KAMMI harus tetap dan harus menawarkan KAMMI kepada pemuda lainnya?

Kiranya, dalam hal ini, ada sebuah pameo yang bilang bahwa ideologi sudah tidak laku. Bahwa ideologi adalah mainan kuno tahun-tahun ketika dasar negara sudah tidak ada.

Padahal itulah, yang dulu pernah memikat banyak orang, bergabung kedalam Ikhwanul Muslimin. Kekuatan kajian. Kekuatan iman. Kekuatan ketulusan. Dan kemerdekaan bertauhid. Bebas dari segala anasir politik buruk.

*
Jakarta. Memasuki dasawarsa kedua abad 21. Basuki Tjahaja Purnama, orang yang pernah dikaji di internal KAMMI sebagai pseudo-Dajjal, pernah mengeluarkan satu statemen yang kelihatannya receh, tapi lebih populer  daripada usaha keras Anis Matta mempopulerkan quotenya.


Deparpolisasi. Orang ini cerdas. Sebab ia paham betul bahwa masyarakat sudah muak 20 tahun memilih anggota dewan yang tidak mewakili siapa-siapa dan apa-apa. masyarakat tidak bisa lagi dibohongi dengan visi misi hasil rapat semalam dua malam untuk dijual di poster.

Ahok, dan Hasan Al-Banna, punya ide yang sama. Bahwa sebuah negara demokrasi yang mengandalkan banyaknya partai politik untuk hidup, justru tengah memelihara sel kanker yang menyedot gizi dari makanannya.

Masyarakat, baik pengikut Ahok maupun pengikut Hasan Al-Banna, punya satu pemikiran yang bisa jadi sama. Bahwa uang negara habis untuk membiayai penyelenggaraan negara, bukan mencapai cita-cita kebangsaan dan keumatan.

Ahok, kemudian lebih dari mampu mengumpulkan pemuda yang ideologis dan siap mati membelanya: organisasi Teman Ahok bahkan dalam waktu singkat mengalahkan kepopuleran KAMMI.

Bahkan Ahok dan Teman Ahok mampu menciptakan satu kubu tersendiri dalam lapisan sosial masyarakat ibukota; bahwa ia jelas dengan bahasa politik ingin berkata: tak ada gunanya berorganisasi ekstra!

Saya yakin KAMMI tak akan pernah mampu mengumpulkan sejuta KTP untuk calon gubernur muslim yang mereka usung atau sekadar menjadikan ketua mereka menjadi menteri.

Lalu mengapa ini terjadi?  Mengapa partai politik akhirnya menghemat waktu dan tenaga untuk menunggu ekstra kampus mengkader dan membina, lalu binaan mereka masuk ke partai? Mengapa partai akhirnya mencalonkan anak kecil, bahkan menjadikannya ketua partai?

Sementara di sisi mereka, anak-anak muda “ideologis”, “tangguh”, “intelek”, dan  “berbakat”, tengah belajar membunuh di dalam organisasi mereka. Mereka belajar makan uang-uang residu politik yang jatuh bagai daun berguguran.

ideologi? Orang-orang kabinet dan kepolisian lebih mengetahui daripada orang ekstra kampus. Cukup ajak mereka bertemu sekali dua kali atau berikan uang, habis perkara.


Sementara partai membuka peluang sebesar-besarnya untuk anak muda belajar jabat menjabat, ekstra kampus masih bergumul dengan urusan jegal-jegalan saat muktamar, tipu menipu saat musyawarah.

Dan kita hari ini masih dengan senang hati memakan tipuan-tipuan itu: berkeras-keras orasi di jalan mengenai anggota dewan yang lalai saat sidang, alpa saat paripurna. Tetapi muktamar kita:

Para Yang Terhormat sibuk ngopi dan tawar menawar di kedai duren; yang musyawarah adalah mereka yang tulus, suci, polos, dan terlalu saleh sampai-sampai ikhlas lillahi ta’ala ditipu begitu.

Ideologi? Uruslah ideologi setelah kenyang, perut ada kemajuan, bisa nempel anggota dewan, dan bisa masuk ke kantor-kantor pemerintahan pusat tanpa nitip KTP di penjaga gerbang depan!

Baik Ahok maupun Hasan Al-Banna sadar itu semua. Mereka mengambil garis tengah dan garis terdepan untuk melawan itu semua. Ahok dan Al-Banna, sama-sama dimusuhi partai-partai karena menyerukan pupusnya sistem kepartaian.

Sementara para pemuda berkumpul di sekeliling mereka; karena satu hal. Organisasi dan partai yang ada, tidak menawarkan air bagi dahaga ideologi dan dahaga kebenaran mereka. Sementara, keduanya menawarakan itu:

Meski Hasan Al-Banna adalah ulama, sedang Ahok adalah, bisa jadi memang Pseudo-Dajjal.

*
Tak ada jawaban yang lebih logis daripada, hari ini daya tawar ekstra kampus  tinggal pada penyadaran ideologi. Memang betul kata BNPT.

Radikal, adalah mereka yang kajian diam-diam, dan meyakinkan kita bahwa kita tidak sedang bahagia, bahwa ada yang salah di negeri ini. Dan memang itulah alasan kita, barangkali, bergabung dalam gerakan ini.

