Rabu, 15 April 2020

Kebatilan adalah Musuh Abadi Kita


Sebuah gagasan peradaban selalu lahir, karena kebutuhan manusia untuk membebaskan diri dari kebingungan hidup, penindasan, dan alasan melawan sesuatu.

Semua itu, kita sebut sebagai: "kebatilan."

Barisan ini punya gagasan peradaban. Gagasan itu ada di filosofi gerakan. Dan kita telah sejauh ini menyetujui gagasan peradaban itu. Lalu, hari ini, mari rumuskan kembali, kebatilan mana yang hendak kita lawan.

Mari memandang dengan jujur, tanpa niatan kompromi, atau niat menyerah karena kebatilan itu lebih kaya, lebih kuat, dan lebih meyakinkan.

Di bidang perekonomian, belitan riba, serta gagalnya negara menjamin keadilan di pasar antara pemilik modal besar dan kecil sangat terasa. Perlindungan bagi petani, nelayan, dan produsen menengah kebawah dari kapitalis dengan modal besar tak ada.

Sebab, segala sesuatu diukur dari kemampuan rakyat menyetor pajak pada negara, bukan dari keadilan sosial.di bidang pembangunan manusia dan kebudayaan:

isu radikalisme dan feminisme yang merupakan titipan dari negara asing membelenggu nalar pikir kita.

Kurikulum dan tata kelola pendidikan tak diselesaikan dengan cara pendidik, tapi dengan cara pengusaha. Agama, adalah alat negara mengeruk dana rakyat.

Belenggu isu radikalisme ini masih digembok dengan aliran dana dari NGO atau negara asing untuk menjamin "bebasnya Indonesia dari radikalisme".

Perjuangan kita melawan LGBT dan seks bebas, sekarang nyaris berubah menjadi perjuangan melawan alat negara. Sebab, LGBT dilembagakan dalam konstitusi.

kapitalisme dan imperialisme pendidikan malah menjadi patron utama.di bidang kemaritiman dan investasi, kebatilan masih diproduksi secara massal.

Sinergi kebijakan pemerintah daerah pesisir dan kepulauan belum didesain memihak nelayan, tapi korporat besar yang sumbang pajak dan suap raksasa.

Pelabuhan dan bandara dibangun, bukan untuk keadilan ekonomi tapi memanjakan korporasi. Dan negara kita cuma berakhir menjadi pelanggan donasi dari dua kutub ekonomi dunia.

Dan di tengah umat, masih banyak orang munafik tapi terkenal, yang menebarkan perpecahan; sel-sel khawarij dan terorisme yang menyamar sebagai gerakan dakwah, serta sebagian saudara kita yang masih berpikir soal ashabiyah.

Kelompok munafik tadi sengaja membenturkan antara ulama dan ormas, agar islam tak bisa menang dan membangun di negeri ini.

Lalu itu semua, menunggu kita. Kebatilan itu menanti sikap tegas barisan kita, dan langkah cepat, pasti, sekaligus mendidik.

Mari tegaskan satu hal penting. Kita, adalah oposisi kebatilan, bukan oposisi pemerintahan. Karena kebatilan itu ada di mana saja, dan pemerintahan belum tentu menjadi sumber utamanya.

Dan saya tulis ini semua kepada orang-orang yang ragu; yang takut; yang lalai, yang malas, atau yang masih sibuk dengan halusinasinya sendiri tentang barisan ini:

Kami adalah para petarung sejati atas nama al-haq kami bertempur, sampai tidak ada lagi fitnah dibumi ini!

rapatkan lagi safmu. tajamkan telingamu, dan tunggulah sang Imam bertakbir, lalu satukan gerakanmu bersamanya. Iqamah sudah dilayangkan, dan perjuanganpun telah datang waktunya.

Berbarislah dengan siaga, dan teruslah melawan. Teruslah melawan sampai orang-orang ragu, pengecut, dan penakut keluar sendiri dari barisan ini.

