Kamis, 29 November 2018
Mengapa Kita Harus Mengajak Orang Gabung KAMMI?
*Amar Ar-Risalah*
Saya tulis risalah ini, saat ombak-ombak yang santun dari pantai paling barat Jawa menyentuh kaki. Ini adalah tempat dauroh paling indah yang pernah saya temui.
Seseorang, tadi malam bertanya. Ia mengambil tempat, tepat di depan saya. "Saya ada pertanyaan yang bikin saya penasaran" katanya.
"Mau apa KAMMI ini sebetulnya, kenapa kita harus bergabung kedalamnya, bertahan di sana?"
Saya diam sejenak. Saya tahu dia tidak sedang menguji. Dia sedang mencari hakikat dakwah ini. Angin laut menjadi detail. Saya coba menjelaskan.
Kira-kira, saat para sabiqunal awwalun masuk islam, apa sudah ada perangkat hukum-hukum islam yang detail, atau baru seruan sederhana, tiada Tuhan selain Allah?
Barangkali saat itu, kita bisa bayangkan seperti ini: Abu Bakar, sang pebisnis besar yang lembut hati, mengumpulkan para pebisnis lain: Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Suhaib Ar-Rumi, dan lain sebagainya.
Barangkali Abu Bakar akan mengatakan seperti ini: "mitra dagangku yang baik hati. Kita adalah orang-orang yang paham, bagaimana kebatilan yang ditimbulkan para pebisnis hitam di kota kita."
Betul. Mereka barangkali bukan cuma paham, akan tetapi hadir pada saat kongsi-kongsi dagang itu merumuskan pakta yang merampas hak orang lain.
Mereka sebelumnya memang sudah ditemui secara pribadi. Abu Bakar hanya memilih orang yang dikenal bersih dan lurus dari kehidupan kotor jahiliyah.
"Mengapa?" tantang Abu Bakar, "mengapa semua orang bebas menetapkan aturan? Mengapa tak ada beda antara hukum dengan kezaliman?"
Mereka mengangguk. Pebisnis Utsman telah melihat bagaimana kongsi dagang keluarganya, Bani Abdu Syams dengan Bani Sahm menyebabkan kondisi bebas nilai di mana-mana. Kongsi dagang itu berbalut kongsi politik Hilful Ahlaf.
Ia lahir dari generasi yang lain. Generasi saat ramalan-ramalan mengenai nabi terakhir, mengenai akan datangnya penengah, memuncak. Ia juga lahir dari generasi yang muak pada tatanan masyarakat kotanya.
Para pebisnis itu, tak punya waktu lama. Abu Bakar segera menuntaskan tawarannya. "Ya, sahabat-sahabatku. Nabi itu, sang penunjuk kebenaran yang kita tunggu bagi membalikkan keadilan, bagi memulihkan hak-hak orang, telah diutus."
"Rekan kita, mitra dagang kita, sang Jujur dan sang Terpercaya. Muhammad!"
Percakapan imajiner di atas bisa terjadi bisa juga tidak. Tapi yang saya pahami dari mengapa saya menyetujui gerakan ini, adalah tawarannya untuk mengatasi ketidakadilan dan perbaikan di masa depan.
Semua orang yang sedang merunduk-runduk saat ikut pengaderan pertama, sesungguhnya mencoba membandingkan tawaran kita, dengan kondisi yang menimpa dirinya. Ia sedang bertanya pada jamaah ini:
Apa, apa yang sedang kalian tawarkan bagi menjawab permasalahan generasi dan zaman saya? Apa yang kalian lakukan sehingga saya harus melakukan itu bersama kalian, sebab saya percaya itu sebuah perbaikan?
Saat Hasan Al-Banna diam-diam membentuk jamaah Katibah sebagai inti pengaderan Ikhwan, orang menemukan jawaban atas hancurnya tatanan moral dan politik Mesir. Beliau piawai menerjemahkan Al-Qur'an menjadi rencana buat zamannya.
Muhammad Natsir, di negeri kita, agaknya juga mampu memandang negeri ini sebagai objek Al-Qur'an. Maka orang berhimpun kesekelilingnya tanpa perlu diundang.
Orang semacam tadi bisa saja dibohongi dengan ilusi festival rekrutmen satu juta satu kader. Orang tadi, juga barangkali seperti Utsman, Zubair, Abdurrahman, dan Suhaib:
Tak punya banyak waktu untuk memikirkan hal-hal kecil, pesta pesti, atau hiruk pikuknya kepemimpinan jamaah. Orang tadi hanya bertanya hal mendasar: apa yang bakal kita lakukan. Dan apa bedanya dengan orang lain.
Ombak laut barat Jawa, dan asap Krakatau yang terlihat di kejauhan menyentak. Terdengar dentuman bagai bedug panggilan azan. Krakatau sedang meletus.
Dr. Ali Ash-Shallabi, tegas menjelaskan dalam kitabnya, Fikih Tamkin. Bahwa, seruan dakwah sejatinya adalah sebuah tawaran, yang mesti diserukan sampai ujung kota, ke segala lapisan masyarakat.
Seruan itu haruslah jelas, bisa jadi sloganistik, tapi tegas dan tidak samar. Musa, saat menyampaikan seruan laa ilaha illallah, tidak samar dan menutup-nutupinya lantaran saat itu, menuhankan Firaun dan mempertahakan Negara Mesir dari rongrongan teroris sedang tren.
Dua utusan di negeri yang disebut dalam surat Yaasin, tidaklah mengubah hakikat seruannya. Ia tegas menjelaskan kebatilan apa yang terjadi, dan bagaimana obatnya.
Lalu Allah menguatkannya dengan yang ketiga, yang tidak mengubah isi seruannya. Dari sini, kita coba tarik sebuah ide:
Jangan-jangan seruan dasar KAMMI dalam filosofi gerakan kita telah jauh menjadi samar, lantaran bid'ah-bid'ah pengaderan yang terjadi, dan dibiarkan entah kenapa.
Barangkali iming-iming alumni hebat, dana tak terbatas, koneksi bisnis, dan bahkan kemudahan menjadi tenaga ahli di pemerintahan menjadi janji-janji para dai di tubuh KAMMI.
