Jumat, 01 Februari 2019

Prediksi: 5 Tahun Lagi KAMMI Akan Mati




Amar Ar-Risalah

Sebuah gerakan, ada karena ada reaksi dari kebatilan yang mendahuluinya. Ia lahir akibat peristiwa kezaliman dan ketidaksesuaian antara konsep yang "benar" dengan "yang terjadi" di dunia nyata.

Setelah Adam turun dari surga, Allah berkata: "sebagian dari kalian akan menjadi musuh bagi sebagian yang lain."


Dan, seolah-olah ayat inilah yang menjawab pertanyaan malaikat. Bahwa akibat adanya kezaliman dan permusuhan itu, bangkit sekelompok manusia melawan kezaliman itu.


Ranahnya, jelas ideologi. Ide untuk menganalisis, mana kezaliman dan permusuhan, mana perbaikan dan kebaikan, sesuai fungsi asli Khalifah di Bumi.


"Siapa yang mengikuti petunjuk-Ku," kata Allah, "tidak ada ketakutan pada mereka, dan tidak juga mereka ditimpa kesedihan."


*

Berangkat dari ayat 30-an Al-Baqarah itu, di masa sebelum kenabian sedang ada tren cara baru berdagang. Tren ini bahkan diabadikan dalam Qur'an:


"Perdagangan Quraisy, perjalanan mereka saat musim panas dan musim dingin."


Cara dagang ini melampaui tren sebab betul-betul menjadi penyangga ekonomi Makkah, bahkan segenap Arab!


Konflik berkepanjangan antara Romawi dan Persia membuat perdagangan keduanya terputus. Quraisy hadir sebagai pihak ketiga penyambung jalur dagang yang rusak itu.


Bagaikan salib raksasa, empat titik utama jalur dagang berpusat di Makkah: Yaman di selatan, Persia di timur, Afrika di Barat, dan Romawi di Utara.


Tapi ada satu hal yang kurang: kezaliman tetap ada. Perdagangan itu tak serta merta mengangkat harkat hidup segenap manusia. Hanya sebagian manusia!


Sebab kasta-kasta dan perbudakan muncul. Harta hanya mengalir pada sebagian orang. Parahnya lagi, muncul kongsi dagang berbasis kesukuan: Hilful Ahlaf.


Hilful Ahlaf ini mencari keuntungan dengan bertindak curang. Selain itu, lebih dari kongsi dagang, mereka juga berkongsi politik ubtuk menjatuhkan suku lain.

Akhirnya, genaplah kejahiliyahan itu. Dari kekayaan besar itu, mereka meniadakan peran Tuhan. Ideologi tak penting.


Para pemimpin Makkah menetapkan kebijakan keagamaan berdasarkan profit dan potensi bisnisnya.


Segenap kabilah meletakkan berhala di Ka'bah, hingga ada 360 berhala, agar setiap kabilah menganggap kesucian Ka'bah sebagai mana Tuhan mereka, dan memuliakan Quraisy:

Sebagai penjaga Ka'bah. Sebab itulah mereka aman berdagang, bebas dari rampok di gurun pasir. Sebabnya memang tuhan para rampok itu mereka yang jaga. Itulah kapitalisme, itulah peradaban tanpa ideologi!

Sebut saja tren dagang itu sebagai "Revolusi Ekonomi 1.0" dan banyak orang meninggalkan "etika dagang" dan "ideologi" dari agama Ibrahim.



"Sebagian, menjadi musuh bagi sebagian yang lain."

*

Di titik puncak kejahiliyahan itu, Nabi Muhammad muncul membawa risalah. Ia datang dengan sebuah ideologi.


"Iqra," kata surat Al-Alaq. "Berpikirlah! Yang kritis, yang banyak yang dalam, bacalah buku-buku. Carilah alasan peradaban kalian!" begitu tafsirnya.


Slogannya, "La ilaha illallah". Tiada Tuhan, selain Allah. Ini bicara ideologi.

Sebab dagang sekadar dagang, orang kafir juga dagang. Tapi apa beda muslim dengan kafir? Ideologinya.


Hatinya jadi peka pada penindasan akibat tren bisnis itu. Ia jadi punya etika dagang. Ia jadi punya landasan berpikir yang tak hanya cari keuntungan.


Saat itu, di Makkah memang lagi musim startup. Anak-anak muda dagang tanpa barang, mereka hanya tinggal ikuti jalur dagang dunia yang ada dan ambil barang dari sebuah kota.


"Siapa Tuhanmu itu tidak penting," kata sebagian mereka. "Bisa nggak ganti Tuhan itu dimonetisasi, diubah jadi peluang bisnis?"


"Kalau enggak, ya ngapain ngikutin ente!" kata mereka. "Ente nggaj punya tentara yang kuat. Nggak punya juga harta yang banyak. Ini jaman bisnis bos!"


Rupanya, kepada mereka, turun surat yang panjang,  surat Hud ayat 12: "maka boleh jadi engkau hebdak meninggalkan sebagian apa yang diwahyukan padamu, dan dadamu menjadi sempit karena mereka mengatakan: mengapa tidak diturunkan kepadanya harta kekayaan atau datang bersamanya para malaikat?"


Ayat ini disambung sampai ayat 24: "seperti orang buta dan tuli dengan orang yang dapat melihat dan mendengar. Samakah kedua golongan itu?"


Sebab, ideologi dan seruan Nabi, berfungsi sebagai pengarah, agar para pedagang, para pemilik startup, para pemangku kebijakan dagang, dan para konsumen tidak buta dan tuli:

Sehingga muncul kezaliman. "Sebagian, menjadi musuh bagi sebagian yang lain!"


*

Kisah panjang ini berakhir dengan jatuhnya hegemoni dagang Makkah, dan bergeser ke Madinah tak sampai 20 tahun kemudian.