Sunatullah Kepemimpinan

Umar bin Abdul Aziz. Khalifah yang menjabat, tepat 100 tahun setelah hijrah Nabi.

Masa pemerintahannya memberikan kita banyak pelajaran. Sebab, ia berkuasa manakala pemerintahan islam begitu rumit.

Rakyat di seluruh negeri muslim mendambakannya. Tapi, mereka juga tahu: popularitas tidak cukup.

Ia harus bertarung melawan para calon Khalifah yang bengis, dan sangat mengerti seluk-beluk istana.

Tapi, Umar tak sendirian. Bersamanya, ada seorang ulama. Ulama politik. Raja' bin Haywah namanya.

Ia lakukan rekayasa politik dalam istana. Ia ulama yang bernyali, saat semua ulama lain mengatakan:

"Tak usah urus-urus politik!"

Track record Umar sendiri lurus. Ia adalah Gubernur Hijaz. Cucu Khalifah Marwan. Anak Gubernur Mesir. Murid sahabat nabi: Abdullah bin Umar.

Tapi lawannya orang-orang fasik; yang tak cukup hanya dengan doa atau banyak-banyak mengadu pada ulama saja. Perlu rekayasa politik.

Semua orang bilang berat!

Tapi sang ulama-politisi berhasil. Ia menjadi orang kepercayaan Khalifah sebelumnya.

Umar bin Abdul Aziz, menjadi Khalifah. Prosesnya jorok? Barangkali menurut ulama yang bukan bergaris politik, Raja' bin Haywah ini jorok. Ulama, yang menempel-nempel pada penguasa.

Dan yang terpenting, kini Umar bin Abdul Aziz menang. Tapi apakah itu cukup? Ya! Memang Umar dianggap Mujaddid abad pertama islam.

Tapi kekuasaannya dipenuhi ketidakstabilan antar elemen politik dalam istana. Sebab, kepentingan mereka, dipangkas oleh Umar yang lurus, bijak, dan pro-Rakyat.

Umar tak akomodatif pada orang munafik-politik.

Hanya dua setengah tahun, waktu yang dibutuhkan oleh elemen istana, untuk memberanikan diri: membunuh Umar.

Umar sendirian. Kebijakannya memang pro Rakyat. Tapi istana, dan politik saat itu, tidak pro rakyat.

Maka sejarah akan bicara: begitulah nasib orang jujur dan bersih!

Bicara keberkahan, urusan lain. Zakat, wakaf, dan sedekah terdistribusi merata. Umar pakar ekonomi syariah.

Keadilan, jangan tanya. Harta negara tak lagi digunakan untuk kumpul-kumpul tak perlu atau sekadar bermewah-mewah menuruti hadray orang Badwi kampungan yang baru berkuasa.

Tapi ini politik.

Umar perlu tim-tim lain yang mempersiapkan kabinetnya. Umar perlu tim lain untuk mengimbangi pertarungan politik dalam istana.

Sebab, track record mentereng, popularitas, barangkali cukup untuk menang, tapi tak cukup untuk berkuasa.

Tapi keridhaan Allah, itulah yang Umar cari.

Ilmu Agama yang Singkat, Padat, dan Jelas

Permintaan atas pembelajaran agama yang "singkat, padat," tapi "sudah dapat semua" itu, ternyata bukan hanya ada di zaman sekarang.

Dari zaman dulu, generasi-generasi muslim sudah begitu. Berdasarkan apa yang saya telusuri, sifat "singkat, padat" dan "dapat semua" itu ada pada beberapa kitab.

 Pada tahun 1200-an, Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah menulis kitab Fawaidul Fawaid. Isinya, pokok-pokok bahasan tematik, tapi mencakup seluruh ilmu. Dari adab, tazkiatun nafs, hingga fikih.