Padahal, di tepi laut ini, bersama angin pesisir dan hamparan pasir, saya tahu apa isi percakapan Abu Bakar kepada forum para pebisnis tadi:
"Sahabat-sahabat tentu tahu. Bahwa bilamana kita ambil seruan nabi baru itu, bilamana kita coba ganggu ideologi yang membuat ketidakadilan di kota ini, tentu bani-bani kaya dan kuat tak akan membiarkan kita, dan malah memutus jaringan bisnis dengan kita!"
Tapi dengan mantap dan tegas, para pebisnis itu bersyahadat. Sebab Abu Bakar tak menyamarkan apa isi seruannya. Sekarang, kita diterkam simulakra milenial:
Bahwa generasi sekarang harus diantar dengan halus dan samar. Mereka memang susah fokus. Mereka lebih senang bicara startup daripada prinsip dasar keadilan dagang.
Bahwa generasi sekarang tak bakal nyambung bicara ideologi. Orang-orang milenial cuma peduli caption di Instagram atau quotes di Canva. Dan memang begitulah cara pikir orang tua yang cepat lapuk dimakan proyek!
Selesai berpetualang di KAMMI, mereka akan norak dan berpetualang lagi di partai, mengekor di belakang pantat pengusaha, atau ikut ngantar para pelaku kezaliman itu ke puncak kekuasaan.
Mari pertegas saja, kepada apa KAMMI menyeru manusia? Pertegas lagi, prinsip, paradigma, dan kredo semacam apa yang kita sorakkan pada dunia ini?
Kemenangan islam.Kebatilan. Persaudaraan. Kepemimpinan. Solusi islam. Biarkan frasa-frasa itu menghiasi benak kita dan menjadi alasan kita bergerak. Dan jadikan itu ancaman bagu kejahatan-kejahatan gelap dan terang yang terjadi di negara kita.
Kepada apa KAMMI menyeru manusia? Jawablah dengan tegas dan jelas, yaitu
pembebasan manusia dari berbagai bentuk penghambaan terhadap materi, nalar, sesama manusia dan lainnya, serta mengembalikan pada tempat yang sesungguhnya: Allah saja!
Dan biarkan orang menilai sendiri, apakah filosofi gerakan KAMMI ini masih menjadi proposal besar agenda pemenangan islam. Atau jangan-jangan, kita sendiri menganggap itu sudah tidak penting.
Sebab, monetisasi adalah segalanya! Hidup festival rekrutmen KAMMI! Hidup maba-maba lucu yang gabung KAMMI!
Rabu, 28 November 2018
Dari Masjidlah Revolusi Akan Bergulir
Amar Ar-Risalah
Kalau sekarang masjid diwaspadai, berarti ada yang sudah paham bahwa masjid adalah tempat terbaik memulai revolusi.
Sebab, di masjid, orang membersihkan dirinya, membersihkan motif hidupnya, dan kembali meluruskan cara pandangnya kepada segala sesuatu. Termasuk, kepada negara. Senetral-netralnya. Sebebas-bebasnya sebagai hamba Tuhan.
Dulu, Salahuddin Al-Ayyubi melihat bahwa kerajaan sesat syiah Dinasti Fathimiyah adalah penghambat terbesar saat akan membebaskan Palestina.
Mengapa? Dinasti Fathimiyah mengaku islam. Tapi kebijakan negaranya justru mengganggu kebijakan Kekhalifahan Abbasiyah yang Ahlu Sunnah.
Saat Abbasiyah ingin menolong Palestina, rupanya pasukan Salib membayar negara Fathimiyah dengan deal-deal politik. Dengan ilusi jalur dagang, dengan fatamorgana persekutuan militer!
Maka, Salahuddin atas perintah Nuruddin Zanki melakukan penyusupan kedalam istana, dan berhasil mendapatkan jabatan Perdana Menteri.
Rupanya, dari jabatannya yang tinggi itu, Salahuddin melihat kebawah. Kebijakan kerajaan tak pernah menyentuh rakyat kecil. Ideologi negara, tak pernah diterima masyarakat luas.
Dari mana Salahuddin tahu? Ia amati masjid! Dari ribuan masjid yang ada di Afrika Utara dalam wilayah Fathimiyah, ia tahu bahwa rakyat tidak satu ideologi dan tidak satu cara pandang dengan Sultan terhadap negara.
Rupanya di masjid, mayoritas orang masih mengikut Ahlu Sunnah. Hanya negara dan para pejabat pusat saja yang syiah. Hati umat, tak bisa dibohongi. Mereka merindukan tatanan sosial yang sesuai dengan hati mereka.
Sebab, bagi mereka, cara pandang agama, juga merupakan cara pandang kepada keadilan. Dan Negara Fathimiyah itu gagal memberikan keadilan bagi rakyatnya dengan cara pandang syiah.
Perebutan demi perebutan kekuasaan terjadi tanpa pernah melibatkan rakyat kecuali sebatas besaran suara pendukung pada saat melakukan deal politik.
Di satu sisi, Sultan Al-Adil, adalah sultan lemah. Ia baru berusia belasan tahun dan jelas gampang disetir oleh pejabat busuk disekitarnya!
Satu hal: para Khatib dan imam Ahlu Sunnah itu jelas dianggap radikal dan mengancam eksistensi negara. Mereka adalah bahaya laten dan penyebar paham radikal, bagi pemerintahan Fathimiyah yang sesat itu!
Tapi ada harapan. Senantiasa ada harapan bagi orang-orang yang menitipkan nasibnya pada Allah, di rumah-rumah Allah! Betapapun kas negara habis untuk penyuluhan anti radikalisme, Allah menitipkan Salahuddin di jantung istana!
Maka dimulailah revolusi itu: suatu saat, tersiar kabar Sultan sakit hingga tak sadarkan diri. Salahuddin memerintahkan sebuah masjid besar untuk menyelenggarakan salat Jum'at dengan cara Ahlu Sunnah.
Rencana yang berbahaya. Jika gagal, sang khatib beserta ratusan jamaah jadi taruhan. Mereka bisa mati sia-sia. Tapi, tibalah Jumat itu.
Ternyata, masyarakat berbondong-bondong datang. Mereka senang. Perkiraan Salahuddin benar. Bahwa, selama ini hati rakyat tetaplah pada Ahlu Sunnah wal Jamaah!
Pekan depannya, banyak masjid di kawasan Fathimiyah berubah menjadi ahlu sunnah. Rupanya, mayoritas penduduk di Fathimiyah tak bisa diambil hatinya dengan kebijakan-kebijakan palsu syi'ah selama ini.