Para ideolog menang atas para pemilik startup tanpa ideologi. Lalu bagaimana dengan KAMMI?


Saya sering sudah jumpai dalam episode "khuruj" untuk dauroh ke berbagai kota, orang yang bilang "ideologi itu sudah tidak penting."


Mereka biasanya melengkapi diri mereka dengan pelatihan bisnis, startup, dan lain sebagainya. Lalu kembali kepada kita dengan petantang petenteng:


Ayo bisnis! Buka pandangan kalian! Jangan lagi ngurusi ideologi! Dakwah enggak pakai duit enggak bakal jalan!


Mereka tambah dengan dalil, "Cina sedang bangkit. Arus ekspor impor berpihak pada negeri kita." juga, "Industri berbasis teknologi, 4,0, tengah tren. Ayo monetisasi dakwah digital!"


Padahal tren itu sementara. Dakwah Nabi, sang Ideolog berhasil menggeser jalur dagang dan mengubah tren menuju Madinah. Bahkan Romawi diancam, dan pintu-pintu negeri itu dijepit dengan kekuatan militer.

Para pedagang Makkah gigit jari! Sebab tren itu sementara. Selamanya orang yang ikut tren akan terombang ambing, dan hanya bisa menunggu.


Sedangkan para ideolog, menciptakan tren melalui pencerdasan di tengah masyarakat. Industri 4,0 dan One Belt One Road, semuanya dibentuk dari penindasan pada negara berkembang.


Dampak kezaliman itu telah ada. Perdagangan sawit hancur pada tahun 2018. Menyusul, bisnis properti yang anjlok. Mengapa? Kuasa negara besar mengatur-atur negara ambyar dunia ketiga seperti Indonesia.


Kalau kader KAMMI cuma cari celah di ketiak jalur-jalur dagang itu tanpa tindakan ideologis, mereka hanya akan ulangi fase yang terjadi di Amerika di masa akhir Barrack Obama:

40 juta orang miskin mendadak karena pasang surut ekonomi.

Perang Dagang telah kelihatan arahnya. Uni Eropa tak mau diam dengan buat rupa-rupa regulasi. Trump bukan presiden biasa. Dia raja pedagang.

Dan Indonesia cuma sedang berjuang pura-pura jadi pedagang besar. Dan kita ikut-ikutan.

Sudah begitu, rupanya yang dimaksud era startup di Indonesia itu cuma jualan skala kecil dan ngikut pengusaha atau tokoh politik besar untuk minta duitnya.


KAMMI akan jatuh. Kegiatan ideologis sudab pudar. Sekarang kita didikte tren, bagai orang buta dan tuli ikut arahan orang lain.

Manhaj Pengaderan KAMMI alkisah hanya dipakai untuk gagah-gagahan. Sisanya, dauroh harus ikut tren, acara KAMMI harus ikut tren.

Anak-anak yang dambakan cari ideologi di KAMMI pun pergi ke kajian sunnah, minggir ke PKS sekalian, atau jadi anggota FPI.

Tren dagang akan berubah 5 tahun kedepan. Kalau yang menang Jokowi, ia dijepit  utang Cina. Kalau yang menang Prabowo, kongsi liberal sudah mengintai.

Di tengah gelora rekrutmen 100.000 kader, para perekrutnya malah keluar dan habis. KAMMI cuma bantalan buat bisnis dan kenalan tokoh berduit.

Ideologi ada untuk mencerdaskan orang. Dua orang sama-sama dagang, satynya progresif karena punya tujuan jangka panjang. Satunya akan punah karena ikut tren bisnis temporal.

"Ideologi itu enggak penting!"

Selasa, 01 Januari 2019

Catatan Awal Tahun Negeri Buku: Soal Karya dan Kepengarangan




Tahun 2018, cukup bising untuk ukuran tahun literasi. Warga Negeri Buku mengamati apa yang terjadi di Negeri Tetangga, ternyata belum begitu baik bagi perkembangan sastra kedepan.


Bulan Februari. Yang basah. Orang dikejutkan dengan pengumuman lahirnya angkatan puisi esai. Bagi beberapa orang, katanya, "syaratnya sudah terpenuhi", dan lagi, " dunia puisi sudah berubah."

Cara pemunculannya, seperti yang disoroti para sastrawan, tidak dengan cara yang baik. Denny JA memberikan hadiah besar bagi sayembara, dan membayar sejumlah kritikus sastra untuk memoles-moles "indahnya" puisi Esai, dan agar jumlah penulisnya mencapai "angka cukup masif" untuk dikatakan sebagai sebuah angkatan.

Publik, di generasi selanjutnya, akan mengambil kesimpulan instan: terkenallah, lalu menulislah. Kau akan disebut penyair dan sastrawan.

Di luar itu. Kami juga mendapati pada awal tahun lalu, gelombang penulis-penulis wattpad. Mereka yang, agaknya, mewarisi genre paling baru di dunia kepenulisan kita: Fiksi Metropop. Cara menulisnya sama. Isi ceritanya sama. Yang berbeda, cara publik membacanya dan cara penulis memilih medianya.

Menyambung di tahun 2016 dan 2017, yang mana, kita juga melihat betapa banyak buku-buku baru yang muncul dari dokumentasi status dan unggahan instagram seseorang, agaknya, di tahun 2018 hal ini semakin kental dan semakin terjadi.

Apa pasalnya? Dua hal ini punya sebuah persamaan. Keduanya, tidak menawarkan cara pandang baru kepada makna kemanusiaan, kebudayaan, atau juga kehidupan.

Sebab, kedua peristiwa itu muaranya pada satu hal: festivalisasi karya. Orang cuma dididik agar membeli karya yang terkenal, besar, dan populer. Soal isi, bisa diurus belakangan.

Puisi Esai misalnya, memang dibuat secara masif. Tapi, justru itulah masalahnya. Orang ternyata masih mudah termakan iklan.