Kitab ini tak terlalu tebal untuk ukuran zamannya. Tapi, memenuhi sifat "singkat, padat" dan "sudah dapat semua'. Satu pokok bahasan, bila dijadikan khutbah, hanya 5-20 menit. Ibnul Qayyim adalah murid setia Ibnu Taimiyyah.

 Agak ke sini, tahun 1500-an, Ibnu Hajar Al-Asqalani dari Palestina, menulis sebuah kitab yang isinya dibagi bab per bab berdasarkan panjangnya "nasihat".

Kitab ini, disyarah, disederhanakan oleh Imam Nawawi Al-Bantani dalam judul: " Nashaihul Ibad". Sebuah kitab kuning bagi para penuntut ilmu kehalusan laku. Bab 1, diisi nasihat yang "dua-dua". Seterusnya sampai, nasihat " delapan-delapan".

 "Dua sifat yang dibenci Allah" atau "empat ciri orang bersyukur" dan seterusnya. Orang yang membaca kitab tipis ini akan mendapatkan nasihat yang singkat padat, tapi dapat semua.

Tapi, sebelum itu, seratus-an tahun setelah Rasulullah meninggal, telah muncul kitab Al-Muwaththa. Bukan, bukan karangan Imam Malik. Sebab, ini kitab hadis, dan Imam Malik hanya menghimpun hadis itu.

Kitab Al-Muwaththa mewakili sifat singkat, padat, tapi dapat semua. Isinya, bukan fatwa mazhab Maliki, tapi hadis-hadis pilihan. Tak terlalu tebal.

Imam Malik terkenal dengan sifatnya terhadap kitab ini, yaitu, terus merevisi dan mengurangi jumlah hadis di dalamnya, bukan karena dhaif atau sejenisnya. Tetapi, untuk mewakili sifat itu.

Di zaman beliau, belum dibutuhkan buku "pemikiran". Yang dibutuhkan adalah "menghimpun ajaran Rasul" melalui kodifikasi hadis.

Jadi, kembali kepada sifat orang yang suka ilmu "singkat, padat" tapi "dapat semua" itu, ini tantangan bagi dai zaman ini.

Sebab sifat manusia yang begitu ternyata telah dihadapi ulama beribu tahun yang lalu. Jangan membebani umat dengan perdebatan ilmu atau perkataan yang malah akan menjerumuskan mereka.

Maka salah satu doa kita adalah: "berikan kami, ya Allah, ilmu yang bermanfaat."

Salah satu kutipan nasihat dua-dua sepasang dalam kitab Nashaihul Ibad:

"Dua qasidah penawar hati:

ya Allah, aku ingin mengerjakan semua kebaikan, tapi tanganku tak sampai.
Maafkan segala kekuranganku, Engkau Mahatidakmemerlukan dari menyiksaku..."

Ilmu Sanad dalam Penciptaan Karya Sastra

I
Sanad, menunjukkan betapa adabmu kepada sumber ilmu. Sebab, pengetahuan saja bisa kau dapat dari media sosial.

Tapi sanad, memastikan ilmumu benar, adabmu benar, dan kau dikenal oleh lingkungan tempat ilmu itu dikembangkan.

II

Dalam dunia puisi, adakah yang semacam itu? Ada. Seseorang disebut penyair bukan karena dia menulis puisi. Penulis puisi, berbeda dengan penyair.

Dia mengandung tiga makna. Mengabdikan dirinya untuk puisi, lalu lahir dan turut terlibat dalam ekosistem budaya, dan ada orang bersaksi bahwa karyanya bernilai. Orang ini, disebut sebagai "kritikus sastra".

III

 Para "penyair" di zaman sekarang, rata-rata adalah mereka yang viral. Bukan mereka yang punya sanad. Apa maksudnya? Tak ada pertanggungjawaban dalam karya mereka.