Hanya beberapa kejap kemudian, kerajaan Fathimiyah yang secara wilayah, keuangan, dan dari segi apapun lebih besar dari Indonesia itu runtuh, dan berhasil ditaklukkan Salahuddin tanpa senjata. Hanya dari masjid!
Segenap mahasiswa muslim Indonesia, para pemuda Islam di Indonesia. Orang boleh bilang masjid berbahaya. Maka dari itu, datanglah ke masjid dan jagalah tempat kelahiran kita itu dari bahaya apapun yang mengancamnya.
Sebab dari masjidlah, roda gigi revolusi ini akan bergulir!
Bacaan:
Ali Ash-Shallabi, Shalahuddin Al-Ayyubi
Bernard Lewis, Assasin: Pembunuh dari Lembah Alamut
Minggu, 25 November 2018
Ghazali dan Literasi Zaman Kita
Amar Ar-Risalah
Kita tak pernah bisa membayangkan, apa yang dipikirkan oleh Imam Al-Ghazali saat menyaksikan kemunduran umat islam pada zamannya. 700 tahun lalu.
Kelak kita hanya akan tahu bahwa beliau adalah salah satu penulis paling produktif, kuat, dan hebat pada zamannya. Ia hadang gelombang pemurtadan berkedok filsafat di dalamnya, sekaligus ia islamkan pula perangkat teori filsafat itu.
Imam Ghazali mencari harapan-harapan itu melalui segenap masjid di kota-kota. Ia pergi berkelana. Tapi nihil. Ia tak dapati apapun. Kekuasaan Abbasiyah telah jauh melemah, sementara moralitas tak ada lagi.
Di masanya, kaum teolog, yang mengembalikan semuanya pada teks hadis, bertarung dengan kelompok mutakallimin yang gemar merenung dalam kekosongan.
Di antara mereka, kelompok syiah bathiniyah mengancam masyarakat. Sementara, pertarungan dua kelompok pertama tidak berarti apa-apa bagi masyarakat.
Ghazali kecil menyaksikan itu semua. Di mana-mana, moral hancur karena keraguan menjadi dasar pemikiran mengenai Tuhan dan Ketuhanan.
Ilmu agama, mati. Ia cari jawaban bangkitnya ilmu-ilmu itu ke mana saja ia pergi. Ia menyepi ke berbagai menara masjid, dan ia lihat dari ketinggian menara, bagaimanakah kemanusiaan itu?
Ghazali terdiam. Tampaknya, tak seorangpun akan datang menyelamatkan kehancuran umat itu. Suatu hari, ia memulai menulis kitabnya. Ia akan tulis sebuah rencana, sebuah proposal besar keumatan yang akan menahan gelombang itu.
Maka jadilah kitab itu. Ihya Ulumuddin. "Hidupnya Ilmu-Ilmu Agama"!
*
Semua ulama punya satu hal. Kepekaan dan rasa kasih sayang pada umat islam. Mereka bukan juru debat. Mereka juga bukan orang yang menulis karena depresi atau luapan diksi yang meracuni nalar pikiran.
Semua tulisan hebat itu selalu dimulai dari kesadaran atas penderitaan umat. Ghazali lahir di abad di mana kebodohan dikedepankan hanya lantaran filsafat sedang menjadi tren.
Dengan kepekaan itu, Ghazali tahu obat dari segala penyakit itu adalah kembalinya ilmu-ilmu agama. Lebih dari itu, puluhan kitab-kitab yang menghajar langsung inti pemikiran filsafat, seperti Ihya Ulumuddin, Tahafut Al-Falasifah, Misykatul Anwar, dan Bidayatul Hidayah, ia hadirkan ke tengah-tengah umat.
Ulama tak hanya ahli ilmu. Mereka haruslah orang yang tahu di mana letak sakitnya masyarakat, dan lepas dari kesakitan itu agar bisa memberikan obatnya. Buku-buku dan tulisan itu, adalah obat yang diturunkan Allah untuk zaman itu.
Hari ini kita tahu, kebodohan adalah tren. Kita dibuat kaget karena hal-hal yang tak masuk akal bisa mengalahkan hal yang masuk akal.
Riba menyebar di mana-mana. Al-Baqarah ayat 275 jelas menggambarkan umat dan negeri kita bagai orang limbung kemasukan setan. Hutang-hutang negara ditambah, hanya untuk menutupi hutang sebelumnya.
Masyarakat kecil terjerat riba bank keliling. Di antara mereka, sampai harus memalsukan kematian atau bahkan saling membunuh karenanya. Uang-uang itu kecil, tapi bunganya menjadi berkali-kali lipat.
Perusahaan-perusahaan besar merampas hutan negara dan tanah rakyat, lantaran kebodohan masyarakat yang dibiarkan oleh negara. Kini rakyat itu, para mantan tuan tanah yang merdeka, harus berkerja sebagai pesakitan dengan gaji bulanan yang tak besar.
Sementara bangsa lain, mengancam dengan taringnya yang tajam. Amerika Serikat, dengan mazhab ekonomi Washington Consensus menipu negara-negara kecil yang tak sadar dirinya kaya. Penjajahan Washington Consesnsus dilakukan atas nama investasi, yang kemudian, investasi itu menginjak kedaulatan dan kemerdekaan umat islam.
Sementara negeri Cina melakukan monopoli dan negeri kita tak bisa berbuat apa-apa lantaran besarnya uang yang mereka punya. Bahkan mereka dapat membuat kota baru yang biayanya melebihi biaya penghidupan ibukota kita.
APBD DKI Jakarta hanya sebesar kurang dari 70 triliun. Sementara Meikarta dan Reklamasi Pantai Utara Jakarta, memakan biaya lebih dari 200 triliun. Keadilan, sudah tak ada. Tak perlu bicara masalah moral, karena di negeri ini, moral sudah tak ada.
Di masa-masa semacam inilah, Ghazali lahir. Dan Ghazali sadar betul bahwa ada yang harus ia lakukan. Kebangkitan itu, harus ia yang memulai. Meskipun ia hanya bisa menulis dan berpikir.
Seandainya Ghazali hanya bicara dan mengisi ceramah, barangkali perubahan itu tak akan sehebat ini. Sebab tulisan itu akan mengabadikan gagasan kita, dan melipatgandakan dampaknya.