Bahwa sesuatu yang populer, masif, dilakukan banyak orang, dan dipujapuji orang, dianggap sebagai sesuatu yang baik tanpa melihat esensinya.

Angkatan sastra, sebelumnya selalu lahir dengan nilai perjuangan yang sama. Angkatan 45 misalnya, jelas menawarkan cara pandang kepada kemerdekaan bangsa Indonesia. Sedangkan sekarang, orang cukup jadi terkenal, dan pura-pura memperjuangkan sesuatu yang tidak perlu berat-berat dan mendasar.

Sebab, mereka percaya pada postulat generasi: generasi  Y dan Z toh tak suka bicara urusan filsafat, agama, atau hal-hal mendasar soal kebudayaan. Terkenal saja melalui media sosial, sudah cukup.

Dongkrak saja statistik dan survei, dan buat sebuah festival. Generasi Y dan Z, seolah digambarkan sebagai generasi beringas, robot, dan bisa ditafsirkan bagai menafsir deret angka-angka yang bukan menunjukkan manusia.

Menjamurnya buku-buku dari wattpad yang menawarkan atraksi narasi--bahkan beberapa di antaranya secara ekstrim--tidak diiringi dengan pencarian jati diri kemanusiaan para penulisnya.


Karya-karya itu, sepenuhnya seperti karya terjemahan--meskipun tidak semua. Nama-nama tokohnya, sangat tidak Asia. Sangat tidak Indonesia.

Pola penyelesaian konflik dalam cerita selalu menjiplak pola-pola penyelesaian konflik instan a la kota besar. Di mana, perempuan selalu jadi korban, atau secara ekstrim, laki-laki dipaksakan menyelesaikan konflik secara perempuan.

Dalam karya-karya itu, Tuhan cuma dianggap jalan pintas. Adegan berdoa, atau tindak tanduk tokohnya, tidak terlalu intens. Nama Tuhan baru disebut bilamana cerita itu bersentuhan dengan alam gaib. Atau kadang, demi memuaskan atraksi narasi, alam gaib dikonstruk ulang, untuk menyiasati keringnya makna sebuah karya.

Nama-nama tokoh dan ciri kebiasaan sehari-hari para tokoh dalam karya-karya yang muncul di karya-karya yang jamak ada, ternyata menunjukkan bangsa kita yang masih menganggap dunia Barat, Jepang, atau Korea: yang sebut saja negara asing, lebih baik dan lebih luar biasa dari negara kita.


Kalau di tahun-tahun sebelumnya nama-nama timur tengah atau latar Mesir serta Hijaz dianggap baik, kini bergeser. Barangkali penulisnya ingin mengatakan bahwa kota-kota kita tak cukup mengandung kehidupan untuk ditulis dalam sebuah karya.



Artinya, untuk menjadi bagus, indah, terkenal, dan hebat, orang--para penulis--ternyata tak bisa memilih jati diri bangsanya sendiri, tapi musti meminjam jatidiri bangsa lain.

Inilah yang disebut orang sebagai fenomena pos kolonial. Saat sebuah bangsa belum bisa melupakan keterjajahan, dan menganggap bangsa lain lebih superior. Ajaibnya, para pembaca kita pun menikmatinya!

Barangkali, catatan bagian satu ini mesti ditutup dengan obituari. Pengarang Danarto pada bulan April dan NH Dini pada bulan Desember, meninggalkan kita. Keduanya secara simbolik mengubah bentuk karya orang pada zamannya.

Berkunjunglah ke Negeri Buku. Kami berharap, menjamurnya taman baca dan perpustakaan pribadi, akan membuat selera baca orang naik. Pada gilirannya, kita akan kembali menemukan kemanusiaan di dalamnya.


Amar Ar-Risalah
Warga Negeri Buku

Senin, 31 Desember 2018

2019, Titik Balik Gerakan Mahasiswa Muslim (1)




Amar Ar-Risalah

Akhir tahun, Pemerintahan Jokowi-JK mengesahkan aturan bahwa Ekstra Kampus kembali akan masuk kedalam kampus, sebagai salah satu tempat pengaderan politik.


Banyak orang berbeda pendapat. Sebagian menganggap bahwa gerakan ekstra akan dikontrol rektor. Sebagian beranggapan, ini menjadi peluang pengaderan.


Tapi ini akan jadi titik balik bagi KAMMI. Apakah akan mati, atau akan jadi besar menuju masa kejayaan 20 tahunnya.

Kenapa? Hari ini gerakan KAMMI menghadapi generasi baru yang belum pernah dijumpai sejak Indonesia merdeka. Generasi itu punya ciri-ciri lain dari generasi sebelumnya dalam konteks keislaman.

Generasi ini punya kesadaran simbol islam yang tinggi. Mereka adalah pengikut gaib dari Ust Abdul Somad, Ust Adi Hidayat, dan 12 Ustadz Sunnah rekomendasi Radio Rodja. Mayoritas dari mereka adalah generasi seabad Muhammadiyah, dan generasi kedua tarbiyah.

Mereka punya pandangan politik yang terpisah dengan partai islam. Ini dibuktikan dengan mayoritas mereka yang menjadi peserta 212, pada saat justru sebagian partai dan ormas islam melarang masyarakat terlibat.


Bahkan, sebagian partai dan ormas islam itu memihak orang yang secara langsung dianggap penyebab aksi terjadi. Yaitu, Basuki T Purnama.


Secara keseharian, mereka berjilbab lebar--bahkan bercadar--dan timbul kesadaran untuk menutup aurat dengan kaus kaki. Mereka ingin menjalani proses pernikahan dengan perkenalan singkat tanpa berpacaran.

Di samping itu, mereka sadar isu ukhuwah dunia islam. Terhadap Palestina, Aleppo, Xinjiang, atau Kashmir, mereka sangat peduli. Asyiknya lagi, generasi ini mulai menyadari bahwa dalam memeluk sebuah agama, pemisahan dari segala hal yang menjadi lawan konsekuensi dari agama tersebut menjadi penting.