Padahal, puisi adalah sebuah ilmu. Bukan cuma racauan semata. Ilmu puisi semacam ini, harus dipertanggungjawabkan. Puisi-puisi kita, harus dikaji secara ilmiah. Dalam sebuah metode "kritik sastra", dan pula, harus mau kita terlibat dalam "pengembangan budaya"

IV

Mengapa Umar bin Khattab mengatakan, pengajaran puisi berdampak kepada keberanian orang? Sebab, puisi adalah sebuah sikap.

Puisi yang jujur selalu adalah puisi yang melawan sesuatu. Puisi yang baik, adalah selalu yang di atas kata-kata, tak hanya bicara diri dan segala keakuannya, tapi mengabadikan usaha manusia di suatu zaman melawan sesuatu.

Itu sebabnya, ada "Angkatan sastra."

V

Jadi, bukan masalah segera membukukan puisi, atau ikut lomba, menang, lalu kau jadi pembicara di mana-mana. Atas puisi-puisi yang kau bikin setengah sadar dan ternyata dianggap bagus.

Hari ini, ada istilah baru. "Poet-shaming" atau penghinaan pada puisi. Para penulis puisi mula dan baperan, yang tak paham sastra membela racauan-racauannya dan mencoba melawan tatanan keilmuan dan sanad sastra Indonesia yang hampir mapan.

VI

Kau harus punya sanad kata. Kau belajar pada pakar linguistik, kau belajar makna sebuah kata. Bahwa kata "Cinta" misalnya, berasal dari bahasa Sanskerta. Maknanya, berkaitan dengan "kepada sesuatu yang fana" dan berkonsekuensi pada "kekhawatiran dan kekecewaan."

Lalu, kau menggunakan itu untuk Tuhan. "Tuhan, aku cinta padamu." dia cinta kepada Tuhan tapi masih kecewa. Sedangkan, kekecewaan hanya didapat dari kefanaan, karena yang kita cintai itu suatu saat pasti hilang. Tapi Tuhan tidak.

VII

Muncul sekelompok orang yang menulis dengan mematah-matahkan sintaksis. Padahal dia harus memahami bagaimana Bahasa Indonesia bekerja. Perubahan kelas kata: bagaimana cara kata kerja berubah menjadi kata sifat? Bagaimana kata "kucing" bisa berubah jadi kata kerja dengan mengubah posisi sintaksisnya atau dengan menambah imbuhannya?

Itulah pentingnya sanad sastra. Agar pembaca puisi Indonesia tak melulu membaca sampah. Agar kita tak hanya baca tulisan yang seolah-olah saja puisi.

VIII

Saat Ibnu Abbas, radhiallahu'anhu, seorang sahabat Nabi yang paling menguasai ilmu tafsir itu luang atau bosan, ia biasa berkata, "berikan aku buku puisi."

Aisyah radhiallahu'anha, istri Rasulullah, dikisahkan menghafal 18.000 bait syair. Apa implikasinya? Penguasaan mereka atas bahasa, membuat Ibnu Abbas mampu memahami Al-Qur'an. Setiap kata, setiap konteks dan makna cerita dalam Al-Qur'an sehingga tafsirnya kuat. Aisyah, dengan penguasaannya kepada kata, dipilih Allah untuk menyampaikan hadis dalam jumlah luarbiasa.

IX

 Orang yang dekat dengan sanad puisi, menghargai adab berpuisi, dan menghargai para penyair, niscaya Allah akan memberinya suatu tugas tertentu berkaitan dengan bahasa.

Ibnu Ishaq, salah satu penyusun kitab induk dalam ilmu Sirah, adalah seorang kritikus sastra. Bila kita baca Kitab Sirahnya dari riwayat Ibnu Hisyam, beliau kerap memberi komentar pada sajak para sahabat Nabi: "ini baitnya tertukar. Ini diksinya janggal, kemungkinan ditambah oleh orang lain...."

X

 Mulai hari ini. Belilah sebuah buku puisi. Dari seorang penyair. Bacalah pelan-pelan, dan bukalah kamus besar bahasa kita.