Ghazali paham apa yang menimpa umatnya dan Allah mengilhamkan padanya untuk menulis obat bagi umat saat itu.
Syahadat kita, membuat hati kita yang mati rasa atas penderitaan umat, harusnya hidup lagi. Kita jadi lebih peka atas apa yang terjadi di zaman ini.
Bacalah Al-Qur'an dengan lambat dan jangan keliru paham: penghafal qur'an zaman kita lebih banyak daripada zaman Ghazali. Ahli tafsir kita lebih banyak daripada zaman Ghazali. Tapi ada satu perbedaan mendasar.
Para penghafal Qur'an itu mampu melakukan perbandingan antara konsep-konsep yang ada dalam hafalannya, dengan realita. Mereka tidak menghafal lantaran untuk menyenang-nyenangkan orang tua. Orang tua kita dibius:
Bahwa sesungguhnya sertifikat hafalan, danain sebagainya yang dimiliki anaknya, ternyata tak bisa jadi solusi buat umat.
Sebab, ternyata syahadat dan al-qur'an itu tak kunjung membuat hati yang beku dan kemalasan orang untuk bergerak itu berubah. Syahadatain sebagai titik tolak perubahan, menanti tulisan dan rencana keumatan kita!
Dan zaman ini telah memanggil kita. Bacalah beragam berita-berita dan serapi penderitaan umat di sana. Bacalah buku-buku dan cari tahu pendapat mereka yang lebih pakar di sana.
Lalu, luruskan pola pikir kita. Buatlah hati menjadi peka, dan bagaimanapun itu, doronglah tangan kita untuk menulis obat bagi umat yang sekarang terombang-ambing ini.
Tulislah apa saja. Tapi jangan mencengeng-cengengkan tulisan kita. Derajat umat tak akan terangkat hanya lantaran mendalil-dalilkan rindu dan membuat kesepian kita cocok dengan sebuah ayat al-Qur'an.
Zaman telah memanggil tulisan kita. Maka menulislah, dan berikan proposal keumatan itu buat kita, sebagaimana Ghazali menulis Ihya Ulumuddin.
Menulislah!
Minggu, 11 November 2018
Alasan Untuk Menulis dan Seruan Keadilan
Amar Ar-Risalah
Semua tulisan yang abadi, selalu lahir karena satu hal. Tulisan itu memberikan tawaran jalan keluar dari segala penindasan yang terjadi pada pembacanya.
Dan dengan tulisannya itu, orang diajak memahami, bahwa kebebasan yang dia alami adalah semu. Bahwa ada kekuatan manusia lain yang menindasnya, yang merampas haknya, dan islamlah, yang dapat menegakkan hak-haknya kembali.
Hasan Al-Banna. Mesir. 1930-an. Kekhalifahan Islam baru saja runtuh. Inggris menguasai militer, pelabuhan, dan media di Mesir.
Mesir memang negara merdeka di atas kertas. Tapi kebijakan Raja Faruq, tak pernah bisa membohongi rakyatnya. Bahwa ia lebih menguntungkan Inggris dengan apa yang dikenal hari ini sebagai 'investasi', 'kenyamanan bagi pelaku pasar', dan sejenisnya.
Hasan Al-Banna yang seorang penghafal Qur'an jelas menangkap hal ini. Dengan ketajaman hatinya, ia tangkap kerinduan orang pada keadilan. Maka sambil ia menyusun lapis demi lapis gerakan Ikhwanul Muslimin, ia menulis.
Tulisannya tajam, bernas, dan apa adanya. Saat ia menuliskan kata keadilan, maka ia sangat paham apa maksudnya. Ia tawarkan keadilan islam bagi bangsanya. Tulisannya itu dimuat secara berkala di Majalah Al-Ikhwanul Muslimun hingga menjelang akhir hayatnya.
Sebab, keadilan harus ada buat semua orang. Bukan cuma yang bisa menanam investasi di sebuah negara, tapi juga pada pedagang-pedagang kecil, yang saban musim pemilihan berharap diwakili pejabat yang bijak dan kritis.
Tapi pemilihan itu sendiripun sebuah pembohongan publik. Hasan Al-Banna melihat dari pemilihan semacam itulah, Negeri Mesir jatuh ke lubang hitam ketidakadilan.
Ke manakah islam? Ke manakah persaudaraan muslim?
Saat ia melihat penyebab muslim melemah dan secara pribadi begitu lembek, ia tuliskan 10 baiat Muslim yang membuat kita menjadi pribadi yang unggul.
Dari 10 baiat itu, ada 20 hal pokok yang harus dipahami seorang muslim. Ushul Isyrin namanya. Tulisannya, di masa-masa perang itu, menjawab kerinduan orang tentang cara-cara menegakkan kembali keadilan yang hilang.
Maka bersamanya, orang bergabung kedalam gerakan Ikhwanul Muslimin dan bergerak di mana-mana bagai gelombang. Saat tersiar kabar pecahnya perang dan penjajahan di Palestina, Hasan mengirim 10.000 orang dengan kemampuan militer ke sana.
Pencapaian yang luar biasa! Hasan Al-Banna dan tulisannya seolah-olah mampu menjawab kerinduan masyarakat tentang konsep keadilan itu. Sampai akhirnya, pemerintah Mesir merasa ia adalah ancaman.
Di sudut ini patutlah kita merasa: ketidakadilan yang sama terjadi di negeri kita. Negeri kita mengimpor segala sesuatu, yang mana, rakyat masih mampu mengusahakannya. Perbedaan hak si kaya dan si miskin makin tajam.
Kebijakan pemerintah juga makin menguntungkan pengusaha, atas nama data-data pembangunan. Sementara, kesakita. Rakyat tak ada tempatnya. Untuk alasan itulah, KAMMI harus senantiasa ada.
Gerakan KAMMI, ada di mana-mana dan merasakan kelaparan yang sama dengan rakyat. Tinggal kita menuliskan gagasan-gagasan keadilan itu, sebagaimana Hasan Al-Banna dalam mingguan Ikhwanul Muslimun.
Tak ada tulisan yang lebih berbahaya selain menyadarkan orang tentang ketidakadilan yang terjadi di sekitar mereka. Dan terutama, ketidakadilan Inggris kepada Mesir, dan Mesir kepada rakyatnya.