Al-Wala wal Bara'. Proses ini tidak instan. Kerjasama pada satu pihak antara semua elemen ulama, sangat berpengaruh pada hal ini. Mengenai ucapan selamat natal, perayaan tahun baru, atau bahkan pandangan politik: telah lahir generasi muslim baru di Indonesia.


Apa yang membedakan mereka dari generasi muslim tahun 60-an yang berharap dan berkumpul pada Masyumi?

Pada zaman Masyumi, umat punya musuh yang tampak.  Yaitu, penjajah Jepang, Belanda, Inggris, dan pada gilirannya, PKI. Sekarang musuh itu tak ada pada sosok tapi pada pemikiran saudara mereka.


Jenis generasi ini harus diterka dengan baik apa kebutuhannya. Hari ini, dari segenap ekstra Kampus, yang dianggap memiliki tawaran yang mirip seperti harapan generasi baru ini, adalah KAMMI.


PMII dan HMI mulai kehilangan warna islam secara simbolik--meski bisa jadi secara manhaji masih bertujuan dakwah--tapi ciri kader dan cara identifikasi isunya berbeda dengan cakrawala generasi yang sedang kita bicarakan ini.

Sementara, sebagai yang paling baru lahir, di sinilah KAMMI menjadi tawaran. Sekarang, KAMMI punya sejumlah pilihan.


Pilihan pertama, terjebak pada romantisme gerakan mahasiswa dan pura-pura jadi pejabat pemerintahan: bersikap pragmatis, main banyak kaki, dan menomor sekiankan ideologi gerakan dan simbolnya, dan juga ke sana ke mari merapat ke tokoh-tokoh politik lalu umbar janji.

Pilihan ini akan membuat KAMMI kehilangan warnanya sebagai gerakan islam yang cocok buat generasi yang tadi kita bahas. Sebab, generasi ini pun terbukti tidak pragmatis. Mereka mengutuk pejabat yang bejat dan kotor, tanpa harus berkumpul dan belajar di organisasi ekstra manapun.


Pilihan kedua, kembali dengan lantang menyuarakan tawaran manhaj pengaderan KAMMI dan filosofi gerakan KAMMI. Pemisahan yang tegas, dalam konteks al-wala wal bara', dan sikap jelas berpihak kepada islam yang "itu". Islam yang ada "sekarang" dan "dianut" generasi ini.

Itu sudah cukup!


Tak perlu kita pura-pura toleran untuk memikat anak-anak muda yang baru hijrah. Mereka punya selera dan standar yang lebih mulia daripada sekadar ucapan selamat natal, selamat tahun baru, atau pembenaran pada tradisi bid'ah.

Generasi ini ternyata bisa mengidentifikasi sendiri kemenangan islam dan kebatilan tanpa bantuan pengurus KAMMI pura-pura jadi pemain politik, dan pura-pura bisa giring opini masyarakat.


Saatnya kembali kepada khittah dakwah, dalam tradisi apa KAMMI didirikan, dan dalam tindak-tanduk apa kader KAMMI berbuat.

Saat pengaderan awal, tegaskan sikap kita sebagaimana sikap Hasan Al-Banna dalam Kepada Apa Kami Menyeru Manusia. Perjelas pemisahan dan pengiringan kita pada berbagai isu umat, yang mana, umat tanpa bantuan kita sudah tahu mana yang batil mana yang haq.

Pada saat pembinaan mingguan, tahapan pemahaman makrifatullah, makrifatur-rasul, ghazwul fikr, dan seterusnya harus tersampaikan dengan baik.

Umat sudah tahu bahwa dakwah tak bakal berimplikasi pada kaya atau tidaknya dai. Tapi pada adilnya cara pandang orang pada dunia, dan halusnya tindak tanduk orang.

Aksi demonstrasi bukan jawaban. Generasi ini juga muak dengan itu. Mereka membutuhkan satu gerakan yang, kalaupun mengancam pemerintah, caranya adalah langsung memberi solusi ke tengah umat. Aneka gerakan sosial, atau juga pencerdasan.

Kecuali umat dan dakwah dianggap komoditas dagang: insya Allah, Kemenangan islam jiwa perjuangan KAMMI, kebatilan adalah musuh abadi KAMMI!

Minggu, 02 Desember 2018

KAMMI dan 212: Menanti Bangkitnya Fajar Pembebasan

Amar Ar-Risalah


Momen 212 ini menunjukkan sesuatu. Pertama, sebab awal kenapa orang berkumpul, adalah merebaknya kezaliman dan terutama dihinanya simbol yang bagi umat muslim adalah kehidupan mereka. Bagi mereka, Qur'an, ulama, jilbab, apalagi kalimat tauhid, adalah perlambang keadilan dan keselamatan.

Islam, bagi kita, adalah keselamatan dan keadilan mutlak. Jauh dalam hati kita. Dan, sekelompok ulama, baik dari FPI, HTI, maupun PKS secara simultan berdakwah, yang, muara dakwahnya, mengingatkan bahwa pangkal segala kezaliman adalah ditinggalkannya agama dalam pemerintahan.

Lalu, dihinanya simbol keadilan dan keselamatan ini, diperbesar dengan kezaliman-kezaliman yang terjadi berturut-turut. Naiknya harga-harga. Bodohnya pejabat-pejabat. Runtuhnya keadilan hukum. Itu semua entah mengapa sangat sesuai dengan tujuan kepemimpinan, dalam An-Nisa ayat 58.

Di satu sisi, ada sekelompok muslim yang memilih tak terpengaruh dan tenang di tempatnya. Mereka diwakili oleh fanatik NU dan fanatik Salafiyah-Wahhabiyah. Ironisnya, dua kelompok ini saling menyesat-nyesatkan lantaran fikih kesehariannya jauh berbeda.