Mulai hari ini, berhenti anggap puisimu bagus, dan belajarlah adab kepada puisi dan dunia sastra.

Mengapa Manusia Perlu Beragama?

1
Setelah Allah menjelaskan 3 jenis manusia di hadapan Al-Qur'an sebagai sumber ilmu, dalam pembukaan surat Al-Baqarah: Mutaqqin, Kaafirin, dan Munaafiqin, Allah menjelaskan fungsi agama dalam kisah Nabi Adam dan Iblis.

"Siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, tak ada pada mereka ketakutan dan kesedihan."

Dalam rangka menghilangkan ketakutan dan kesedihan itulah, kita mencari petunjuk hidup.

2
Maka dalam rangka mencari obat dari ketakutan dan kesedihan itu, Bani Adam mencari petunjuk baru. Di antara mereka ada yang menemukan agama-agama baru ciptaan benak.

Ada juga di antara mereka menciptakan isme-isme: Marxisme, Leninisme, Sosialisme, Fasisme, Liberalisme, atau juga Marhaenisme.

Mengapa? Sebab ketidaktahuan, atau ketidakpercayaan mereka pada "petunjuk Allah."

3
Lalu, di Juz 1 itu, sebagai kelanjutan kisah Adam dan Iblis, Allah menjelaskan kisah Bani Israil.

"Sikap manusia kepada ilmu." itulah intinya.

Saat Musa meninggalkan mereka 40 hari lamanya, mereka tak sabar dan menyembah sapi.  Saat Musa meminta mereka menyembah Allah:

"Kami tak akan menyembah-Nya sebelum melihat-Nya dengen jelas."

4
Saat Allah meminta mereka hijrah ke Palestina, mereka keberatan, tetapi Allah menurunkan makanan segar dari langit. Manna dan Salwa. Serta 12 mata air yang memancar dari sebuah batu.

Tetapi mereka malah ingkar. Itulah yang hendak diceritakan Allah melalui Juz 1. Sikap manusia kepada sumber ilmu.

5
Kebanyakan orang mempelajari agama, belum cukup sampai pada penyerahan diri untuk menghilangkan ketakutan dan kesedihannya di dunia ini hanya kepada Allah.

Juga, sebagian dari kita bersikap seperti Bani Israil. "Apa hukumnya..." atau "bagaimana fatwanya begini, sedangkan..."

Bahwa, sejak Juz 1 saja Allah telah menggambarkan pada kita, bahwa ilmu tak akan didapat dengan sikap yang salah.

6
Jadi, mengapa orang menolak agama?

Pertama. Sejak awal, sikap dia kepada ketakutan dan kesedihan hidupnya sendiri, keliru.

Kedua. Sikap keilmuan dia kepada sumber ilmu, keliru. Pura-pura kritis, pura-pura cerdas. Itulah gambaran Bani Israil.

7
Dan mengapa kita butuh agama?

Untuk menemukan cara, bagaimana menghilangkan ketakutan dan kesedihan. Itulah fungsinya. Itulah mengapa segera setelah turun dari Surga, Adam butuh "Huda". Butuh petunjuk Agama Allah.

Sebab, ketakutan dan kesedihan datang dari ketidakapastian. Dan agama hadir memberikan kepastian hukum serta jaminan keadilan itu.

8
Lalu mengapa kita harus berdakwah, mengajak orang kepada Agama?

Jelas. Mengajak mereka untuk bangkit dari ketakutan dan kesedihanya, lantaran ketidakpastian. Dan ketidakpastian itu muncul karena ketiadaan agama.

Kita harus mengajak orang pada agama, karena kebutuhan kita untuk bebas dari rasa takut dan sedih, bahwa orang yang kita cintai akan binasa.

Itu semua disebut: empati.

9
Itulah sebab, mengapa para pemeluk agama marah saat dibandingkan ideologi negara. Karena mereka, kita, yakin bahwa agama ini adalah cara terbaik menghilangkan ketakutan dan kesedihan hidup akibat penindasan, ketidakadilan, dan kebodohan manusia itu sendiri.