Kita sudah tahu bahwa Hasan Al-Banna akan dibunuh. Yang kata Qardhawi, ia dibunuh tiga kali. Ditembak, lalu dokter dilarang merawatnya, dan tak ada seorangpun boleh melihat pemakamannya.
Tapi siapa bisa membohongi orang, bahwa ketidakadilan masih terjadi? Untuk alasan itulah, barangkali Allah menyampaikan tulisan Al-Banna kepada kita. Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin, atau Majmuatu Rasail, yang menjadi bacaan wajib gerakan kita.
Sebab di negeri kita ketidakadilan telah detail. Telah jelas dan bahkan bisa dirasakan anak kecil sekalipun.
Kita adalah lapis tengah masyarakat Indonesia. Yang melihat megahnya gaya hidup lapis atas kita, atas harta yang dikumpulkan dari pajak-pajak rakyat di lapisan di bawah kita.
Sementara kita juga melihat, betapa tergantungnya negara kita dengan negara lain. Bahwa kemiskinan, sesungguhnya adalah saat ada makanan, tapi kau tak bisa memakannya karena telah diatur-atur oleh orang lain!
Suatu saat rakyat akan sadar bahwa mereka telah dibohongi. Mereka telah ditindas. Suatu saat rakyat akan sadar bahwa hidupnya negara telah diatur tidak dengan benar sehingga terus mencetak ketidakadilan baru secara massal.
Dan, kepada para pemuda, saatnya kita menulis. Saatnya kita berdiri dan tak jadi orang yang sekadar duduk-duduk dan mencibir apa saja yang melintas di hadapan mereka.
Tulislah ketidakadilan itu! Tulislah kejahatan-kejahatan negeri ini, dan bawalah ke bawah sinar matahari yang terang, agar orang tahu bahwa kita telah dibodohi dan ditipu habis-habisan.
Biarkan tulisan kita beredar bersama kelaparan masyarakat dan perjuangan yang menyertainya. Biarkan tulisan kita membidik bersama mata marah para ulama, dan mengalir bersama sungai-sungai yang dikeringkan untuk para pengusaha.
Edarkan tulisan kita ini, pada simpul-simpul kebodohan rakyat, dan bawa mereka dari kegelapan pekat menuju cahaya yang membuat mereka memandang dunia ini dengan kesempurnaan islam.
Zaman mengamanahkan pada kita untuk menulis. Untuk mengabarkan pada rakyat bagaimana cara mengambil kembali kedaulatan mereka. Maka menulislah, dan jangan takut apapun.
Sebab ketakutanmu itu sendiri, adalah sebuah ketidakadilan!
Kita adalah orang-orang yang berpikir dan bertindak merdeka!
Rabu, 21 Maret 2018
Puisi-Puisi Amar Ar-Risalah
Nyanyian Musim
Kau tentu tahu; jika bunga-bunga randu itu beterbangan
Menutupi jalan; pada waktu menjelang Ashar
Yang ingin bunga itu katakan berbeda
saat kau dengan sengaja-diam-diam atau terbuka-mengetamnya
Menjadikannya kasur bagi tidurmu yang sejahtera
Kau tentu tahu; jika bunga-bunga randu itu beterbangan
Menutupi jalan; pada waktu menjelang Ashar
Yang ingin bunga itu katakan berbeda
saat kau dengan sengaja-diam-diam atau terbuka-mengetamnya
Menjadikannya kasur bagi tidurmu yang sejahtera
Kau tentu pernah mendengar bahwa
daun-daun jati itu pergi tanpa mengetuk pintumu
Saat tangan-tangan yang tak bakal dimakan rayap datang menebang
Dan daun-daun itu menjelma sayap; yang kaugunakan
terbang ke masa kenangan
Kau bisa jadi ingat pernah bercakap pada rebung bambu
Betapa ia tak tahu nasib memberinya berapa waktu
Barangtentu kau tak tahu bagaimana
ingatan permainan anak-anak kita
Disimpan di rongga-rongga bambu
Dan bagaimana rongga-rongga itu
akan menceritakan muasalnya padamu:
"Aku tercipta dari punggung dan jemari ibu..."
Nyanyian Semesta
"Menjelang matahari terlelap;
aku mendengar nyanyian
Yang gaib. Dari dasar
alam semesta
Dari akar-akar penciptaan
Partikel Tuhan.
Dzarrah yang pekat.
Dawai yang bergetar
Nada yang gelepar
Tenaga yang pencar
Wujud dan tak wujud.
Wurd dan sujud.
Kekosongan dan materi.
Kehampaan dan gravitasi.
Cahaya adalah
yang nampak--dan--menampakkan. Kita
adalah cahaya
Nyanyian Ghazali.
Kantung-kantung cahaya.
Nyanyian taman
para pencari
Hidup-hidupkan hari
Yang telah mati
Kita di dalam peti
Yang dikunci berpuluh juta hari
Kita adalah anak-anak pewaris Sohrawardi
Kita adalah pencari
Amanat tekateki Rumi....."
Safar Hujan
Suatu hari
Hujan, dengan jubahnya yang lapang
Bermurah hati
Menjenguk ladang-ladang
Di desa-desa
Menziarahi orang-orang tua
Yang paham sejarah
Bagaimana sebuah kota
Kelewat jatuh cinta
Pada dirinya sendiri
daun-daun jati itu pergi tanpa mengetuk pintumu
Saat tangan-tangan yang tak bakal dimakan rayap datang menebang
Dan daun-daun itu menjelma sayap; yang kaugunakan
terbang ke masa kenangan
Kau bisa jadi ingat pernah bercakap pada rebung bambu
Betapa ia tak tahu nasib memberinya berapa waktu
Barangtentu kau tak tahu bagaimana
ingatan permainan anak-anak kita
Disimpan di rongga-rongga bambu
Dan bagaimana rongga-rongga itu
akan menceritakan muasalnya padamu:
"Aku tercipta dari punggung dan jemari ibu..."
Nyanyian Semesta
"Menjelang matahari terlelap;
aku mendengar nyanyian
Yang gaib. Dari dasar
alam semesta
Dari akar-akar penciptaan
Partikel Tuhan.
Dzarrah yang pekat.
Dawai yang bergetar
Nada yang gelepar
Tenaga yang pencar
Wujud dan tak wujud.
Wurd dan sujud.
Kekosongan dan materi.