Tapi, kembali pada dua penyebab 212 menjadi gerakan besar: baik golongan pertama, yaitu mereka yang mendakwahkan pentingnya agama dalam politik, maupun golongan kedua, yang bersikap tenang dan diam, maupun yang ketiga: yang memilih mendukung rezim dan memperbaiki apa adanya (insyaa Allah menjadi Rajul Mukmin dalam surat Ghafir), ketiganya punya beberapa kesamaan.

Pertama, di tengah-tengah mereka, ada pengikut-pengikut yang mulai sadar dan mencari jalan tengah. Mereka tidak lagi fanatik bendera dan organisasi, akan tetapi berpikir bijak, dengan pertanyaan kunci: apa yang menyebabkan saya bisa mendapatkan jawaban dari organisasi ini?

Akumulasinya, ada di 212. Mereka yang fanatik organisasinya, mampu datang tanpa membawa simbol apapun. Sekalipun itu gerakan mahasiswa seperti HMI, KAMMI, dan Gema Pembebasan.

Di antara golongan ini, barangkali ada yang pernah menganut paham fikih praktis khas kerajaan diktator yang tidak mau diskusi: demo haram, apalagi membicarakan kebijakan penguasa. Lebih dari haram.

Begitu juga mereka yang tidak menjadi anggota organisasi manapun, bergabung dalam reuni ini. Bisa jadi di antara mereka ada yang telah berazzam untuk golput. Bisa jadi pula pemilih paslon yang dianggap anti islam dalam pilpres.

Kedua, mereka akhirnya tanpa sadar memilah sendiri dalam benak: mana yang merupakan jawaban bagi keadilan dan kedamaian di negeri saya? Perbedaan fikih? Perbedaan manhaj? Perbedaan guru dan sanad? Perbedaan zikir dan pakaian?

Apa hakikat dari haramnya demo atau halalnya menyerukan kebenaran? Apa intisari dari mengaji kitab dan menghafal qur'an?

Mereka yang ikut 212 akhirnya menyadari sesuatu. Kesadaran itu adalah: itu semua tidak menjadi jawaban. Betul, penting mencari dalil dan contoh. Tapi sebagaimana muasalnya, islam harus dikembalikan sebagai cara pandang, bukan cuma prosedur ritual.

Mereka menemukan satu persamaan dari semua ustadz, ulama, dan organisasi: sama-sama mencari cara memperoleh keadilan dan jaminan keselamatan.

Akhirnya, muncul jenis massa, definisi umat, atau sederhanakan menjadi: generasi baru muslim di Indonesia. Titik tolak baru cara pandang Islam dan negara.

Yang masa bodoh dengan di mana tempat mengaji. Masa bodoh dengan perbedaan fikih. Masa bodoh juga dengan tinggi-tinggian sanad. Yang menemukan jawaban dari ketidakadilan, penindasan, kegagalan berpikir, dan bahkan dari ketidakpantasan dan kebiadaban orang.

Mereka tetap mengaji ke ustadz atau organisasi asal dan favoritnya. Tapi, hati kecil mereka sebagai muslim tak bisa dibohongi. Apapun organisasinya, mereka merasa diwakili oleh 212 ini.

Nah, di luar itu, saya mau bicara soal, bagaimana mujaddid atau Pembaru Zaman, muncul di tengah-tengah kita. Dalam bahasa Hasan Al-Banna, adalah Fajar Kebebasan. Sang Fajar Kebebasan ini bukanlah pejabat administratif. Bukan pula syaikh besar yang agung. Bukan pula sang Revolusioner.

Dia hanya perlu menyatukan dan membuat garis tengah dari semua kelompok umat yang dibedakan oleh organisasi mereka. Hal yang bisa menyatukan itu sudah ada. Yaitu, kesadaran agama dan politik (dalam hal ini, Hasan Al-Banna menyebutnya Syumuliatul Islam), dan pengalaman yang sama terhadap kezaliman. Sederhananya, kerinduan pada keadilan, dan mereka paham agama islamlah obatnya. Ia beyond fikih. Fikih, diserahkan pada pribadi-pribadi. Tapi, soal keadilan dan tujuan besar, harus dipimpin.

Siapakah mujaddid ini? Siapakah fajar kemenangan ini? Sudah dewasakah ia? Masih mudakah ia? Bersembunyikah ia di suatu tempat? Butuh serangkaian momentum yang ekstrim lagi untuk memunculkannya.

Apakah pembaru itu kini disembunyikan dalam istana Firaun oleh Allah, sebagaimana Firman-Nya dalam surat Al-Qasas, ayat 8:

Maka dipungutlah ia oleh keluarga Fir'aun yang akibatnya dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka. Sesungguhnya Fir'aun dan Haman beserta tentaranya adalah orang-orang yang bersalah.

Atau adakah ia kini dari kejauhan, mengamati arah angin dengan luasan kulitnya, merasakan perubahan tekanan udara dengan sarafnya, dan sedang belajar memimpin umat ketika saatnya tiba?

Semua organisasi islam, semua gerakan harus bersiap. Sistem pengaderan harus diperbaiki. Sebab sang Pembaru, sang Fajar Kemenangan itu tidak datang dengan perbedaan hasil fikih atau datang dari hafalan hukum yang menumpuk di kepalanya. Ia akan datang, sebagaimana Umar bin Abdul Aziz, Imam Syafi'i, Imam Bukhari, dan seterusnya;

Dengan cara pandang baru kepada dunia, berdasarkan agama Islam.
*

Bagaimana dengan KAMMI? Apa yang bisa kita lakukan?

Jangan pernah sekadar jadi peserta aksi dan reuni. Kita harus tampil sebagai penyambut, pendamping, penyiap Mujaddid itu. Bahkan bilamana perlu, merekrut dan mendidik calon mujaddid itu untuk mempercepat datangnya.