Ketika kemudian sebuah gerakan malah menjadi bagian dari masalah dan kesalahan suatu negeri; apalagi alasannya mengajak orang bergabung kedalam gerakan ini?

Maka, tahun-tahun kedepan, kita akan menghadapi kiamat gerakan ekstra kampus. Kiamat baru dan belum pernah terjadi; sebab saat ini, menjelang 100 tahun pertama tanpa adanya kekhalifahan islam.

Alasan utama munculnya pergerakan mahasiswa islam, adalah tak adanya pemerintahan dan organisasi ideal berasaskan islam yang betul-betul menjalankan kemauan bersama dan tafsir ideologi yang baik.

Ketika bergabung kedalam organisasi ekstra kampus sudah dianggap tidak praktis; dan menawarkan hal yang kira-kira sama dengan parpol tetapi dalam versi tidak konkret, insyaa Allah ekstra kampus akan ditinggal.

Bisa jadi orang akan langsung main calon-calonan ke partai politik. Atau karena gerakan ekstra tidak lagi menawarkan perbaikan konkret itu; maka orang akan beralih ke organisasi jenis ketiga:

Yang ikatannya, ikatan hobi. Yang isunya, isu khusus, tajam, mendalam, dan spesial. Jangan heran organisasi pecinta vespa lebih besar daripada KAMMI.

Jangan heran organisasi para Hooligan atau pecinta marmut, kodok, iguana, cupang, dan cebong bakal lebih laku daripada gerakan kampus!


Rabu, 17 Januari 2018

Dark Comedy vs Rasa Kebangsaan





Dari segala jenis genre komedi, stand up comedy adalah genre yang paling belakangan masuk ke Indonesia. Sayangnya genre ini masuk ketika situasi kebangsaan kita begitu rumit dan mencekam.

Untuk menciptakan kelucuan, komedi menggunakan pelanggaran-pelanggaran kepada maksim. Maksim, adalah suatu kewajaran tutur dalam logika yang membuat otak kita menerima suatu fakta dalam percakapan sebagai hal yang normal.

Pelanggaran maksim ini, seringkali mengundang tawa. Akan tetapi, kalau tidak hati-hati, ini bisa mengundang sakit hati dari pihak yang disebut. Terutama, jika menyangkut keimanan dan ketuhanan seseorang.

Dari segala unsur pragmatik dan semiotik yang ada dalam standup comedy, inilah yang paling bahaya. Sejauh mana komika mendapatkan bahan leluconnya, dari situlah kita tahu betapa kecerdasan budi mereka.

Mulanya standup comedy muncul untuk mengisi kekosongan hiburan di kafe-kafe pada masyarakat Amerika dan Eropa yang memang sedang butuh tertawa lebih dari biasanya. Perang berkepanjangan, kehidupan yang dikungkung dogma tak logis, atau juga pejabat yang menyalahgunakan apa saja.

Maka, memang dulunya sebagian besar materi standup adalah dark comedy, komedi hitam yang digunakan untuk membangkitkan sensitivitas publik terhadap pelanggaran di sekitar mereka. Maka dengan itu, sepulang dari kafe, mereka mendapatkan alasan-alasan baru untuk bergerak dan berpikir lebih merdeka.

Dengan itu, mereka mendapatkan istirahat selepas perang, alasan-alasan revolusi, pengibaratan tajam tentang rezim yang jahat, atau bahkan alasan-alasan baru untuk berperang. Begitulah peradaban barat era 1700-an hingga 1900-an dibangun.

Tetapi di masyarakat timur dan terutama Indonesia yang dengan susah payah kita memupuk persatuan, ternyata sekelompok komika tak bisa menerjemahkan lucu lebih dari perkara menjelekkan agama lain dan sejenisnya.

Tertawa terlalu banyak memang mematikan hati. Tertawa terlalu banyak akan membuat kita lupa betapa ada hal-hal lain yang berharga untuk orang lain dan orang itu akan bersedia melakukan apa saja untuk membelanya.

Standup comedy awalnya masuk sebagai alternatif komedi yang menjanjikan pola pikir yang baru. Akan tetapi, jika perkembangan yang terjadi sudah sejauh ini, tak ada salahnya meninjau kembali, pentingkah menerima hal semacam itu kedalam kebudayaan kita?

Apakah boikot bisa menjadi jawaban, agar tak ada lagi orang dan anak-anak kita yang menertawakan hal yang sensitif bagi orang lain.

Apa? Soal kebhinnekaan? Saya rasa, tak ada seorangpun mau hidup di kota yang penuh dengan lawak dan kota yang tak pernah menghargai rasa keagamaan sebagian orang. Ritual ibadah, di negeri kita, sama sekali bukan hal yang lucu.

Para komedian itu harus tahu bahwa di negeri kita perdamaian susah diciptakan. Negeri kita diisi para pendeta dan ulama yang tersenyum dengan tulus tanpa pernah menertawakan prinsip hidup orang lain.

Sebab, menertawakan prinsip hidup orang lain, adalah suatu dosa bagi kejantanan kita. Sudah saatnya kita berpikir kembali untuk menonton mereka dan beralih pada, hiburan-hiburan yang lebih membangun kebudayaan kita.

Amar Ar-Risalah
Sosmas KAMMI PD Jaktim