Kehampaan dan gravitasi.
Cahaya adalah
yang nampak--dan--menampakkan. Kita
adalah cahaya
Nyanyian Ghazali.
Kantung-kantung cahaya.
Nyanyian taman
para pencari
Hidup-hidupkan hari
Yang telah mati
Kita di dalam peti
Yang dikunci berpuluh juta hari
Kita adalah anak-anak pewaris Sohrawardi
Kita adalah pencari
Amanat tekateki Rumi....."
Safar Hujan
Suatu hari
Hujan, dengan jubahnya yang lapang
Bermurah hati
Menjenguk ladang-ladang
Di desa-desa
Menziarahi orang-orang tua
Yang paham sejarah
Bagaimana sebuah kota
Kelewat jatuh cinta
Pada dirinya sendiri
Hujanpun terus melangkah
Disingkapnya daun-daun pisang
Yang usil; ditepisnya
bunga-bunga ilalang
Dari lahan yang ditinggalkan
"Betapa lamanya," ia mendesah,
"Betapa lama desa-desa di sini
Tak dijenguk rajanya sendiri."
Dengan senyum yang lebat
Hujan membasuh pipi-pipi perawan
Yang bersitahan di celah-celah zaman
Dengan kasihnya yang deras
Ia pastikan tak ada yang sanggup melawan....
Ode
Ijinkan aku membawakan padamu
Airmata para Nabi
Yang kerap dijatuhkan di malam-malam bisu
Kita terpaksa memanggil burung-burung bagi bernyanyi
Menutupi isak yang rahasia; yang tak seorangpun
Boleh mengetahui. Kita terpaksa
Meragukan mustajab doa-doa
Dengarkan aku: suara langkah kita
Telah berapa lama barangkali tak didengar sesiapa
Yang menjenguk taman surga. Suara bercanda kita
Yang sederhana; barangkali telah diliputi
prasangka-prasangka
pantun teka teki jenaka
Rupanya pertanyaan hidup
Telah kau jawab dengan lugas dan wibawa:
Tak ada kehidupan, jika tak ada kematian
Disingkapnya daun-daun pisang
Yang usil; ditepisnya
bunga-bunga ilalang
Dari lahan yang ditinggalkan
"Betapa lamanya," ia mendesah,
"Betapa lama desa-desa di sini
Tak dijenguk rajanya sendiri."
Dengan senyum yang lebat
Hujan membasuh pipi-pipi perawan
Yang bersitahan di celah-celah zaman
Dengan kasihnya yang deras
Ia pastikan tak ada yang sanggup melawan....
Ode
Ijinkan aku membawakan padamu
Airmata para Nabi
Yang kerap dijatuhkan di malam-malam bisu
Kita terpaksa memanggil burung-burung bagi bernyanyi
Menutupi isak yang rahasia; yang tak seorangpun
Boleh mengetahui. Kita terpaksa
Meragukan mustajab doa-doa
Dengarkan aku: suara langkah kita
Telah berapa lama barangkali tak didengar sesiapa
Yang menjenguk taman surga. Suara bercanda kita
Yang sederhana; barangkali telah diliputi
prasangka-prasangka
pantun teka teki jenaka
Rupanya pertanyaan hidup
Telah kau jawab dengan lugas dan wibawa:
Tak ada kehidupan, jika tak ada kematian
untuk membedakan
Belajar Menulis Pada Dua Ulama
Sepanjang peradaban
manusia, sebetulnya, para ulama besar menulis sebuah proposal.
Mereka—rahimahullah—menyaksikan umat ini di ambang keruntuhan:
Jauh, setelah
Rasulullah meninggal; mereka lebih dari sekadar meninggalkan Al-Qur’an. Para
ulama, terbagi dua golongan. Pertama, adalah mereka yang menjual dirinya kepada
para penguasa.
Mereka mencari makan
dengan cara menjual fatwa-fatwa yang disesuaikan dengan keinginan penguasa.
Pengaruh mereka masih besar di masyarakat, dan para penguasa tahu itu. mereka
ingin masyarakat berpihak pada penguasa; dengan cara, para ulama membuat fatwa
yang mendukung pemerintahan.
Di saat-saat seperti
itu, para ulama juga menghadapi fakta bahwa pemerintahan tak lagi bekerja untuk
memakmurkan rakyat dan membina umat sebagaimana seharusnya. Mereka ternyata
menjilat bangsa lain yang lebih besar.
Sehingga bangsa-bangsa
itu datang dan menyerbu kekuasaan islam. Dan saat itulah kita akan mengenang
peristiwa ini dengan satu kalimat kecil: “Runtuhnya dinasti islam…”
Golongan ulama jenis
kedua, adalah mereka yang dengan segala ilmunya yang luas, menjadi sesat.
Mereka terpapar pemikiran filsafat sesat. Di antara mereka ada yang menjadi
pengikut Aristoteles. Sebagian menjadi pemikir yang terlalu jauh memikirkan
Tuhan.
Akhirnya, mereka hanya
memenuhi negara dengan pikiran-pikiran yang tidak perlu. Mereka kehilangan
gairah kerja karena beranggapan, Tuhan mencukupkan rezeki hambanya, maka jika
kita bekerja untuk mendapat rezeki, sama saja menghina Tuhan.
Orang dengan pemikiran
semacam itu, tidak mau menjawab panggilan jihad para pasukan dan juga tidak mau
mendukung pemerintahan untuk memperbaiki dirinya.
Pada waktu begitulah,
bangkit para ulama bersenjatakan pena. Mereka menulis suatu blue print, suatu
karya besar, yang bisa digunakan untuk membangkitkan kembali umat. Merekalah
golongan ulama ketiga:
Yang senantiasa akan
dibangkitkan Allah untuk kembali meluruskan agama islam. Golongan ulama ketiga
ini kemudian paham betul makna dakwah para Nabi, bahwa nabi-nabi itu dibekali
kitab suci yang berupa tulisan, sebagai sebuah tawaran proposal pada umat
manusia.
Dan ulama-ulama itu
tinggal mengambil sisi dari proposal itu untuk dipecah kembali menjadi
proposal-proposal baru yang sesuai dengan kondisi zamannya. Begitulah, setiap
waktu para ulama terus menulis.