Kini organisasi mahasiswa yang dianggap masih paling depan menyuarakan islam sebagai tawaran politik, adalah KAMMI. Begitu juga melihat kebatilan penyelenggaraan negara dari sudut pandang islam, tinggal KAMMI.

Lalu bagaimana cara KAMMI mempersiapkan mujaddid, sang Fajar Kemenangan dalam istilah Hasan Al-Banna itu?


Hasan Al-Banna menjelaskan istilah Fajar Kemenangan, atau tepatnya Fajar Pembebasan, Fajrul Hurriyat itu, saat menawarkan ulang surat Al-Qashash 1-5. Bahwa Rasulullah Musa diutus Allah sebagai jawaban atas kesewenang-wenangan dan pecah belahnya penduduk bumi.


Dauroh Marhalah 1 hingga 3 harus menjalankan tugasnya dengan baik. Komposisi materi dan cara penyampaiannya harus disusun ulang sebagai cara untuk menyadarkan orang bahwa kesewenang-wenangan dan penindasan sedang terjadi.

Begitu juga, rangkaian metode berpikir yang diberikan dalam Madrasah KAMMI. MK harus disikapi ulang sebagai alat membentuk kesamaan pola pikir kepada butuhnya orang pada islam, dan penyebab segala penindasan ini, adalah keadaan tanpa agama.

Bukan cuma kegiatan seminar dan pertemuan rutin dengan pembicara mentereng yang diikuti sambil main game online di gadget, dan pesertanya pun berduyun-duyun datang terlambat. Alih-alih mencerdaskan, MK malah membosankan dan paling banter jadi Ice Cream Party.

Bahwa Syahadatain sebagai titik tolak perubahan, kelak menuntun kader KAMMI pada suatu konsep Ummah, dan pada gilirannya, mampu membimbing umat islam ini kepada Tamkin, atau Kejayaan.


Manhaj harus didesain sebagai cara untuk membangkitkan orang paling bodoh dan tertindas sekalipun menjadi calon pembaru itu. Setidak-tidaknya, sebagian besar kita akan jadi pendukung sang Mujaddid, dan satu akan dipilih sebagai sang Mujaddid itu.


Sekarang, jangan lagi menyikapi materi dauroh sebagai alat pemuasan pemikiran para pengisi dauroh. Habis baca satu dua buku, bertemu satu dua tokoh, lalu menyampaikannya pada peserta dengan kebanggaan tiada tara.


Materi dauroh tidak boleh disampaikan sebagai hal yang membuat kita terjangkit virus pesimisme dan akhirnya turut campur dalam mafia politik dengan segala uang yang bisa didapatkan. Materi dauroh itu harus bisa memberikan gambaran tahapan kisah bangkitnya umat dalam Risalah Pegerakan Ikhwanul Muslimin:

Kelemahan umat, akan dijawab dengab datangnya seorang pemimpin, penuntun, yang digambarkan Hasan dengan "maka iapun pergi membawa diri dan kebebasannya, di mana kelak Allah menumbuhkannya sebagai pembawa Risalah-Nya, menjadikannya sebagai tumpuan harapan pembebasan bangsanya."

Lalu, terjadilah pertarungan dua gagasan itu. Yang, diperkuat dengan iman. Iman di sini barangkali adalah hasil dari pertarungan kebenaran dengan tirani dan kebatilan itu. Maka, akhirnya, akan terjadi kemenangan itu.



Materi DM 1 adalah persiapan. Materi DM 2, adalah panduan teknis, dan materi DM 3 adalah baiat untuk para calon pembaru itu. Maka bilamana ada alumni pengaderan KAMMI yang malah jadi bagian kebatilan itu, itu adalah residu yang tidak kita harapkan, tapi niscaya muncul. Abaikan saja mereka, fokuslah pada tujuan kita.


Akhirnya, tak perlu menanyakan apa peran KAMMI dalam 212. Tapi, apa yang dilakukan KAMMI setelah jelas kemana arah angin ini. Bersiap-siaplah!

Kamis, 29 November 2018

Mengapa Kita Harus Mengajak Orang Gabung KAMMI?



*Amar Ar-Risalah*

Saya tulis risalah ini, saat ombak-ombak yang santun dari pantai paling barat Jawa menyentuh kaki. Ini adalah tempat dauroh paling indah yang pernah saya temui.


Seseorang, tadi malam bertanya. Ia mengambil tempat, tepat di depan saya. "Saya ada pertanyaan yang bikin saya penasaran" katanya.

"Mau apa KAMMI ini sebetulnya, kenapa kita harus bergabung kedalamnya, bertahan di sana?"


Saya diam sejenak. Saya tahu dia tidak sedang menguji. Dia sedang mencari hakikat dakwah ini. Angin laut menjadi detail. Saya coba menjelaskan.


Kira-kira, saat para sabiqunal awwalun masuk islam, apa sudah ada perangkat hukum-hukum islam yang detail, atau baru seruan sederhana, tiada Tuhan selain Allah?

Barangkali saat itu, kita bisa bayangkan seperti ini: Abu Bakar, sang pebisnis besar yang lembut hati, mengumpulkan para pebisnis lain: Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Suhaib Ar-Rumi, dan lain sebagainya.


Barangkali Abu Bakar akan mengatakan seperti ini: "mitra dagangku yang baik hati. Kita adalah orang-orang yang paham, bagaimana kebatilan yang ditimbulkan para pebisnis hitam di kota kita."


Betul. Mereka barangkali bukan cuma paham, akan tetapi hadir pada saat kongsi-kongsi dagang itu merumuskan pakta yang merampas hak orang lain.

Mereka sebelumnya memang sudah ditemui secara pribadi. Abu Bakar hanya memilih orang yang dikenal bersih dan lurus dari kehidupan kotor jahiliyah.