Sebab di satu sisi, kita juga yakin, bahwa segala "petunjuk buatan manusia' adalah sumber ketidakpastian itu sendiri. Sumber dari penindasan itu sendiri.

10
Usaha untuk menukar agama orang dengan ideologi ciptaan manusia di tengah kemiskinan yang justru muncul karena penerapan ideologi manusia itu adalah sia-sia.

Terutama, di negeri ini. Saat agama benar-benar memberikan kepastian dan tambatan, atas ketidakmampuan benak manusia menyingkirkan ketakutan dan kesedihan, dengan segala "isme" ciptaannya sendiri.

Atas ketidakmampuan "isme" ciptaan negara menghilangkan ketakutan dan kesedihan rakyatnya sendiri. Agamalah jawaban bagi negeri ini.

Falsafah Dasar Penciptaan Puisi

1
Saat kita menulis puisi, sesungguhnya, apa yang sedang kita tulis?

Pada dasarnya, puisi adalah bahasa. Bahasa manusia yang berkata-kata. Yang bukan sekadar meracau, atau gejala reflek yang menghasilkan bahasa konkret, semacam teriakan kesakitan, atau tertawa. Puisi, adalah bahasa sejelas-jelasnya bahasa. Tetapi, apakah bahasa itu?

2
Suatu hari, saat Allah menciptakan Adam, lalu mengajarkan padanya nama segala sesuatu, selain nama benda-benda yang kita kenal: bunga, batu, tanah, awan....barangkali nama-nama itu juga termasuk nama bagi "ketiadaan sesuatu"

Nama itu, barangkali juga mencakup "simbol bagi sesuatu yang tak terindera". Apa nama bagi "keadilan"? Apa nama bagi " ketiadaan keadilan?" apa nama bagi "cinta"? Apa nama bagi " ketiadaan cinta"?

3
Sedangkan, bahasa itu arbitrer. Sebutan bagi sesuatu belum tentu merupakan "bunyi" atau "bentuk" sesuatu. Sebuah kata, belum tentu wakil indrawi dari benda yang dia rujuk.

Tapi, ada satu yang mengganjal pikiran saya. Kalau kita reka kembali saat Adam diperkenalkan kepada Malaikat, di surat Al-Baqarah ayat 30, malaikat menyangsikan penciptaan Adam. Mereka mengatakan:  mengapa Bumi diamanahkan kepada mereka yang bakal merusak dan menumpahkan darah di sana? Tapi, yang menarik adalah, jawaban Allah.

4
"Aku lebih mengetahui apa yang tidak kalian ketahui," firman Allah. Lalu, "Kami ajarkan kepada Adam, nama segala sesuatu."

Setelah Adam menyebutkan nama segala sesuatu itu hadapan para Malaikat, maka Malaikat itu terpuaskan. Seakan-akan, nama segala sesuatu itu menjamin Adam agar tak melakukan kerusakan dan pertumpahan darah, sebagaimana perkiraan para Malaikat. Seakan-akan Adam belajar nama bagi "dampak kerusakan" dan "risiko pertumpahan darah".

5
Berarti, setiap "nama" yang diajarkan kepada Adam, bukanlah nama yang arbitrer. Dia nama yang merujuk pada kerusakan dan pertumpahan darah yang terjadi sebelumnya. Yang membuat Malaikat mengaitkan Adam dengan kerusakan itu.

Nama segala sesuatu, dalam kisah ini, adalah "bahasa". Sebab, "bahasa" itu, adalah nama, adalah sebutan bagi sesuatu, ketiadaan sesuatu, keadaan sesuatu, dan kegiatan sesuatu. Sebab barangkali Adam menjamin kepada Malaikat, dia memahami  nama segala sesuatu. Keadilan, kedamaian, dan kebahagiaan.