*
Awal pergantian
milenium pertama sejarah manusia. Kerajaan besar dalam sejarah islam, Dinasti
Abbasiyah, dilemahkan oleh kelompok Syiah Al-Buwaihi yang mengambil alih
pemerintahan dari tangan Ahlu Sunnah wal Jamaah.
Sementara, di luar
tembok istana, para penduduk kehilangan pegangan. Aliran-aliran sesat masuk dan
mengacaukan kehidupan keagamaan di sana: pemikiran filsafat ekstrim, syiah
batiniyah, muktazilah, dan lain sebagainya membuat umat kehilangan daya
pembangunan.
Di sisi lain, muncul
kelompok sufi sesat yang punya keyakinan bahwa umat islam tidak perlu mengurus
politik. Fokus saja pada pencarian ketuhanan yang sebetulnya telah jelas di
dalam Al-Quran.
Segala puji bagi Allah, yang pada tahun-tahun itu,
dibangkitkan-Nya seorang ulama besar. ulama ini dengan mata kepalanya
menyaksikan bahwa negara besar Abbasiyah yang menguasai seperempat dunia,
hancur di tangan syiah.
Kondisi sosial politik begitu mencekam. Entah siapa, asalkan kuat, bisa saja menginjak-injak takhta. Pelacuran marak di kota terbesar islam itu. bahkan diberitakan,
ada kasus kanibalisme yang terjadi..
Ulama ini bukanlah
ulama ahli perang. Ia hanya bisa menasihati orang lain. Akan tetapi, ia melihat
satu masalah utama. Umat harus diberikan tawaran baru dari apa yang ia tulis.
Sebab umat telah kehilangan identitasnya. Umat tak punya lagi rencana untuk
menjalankan peradaban islam.
Sejarah mencatat, ia
akan menulis ribuan kitab yang menyelamatkan garis perjalanan umat ini. Nama
ulama ini, adalah Imam Al-Ghazali. Ulama besar Ahlu Sunnah wal Jamaah.
Kelak ia akan menulis
sebuah kitab untuk membangkitkan kembali ilmu agama yang sudah mati ketika itu.
Ihya Ulumuddin. Bangkitnya ilmu-ilmu agama, itulah nama kitabnya.
Kelak, ia juga akan
menulis sebuah kitab yang khusus dia hadiahkan kepada penguasa Bani Seljuk
untuk memperbaiki kondisi umat dan mengkritik penguasa.
Kita akan melihat
bahwa Imam Ghazali akhirnya menulis ratusan kitab yang mengkritik penguasa
syiah waktu itu, dan pada gilirannya menjadi buku petunjuk bagi umat islam.
Buku Ghazali, terutama
Ihya Ulumuddin, adalah sebuah proposal kebangsaan, untuk membangkitkan kembali
daya hidup dan kebesaran umat islam lagi!
Dan hari ini kita akan
mengenal Al-Ghazali sebagai peletak dasar filsafat islam. Kita juga akan
mengenal Ghazali sebagai seorang pembaru, ulama besar sepanjang zaman, dan pada
gilirannya menginspirasi jutaan umat di seluruh dunia.
*
Lewat 100 tahun
setelah Ghazali. Kaki-kaki kuda mongol yang buas, bergemuruh di ufuk. Kota
Baghdad yang megah, yang indah, yang tiada duanya, diambang kehancuran. Ratusan
ribu pasukan Mongol itu merobek-robek langit dengan suara teriakannya.
Beberapa ulama besar
di kota itu mengira, mereka adalah Ya’juj wa Ma’juj yang diturunkan Allah untuk
menghabisi umat manusia sebab mereka membakar dan menjarah apapun yang
bernyawa. Para penguasa islam ditangkap dan dipenggal, tak bisa melindungi umat
islam, rakyatnya.
Seorang anak, 6 tahun
usianya, tergopoh-gopoh dilarikan keluarganya ke Suriah, menghindari serbuan
pasukan itu. kehancuran kampung halamannya begitu membekas di hati anak ini. Ia
bersumpah membalas kembali kehancuran kotanya.
Di Suriah, anak ini
tumbuh menjadi anak ajaib. Ia mampu menghafal ribuan hadis. Tentu saja ia sudah
hafiz Qur’an. Tetapi bukan itu. kenangan masa kecilnya mengenai hancurnya Kota
Baghdad yang megah begitu membekas.
Ia marah; tapi tak
tahu pada siapa. Sebab ia tahu alasan utama hancurnya Baghdad adalah karena,
para pemimpin dan ulama di sana menjual diri kepada bangsa Mongol, bukan karena
pasukan militer islam yang lemah.
Sepanjang usianya,
kelak kita mengetahui, ia akan memimpin sebuah pasukan besar berkuda untuk
mengusir Mongol yang mendekati Suriah, dan ia menang.
Kemudian, ia juga akan
memimpin pasukan besar yang memagari Jerussalem dari luapan militer Mongol ke
sana. Dan, lagi-lagi ia menang. Tapi ia belum merasa puas membalaskan dendam
masa kecilnya.
Ulama-penulis ini sadar bahwa tulisan-tulisannya itu harus ditanda-tangani dengan darahnya sendiri. Diksi-diksi yang ia tulis harus tahu rasanya himpitan medan perang atas nama: "mempertahankan kehormatan umat islam."
Untuk menyelamatkan
bangsanya, ia menilai bahwa islam sudah
jauh dari nilainya yang asli. Islam sudah tidak lagi diketahui dan
dipelajari dari sumbernya yang pasti. Sebab ia paham, pangkal runtuhnya umat
ditangan Mongol kala itu, adalah karena Al-Qur’an sudah dilupakan orang.
Maka ia menulis
ratusan kitab:
Ratusan kitab itu, ia
titipkan pada generasi selanjutnya. Ia hendak serang sendi-sendi kebobrokan
umat dan ia tawarkan proposal baru bagi jalannya umat islam di dunia ini.
Saksikanlah, bahwa
ulama ini bernama Ibnu Taimiyah. Orang besar, yang satu dari dua orang di dalam
sejarah yang digelari Syaikhul Islam karena luas ilmunya.
Orang-orang tidak
menyukainya karena sikap kerasnya pada bid’ah dan kemusyrikan. Ke mana saja ia beranjak, orang akan
memenjarakannya karena kritiknya yang keras. Sebab, baginya, kebenaran harus
disuarakan tanpa dirahasiakan sedikitpun.