"Mengapa?" tantang Abu Bakar, "mengapa semua orang bebas menetapkan aturan? Mengapa tak ada beda antara hukum dengan kezaliman?"


Mereka mengangguk. Pebisnis Utsman telah melihat bagaimana kongsi dagang keluarganya, Bani Abdu Syams dengan Bani Sahm menyebabkan kondisi bebas nilai di mana-mana. Kongsi dagang itu berbalut kongsi politik Hilful Ahlaf.

Ia lahir dari generasi yang lain. Generasi saat ramalan-ramalan mengenai nabi terakhir, mengenai akan datangnya penengah, memuncak. Ia juga lahir dari generasi yang muak pada tatanan masyarakat kotanya.


Para pebisnis itu, tak punya waktu lama. Abu Bakar segera menuntaskan tawarannya. "Ya, sahabat-sahabatku. Nabi itu, sang penunjuk kebenaran yang kita tunggu bagi membalikkan keadilan, bagi memulihkan hak-hak orang, telah diutus."


"Rekan kita, mitra dagang kita, sang Jujur dan sang Terpercaya. Muhammad!"


Percakapan imajiner di atas bisa terjadi bisa juga tidak. Tapi yang saya pahami dari mengapa saya menyetujui gerakan ini, adalah tawarannya untuk mengatasi ketidakadilan dan perbaikan di masa depan.


Semua orang yang sedang merunduk-runduk saat ikut pengaderan pertama, sesungguhnya mencoba membandingkan tawaran kita, dengan kondisi yang menimpa dirinya. Ia sedang bertanya pada jamaah ini:


Apa, apa yang sedang kalian tawarkan bagi menjawab permasalahan generasi dan zaman saya? Apa yang kalian lakukan sehingga saya harus melakukan itu bersama kalian, sebab saya percaya itu sebuah perbaikan?

Saat Hasan Al-Banna diam-diam membentuk jamaah Katibah sebagai inti pengaderan Ikhwan, orang menemukan jawaban atas hancurnya tatanan moral dan politik Mesir. Beliau piawai menerjemahkan Al-Qur'an menjadi rencana buat zamannya.


Muhammad Natsir, di negeri kita, agaknya juga mampu memandang negeri ini sebagai objek Al-Qur'an. Maka orang berhimpun kesekelilingnya tanpa perlu diundang.


Orang semacam tadi bisa saja dibohongi dengan ilusi festival rekrutmen satu juta satu kader. Orang tadi, juga barangkali seperti Utsman, Zubair, Abdurrahman, dan Suhaib:


Tak punya banyak waktu untuk memikirkan hal-hal kecil, pesta pesti, atau hiruk pikuknya kepemimpinan jamaah. Orang tadi hanya bertanya hal mendasar: apa yang bakal kita lakukan. Dan apa bedanya dengan orang lain.

Ombak laut barat Jawa, dan asap Krakatau yang terlihat di kejauhan menyentak. Terdengar dentuman bagai bedug panggilan azan. Krakatau sedang meletus.

Dr. Ali Ash-Shallabi, tegas menjelaskan dalam kitabnya, Fikih Tamkin. Bahwa, seruan dakwah sejatinya adalah sebuah tawaran, yang mesti diserukan sampai ujung kota, ke segala lapisan masyarakat.

Seruan itu haruslah jelas, bisa jadi sloganistik, tapi tegas dan tidak samar. Musa, saat menyampaikan seruan laa ilaha illallah, tidak samar dan menutup-nutupinya lantaran saat itu, menuhankan Firaun dan mempertahakan Negara Mesir dari rongrongan teroris sedang tren.


Dua utusan di negeri yang disebut dalam surat Yaasin, tidaklah mengubah hakikat seruannya. Ia tegas menjelaskan kebatilan apa yang terjadi, dan bagaimana obatnya.


Lalu Allah menguatkannya dengan yang ketiga, yang tidak mengubah isi seruannya. Dari sini, kita coba tarik sebuah ide:


Jangan-jangan seruan dasar KAMMI dalam filosofi gerakan kita telah jauh menjadi samar, lantaran bid'ah-bid'ah pengaderan yang terjadi, dan dibiarkan entah kenapa.


Barangkali iming-iming alumni hebat, dana tak terbatas, koneksi bisnis, dan bahkan kemudahan menjadi tenaga ahli di pemerintahan menjadi janji-janji para dai di tubuh KAMMI.


Padahal, di tepi laut ini, bersama angin pesisir dan hamparan pasir, saya tahu apa isi percakapan Abu Bakar kepada forum para pebisnis tadi:


"Sahabat-sahabat tentu tahu. Bahwa bilamana kita ambil seruan nabi baru itu, bilamana kita coba ganggu ideologi yang membuat ketidakadilan di kota ini, tentu bani-bani kaya dan kuat tak akan membiarkan kita, dan malah memutus jaringan bisnis dengan kita!"



Tapi dengan mantap dan tegas, para pebisnis itu bersyahadat. Sebab Abu Bakar tak menyamarkan apa isi seruannya. Sekarang, kita diterkam simulakra milenial:

Bahwa generasi sekarang harus diantar dengan halus dan samar. Mereka memang susah fokus. Mereka lebih senang bicara startup daripada prinsip dasar keadilan dagang.

Bahwa generasi sekarang tak bakal nyambung bicara ideologi. Orang-orang milenial cuma peduli caption di Instagram atau quotes di Canva. Dan memang begitulah cara pikir orang tua yang cepat lapuk dimakan proyek!

 Selesai berpetualang di KAMMI, mereka akan norak dan berpetualang lagi di partai, mengekor di belakang pantat pengusaha, atau ikut ngantar para pelaku kezaliman itu ke puncak kekuasaan.


Mari pertegas saja, kepada apa KAMMI menyeru manusia? Pertegas lagi, prinsip, paradigma, dan kredo semacam apa yang kita sorakkan pada dunia ini?