6
Saat kita menggunakan "bahasa" untuk menulis puisi, maka kita memang harus mengerti maknanya. Sebab, pemahaman kita kepada bahasa, kepada "nama segala sesuatu" itulah, yang menjamin Adam di hadapan malaikat.

Nama apa itu? Bahasa apa itu? Bahasa, yang membuat Adam tidak melakukan kerusakan dan pertumpahan darah. Nama "sesuatu" yang menjamin Adam berhasil memakmurkan bumi sebagai Khalifah. Apa yang saya bicarakan ini, adalah, "falsafah bahasa" . mengapa manusia menggunakan bahasa.

7
Dari pemahaman mengapa manusia menamai segala sesuatu, membahasai sesuatu itulah, ada satu produk bahasa yang kita sebut "puisi".

Dari segala upaya manusia menamai segala sesuatu, ada satu upaya manusia yang disebut puisi untuk menamai apa yang terjadi di sekelilingnya dengan cara-cara yang lebih indah, mengena, dan padat. Itulah mengapa puisi-puisi terus diciptakan manusia. Itulah mengapa, puisi berbeda dengan ungkapan biasa.

8
Saat kita menulis sebuah puisi, ada suatu pengertian untuk menjamin, agar manusia tercegah dari berbuat kerusakan dan menumpahkan darah.

Dari puisi-puisi itu tersimpan "nama-nama yang mencegah Adam berbuat yufsidu fiha wa yasfiquddima" . bukan sebatas kata-kata indah, atau kebohongan-kebohongan yang kebetulan bunyinya indah. Sebab tidak semua bunyi adalah bahasa, dan tidak semua bunyi yang indah adalah puisi.

9
Kita yang berlindung dibalik idiom "pengarang telah mati" atau  "puisi adalah milik pembaca seusai diciptakan" barangkali berbeda pandangan dengan kesusastraan islam. Atau, jangan-jangan, itu cuma kalimat untuk menutupi betapa tidak pahamnya kita kepada bahan baku puisi, yaitu bahasa.

Sebab, kita memang lebih senang, dan tentu lebih mudah, menulis kebohongan yang bunyinya indah. Kita lebih senang menulis sesuatu yang cepat populer, sampah yang menghibur, dan bualan-bualan yang membius. Tapi, itu bukan puisi. Bahkan barangkali itu bukan bahasa.

10
Saya tidak hendak memberat-beratkan orang, atau menakut-nakuti orang agar tak menulis puisi. Tapi tolong pahami, bahwa  "bahasa" bukan hanya sekadar igauan kosong yang kebetulan punya makna, dan lantas kita bilang itu arbitrer. Lalu saat kita rangkai itu jadi puisi, kita katakan pengarang telah mati.

sedang, yang "allamahul bayan" adalah Allah. Yang "allama adam al-asma" adalah Allah. Lalu mengapa kita menggunakannya, seolah-olah bahasa tidak punya makna kemanusiaan, sebagaimana penjelasan Adam kepada Malaikat?

11
Kata-kata, bahasa yang digunakan tidak untuk mencegah manusia berbuat kerusakan dan menumpahkan darah, tetaplah bahasa.

Puisi yang tidak ditulis untuk mencegah itu semua, atau tidak dengan kesadaran "bahasa merupakan anugerah Tuhan kepada manusia" juga tetaplah puisi.

Tetapi, itu bukanlah puisi, yang kita buat. Itu bukanlah puisi orang yang memahami ketuhanan. Itu bukanlah puisi yang memahami bahasa sebagai asal-muasal dirinya.

12
Berbahasalah. Dan cegahlah kerusakan serta pertumpahan darah itu. Namailah segala sesuatu untuk menjawab pertanyaan:

Apakah Adil itu? Apakah damai itu? Apakah nama bagi ketiadaan keadilan itu? Apakah nama bagi ketiadaan kedamaian itu? Namailah semuanya dengan puisi!