Kritik itu, ditulisnya
menjadi pedang yang tajam terhunus kepada musuh-musuh islam. Dengan tulisannya
itu, ia berhasil membangkitkan kembali semangat umat, hingga mampu mengusir
Mongol kembali.
Bahwa, dekat dengan
masa hidupnya, kemudian Sultan Saifuddin Qathiz bangkit dan menang untuk
pertama kalinya dalam sejarah dunia, melawan Mongol di Pertempuran Ain Jalut,
sebab Saifuddin Qathiz melibatkan ulama di sana.
“Kalau aku dibunuh,” kata Ibnu Taimiyah, “itu adalah kesyahidan
bagiku. Bila aku diusir, itu adalah hijrah bagiku. Kalau aku dibuang ke
Siprus, lalu aku menyeru penduduknya kepada Allah, mereka akan menyambut
seruanku.”
“Kalau
mereka memenjarakan diriku, maka itu adalah tempat ibadah bagiku, aku ini
bagaikan domba yang bagaimana pun berguling, ia akan berguling di bulunya yang
tebal!”
Kitabnya yang berjudul
Al-Furqan sangat menusuk jantung orang-orang sufi yang sesat yang menganggap
diri mereka adalah kekasih Allah yang benar.
Kitab Siyasah
Syar’iyah adalah tawaran proposal politiknya kepada umat islam, sebab umat pada
waktu itu berada di dalam ketidak pastian pemerintahan.
Selain dua kitab itu,
ada ratusan kitab lain yang semuanya merupakan proposal kebangkitan umat kala
itu. ia ingin membangun kembali islam di atas reruntuhan kampung halamannya!
Dan kini kita tahu
bahwa Ibnu Taimiyah, adalah salah satu ulama paling berpengaruh sepanjang
sejarah islam. Kitab-kitabnya begitu mengubah wajah dunia dan bagaimana muslim
memandang bid’ah.
*
Menulis dan dakwah,
sesungguhnya adalah dua sisi mata uang. Tulisan adalah alat dari dakwah, dan
memang hanya salah satu alat. Akan tetapi, dengan buku-buku itu, nama para
ulama itu menjadi abadi.
Sesungguhnya, latar
belakang mengapa mereka menulis selalu sama. Sebab mereka memandang, pada suatu
waktu, umat islam telah kehilangan identitasnya. Maka para ulama penulis itu
bangkit dengan caranya sendiri.
Mereka menulis ribuan
kitab untuk membangkitkan semangat juang orang-orang islam. Mereka gugah
kembali kesadaran umat, dan pada gilirannya, kitab-kitab itu menjadi tenaga
kebangkitan umat islam.
Dan untuk itu, para
ulama menempuh jalan yang tidak sepele. Mereka menulis di bawah ancaman
pemenjaraan, pembunuhan, dan pengasingan. Tetapi semua itu mereka hadapi sebagai
tebusan kebangkitan umat.
Dan tak ada yang lebih
baik mengartikulasikan arti dari tulisan itu, daripada seorang tokoh besar umat
islam yang terkenal pada tahun 60-an, sebelum ia dihukum mati akibat “menulis
buku”:
Para penulis
sebenarnya bisä berbuat banyak. Tetapi ada satu syaratnya: mereka mati agar
fikirannya dapat hidup. Fikiran mereka itu harus diberi makan dengan daging dan
darah mereka sendiri.
Mereka harus mengatakan
apa yang mereka percayai benar, dan mereka mau menyerahkan darah mereka sebagai
tebusan dan kebenaran itu.
Pemikiran dan
kata-kata kita tetap akan merupakan mayat yang kaku, sampai kita mahu mati
untuk kepentingannya dan kita sirami ia dengan darah kita.
Lalu ia tumbuh
menjadi hidup, dan hidup di antara orang-orang yang hidup.
Maka kepada
orang-orang yang duduk di meja tulis mereka, yang bekerja keras untuk bakat
mereka, memilih kata-kata yang indah, mengukir kalimat-kalimat yang berbunyi keras,
menciptakan kata-kata yang penuh khayal yang gemilang, kepada orang-orang
seperti ini, saya ingin memberikan nasihat:
“Janganlah bersusah
payah seperti itu, kerana kilatan jiwa, cahaya hati, yang didapat dengan hati
yang suci, api keimanan kepada gagasan, inilah satu—satunya yang menimbulkan
kehidupan, kehidupan kata-kata dan kehidupan kalimat-kalimat!”
Dari perbandingan dua
sosok ulama di atas, kita akan dapati beberapa pola yang sama, sehingga nalar
kritis tulisan ulama dan dampaknya bisa muncul ke tengah-tengah peradaban
manusia.
Pertama, di tengah
kondisi bangsa dan umatnya yang berantakan, ulama-ulama itu dibukakan hatinya
oleh Allah bahwa ada sesuatu yang harus mereka lawan dan perjuangkan. Sehingga,
cara dasar menulis, bukan dengan membagus-baguskan diksi.
Tetapi menemukan
alasan melawan dan berjuang. Semua ulama yang menulis, diawali dari menemukan
fakta bahwa di tengah umat ada kesalahan besar yang harus mereka lawan.
Kesalahan itu bisa berupa sosok, bisa berupa konsep dan pemikiran.
Kedua, dalam sejarah
islam, buku yang ditulis para ulama harus kita sikapi sebagai sebuah proposal
dan rencana kerja, yang dapat digunakan untuk memperbaiki kondisi umat dan
membangunnya kembali dari tatanan lama yang telah bergeser jauh dari Al-Quran.
Maka menulislah; dan
jangan takut diburu, jangan takut diasingkan. Sebab kita hanya akan diburu oleh
orang yang terlanjur hidup dari kejahatannya, yang mana kejahatannya itu telah
menjadi sistem hidup dan identitas kemanusiaannya.
Maka menulislah,
karena dengan itu, rencana peradaban kita tengah dipersiapkan. Hanya
orang-orang bernyali besar dan mengetahui akar permasalahan umat saja yang
berani menuliskan proposal itu untuk umat.
Ya! Saya te
gaskan
bahwa di dalam islam, segala tulisan adalah sebuah ide, rencana, yang harus
digunakan untuk menafsirkan Al-Qur’an menjadi sebuah rencana kerja dalam hidup
manusia!
Menulislah, dan
lawanlah sesuatu!
Langganan:
Postingan (Atom)