Kemenangan islam.Kebatilan. Persaudaraan. Kepemimpinan. Solusi islam. Biarkan frasa-frasa itu menghiasi benak kita dan menjadi alasan kita bergerak. Dan jadikan itu ancaman bagu kejahatan-kejahatan gelap dan terang yang terjadi di negara kita.

Kepada apa KAMMI menyeru manusia? Jawablah dengan tegas dan jelas, yaitu
 pembebasan manusia dari berbagai bentuk penghambaan terhadap materi, nalar, sesama manusia dan lainnya, serta mengembalikan pada tempat yang sesungguhnya: Allah saja!

Dan biarkan orang menilai sendiri, apakah filosofi gerakan KAMMI ini masih menjadi proposal besar agenda pemenangan islam. Atau jangan-jangan, kita sendiri menganggap itu sudah tidak penting.


Sebab, monetisasi adalah segalanya! Hidup festival rekrutmen KAMMI! Hidup maba-maba lucu yang gabung KAMMI!

Rabu, 28 November 2018

Dari Masjidlah Revolusi Akan Bergulir



Amar Ar-Risalah

Kalau sekarang masjid diwaspadai, berarti ada yang sudah paham bahwa masjid adalah tempat terbaik memulai revolusi.

Sebab, di masjid, orang membersihkan dirinya, membersihkan motif hidupnya, dan kembali meluruskan cara pandangnya kepada segala sesuatu. Termasuk, kepada negara. Senetral-netralnya. Sebebas-bebasnya sebagai hamba Tuhan.

Dulu, Salahuddin Al-Ayyubi melihat bahwa kerajaan sesat syiah Dinasti Fathimiyah adalah penghambat terbesar saat akan membebaskan Palestina.

Mengapa? Dinasti Fathimiyah mengaku islam. Tapi kebijakan negaranya justru mengganggu kebijakan Kekhalifahan Abbasiyah yang Ahlu Sunnah.

Saat Abbasiyah ingin menolong Palestina, rupanya pasukan Salib membayar negara Fathimiyah dengan deal-deal politik. Dengan ilusi jalur dagang, dengan fatamorgana persekutuan militer!

Maka, Salahuddin atas perintah Nuruddin Zanki melakukan penyusupan kedalam istana, dan berhasil mendapatkan jabatan Perdana Menteri.

Rupanya, dari jabatannya yang tinggi itu, Salahuddin melihat kebawah. Kebijakan kerajaan tak pernah menyentuh rakyat kecil. Ideologi negara, tak pernah diterima masyarakat luas.

Dari mana Salahuddin tahu? Ia amati masjid! Dari ribuan masjid yang ada di Afrika Utara dalam wilayah Fathimiyah, ia tahu bahwa rakyat tidak satu ideologi dan tidak satu cara pandang dengan Sultan terhadap negara.

Rupanya di masjid, mayoritas orang masih mengikut Ahlu Sunnah. Hanya negara dan para pejabat pusat saja yang syiah. Hati umat, tak bisa dibohongi. Mereka merindukan tatanan sosial yang sesuai dengan hati mereka.

Sebab, bagi mereka, cara pandang agama, juga merupakan cara pandang kepada keadilan. Dan Negara Fathimiyah itu gagal memberikan keadilan bagi rakyatnya dengan cara pandang syiah.

Perebutan demi perebutan kekuasaan terjadi tanpa pernah melibatkan rakyat kecuali sebatas besaran suara pendukung pada saat melakukan deal politik.

Di satu sisi, Sultan Al-Adil, adalah sultan lemah. Ia baru berusia belasan tahun dan jelas gampang disetir oleh pejabat busuk disekitarnya!

Satu hal: para Khatib dan imam Ahlu Sunnah itu jelas dianggap radikal dan mengancam eksistensi negara. Mereka adalah bahaya laten dan penyebar paham radikal, bagi pemerintahan Fathimiyah yang sesat itu!

Tapi ada harapan. Senantiasa ada harapan bagi orang-orang yang menitipkan nasibnya pada Allah, di rumah-rumah Allah! Betapapun kas negara habis untuk penyuluhan anti radikalisme, Allah menitipkan Salahuddin di jantung istana!

Maka dimulailah revolusi itu: suatu saat, tersiar kabar Sultan sakit hingga tak sadarkan diri. Salahuddin memerintahkan sebuah masjid besar untuk menyelenggarakan salat Jum'at dengan cara Ahlu Sunnah.

Rencana yang berbahaya. Jika gagal, sang khatib beserta ratusan jamaah jadi taruhan. Mereka bisa mati sia-sia. Tapi, tibalah Jumat itu.

Ternyata, masyarakat berbondong-bondong datang. Mereka senang. Perkiraan Salahuddin benar. Bahwa, selama ini hati rakyat tetaplah pada Ahlu Sunnah wal Jamaah!

Pekan depannya, banyak masjid di kawasan Fathimiyah berubah menjadi ahlu sunnah. Rupanya, mayoritas penduduk di Fathimiyah tak bisa diambil hatinya dengan kebijakan-kebijakan palsu syi'ah selama ini.

Hanya beberapa kejap kemudian, kerajaan Fathimiyah yang secara wilayah, keuangan, dan dari segi apapun lebih besar dari Indonesia itu runtuh, dan berhasil ditaklukkan Salahuddin tanpa senjata. Hanya dari masjid!

Segenap mahasiswa muslim Indonesia, para pemuda Islam di Indonesia. Orang boleh bilang masjid berbahaya. Maka dari itu, datanglah ke masjid dan jagalah tempat kelahiran kita itu dari bahaya apapun yang mengancamnya.

Sebab dari masjidlah, roda gigi revolusi ini akan bergulir!


Bacaan:
Ali Ash-Shallabi, Shalahuddin Al-Ayyubi
Bernard Lewis, Assasin: Pembunuh dari Lembah Alamut